Orang Munafik

ORANG MUNAFIQ
Habib Hasan Al Jufri

Diantara makhluk-makhluk Allah SWT, manusia adalah makhluk yang diciptakan dalam wujud yang paling sempurna. Selain diciptakan dengan bentuk tubuh yang sangat indah dan menarik, manusia juga diberikan anugrah yang sangat besar, ,yaitu nafsu dan akal. Berbeda dengan manusia, para Malaikat hanya dianugrahi akal tanpa mempunyai nafsu; sehingga tidak ditemukan satupun dari para Malaikat yang melanggar perintah Allah SWT. Dalam surat At Tahrim, ayat : 6, Alah SWT berfirman : “ Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu ; penjaganya Malaikat-Malaikat yang kasar dan keras, yang tidak mendurhakai Allah SWT terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.”
Demikian juga , Allah SWT hanya memberikan nafsu pada hewan/ binatang, sehingga Allah SWT tidak menerapkan aturan, perintah atau larangan, pada komunitas hewan. Hal ini disebabkan karena perintah dan larangan bisa diterapkan jika terlebih dahulu diterima dan di analisa oleh akal pikiran.
Mungkin karena pemberian anugrah yang besar inilah , Allah SWT kemudian memilih manusia untuk menjadi khalifah di muka bumi, ,agar bumi menjadi makmur dan sejahtera.Dalam menjalani kehidupan sebagai khalifah di bumi, banyak diantara manusia yang berhasil menjadikan akalnya sebagai “komandan” dan nafsu sebagai “ pasukannya”. Sehingga perbuatan mereka terlaksana karena mendapat perintah dari akal (yang mendapat bimbingan, hidayah, dan taufiq dari Alah SWT), bukan nafsu, dan kemaslahatan (kebaikan) akan terwujud. Namun tidak sedikit pula dari manusia yang justru menjadikan nafsunya sebagai “komandan” dan akal sebagai “pasukannya”, Sehingga perbuatan yang dilakukan anggota tubuh merka mustahil akan membawa kemaslahatan. Hal ini disebabkan karena nafsu selalu mendorong untuk berbuat kejelekan/ kerusakan.
Kejelekan/ kerusakan amal perbuatan yang dilakukan manusia ini ada yang hanya berimbas pada dirinya sendiri, dan ada yang juga berimbas pada orang lain; misalnya seperti: mencuri, mengadu domba, dan perbuatan-perbuatan nyata lainnya yang menimbulkan kerusakan. Adapun kerusakan amal yang hanya kembali untuk dirinya sendiri, misalnya seperti; sombong, riya’ (pamer), munafiq, dan penyakit hati lainnya. Sebagaimana telah kita ketahui bahwa orang riya’ dan munafiq ketika beramal, ,mereka sedikitpun tidak mendapat balasan amal kelak di akherat. Meskipun demikian, namun seringkali amal yang mereka kerjakan membawa manfaat bagi orang lain, sehingga kehidupan di dunia ini bisa berjalan sebagaimana mestinya.
Disebutkan dalam sebuah ungkapan ; Bahwasanya dunia akan rusak ketika orang-orang yang riya’ telah meninggal dunia. Mereka melakukan perbuatan-perbuatan yang baik, seperti; membangun madrasah, pesantren, dan masjid, yang mana bangunan-bangunan tersebut bermanfaat bagi masyarakat banyak. Oleh sebab itu, andaikan saja dalam membangun tersebut dia bertujuan riya’, namun dengan adanya do’a dari seorang muslim yang ikhlas, maka orang tersebut tetap akan mendapatkan manfaat dari amalnya, berkat do’a orang muslim yang ikhlas tadi.
Salman Al Farisi r.a berkata : Allah SWT mengokohkan kekuatan orang-orang yang beriman dengan kekuatan orang-orang munafiq, dan menolong orang-orang munafiq dengan do’a orang-orang yang beriman. Lebih lanjut Syekh Nasr bin Muhammad As Samarkandhi mengatakan : bahwa orang munafik itu ada dua macam ;
1. Orang yang menjalankan kewajiban hanya ketika dilihat orang lain, ketika tidak ada orang lain yang melihat, mereka tidak melakukan kewajibannya. Orang yang demikian ini termasuk orang munafiq sejati yang diancam Allah SWT dengan di tempatkan di neraka yang paling bawah, yaitu neraka hawiyah. 2. Orang yang menjalankan kewajiban dengan sangat baik dan sempurna ketika dilihat orang lain, namun ketika tidak ada orang yang melihat, mereka tetap menjalankannya namun tidak sempurna dan tidak baik (asal-asalan). Maka orang yang dedmikian ini kelak akan di hisab, di tanya Allah SWT, dan mereka tidak mendapatkan kelebihan pahala dari amal yang mereka lebihkan (sempurnakan) ketika dilihat orang lain.
Semoga Allah SWT menyelamatkan hati kita dari berbagai penyakit hati yang menyebabkan kegagalan dalam meraih kenikmatan kekal di akherat nanti. Amin.


Hadits Qudsi

Allah ‘Azza wa Jalla berfirman :

Wahai anak cucu Adam, berkhidmahlah kepadaKU, ,karena AKU menyukai siapapun yang berkhidmah kapadaKU, dan AKU akan meminta hamba-hambaKU untuk berkhidmah kepadanya. Sesungguhnya kau tidak tahu seberapa besar maksiat yang telah kau lakukan di masa lampaumu, dan kau tidak juga tahu seberapa besar maksiat yang masih akan kau lakukan di masa depanmu, karena itu jangan lupakan AKU, karena AKU berkuasa untuk berbuat sekehendakKU. Sembahlah AKU, karena sesungguhnya kau adalah hamba yang hina dan AKU adalah Tuhan yang mulia. Kalau saudara-saudaramu dan para kecintaanmu dari anak cucu Adam dapat mencium bau dosamu dan mereka mengetahui apa yang AKU ketahui, niscaya mereka tidak akan duduk atau berdekatan denganmu. Bagaimana tidak ? sebab, dosa-dosa itu setiap hari semakin bertambah, sedang umurmu setiap hari berkurang sejak kau dilahirkan ibumu.
Wahai anak cucu Adam, sesungguhnya AKU melihatmu dengan ‘afiyah , dan AKU menutupi dosa-dosamu. AKU tidak butuh kepadamu, sedangkan kau terus bermaksiat kapadaKU, padahal kau butuh kapadaKU.
Wahai anak cucu Adam, sampai kapan kau selalu bersepakat (dengan makhlukKU ? ) kau bina urusan duniamu padahal ia fana, dan kau hancurkan urusan akheratmu padahal ia abadi.
Wahai anak cucu Adam, kau selalu bersepakat deengan makhlukKU dan takut pada kemarahan mereka.
Wahai anak cucu Adam, kalau penghuni langit dan bumi memohonkan ampunan bagimu, maka sudah seyogyanya kau menangisi dosa-dosamu, karena kau tidak tahu dalam keadaan apa kelak kau menemuiKU
Wahai Musa bin Imran, dengarlah apa yang KUkatakan, dan kebenaranlah yang KUkatakan, bahwasanya tidak beriman seorangpun dari hamba-hambaKU sebelum ia memberikan rasa aman kepada manusia dari keburukan, kedholiman, tipu daya, adu domba, kekejian dan kedengkiannya.
Wahai Musa, katakanlah: “Kebenaran itu datangnya dari Tuhanmu; maka barang siapa yang ingin (beriman) hendaklah ia beriman, dan barang siapa yang ingin (kafir) biarlah ia kafir.” ( Al Kahfi/ 18: 29).

0 komentar:

Posting Komentar