Para Penipu Allah

PARA PENIPU ALLAH SWT
(Tanbihul Ghofilin)
Al Habib Hasan Al Jufri
Seorang sahabat bertanya pada Rosulullah SAW; Wahai Rosulullah!, amal apa yang bisa menyelamatkan (kami) besuk (hari kiamat)?, Rosulullah SAW menjawab: jika kamu tidak menipu Allah SWT. Mereka bertanya lagi: Bagaimana (mungkin) kami menipu Allah SWT?. Rosulullah SAW bersabda: Yaitu apabila engkau melaksanakan perintah-perintah Allah SWT (taat), namun dengan taat itu engkau masih mempunyai tujuan selain Allah SWT. Takutlah kalian dari perbuatan riya’ (pamer), karena riya’ itu termasuk perbuatan syirik pada Allah SWT. Sungguh orang riya’ kelak pada hari kiamat akan dipanggil di hadapan makhluk-makhluk AllahSWT dengan empat sebutan: YA KAFIR (Hai orang kafir), YA FAJIR (Hai orang yang bermaksiat), YA GHODIR (Hai penghianat), YA KHOSIR (Hai orang yang merugi), perbuatanmu sesat, pahalamu hangus, pada hari ini kamu tidak memiliki bagian sedikitpun (dari amalmu). Wahai penipu !, mintalah pahala dari orang yang engkau maksudkan ketika engkau beramal.
Bahkan Syekh Nasr bin Muhammad As Samarkandhi mengatakan bahwa; Barang siapa berharap untuk mendapatkan pahala amal di akherat, maka hendaknya dia memurnikan amalannya hanya karena Allah SWT semata, tanpa “dicemari” perasaan riya’, kemudian lupakan amalan tersebut, supaya nilai ibadahnya tidak hangus karena ‘ujub (membanggakan diri). Karena menjaga taat itu lebih sulit dari pada melaksanakannya.
Syekh Abu Bakar Al Wasithi juga mengatakan bahwa; menjaga ketaatan itu lebih berat dari pada melaksanakannya. Taat itu di ibaratkan seperti kaca, cepat (mudah) pecah, dan tidak bisa ditambal. Demikian juga amal ibadah (taat), jika amal sudah “tercemar” riya’ atau ‘ujub, maka amal itu akan hancur (tidak bermanfaat).
Apabila ada seseorang melaksanakan suatu perbuatan, dan takut timbul riya’ dari dalam dirinya, maka hendaknya dia berusaha dengan sungguh-sungguh untuk mengeluarkan perasaan riya’ dari dalam hatinya. Jika ternyata masih belum mampu melenyapkan riya’ dari dalam hatinya, maka hendaknya dia tetap melaksanakan amalan tersebut, dengan disertai istighfar, ,mohon ampunan pada Allah SWT, atas sifat riya’ yang masih melekat pada amal ibadahnya. Dengan demikian, semoga Allah SWT menunjukkan jalan menuju ikhlas pada amal ibadah yang lain.
Syekh Fudhail bin Iyadl mengatakan : meninggalkan amal karena manusia adalah riya’, dan berbuat amal karena manusia adalah syirik. Syekh As Siriy As Saqthi juga mengatakan : Barang siapa menghiasi dirinya untuk manusia dengan sesuatu yang tidak ada pada manusia, maka dia gugur dari pandangan Alah SWT.
Pada hakekatnya, orang yang menipu Allah SWT itu menipu dirinya sendiri. Mereka tertipu dengan amal yang dilakukannya selama ini. Mereka mengira telah mengumpulkan banyak pahala. Namun sayang,hanya karena niat mreka tidak ditujukan pada Allah SWT, amal ibadah yang melelahkan dan menyita waktu itu tidak mempunyai nilai di hadapan Allah SWT. Semoga Allah SWT selalu membimbing hati kita untuk selalu taat kepada-NYA dengan hati yang tulus ikhlas. Amin.




HADITS QUDSI.


Allah ‘Azza wa Jalla berfirman :
Barang siapa mencari katenaran dengan amalnya, ia seperti orang yang mengusung air dipunggungnya ke gunung, ia letih dan lelah, namun tidak sedikitpun amalnya diterima.
Wahai anak cucu Adam, ketahuilah, sesungguhnya AKU tidak menerima amal kecuali yang ikhlas ditujukan kepada-KU ,maka bahagialah orang-orang yang ikhlas .
Wahai anak cucu Adam, jika kau melihat orang miskin mendatangimu, maka katakanlah; selamat datang tanda kaum sholihin. Bila engkau melihat orang kaya mendatangimu, ,maka katakanlah; dosa yang dipercepat balasannya,dn jika engkau melihat seorang tamu yang terpenjara disana, katakanlah; aku berlindung dari syetan yang terkutuk.
Wahai anak cucu Adam, harta adalah milik-KU, kau adalah hamba-KU, dan tamu adalah utusan-KU, tidak takutkah engkau bila KUcabut nikmat-KU darimu ?. Rezeki adalah rezeki-KU, syukur adalah bagianmu, namun manfaatnya kembali kepadamu, tidakkah kau syukuri nikmat yang KUberikan kepadamu ?
Wahai anak cucu Adam, jangan bergantung pada makhluk semisalmu, nanti kau (nasibmu) KUgantungkan padanya. Janganlah bersikap sombong kepada makhluk-KU, karena kau bermula dari nuthfah (air sperma), dan AKU mengeluarkannya dari tempat keluarnya kencing, “dari antara tulang sulbi laki-laki dan tulang dada perempuan”. (At Thoriq/ 86:7).
Janganlah kau melihat pada apa yang KUharamkan kepadamu, karena yang pertama kali akan dimakan cacing adalah kedua biji matamu. Ketahuilah, kau akan dihisab atas dasar simpati dan rasa cinta, dan ingatlah kedudukanmu nanti, karena AKU tidak akan lalai sekejap pun dari bisikan hatimu. Dan sesungguhnya AKU Maha Mengetahui segala yang tersembunyi di dada.
(di nukil dari kitab” Al Mawaidz FiAl Ahadits Al Qudsiyyah”.)

kata mutiara:
· Seburuk-buruk manusia adalah orang yang rela agamanya hancur untuk membangun dunianya.
· Seburuk-buruk manusia adalah orang yang tidak peduli dilihat manusia ia berbuat keburukan.
· Seburuk-buruk manusia adalah orang yang dikerumuni manusia karena keburukannya.

0 komentar:

Posting Komentar