tanbihul ghofilin

INTINYA ILMU
(Tanbihul Ghofilin)
Habib Hasan bin Abdurrahman Al Jufri

Dalam sebuah hadits Nabi SAW disebutkan bahwa menuntut ilmu hukumnya wajib bagi setiap orang muslim, laki-laki maupun permpuan.Dari hadits tersebut mungkin akan timbul pertanyaan dalam diri kita; apakah kita yang nota benenya sebagai seorang muslim/ muslimah sudah melaksanakan kewajiban menuntut ilmu ?, jika sudah, berarti kita sudah berupaya menjadi muslim yang sejati. Namun jika belum, tentunya setiap hari Malaikat pencatat amal akan sibuk “mengoleksi” catatan dosa untuk kita. Hal ini di sebabkan karena dengan meninggalkan menuntut ilmu berarti meninggalkan kewajiban, dan barang siapa meninggalkan kewajiban berarti melaksanakan kemaksiatan, dan barang siapa melaksankan kemaksiatan, maka akan dicatat sebagai dosa. Selanjutnya mungkin juga akan muncul pertanyaan lagi, ; apakah ilmu yang tersebar di muka bumi ini harus kita pelajari semua ?, atau sudah gugurkah kewajiban menuntut ilmu dengan belajar di tempat-tempat kursus, atau sekolah-sekolah formal yang bersifat umum?
Ternyata ilmu yang dimaksud sebagai suatu hal yang wajib dicari kaum muslimin adalah ilmu yang dibutuhkan untuk melaksanakan perintah-perintah Allah SWT, dan menjauhi larangan-larangan-NYA (pelaksanaan ibadah wajib). Hal ini disebabkan karena suatu ibadah tidak akan diterima sebagai suatu ibadah jika pelaksanaannya tanpa didasari dengan ilmu. Sedangkan Allah SWT menciptakan manusia di dunia ini di maksudkan agar beribadah kepada-NYA. Allah SWT berfirman dalam surat Ad Dzariyat, ayat 56 : “Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-KU”
Dari penjelasan diatas bisa kita simpulkan bahwa semua ilmu yang kita cari hendaknya ilmu yang bisa lebih mendekatkan diri kita pada Allah SWT. Barang siapa bertambah ilmunya, tapi tidak bertambah hidayah (petunjuk) pada dirinya, maka antara dia dengan Allah SWT tidak akan bertambah, kecuali bertambah jauh, Wal ‘iyadzu billah.
Syekh Nasr bin Muhammad As Samarkandh menuqil sebuah hadits yang diriwayatkan Syekh Abdullah bin Masur Al Hasyimi : Ada seorang laki-laki datang pada Rosulullah SAW dan berkata; Saya datang kepada engkau, agar engkau memberi tahu kepadaku tentang ghoroibul ilmi (aneh-anehnya ilmu/ ilmu-ilmu yang masih asing). Nabi SAW bertanya; Apa yang telah kamu perbuat pada intinya ilmu?, orang tadi kembali bertanya; Apa itu intinya ilmu?, Nabi SAW berkata; Apakah kamu mengenal Allah ‘Azza wa Jalla?, di jawab; Ya, aku mengenalnya.Nabi SAW bertanya; Apa yang kamu lakukan untuk memenuhi hak-hak-NYA?, orang tadi menjawab; Ma Sya Allah (Allah berkehendak terhadap segala sesuatu).Nabi SAW).Nabi SAW bertanya lagi; Apakah kamu tahu kematian?, dijawab; Ya, aku mengetahuinya (bahwa kematian pasti akan menghampiri siapapun yang bernyawa), Nabi SAW berkata; Apa yang kamu persiapkan untuk menyambut kedatangannya?, orang tadi menjawab: Ma Sya Allah . Kemudian Nabi SAW berkata: Pergilah, dan fikirkan semua (yang telah aku sampaikan), setelah itu kembalilah kepadaku, sehingga aku akan ajarkan kepadamu tentang Ghoroibul Ilmi . Setelah waktu berjalan beberapa tahun, orang laki-laki tadi kembali mendatangi Nabi SAW, lalu Nabi SAW menasehati orang tersebut; Apapun yang tidak kamu sukai/ harapkan jika terjadi pada dirimu, maka hendaknya kamu juga jangan berharap hal itu terjadi pada saudaramu muslim, dan apapun yang kamu sukai/ harapkan bisa terjadi pada dirimu, maka hendaknya kamu juga berharap hal itu bisa terjadi pada saudaramu muslim, dan hal inilah termasuk Ghoroibul Ilmi .
Kemudian Nabi SAW melanjutkan nasehatnya; bahwa persiapan untuk menyambut kematian adalah intinya ilmu, maka lebih utama jika seseorang selalu sibuk dalam mempersiapkan kamatian. Barang siapa dikehendaki Allah SWT untuk mendapatkan petunjuk-NYA, maka DIA akan melapangkan dadanya dengan islam. Dan barang siapa di kehendaki Allah SWT menjadi orang yang tersesesat. maka DIA akan menyempitkan dadanya dengan kesusahan (pada islam). Adapun ciri orang yang hatinya di sinari dengan nur islam yaitu apabila orang itu menjauh dari duniawi dan kembali (mendekat) pada kehidupan yang kekal / ukhrowi, serta mempersiapkan datangnya kematian. Semoga Allah SWT mengakhiri kehidupan kita dengan akhir yang bagus dan terpuji (Khusnul Khotimah). Amin.



HADITS QUDSI

Allah ‘Azza wa Jalla Berkata:

Wahai anak cucu Adam, letakkan tanganmu di dadamu, apa yang kau sukai untuk dirimu, kau juga harus menyukainya untuk orang lain.
Wahai anak cucu Adam, tubuhmu lemah dan lisanmu ringan, hatimu angkuh.
Wahai anak cucu Adam , puncak tujuanmu adalah kematian, maka beramallah sebelum kematian itu mendatangimu.
Wahai anak cucu Adam, AKU tidak menciptakan anggota tubuh tanpa menciptakan lebih dahulu rezeqinya.
Wahai anak cucu Adam, kalau kau KUciptakan buta, kau pasti menyesal tidak memiliki penglihatan. Kalau kau KUciptakan tuli, kau pasti menyesal tidak memiliki pendengaran. Maka sadarilah besarnya kenikmatan yang KUberikan kepadamu, bersyukurlah kepada-KU, ,karena kepadaKU kau akan kembali.
Wahai anak cucu Adam, apa yang telah KUbagikan kepadamu, janganlah kau bersusah payah mencarinya. Semua (rezeki) yang KUtetapkan bagimu akan mencarimu sehingga rezeki itu menemukanmu.
Wahai anak cucu Adam, janganlah kau bersumpah palsu dengan namuKU, barang siapa bersumpah palsu akan KUmasukkan ke dalam neraka.
Wahai anak cucu Adam, jika kau makan rezekiKU, ,ikutilah dengan ketaatan kepadaKU.
Wahai anak cucu Adam, jangan kau menuntutKU atas rezeki esok, karena AKU tidak akan menuntutmu atas amalan esok (belum kau lakukan).
Wahai anak cucu Adam, AKU rela dengan sedikit amalmu, tapi kau tidak rela dengan banyak rezekiKU.
Wahai anak cucu Adam, beramallah untuk dirimu sebelum datangnya kematian. Janganlah kau tertipu oleh kesalahan-kesalahan, karena kesalahan itu meninggalkan bekas yang jelas, dan janganlah kehidupan dan angan-angan panjang melalaikanmu dari taubat, karena pada akhirnya kau pasti menyesal ketika penyesalan itu tidak bermanfaat lagi bagimu.

0 komentar:

Posting Komentar