“Head Oriented”,“Heart Oriented” dan “Neo-Man”.




“Head Oriented”,“Heart Oriented” dan “Neo-Man”.

Yang Manakah Kita?

Ada manusia yang berorientasi kepada otak dan ada yang berorientasi kepada hati, serta ada yang memiliki visi tentang Manusia Baru, tentang “Neo-Man”.
Manusia Baru adalah Manusia Sempurna dalam pengertian “The Total Man” alias Manusia “Lengkap”.
Manusia Baru  tidak akan diperbudak oleh hati maupun otak. Sebab ia mengendalikan keduanya. Ia tahu persis kapan menggunakan hati, dan kapan mengunakan otak. Ia bukanlah “Pembantu” hati atau otak, ia adalah “Majikan” yang mengendalikan keduanya.

Orientasi pada Otak melahirkan para saintis, para politisi, para pengusaha yang mahir mencari keuntungan.......
Sementara itu, Orientasi pada Hati melahirkan para seniman, para penyair, penulis, dan tentu saja para pendidik dan para pemuka agama. Kelompok kedua ini tidak terlalu pintar dalam urusan hitung-menghitung.......
Di tanah air kita ini ada kalanya terjadi tumpang-tindih.
Seorang artis, seorang pemandu kerohanian yang “heart oriented” menjadi pejabat, memasuki ranah politis. Kemudian seorang pengusaha yang “head oriented” memasuki bidang pendidikan, sehingga tujuan pembinaan anak bangsanya terpinggirkan oleh pencarian keuntungan semata.....


Jadi Neo-Man mencoba untuk menyerasikan  antara otak dan hati, antara pikiran dan rasa.

Agar nampak jelas perbedaannya, mereka yang mengoptimalkan rasa dimasukkan dalam kelompok seniman, sedangkan mereka memaksimalkan pikiran dimasukkan dalam kelompok cendekiawan.

Seni bersifat lembut, feminin sedangkan kecendekiaan bersifat maskulin.

Baik mereka yang lahir berwujud wanita atau pria apabila hanya menggunakan otak dan logika cenderung keras, kaku dan alot. Mereka cenderung arogan, tidak mau menjadi bagian dari masyarakat umum. Mereka sering berorganisasi secara eksklusif, menjadi pengurus elite dan menganggap diri mereka lebih superior.


Para leluhur kita telah memberikan gambaran tentang seseorang yang berpengetahuan tetapi penuh kelembutan dan rasa welas asih. Dewi Saraswati adalah gambaran ideal seseorang yang berpengetahuan yang memiliki sifat feminin.

Dewi Saraswati digambarkan dalam lukisan selalu membawa gitar, sedangkan kalau di internet digambarkan memegang sitar. Kadang juga  Sang Dewi memegang sekuntum bunga, sedangkan di internet kita melihat Sang Dewi memegang japamala. Kemudian Sang Dewi nampak memegang lontar dan sedang menari sedangkan di internet nampak sedang memainkan sitar.

Gitar atau Sitar mewakili seni, mewakili keindahan. Seni dalam melakoni hidup. Pemandangan alam menjadi latar belakang lukisan, lingkungan yang asri dan bukan tumpukan buku di perpustakaan. Kemudian bunga atau japamala, atau tasbih atau rosario berupa satu untaian permata yang diikat dalam persatuan. Ini bermakna kemuliaan, kebijakan, bahasa lukisan dari Bhinneka Tunggal Ika.

Para pemuka agama umumnya  merasa paling unggul, sehingga acapkali memisahkan diri dengan yang lain belum menjadi seorang yang bijak. Mereka masih termasuk kelompok cendekiawan yang memaksimalkan pemakaian otak, karena mereka merasa benar sendiri, yang merupakan sifat utama dari pikiran.


Seorang yang mulia, yang bijak yakin bahwa hanya Dia Yang Maha Benar, tidak ada Kebenaran yang lain, dia bersifat rendah hati dan tidak menuhankan pandangannya sebagai Kebenaran, serta tidak menganggap sesat pandangan orang lain.

Selanjutnya, lontar bermakna sumber Kebenaran dari segala macam pengetahuan. Menari atau menyanyi berarti melakukan segala segala sesuatu dengan irama.

Keindahan, Kemuliaan dan Kebenaran.

Berarti Sang Dewi adalah cerminan diri dari manusia yang sempurna, “Neo-Man”, Manusia baru. Gambaran Sang Dewi merupakan undangan bagi manusia untuk menggapai kesempurnaan diri. Dewi Saraswati merupakan pertemuan dari sifat maskulin dengan sifat feminin.

Guru, bukanlah pengajar atau pendidik saja, akan tetapi dia telah melakoni apa yang beliau ajarkan. Ia seorang Master yang telah berhasil mengendalikan dirinya, mengendalikan nafsunya. Kita biasa menilai seseorang dari wujud, penampilan, nama dan kedudukannya.

Sedangkan seorang Master menerima setiap orang sebagai manifestasi dari kasih Ilahi. Kita memiliki pengetahuan dan kesadaran seperti yang dicapai pada saat ini tentu merupakan hasil pendidikan dari banyak Guru. Buktinya seorang anak bayi yang hidup bersama hewan, dia tak akan meningkat pengetahuan dan kesadarannya.

Saraswati Puja atau melakukan penghormatan kepada Saraswati berarti mengingatkan diri kita akan adanya benih keindahan, kemuliaan dan kebenaran dalam diri. Dan kita mendapatkan kesadaran tentang keindahan, kemuliaan dan kebenaran dari Guru. Guru Purnima atau penghormatan kepada Guru berarti menghormati Keberadaan yang telah memberikan pengetahuan dan kesadaran kepada kita lewat para Guru.


Ada kaitan antara otak, hati, Dewi Saraswati dan Guru. Guru adalah masa depan seorang murid dan murid adalah masa lalu seorang Guru.

Perhatikan kehidupan Sri Krishna, Sang Buddha, Yesus dan Baginda Nabi Muhammad SAW. Mereka adalah Idola Manusia Baru, mereka telah menggunakan pikiran dan rasanya sebagai alat untuk meningkatkan kesadaran manusia. Perhatikan kecerdasan sekaligus kelembutan mereka. Mereka adalah contoh dari Manusia Baru yang telah mencapai keindahan, kemuliaan dan kebenaran dalam diri mereka.

Zaman Baru mestinya sudah dimulai saat para Para Idola Manusia Baru tersebut memberikan ajaran, dan bila hal tersebut belum terjadi itu karena manusia belum siap. Kini kemajuan dalam bidang teknologi telah menghasilkan fenomena baru. Dunia kita sudah tidak dapat dipisahkan oleh jarak dan waktu. Kejadian di Benua Amerika langsung dapat dirasakan pada saat yang sama oleh mereka yang hidup di sini. Teologi yang diciptakan untuk mengurung para Idola Manusia Baru dalam lingkungannya sudah mulai runtuh. Monopoli atas pemaknaan kitab-kitab suci sulit dipertahankan lagi, karena begitu banyaknya pendapat di dunia maya. Fenomena ini mestinya mempercepat lahirnya para Manusia Baru. Zaman Baru nampaknya tak dapat dicegah lagi. Semoga kita bersedia mempersiapkan diri menjadi Manusia Baru demi kemajuan bangsa, kemajuan kemanusiaan. Semoga.........

saduran

0 komentar:

Posting Komentar