rahasia Sabar

Takwa adalah anugerah yang paling agung setelah hidayah iman yang telah dimasukkan oleh Allah Subhanahu Wata'ala ke dalam kalbu. Dengan bersyukur yang sebenarbenarnya, Allah Subhanahu Wata'ala akan meningkatkan kenikmatan yang agung itu, insya Allah. Dia hujamkan keimanan ke dalam hati kita dan mengangkat tinggi derajat ketakwaan kita. Amin, Allahumma, amin…

Jika keimanan itu laksana burung, maka jiwa kita akan terbang menuju ke hadirat Allah Subhanahu Wata'ala dengan dua sayap yang kokoh, yaitu sayap syukur dan sayap sabar.

Hakikat sabar adalah teguh dan kokoh mempertahankan jiwa untuk selalu berada pada ketentuan syari'at Allah, dengan tetap menjalankan ketaatan dan menahan diri dari larangan serta berlapang dada pada setiap ketentuan ujian dari Allah Subhanahu Wata'ala.

Maka orang yang bersabar akan senantiasa teguh dan selalu menambah kekuatan tenaga jasmani dan rohaninya untuk meningkatkan amal ketaatan, terus mengokohkan dan menambah tekun amal ibadah dan amal shalih mereka. Allah Subhanahu Wata'ala berfirman :

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا اصْبِرُوا وَصَابِرُوا وَرَابِطُوا وَاتَّقُوا اللهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

"Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga (di perbatasan negerimu) dan bertakwalah kepada Allah supaya kamu beruntung." (Ali Imran: 200).

Mereka juga bersabar di dalam menahan penderitaan dengan tetap melaksanakan ketaatan, sehingga Allah Subhanahu Wata'ala amat memuji dan menyanjung mereka.

Dengan bersabar, seseorang akan menyadari dan ridha bah-kan cinta terhadap ketentuan ujian penderitaan yang telah ditak-dirkan oleh Allah pada dirinya. Allah Subhanahu Wata'ala berfirman :

وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِّنَ اْلأَمْوَالِ وَاْلأَنفُسِ وَالثَّمَرَاتِ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ

"Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedi-kit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar." (Al-Baqarah: 155).

Bagaimana tidak, padahal orang-orang kafir, orang-orang musyrik dan orang-orang atheis mampu bertahan dengan penderitaan-penderitaan yang menimpa mereka, maka orang beriman pasti lebih kokoh, tahan dan ridha, bahkan cinta pada ketentuan takdir itu, kemudian dengan kekuatan jiwa dan imannya, orang-orang yang beriman mencari kebaikan di dunia dan di akhirat dari penderitaan itu dengan beristirja` hanya kepada Allah. Istirja` maksudnya, meyakini, mengakui, menyadari sepenuhnya serta menye-rahkan segenap kebaikan urusannya hanya kepada Allah, sehingga Allah Subhanahu Wata'ala berkenan membalasnya dengan yang lebih indah. Allah Subhanahu Wata'ala berfirman :

"(Yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan, 'Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un'." (Al-Baqarah: 155 – 156).

Itulah hakikat kesabaran yang intinya adalah teguh bertahan sekokoh-kokohnya dalam memperkuat jiwa, kemudian memperjuangkan segenap kemampuan jiwanya itu dalam menempuh keridhaan Allah, dengan melaksanakan perintah dan menjauhi laranganNya dalam kondisi apa pun.
Kesabaran yang demikian itulah yang disediakan bagi penyandangnya berbagai kemuliaan, keagungan, ketinggian derajat, kekuasaan, bahkan berbagai balasan yang dijanjikan oleh Allah dalam Firman-firmanNya,

Mari kita simak beberapa pujian dan balasan yang disediakan dan diberikan kepada orang-orang yang bersabar, yang kita kutip dari Firman Allah Subhanahu Wata'ala,


1. Allah akan mengantarkannya menuju kepada keberuntungan dan kebahagiaan di dunia dan di akhirat. Firman Allah Subhanahu Wata'ala :

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا اصْبِرُوا وَصَابِرُوا وَرَابِطُوا وَاتَّقُوا اللهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

"Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga (di perbatasan negerimu) dan bertakwalah kepada Allah supaya kamu beruntung." (Ali Imran: 200).

2. Pahala orang-orang yang bersabar akan dilipatgandakan dengan hitungan yang tanpa batas. Sebagaimana yang diperkuat oleh Firman Allah :

قُلْ يَاعِبَادِ الَّذِينَ ءَامَنُوا اتَّقُوا رَبَّكُمْ لِلَّذِينَ أَحْسَنُوا فِي هَذِهِ الدُّنْيَاحَسَنَةٌ وَأَرْضُ اللهِ وَاسِعَةٌ إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُم بِغَيْرِ حِسَابٍ

"Katakanlah, 'Hai hamba-hambaKu yang beriman, bertakwalah ke-pada Rabbmu.'Orang-orang yang berbuat baik di dunia ini mem-peroleh kebaikan. Dan bumi Allah itu adalah luas. Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala tanpa batas." Az-Zumar: 10).

3. Mencapai kejayaan dan kepemimpinan, sebab tanpa kesabaran, cita-cita yang sudah di depan mata dan sedikit lagi akan tergapai menjadi sirna dan hilang. Cobalah perhatikan pemimpin-pemimpin besar dunia, mereka adalah orang-orang yang gigih memperjuangkan cita-citanya, di samping senjata utama yang tidak pernah lekang dari mereka yaitu kesabaran menghadapi berbagai rintangan yang menghadang mereka.
Firman Allah Subhanahu Wata'ala :

وَجَعَلْنَا مِنْهُمْ أَئِمَّةً يَهْدُونَ بِأَمْرِنَا لَمَّا صَبَرُوا وَكَانُوا بِئَايَاتِنَا يُوقِنُونَ

"Dan Kami jadikan di antara mereka itu pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami ketika mereka sabar. Dan mereka meyakini ayat-ayat Kami." (As-Sajadah: 24).

4. Dengan kesabaran, kekuatan akan selalu bersanding ber-samanya, kemenangan akan selalu hadir di hadapannya, dan pertolongan Allah akan selalu menyertainya. Firman Allah Subhanahu Wata'ala :

وَأَطِيعُوا اللهَ وَرَسُولَهُ وَلاَتَنَازَعُوا فَتَفْشَلُوا وَتَذْهَبَ رِيحُكُمْ وَاصْبِرُوا إِنَّ اللهَ مَعَ الصَّابِرِينَ

"Dan taatlah kepada Allah dan Rasulnya dan janganlah kamu berbantah-bantahan, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu. Dan bersabarlah, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar." (Al-Anfal: 46).

5. Kesabaran merupakan perisai kokoh dan tangguh, yang dapat digunakan menangkal berbagai makar yang diluncurkan musuh, bahkan dengan kesabaran itu, makar-makar musuh akan menjadi lemah dan tak mempunyai daya serang yang berarti. Firman Allah Subhanahu Wata'ala :

إِن تَمْسَسْكُمْ حَسَنَةُُ تَسُؤْهُمْ وَإِن تُصِبْكُمْ سَيِّئَةُُ يَفْرَحُوا بِهَا وَإِن تَصْبِرُوا وَتَتَّقُوا لاَ يَضُرُّكُمْ كَيْدُهُمْ شَيْئًا إِنَّ اللهَ بِمَا يَعْمَلُونَ مُحِيطُُ

"Jika kamu memperoleh kebaikan, niscaya mereka bersedih hati, tetapi jika kamu mendapat bencana, mereka bergembira karenanya. Jika kamu bersabar dan bertakwa, niscaya tipu daya mereka sedikit-pun tidak mendatangkan kemudharatan kepadamu. Sesungguhnya Allah mengetahui segala apa yang mereka kerjakan." (Ali Imran: 120).

6. Sebagai penghormatan yang sangat istimewa bagi para penyabar. Dikarenakan ketangguhan mereka di dalam bersabar, maka para malaikat menyambut dan mengucapkan salam kepada mereka.
Firman Allah Subhanahu Wata'ala :

سَلاَمٌ عَلَيْكُم بِمَا صَبَرْتُمْ فَنِعْمَ عُقْبَى الدَّارِ

"(Sambil mengucapkan), 'Salamun 'alaikum bima shabartum.' Maka alangkah baiknya tempat kesudahan itu." (Ar-Ra'd: 23 – 24).

7. Menjadi golongan yang dicintai Allah merupakan cita-cita dan tujuan seorang mukmin, maka dengan kesabaran, kecintaan Allah Subhanahu Wata'ala dengan sendirinya tersandang kepadanya.
Firman Allah Subhanahu Wata'ala :"Dan berapa banyak nabi yang berperang, bersama-sama mereka sejumlah besar dari pengikut(nya) yang bertakwa. Mereka tidak menjadi lemah karena bencana yang menimpa mereka di jalan Allah, dan tidak lesu dan tidak (pula) menyerah (kepada musuh). Allah menyukai orang-orang yang sabar." (Ali Imran: 146).



Dan masih banyak lagi keutamaan-keutamaan yang akan diperoleh oleh seorang penyabar, yang tidak memungkinkan bagi khatib untuk menyebutkan satu persatu dan merincinya dengan detil pada khutbah ini, tapi di antara keutamaan-keutamaan itu adalah mencapai puncak derajat tertinggi dan kebaikan yang paling agung di dunia maupun akhirat, mendapat kejayaan dan keberuntungan, jauh dari kerugian dan penyesalan, diistimewakan oleh Allah bersama para dermawan yang penuh cinta kasih, dan dimasukkan ke dalam golongan Kanan (أَصْحَابُ الْمَيْمَنَةِ), serta dapat memperkuat sendi-sendi keislamannya dengan kesabarannya tersebut.

Itulah berbagai kemuliaan, keutamaan yang dikaruniakan, pahala yang tiada terhitung, kemudian ampunan dan surga yang pasti akan diperoleh orang-orang yang bersabar.
Rasulullah Sallallahu 'Alahi Wasallam bersabda :

مَا يُصِيْبُ الْمُسْلِمَ مِنْ نَصَبٍ وَلاَ وَصَبٍ وَلاَ هَمٍّ وَلاَ حُزْنٍ وَلاَ أَذًى وَلاَ غَمٍّ حَتَّى الشَّوْكَةِ يُشَاكُهَا، إِلاَّ كَفَّرَ الله بِهَا مِنْ خَطَايَاهُ.

"Tidaklah menimpa seorang Muslim dari keletihan atau penyakit, kecemasan, kesedihan, penderitaan, tidak pula duka cita, sampai pada duri yang menusuknya, kecuali Allah meleburkan dengannya dari dosa-dosanya." (HR. al-Bukhari: 5641 – 5642; Muslim: 2573).

Bahkan Nabi Sallallahu 'Alahi Wasallam meriwayatkan satu hadits Qudsi yang beliau riwayatkan dari Sang Maha Penyabar, bahwa Allah Subhanahu Wata'ala berfirman :

إذا ابْتَلَيْتُ عَبْدِيْ بِحَبِيْبَتَيْهِ فَصَبَرَ، عَوَّضْتُهُ مِنْهُمَا الْجَنَّةَ

"Bila Aku menguji hambaKu dengan kedua kekasihnya (matanya) kemudian bersabar, maka Aku ganti baginya dengan surga." (HR. al-Bukhari : 5653).

Itulah keutamaan kesabaran, maka marilah kita memohon taufik dan inayahNya, semoga Allah Subhanahu Wata'ala menjadikan kita semua se-bagai hambaNya yang penyabar.
Kesabaran adalah kebahagiaan hidup yang sesungguhnya, beberapa orang sahabat radiyallahu 'anhum datang memohon sesuatu kepada Rasulullah Sallallahu 'Alahi Wasallam, beliau memberinya, maka mereka datang memohon lagi, Rasul Sallallahu 'Alahi Wasallam memberi lagi, kemudian mereka datang lagi, beliau Sallallahu 'Alahi Wasallam memberi lagi, sampai akhirnya beliau kehabisan sesuatu untuk diberikan kepadanya, kemudian beliau Sallallahu 'Alahi Wasallam bersabda :

مَا يَكُوْنُ عِنْدِيْ مِنْ خَيْرٍ فَلَنْ أَدَّخِرَهُ عَنْكُمْ، وَمَنْ يَسْتَعْفِفْ يُعِفَّهُ الله ، وَمَنْ يَسْتَغْنِ يُغْنِهِ الله ، وَمَنْ يَتَصَبَّرْ يُصَبِّرْهُ الله ، وَمَا أُعْطِيَ أَحَدٌ عَطَاءً خَيْرًا وَأَوْسَعَ مِنَ الصَّبْرِ

"Tidak ada suatu benda berharga pun yang aku sembunyikan dari kalian semua, maka siapa yang menjaga kehormatan dirinya, maka Allah akan menjaganya. Siapa yang mencukupkan diri (dari meminta-minta), maka Allah akan mencukupinya, dan siapa yang menyabar-kan dirinya, maka Allah akan menjadikannya bersabar. Dan tidaklah seseorang mendapat karunia yang lebih baik dan lebih luas melebihi dari kesabaran." (HR. al-Bukhari-Muslim dari Abi Sa'id al-Khudri).

Kesabaran itulah perhiasan akhlak yang harus kita mohonkan kepada Allah, Sayyidina Umar radiyallahu 'anhu berkata :

وَجَدْنَا خَيْرَ عَيْشِنَا بِالصَّبْرِ

"Kita temukan sebaik-baik kehidupan kita adalah dengan kesabaran."

Maka marilah kita memohon tambahan kokohnya kesabaran itu dengan menambah ilmu tentang keutamaan kesabaran dan menambah kokohnya iman kita tentang sifat, anugerah dan janji-janji Allah serta kehidupan dan balasan di akhirat kelak.

وَاصْبِرْ وَمَاصَبْرُكَ إِلاَّبِاللهِ وَلاَتَحْزَنْ عَلَيْهِمْ وَلاَتَكُ فِي ضَيْقٍ مِّمَّا يَمْكُرُونَ . إِنَّ اللهَ مَعَ الَّذِينَ اتَّقَوْا وَالَّذِينَ هُم مُّحْسِنُونَ

"Bersabarlah (hai Muhammad), dan tiadalah kesabaranmu itu melainkan dengan pertolongan Allah dan janganlah kamu bersedih hati terhadap (kekafiran) mereka dan janganlah kamu bersempit dada terhadap apa yang mereka tipu dayakan. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang bertakwa dan orang-orang yang berbuat kebaikan." (An-Nahl: 127-128).


www.alsofwah.or.id
( Dikutip dari buku: Kumpulan Khutbah Jum’at Pilihan Setahun Edisi Kedua, Darul Haq, Jakarta. Diposting oleh Wandy Hazar S.Pd.I )
Written 42 minutes ago · Comment · LikeUnlike
6 people like this.
Write a comment...
DOA RASULULLAH
Share
by Azis Setiawan (notes) Today at 4:14pm


Diriwayatkan oleh an Nasa'i, Imam Ahmad, Ibnu Hibban (dalam kitab Shahih-nya) dan begitu pula yang lainnya sebagai hadis yang diterima dari Ammar bin Yasir r.a. bahwa Rasulullah saw telah berdoa dengan doa:

Ya Allah dengan pengetahuan-Mu terhadap yang gaib dan dengan kuasa-Mu atas makhluk, hidupkanlah aku selama Engkau ketahui bahwa kehidupan itu lebih baik bagiku dan matikanlah aku jika kematian itu lebih baik bagiku. Aku memohon kepada-Mu agar aku selalu takut kepada-Mu, baik di kala sepi maupun ramai. Aku memohon kepada-Mu perkataan yang benar pada waktu marah dan tenang. Aku memohon kepada-Mu kesederhanaan di saat fakir dan kaya. Aku memohon kepada-mu nikmat yang tiada lenyap. Aku memohon kepada-Mu penyejuk mata yang tidak akan terputus. Aku memohon kepada-Mu sikap rela menerima qada sesudah terjadi. Aku memohon kepada-Mu kehidupan yang damai sesudah mati. Aku memohon kepada-Mu kelezatan memandang wajah-Mu. Aku memohon kepada-Mu kerinduan untuk dapat berjumpa dengan-Mu tidak dalam keadaan susah yang membahayakan dan bukan dalam keadaan sedang mendapat ujian yang menyesatkan.
Ya Allah, hiasilah kami dengan hiasan iman dan jadikanlah kami orang-orang yang mendapat hidayah. Amin

(Imam Ibnul Qayyim Al-Jauziyah)
Updated 53 minutes ago · Comment · LikeUnlike
Laura Aja and 20 others like this.
Dewi Aisyah
Dewi Aisyah
Amiin ya mujibassailin
15 minutes ago
Laura Aja
Laura Aja
Amiin ya Allah ya Mujib Amin...
9 minutes ago
Write a comment...
Segera Petik Buah Tanaman Kesadaran Sebelum Hama Mafia Rekayasa Menyerbu
Share
by Triwidodo Djokorahardjo (notes) Today at 3:59pm
Malam sudah semakin larut dan sepasang suami istri setengah baya masih saja bercengkerama melakukan introspeksi ke dalam diri. Di hadapan mereka terdapat buku “Atisha, Melampaui Meditasi untuk Hidup Meditatif”, karya Bapak Anand Krishna, terbitan PT Gramedia Pustaka Utama, tahun 2003.

Sang Isteri: Dalam buku Atisha dijelaskan bahwa ibarat mobil, “mind’ hanya punya tiga gigi, suka – tidak suka – dan cuek. Yang disukai dikejarnya, yang tidak disukai dihindarinya dan cuek terhadap urusan orang lain. Selama ini yang dikerjakan mind hanya tiga pekerjaan tersebut. Hidup di zaman sekarang ini, kita selalu menggunakan pertimbangan “mind”, kalkulasi “untung-rugi” sebelum melakukan sesuatu. Mind selalu mengejar kesenangan dan menghindari penderitaan. Dalam konteks korupsi, mengingat korupsi merupakan cara cepat mendapatkan kekayaan tanpa mesti kerja keras, secara psikologis, “mind” seseorang akan mudah tergerak untuk korupsi.

Sang Suami: Pada zaman dahulu ketika alat tukar masih berupa logam emas dan perak, para “raksasa” yang tidak dapat mengendalikan keserakahan melakukan perampokan dan penjarahan. Pada saat ini uang adalah alat tukar yang praktis, bahkan tidak harus membawa uang untuk berbisnis, cukup dengan kartu kredit atau transaksi lewat bank. Hanya saja ketika uang sebagai komoditas mengungguli nilai riil, pusat kekayaan tidak lagi di sawah perkebunan yang luas atau peti besi, tetapi di dunia perbankan, di instansi keuangan, misalnya kantor pajak. Para “raksasa” modern tidak lagi merampok dengan kasar tetapi melakukan “rekayasa”. Penampilan fisik di luar lebih halus tetapi di dalam dirinya, tidak banyak berbeda dengan zaman dahulu....... Untuk mengawasi kegiatan keuangan terdapat kantor atau instansi yang bertugas mengawasi keuangan negara. Untuk merealisasikan program pemerintah maka terdapat kantor atau instansi yang membelanjakan uang negara. Seorang teman memperkirakan total anggaran belanja yang dikelola pemerintah adalah sekitar 15% dari total anggaran belanja yang terjadi di tengah masyarakat. Para penegak hukum dan politisi terlibat di dalam pengawasan masuknya uang dan pengawasan keluarnya uang pembelanjaan atau neraca anggaran biaya dan belanja negara. Dari Jajak Pendapat Kompas pada tanggal 12 April 2010, ternyata kepercayaan publik terhadap penyelenggara negara sudah sangat rendah. 90% responden menilai aparat berbagai instansi tidak bebas dari korupsi dan yang paling rawan di lembaga penegak hukum dan kemudian politisi. Untuk itu Satgas Pemberantasan Mafia Hukum yang dibentuk Kepala Negara telah menengarai telah terjadi Mafia di berbagai bidang.

Sang Isteri: Suamiku, terus bagaimana pandangan kuno para leluhur yang menyatakan bahwa harta dan tahta hanya "sesampiran", ibarat seledang penutup tubuh. Anak istri hanya "gegaduhan", hanya sekedar diminta memelihara. Dan, nyawa pun hanya "silihan", pinjaman. Bagaimana pula dengan Sayidina Umar sang panglima perang yang sangat “Jawa”, karena beliau berkata bahwa “Pada hakikatnya setiap orang di dunia ini adalah seorang tamu dan uang yang dimilikinya adalah pinjaman”. Seorang tamu pastilah cepat atau lambat akan pergi, dan pinjaman harus dikembalikan. Kemudian saya pernah baca buku “Mystical Rose”, ketika Maria Magdalena bertanya, “Seperti apa para pengikutmu Gusti?” Gusti Yesus menjawab, “Mereka seperti anak-anak kecil yang tinggal di atas lahan milik orang lain. Kemudian, apabila Pemilik Lahan itu mendatangi mereka dan minta lahannya dikembalikan, mereka akan langsung menanggalkan baju mereka dan langsung mengosongkan tempat itu.” Terus......Bagaimana menerapkan mutiara kebijaksanaan tersebut dalam kondisi seperti pada zaman ini?

Sang Suami: Yang menjadi masalah selama ini adalah definisi tentang kebahagiaan. Adalah ketidaksadaran kita bahwa kebahagiaan itu sebenarnya berada dalam diri kita. Karena ketidaktahuan kita, maka kita mencarinya dari sumber-sumber di luar diri. Mari merenungkan, yang membahagiakan kita bukan orang yang kita temui. Yang membahagiakan kita adalah perasaan kita sendiri – bahwa kita pernah bertemu dengan orang itu. Yang belum memilikinya berpikir harta dapat membahagiakan mereka. Yang telah memilikinya tahu persis bahwa harta pun tidak selalu membahagiakan. Kebahagiaan berasal dari dalam diri. Kita harus menemukan dalam diri. Caranya dengan meniti ke dalam diri........ Pesan para leluhur bahwa kita di dunia hanya sebatas mampir minum, atau sebagai tamu, atau sebagai pemelihara sawah bukan berarti manusia harus hidup dalam kemiskinan, tanpa keluarga. Titik beratnya adalah “ketidakterikatan”. Sri Krishna adalah seorang raja yang kaya, berpakaian indah gemerlapan, istrinya banyak, akan tetapi dia tidak terikat dengan wujud semua kebendaan tersebut. Hartanya digunakan untuk Dharma. Hasrat semangatnya digunakan untuk mencapai Kebenaran Sejati. Manusia yang menggunakan “mind” menggunakan hasrat semangatnya untuk mencari harta, dan melupakan Dharma serta melupakan Kebenaran Sejati.

Sang Isteri: Terima kasih suamiku, jadi Guru Atisha menganjurkan perubahan orientasi – dari “mind”, pikiran ke rasa. Pengalihan orientasi dari pikiran ke rasa membuat seseorang lebih lembut, lebih peka, lebih reseptif, lebih halus, lebih cair..... Walaupun demikian, perubahan saja tidak cukup. Seseorang harus bisa mempertahankan perubahan itu. Apa gunanya perubahan yang bersifat sesaat, sementara. “Mind” yang kita punyai ini bukanlah ciptaan kita akan tetapi ciptaan masyarakat. Ciptaan orang tua, pengajar di sekolah, lembaga agama, peraturan pemerintah, kondisi sosial ekonomi politik serta budaya setempat. Itulah sebab terjadinya konflik antara rasa dan pikiran. Antara suara nurani dan “mind”. Setelah kita dapat membuang pola “mind” lama dan membentuk “mind” baru yang berkesadaran maka terjadilah kelahiran baru, kelahiran kesucian dalam diri.

Sang Suami: Guru Atisha mulai dengan tiga asumsi awal, yaitu: Pertama – Adanya Kebenaran. Kedua – Mind menghalangi penglihatan kita. Ketiga – Mind bisa dilampaui. Inilah hal-hal mendasar – preliminaries – yang harus kita pelajari terlebih dahulu. Guru Atisha menganjurkan agar kita menyadari bahwa kesadaran belum tumbuh dalam diri kita. Kesadaran masih merupakan potensi yang terkembang. Kita berpotensi jadi Buddha, mencapai kesadaran Kristus, tetapi belum menjadi, belum mencapai. Dan kita harus menyadari hal itu. Yang membuat kita melekat dengan badan kasar, yang membuat kita masih hidup adalah “mind”. Yang membuat kita gelisah pun juga “mind”. Kita perlu berusaha memahami “mind” dengan penuh kesadaran. Membebaskan diri dari mind dengan membuat ketiga pekerjaannya sebagai tiga landasan kebijakan. Suka – sukailah kesadaran. Tidak suka – tidak sukailah ketidaksadaran. Cuek – cueklah terhadap yang menghujat dan menyepelekan kita.

Sang Isteri: Guru telah memberikan ciri-ciri seorang pengikut Gusti Yesus. Pertama, mereka berjiwa tulus, polos lugu seperti “anak kecil”. Kedua, ia yang sadar bahwa dunia ini bukan “milik”-nya. Ia tidak terikat dengan “dunia benda”. Ketiga, seorang pengikut siap menghadapi kematian “raga” kapan saja.

Sang Suami: Guru Atisha menyampaikan agar jangan lupa tujuan manusia berada di atas “panggung” sandiwara kehidupan yaitu untuk menghibur. Inilah "kesadaran". Aku berlindung pada "Kesadaran Murni". Jangan lupa peranmu, lakonmu, "dharma"-mu. Bermainlah sesuai dengan peran yang diberikan padamu. Aku akan selalu mematuhi dharma, peran yang diberikan padaku. Jangan lupa bahwa kau berada di sini untuk menghibur diri dan menghibur orang lain, bukan untuk menyusahkan orang. Mencelakakan orang. Aku selalu memikirkan "sangha", komunitas, masyarakat, bangsa.

Sang Isteri: Inilah maksud ayat yang kubaca di buku tulisan Guru. Kehadiran seorang Guru dalam hidup kita membuktikan bahwa waktu panen kesadaran sudah tiba. Celakanya kita tidak sadar bahwa sesungguhnya kita sudah siap. Seperti orang yang kebingungan, kita masih membuang-buang waktu. Masih lihat kiri-kanan, entah apa yang sedang kita cari. Sampai Guru gregetan, Mana aritmu? Cepat-cepat dipotong dong! Kalau tidak cepat-cepat dipotong, padi kita akan dimakan hama ketidaksadaran: burung, tikus, pencuri, banjir, atau mafia rekayasa. Upaya kita selama bertahun-tahun akan sia-sia.

Sang Suami: Dan Guru Atisha belajar pada Guru Besar Dharmakirti Svarnadvippi dari Sriwijaya. Kemudian Guru Atisha menyebarkannya di Tibet. Ajarannya yang terkenal adalah meditasi “Tong-Len” atau “Terima-Kasih”. Nenek Moyang kita akan “Menerima” segala apa pun yang diberikan kepada mereka dan mereka akan mengembalikannya dengan “Kasih”. Sudah waktunya ajaran Buddhi ini menyebar ke seluruh Nusantara. Apa pun agama yang kita anut, kita warnai keyakinan kita, kepercayaan kita dengan “Kesadaran”.

Situs artikel terkait
http://www.anandkrishna.org/oneearthmedia/ind/
http://triwidodo.wordpress.com
http://id-id.facebook.com/triwidodo.djokorahardjo
April, 2010.
Written about an hour ago · Comment · LikeUnlike
6 people like this.
Triwidodo Djokorahardjo
Triwidodo Djokorahardjo
Terima Kasih Pak Frans, Terima Kasih Mas Arief Rahman.
Salam! ... __/\__ ...
5 minutes ago
Ahmad Yulden Erwin
Ahmad Yulden Erwin
Terima Kasih...... LOVE
5 minutes ago
Write a comment...
Dzikir... oh Dzikir.......
Share
by Vicky Robiyanto (notes) Today at 2:32pm
Dzikirlah yang kami amalkan....
Hati kami jadi tenang...
Walau dimusuhi oleh setan....
Hati kami takkan goncang...

Maha Agunglah Asma-Nya.....
Maha besarlah kasih Nya...
Ahli dzikir kepada-Nya....
Paling dicinta oleh Dia....

Mati dalam husnul khotimah...
Harapan insan beriman...
Banyak-banyaklah dzikirullah...
Agar tetap dalam iman...

Tanda orang cinta Allah...
Cinta kepada dzikirullah...
Siang dan malam dzikirullah....
Allah...Allah...Allah...Allah......
Tiada henti dan terputus....
Hanyut dalam cinta-Nya....

Assalamu'alaikum

Dipandang dari segi sains (pengetahuan lintas sekte-sekte aliran dalam tasawuf Islam, dzikir dinilai sebagai salah satu metode khas Islam untuk mencapai suasana tertentu dalam perjalanan mendekatkan diri kepada Allah.

Secara umum, dzikir dilakukan dengan berulang-ulang mengucapkan salah satu dari: Allah atau salah satu dari Asma'ul husna, la illaha ilallah, la haula wa la quwwata illa billah, surat-surat pendek dari al-Qur'an dll. Semuanya bernuansa sama, yaitu mengingat Allah dengan segala Sifat-sifat-Nya. Pengucapan dilakukan dengan suara keras, atau hanya di dalam hati. Sambil mengulang-ulang dzikir itu, orang ada yang duduk tenang bersila dalam posisi (postur) tertentu, dengan atau tanpa disertai pengaturan napas. Ada kalanya, dzikir dilakukan dengan gerakan anggota tubuh tertentu, bahkan dengan gerakan-gerakan bela-diri, atau tarian dan musik [dilakukan oleh beberapa aliran sufi di Mesir dan Turki]. Pemusatan pikiran sangat diperlukan dalam dzikir.

Saya dapat menceritakan lebih banyak keragaman cara dzikir, tetapi yang saya maksud disini ialah sekedar membeberkan adanya keragaman yang tak terhitung, jangan sampai di antara kita ada fanatisme bahwa hanya ada satu cara yang baik. Seorang mursyid bisa saja menerapkan metode yang berbeda pada murid yang berlainan. Ini adalah karena tiap orang itu spesifik; bagi orang tertentu, baginya ada metode yang lebih cocok. Nabi sendiri mengajarkan dzikir dengan suara keras kepada sebagian sahabatnya, dan dzikir tak bersuara kepada sahabat lainnya.

Fungsi dzikir adalah untuk memusatkan perhatian kepada satu hal saja, yaitu keberadaan Allah. Pemikiran atau bayangan-bayangan selain Allah harus dihilangkan. Dilakukannya perbuatan lain selain pengucapan, adalah sekedar untuk membantu pemusatan (penyatuan dengan dzikir), hingga pada akhirnya kita dapat mencapai keadaan ekstasi. Dalam keadaan ini, panca-indera kita mati beberapa saat, dan kita mulai dapat "melihat" kebenaran dari Allah.

Dzikir berfungsi pula sebagai genderang peringatan yang selalu ditabuh keras-keras di dalam hati, agar ketika kita memasuki ekstasi, kita tidak tersasar atau salah masuk. Dzikrullah menuntun hati agar tidak terlepas dari jalur menuju Allah.

Dzikrullah perlu dijadikan kebiasaan. kalau kita melakukannya di setiap saat, ketika berdiri, berjalan, duduk, tidur (!), ketika bekerja, ketika istirahat, ketika makan, minum dll. Jika kita membiasakannya, dzikir itu akan terus berlangsung dengan sendirinya meskipun kita tidak menyadarinya. Tetapi itu semua hanya sekedar hasil olah pikir dari pengalaman dan bacaan. Benar-tidaknya, wallahu a'lam bish shawab.

Ku terlena dalam dekapan cinta....
Ku hembus nafas ku pelan-pelan...
Tuk mengungkap keagungan dan keindahan-Mu...
Darah mendidih...
Badanku gemetar...
Ketika Kalimat-Mu dilanturkan...
Sang penguasa cipta....
Aku tak dapat mambandung lautan kebahagiiaan...
Air mataku terus mengalir...
Bersama kalimah-Mu...
Cintaku hanya untuk-Mu...
Cintaku abadi pada-Mu..
Ku tinggalkan segala hawa nafsuku...
Untuk menembus tabir-tabir kasih-Mu...
Dzikir yang selalu menyelimuti jiwaku...
Dapatkah aku meraih cinta-Mu...
Dengan lumuran dosa - dosaku...
Dapatkah aku berdzikir tuk menjadi kekasih-Mu...
Dengan tanganku yang kotor....
Dapatka aku melihat keagungan-Mu...
Dengan kedua mataku yang penuh kemaksiatan...

0 komentar:

Posting Komentar