cheers ^_^


Sikap ceria, gembira dan bertutur kata yang baik adalah sikap-sikap yang sangat dianjurkan disaat kita berinteraksi dengan orang lain. Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Abu Dzarr r.a disebutkan bahwa Rasulullah saw. bersabda (yang artinya), “Jangan sekali-kali kalian menganggap remeh suatu kebajikan, meski hanya berupa keceriaan wajah ketika kamu bertemu dengan kawanmu”. (HR. Muslim).

Dalam hadits lain yang diriwayatkan oleh ‘Adi bin Hatim r.a., Rasulullah bersabda, “Lindungilah diri kalian dari neraka meski hanya dengan (menyedekahkan) sebiji kurma, bila tidak punya maka cukup dengan tutur kata yang baik.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Dengan mengucapkan kata-kata yang baik dan berwajah ceria ketika bertemu dengan orang lain, akan menumbuhkan rasa cinta dan persaudaraan di hati setiap mukmin. Dengan sikap seperti ini juga berarti kita telah memenuhi seruan Allah SWT dalam firman-Nya (yang artinya), “…dan berendah hatilah engkau terhadap orang beriman.” (QS. Al-Hijr:88).

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa, membicarakan hal-hal yang baik bersama orang lain termasuk sedekah. Begitu juga dengan sikap ceria dihadapan orang lain juga termasuk sedekah. Hal ini menunjukkan bahwa makna dari istilah sedekah dalam agama islam sangat luas sekali, termasuk didalamnya bermuka ceria dan senyum. Instrument sedekah tidak hanya terbatas pada harta semata.

Dalam kehidupan sehari-hari, Rasulullah saw. tidak pernah bermuka masam atau cemberut. Wajah beliau selalu terlihat ceria dengan hiasan senyum di bibirnya. Beliau adalah sosok manusia yang berhati bersih, penyabar, pemaaf, bijak, lapang dada, zahid, rendah hati, penuh kasih saying, dan perilakunya selalu menyejukkan mata dan jiwa. maka tidaklah mengherankan bila beliau juga terkadang suka bercanda atau bersenda gurau dengan keluarga dan sahabat-sahabatnya. Istri beliau ‘Aisyah, pernah berkata, “Bila Rasulullah saw. berada dirumah, dialah orang yang paling murah senyum dan tawa.”.

Ali bin Abi Thalib r.a mengisahkan bahwa Rasulullah saw. selalu kelihatan ceria, tenang dan santai, banyak tersenyum dihadapan para sahabat, antusias, dan kagum dengan pembicaraan mereka, bahkan kadang beliau tertawa hingga terlihat gigi gerahamnya. [Ihyaa’ Ulumiddiin, 2/325].

Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa Nabi adalah orang yang murah senyum dan berhati bersih [Kanzul-‘ummaal, 4/27]. Sebagian sahabat mengatakan bahwa tawa Nabi hanya sebatas senyuman, sebagian yang lain mengisahkan bahwa kadang beliau tertawa hingga terlihat gigi gerahamnya. Namun yang jelas, disaat tertawa, beliau selalu menutup mulutnya dengan telapak tangannya. [Kanzul-‘ummaal, 4/28].

Rasulullah juga berpesan kepada para sahabat untuk sesekali merilekskan jiwa dan hati. dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa beliau bersabda, “Istirahatkan hati kalian sesaat demi sesaat, karena bila hati telah tumpul (lelah) maka ia akan buta.”

Pada lain kesempatan, beliau juga bersabda, “Orang yang tidak gembira dan tidak membuat orang lain gembira, adalah orang yang tidak memiliki kebaikan.” [Nihaayatul-Irbi, 4/1].

Kadang Rasulullah melontarkan canda-canda ringan yang memikat, namun tetap dalam batas-batas kewajaran dan tidak mengandung unsur kebohongan. Karenanya canda-canda beliau kebanyakan berupa kiasan dan permainan kata-kata. Beliau bersabda, “Saya memang bercanda, namun yang saya katakana adalah kebenaran.” [Nihaayatul-Irbi, 4/2].

Kelapangan dada, keceriaan, kegembiraan dan canda yang sering beliau perlihatkan, sama sekali tidak menyebabkan kehormatannya berkurang, bahkan sebaliknya, karisma dan keagungan beliau semakin bertambah dan semakin banyak orang yang mencintainya dan menghormatinya. Sayyidina Ali r.a. pernah berkata, “Siapa yang baru kenal dengan Rasulullah maka dia akan merasa takut. Namun semakin jauh orang mengenalnya maka semakin besar kecintaan yang tumbuh di hati.”

Rasulullah saw. selalu menganjurkan umatnya untuk bersikap fleksibel, toleran dan penuh kasih sayang, beliau bersabda, “Orang yang paling dibenci Allah adalah orang yang keras hati dan suka bermusuhan.” [Ihyaa’ Ulumiddiin, 3/102].



Diringkas dari: Akhlak Rasul Menurut Bukhari-Muslim, penulis Abdul Mun’im al-Hasyimi, diterjemahkan oleh Abdul Hayyie al-Kattani, Gema Insani, 2009.

0 komentar:

Posting Komentar