hati - hati dengan hati


Hati Lembut Dan Jernih (Taushiyah Malam)





Ya Rabb, betapa banyak aku telah bermaksiat pada-Mu, namun Engkau tidak juga menghukumku, begitulah penuturan sebagian rahib Bani Israel. Padahal sebenarnya Allah SWT telah banyak memberi hukuman kepadamu, akan tetapi engkau tidak juga menyadari. Sesungguhnya balasan keburukan adalah keburukan yang serupa!, demikian menurut Syaikul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah dalam bukunya ‘al-Hasanah wa as-Sayyiah’.



Gersang





Musibah terbesar adalah merasa aman setelah melakukan perbuatan dosa. Padahal sanksi itu tidak diturunkan secara langsung. Siksa terbesar bagi seseorang adalah jika ia tidak dapat menyadari dosa-dosanya, terserabutnya nilai-nilai agama darinya, kerasnya hati, dan salah memilih amal untuk kepentingan jiwanya. Buah dari itu semua adalah sehat jasmani dan cita-citanya tercapai, akan tetapi hatinya keras dan sakit.



Sebagai contoh, sebagian orang tidak mendapatkan taufiq sehingga tidak menjalankan shalat subuh dalam rentang waktu yang lama. Atau ia teledor dalam menaati kedua orang tuanya, sehingga engkau mendapatinya sebagai orang yang paling durhaka kepada keduanya. Atau engkau melihatnya senantiasa berbuat maksiat atau bahkan telah akrab dengannya, akan tetapi ia tidak juga merasa sakit dan atau terluka parah karena dosa-dosa itu (‘Wahatul Imah’ karya Abdul Humaid al-Bilal).



Fenomena demikian terjadi di sekitar kita. Secara fisik, ia sehat dan bahkan dunia datang kepadanya dengan segala keindahan dan kenikmatannya. Lalu ia tertipu dan terlena olehnya sehingga membuat ia ingkar kepada Allah SWT sehingga hatinya menjadi mati bukan hanya keras, kasar dan gersang saja akan tetapi betul-betul mati.



Ia tidak juga menyadari luka yang telah kronis, lumuran dosa dan kotoran maksiatnya. Ia seperti mayit yang tidak dapat merasakan apapun. Seorang penyair pernah berkata. Bagi yang hina, kesalahan-kesalahan itu biasa sebagaimana mayit tidak merasa sakit jika terluka.



Putih Hitam





Sahabatku... jika engkau berharap hatimu baik, maka dengar dan berjalanlah bersama kehendak dan hasrat yang terdetik dalam hatimu. Turutilah suara hati yang baik dan jauhi yang tidak benar, hasrat-hasrat ke arah maksiat tersebut merupakan tangga menuju kesesatan, bahaya dan fitnah yang dapat menjadikan hati menjadi keras.



Rasulullah SAW bersabda: Fitnah-fitnah itu menimpa hati secara perlahan dan bertahap, maka hati mana yang paling dapat dipengaruhi, maka tertoreh padanya noda hitam, hingga sabdanya: “Sehingga menjadi dua jenis hati; putih seperti sesuatu yang sangat jernih hingga tidak dapat terpengaruh fitnah selama langit dan bumi masih ada. Dan kedua, hitam (dan ini yang paling rentan kena fitnah) ia seperti wadah yang terikat miring, tidak mengenal yang ma’ruf dan tidak mengingkari yang mungkar kecuali sesuai nafsunya.” (HR. Imam Muslim dalam Kitab Fatan, 1990).





Imam Ibnu Qoyyim rahimahullah mengomentari hadis tersebut dengan ucapannya, fitnah-fitnah yang mengancam dan menimpa hati merupakan penyebab sakitnya hati. Pertama, syahwat, sikap menyimpang, maksiat-maksiat dan kedzaliman. Kedua, fitnah syubhat, kesesatan, bid’ah dan kebodohan. Jenis fitnah pertama berimplikasi pada rusaknya niat dan tujuan, sedang fitnah kedua yang berakibat rusaknya ilmu seseorang serta akidahnya.



Dua Saksi Adil





Memang, hati itu dihinggapi sebuah keinginan, hanya dengan tuntutan al-Qur’an dan as-Sunnah ia dapat tenang dan bening, seperti kata seorang penyair, Setiap hasrat hati timbanglah dulu dengan timbangan syari’at. Jika termasuk yang diperintahkannya, segeralah kerjakan Bila termasuk yang dilarang, itu dari syaitan, segeralah jauhi.



Kini tiba saatnya kita mengukur dan bercermin kaidah tersebut, kita akan mendapati betapa banyak terlintas di benak, nurani dan pikiran kita sejumlah keinginan, hasrat, gagasan dan kemauan untuk kita lakukan, akan tetapi sudahkah kita bersikap dengan sengaja – dengan segala hasrat tersebut – sebagaimana kaidah di atas, yaitu menghadirkan dua saksi adil, yaitu al-Quran dan as-Sunnah kemudian menimbang keselarasannya dengan keduanya.



Jika bersesuaian, kita dengan penuh semangat melakukannya dan bila bertentangan dengannya segera saja kita tinggalkan dan hindari. Sehingga dengan itu,hati kita selamat dan dipenuhi dengan cahaya keimanan dan akhirnya berubah menjadi hati yang jernih dan lembut.



Abu Bakar misalnya, ia seorang yang mudah menangis di saat shalat, maka ia disebut sebagai ‘orang yang hatinya lembut dan peka sehingga bacaan yang dibacanya hampir tak dapat dipahami lantaran tangis dan getar perasaannya yang sangat peka’



Maka peliharalah hatimu sahabatku dari kesesatan dan penyimpangan sesudah jelas bagimu hal itu.



Sumber: as-Sirrul Maknun Fii Riqqatil Qulub wa Dam’il Uyyun Abdul Karim bin Abdul Majid ad-Diwan. (ruruly)



0 komentar:

Posting Komentar