Kelola hati


Untuk mengawali catatan ini adalah perkataan al-Qahthani dalam nuniyahnya. Katanya,



وَاللهِ لَوْ عَلِمُوْا قَبِيْحَ سَرِيْرَتِيْ

لأَبَى السَّلاَمَ عَلَيَّ مَنْ يَلْقَانِيْ

وَلَأَعْرَضُوْا عَنِّيْ وَمَلُّوْا صُحْبَتِيْ

وَلَبُؤْتُ بَعْدَ كَرَامَةٍ بِهَوَانِ

لَكِنْ سَتَرْتَ مَعَايِبِيْ وَمَثَالِبِيْ

وَحَلِمْتَ عَنْ سَقَطِيْ وَعَنْ طُغْيَانِيْ

فَلَكَ الْمَحَامِدُ وَالْمَدَائِحُ كُلُّهَا

بِخَوَاطِرِيْ وَجَوَارِحِيْ وَلِسَانِيْ

وَلَقَدْ مَنَنْتَ عَلَيَّ رَبِّ بِأَنْعُمِ

مَالِيْ بِشُكْرِ أَقَلِّهِنَّ يَدَانِ



Demi Allah, seandainya mereka mengetahui jeleknya hatiku

Niscaya orang yang bertemu denganku akan enggan menyalamiku

Mereka akan berpaling dariku dan bosan berteman denganku

Aku akan menjadi hina setelah mulia

Tetapi Engkau menutupi kecacatan dan kesalahanku

Dan Engkau bersikap lembut dari dosa dan keangkuhanku

Bagi-Mu lah segala pujian dengan hati, badan dan lidahku

Sungguh, Engkau telah memberiku nikmat yang begitu banyak

Tetapi aku kurang mensyukuri nikmat-nikmat tersebut



[Nuniyah al-Qohthoni hal. 9 ]

---------------------------------------------------------------------------------------------------------



Untuk kesekian kali nya, kini ku menangis di malam yang buta ini.

Aku yang telah berdosa bahkan aku menganggap diriku memiliki dosa sudah setara dengan banyaknya buih di lautan dan tingginya sebuah Gunung merasa tak berarti lagi sebagai manusia atau makhluk Tuhan apapun dan merasa tak pantas hidup di bumi Allah ini.





Namun aku percaya bahwa Allahu Robbul izzati maha Ghofur hingga aku sampai saat ini masih bertahan hidup.

Walau pun demikian adanya, diriku tetap saja di landa keputusasaan untuk mencari sebuah pengampunan sebab sampai kini aku masih tak dapat menemukan tempat untukku kembali ke jalan Tuhanku, Allahu Rabbi.





Terkadang pun, di saat aku mendengar azan berkumandang.

Aku menangis seolah diriku lebih hina dari seekor binatang yang selalu bertasbih menyambut datangnya seruan sang Mu’azzin. -------------------------------------------------------------------------------------------------



Dan juga perkataan Muhammad bin Wasi, “Kalau seandainya dosa memiliki bau niscaya tak ada yang sudi bermajlis denganku (karena saking busuknya bau dosaku).”



Ya, kalian tidak tahu betapa busuknya jiwa ini. Allah, aku malu. Aku malu kepada-Mu bila harus menasehati hamba-hamba-Mu padahal Engkau lebih tahu siapa sebenarnya hamba-Mu ini. Tertutupnya dosa-dosa yang hamba lakukan adalah karena kasih sayang-Mu yang selalu menutupinya. Tetapi karena pesan di atas adalah meminta nasehat, maka aku sebagai hamba-Mu ingin melaksanakan salah satu wasiat nabi-Mu, “Jika ada salah seorang di antara kalian meminta nasehat, maka nasehatilah ia.” (HR. Bukhari ).



Terus terang, ada selaksa rasa yang berkecamuk dalam jiwa tatkala membacanya. Aku merasakan suara jeritan yang juga membuat hatiku miris dan menangis. Jeritan pertanda keputusasaan sekaligus harapan. Jeritan yang mengandung kekhawatiran dan ketakutan. Suara jeritan yang memang murni dari lubuk hati terdalam; mengaku banyak berdosa dan merindu jalan-Nya. Jeritan seperti inilah yang selalu membuat Rabi’ bin Khaitsam menangis pilu, setiap malamnya. Ia melalui malamnya dengan tangisan pilu yang menyayang hati sang ibu. Sehingga si ibu berprasangka bahwa anaknya mungkin telah membunuh seseorang lalu menyesal dan menangis sedemikian kerasnya. Kata sang ibu, “Duhai anakku, duhai belahan jiwaku, duhai permata hatiku…., katakanlah duhai anakku apakah engkau membunuh sehingga engkau menangis tersedu-sedu seperti ini ? Katakan wahai anakku, siapakah dia ? aku akan meminta kerelaan dari keluarganya agar memaafkanmu. Mereka pasti iba melihat kondisimu seperti ini duhai anakku. Katakan siapa yang engkau bunuh ?”



Semakin keras tangis Rabi’ bin Khutsaim mendengar penuturan ibunya, lalu ia berkata, “Duhai ibu, memang aku telah membunuh. Ya, aku telah membunuh diriku sendiri dengan dosa-dosa yang tidak bisa aku tanggung nanti.” Akhirnya si ibu pergi meninggalkan putra terkasihnya tenggelam dalam deraian air mata yang tak berkesudahan.



Air mata taubat dan hati yang menghadap Allah dengan hancur sehancur-hancurnya adalah keadaan terbaik seorang hamba ketika bermunajat kepada-Nya. Orang yang menitikkan air mata penyesalan seperti inilah yang justru mendapat lezatnya iman, yang jauh lebih indah daripada semua kenikmatan dunia. Dosa-dosa yang membuat hati menjerit seperti inilah yang menghantarkan kepada kedekatan kepada sang pencipta. Rasululloh sendiri bersabda, “



وَالَّذِى نَفْسِى بِيَدِهِ لَوْ لَمْ تُذْنِبُوا لَذَهَبَ اللَّهُ بِكُمْ وَلَجَاءَ بِقَوْمٍ يُذْنِبُونَ فَيَسْتَغْفِرُونَ اللَّهَ فَيَغْفِرُ لَهُمْ



“Demi jiwaku yang berada di tangan-Nya, kalau kalian tidak berdosa niscaya Allah akan mendatangkan suatu kaum yang melakukan dosa lalu mereka memohon ampun kepada Allah kemudian Dia mengampuni mereka.”



Maka berbahagialah bila kita selalu memohon ampunan kepada Allah atas dosa-dosa kita. Terlebih dengan hati yang menangis, dan menghiba rahmat-Nya. Dan aku juga merindukan hati yang menjerit seperti itu. Merindu sebagaimana rindu Abu Bakar ketika melihat para shahabat membaca al-Qur’an dan menangis tersedu-sedu. Kata Abu Bakar, “Dulu kami juga seperti itu.”



Sekelam apapun dosa kita, sebesar apapun kemaksiatan kita, dan setinggi apapun kesalahan kita, Allah akan senatiasa membuka pintu tobat bagi hamba-hamba-Nya. Allah berfirman, “



يَاعِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَى أَنْفُسِهِمْ لا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا



“Duhai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kalian berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa semuanya.” (az-Zumar : 53).



Panggilan yang indah dari Allah; duhai hamba-hamba-Ku. Duhai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, yang selalu mendzalimi dirinya sendiri dengan dosa-dosanya, jangalah kalian berputus asa dari rahmat-Ku. Rahmat-Ku mendahului murka-Ku duhai hamba-Ku.



Ya. Itulah salah satu bentuk kasih sayang Allah kepada hamba-hamba-Nya. Dalam hadits Qudsi, Allah berfirman,



يَا ابْنَ آدَمَ إِنَّكَ مَا دَعَوْتَنِى وَرَجَوْتَنِى غَفَرْتُ لَكَ عَلَى مَا كَانَ فِيكَ وَلاَ أُبَالِى يَا ابْنَ آدَمَ لَوْ بَلَغَتْ ذُنُوبُكَ عَنَانَ السَّمَاءِ ثُمَّ اسْتَغْفَرْتَنِى غَفَرْتُ لَكَ وَلاَ أُبَالِى يَا ابْنَ آدَمَ إِنَّكَ لَوْ أَتَيْتَنِى بِقُرَابِ الأَرْضِ خَطَايَا ثُمَّ لَقِيتَنِى لاَ تُشْرِكُ بِى شَيْئًا لأَتَيْتُكَ بِقُرَابِهَا مَغْفِرَةً

.

“Duhai anak adam, selama engkau berdoa dan berharap kepada-Ku, aku akan mengampunimu sebanyak apapun dosamu dan Aku tidak peduli. Duhai anak adam, kalau toh dosa-dosamu setinggi langit kemudia kamu memohon ampunan kepada-Ku, Aku akan mengampunimu dan aku tidak peduli. Duhai anak adam, jika engkau mendatangiku dengan membawa dosa sepenuh bumi, kemudian engkau bersua dengan-Ku dengan tidak menyekutukan-Ku dengan sesuatu apapun maka Aku pasti akan mendatangimu dengan membawa ampunan sepenuh bumi juga.” (HR. at-Tirmidzi dan dishahihkan oleh al-Albani).



Yang terakhir, kuatkan tekad kita dalam bertaubat kepada Allah dengan mencari sahabat yang shalih, dan bergaul dengan orang-orang shalih. Kisah pembunuh 100 nyawa yang tertera dalam hadits Nabi yang panjang mengajarkan dua hal itu. Pesan lelaki shalih terhadap pembunuh 100 nyawa yang ingin bertaubat itu adalah, “



انْطَلِقْ إِلَى أَرْضِ كَذَا وَكَذَا فَإِنَّ بِهَا أُنَاسًا يَعْبُدُونَ اللَّهَ فَاعْبُدِ اللَّهَ مَعَهُمْ وَلاَ تَرْجِعْ إِلَى أَرْضِكَ فَإِنَّهَا أَرْضُ سَوْءٍ



“Pergilah ke negeri ini dan ini karena di sana ada manusia-manusia yang menyembah Allah Ta’ala. Maka sembahlah Allah bersama mereka, dan jangan pernah lagi kembali ke negerimu karena ia adalah negeri yang buruk.” (HR. Bukhari-Muslim).



Tentang hadits ini, Ibnu ‘Allan –rahimahullah- berkata, “Di dalam hadits ini ada anjuran untuk berlepas diri dari teman yang buruk, memutus hubungan dengan mereka selama mereka masih tetap seperti itu, dan mengganti mereka dengan bersahabatkan orang-orang yang baik, rajin beribadah dan wara’ serta orang-orang yang bisa dijadikan teladan, dan bersahabat dengan orang-orang yang mendatangkan manfaat. Agar taubatnya semakin mantap dan kuat, karena setiap orang akan meniru temannya.” (Dalilu al-Falihin li Thuruqi Riyadhi ash-Shalihin : 1/98).



Di samping menjauhi perilaku teman yang rusak, kita perlu bersahabat dengan orang-orang shalih. Ini sangat dirasakan oleh para ulama’ terdahulu. Mari kita sejenak merenungi perkataan Ibnul Qayyim –rahimahullah- tentang peran Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam memberikan keteguhan, “Dan ketika kami dilanda ketakutan yang sangat, buruk prasangka, dan dunia yang terasa sempit, maka tidak ada yang kami lakukan kecuali melihatnya dan mendengarkan perkataannya sehingga semua yang ada pada kami hilang. Dan berganti kelapangan, kekuatan, keyakinan dan ketenangan.”



Salam, semoga bermanfaat.



Reference ; ‘Aqabat fi Thariqil Akhawat, karya Isham bin Muhammad asy-Syarif, Maktabah Syamilah dan lain-lain. (agama)

0 komentar:

Posting Komentar