Alhamdulillah. Novel Baru

Alhamdulillah novel baruku bersama mbak Julie sudah terbit. Covernya secantik judulnya. LUV  : untuk cinta yang selalu menunggu. Proses penulisannya sampai jungkir balik lho. Mengalami beberapa revisi yang wuaduh, sangat - sangat menyita energi. Kami hampir kehabisan bahan bakar tetapi jembatan di belakang kadung kami bakar, kami tak mungkin kembali. Harus terus melangkah menuju titik finish dari perjalanan yang telah kami mulai sendiri. Dan Yay!! Alhamdulillah, akhirnya perjuangan tidak sia - sia.
Berikut endorsment dari para suhu dan penulis yang telah membaca novel kami .

L U V :Untuk Cinta Yang Selalu Menunggu
by Dian Nafi & Julie Nava
Endorsement:

"Sebuah novel kolaborasi Julie Nava dan Dian Nafi yang sarat dengan aura cinta, ujian, konflik bernuansa Timur dan Barat. Pernikahan yg tidak dilandasi cinta melainkan semacam pelarian dari rasa patah hati, haus akan cinta dan peneguhan bernama ikrar pernikahan. Menarik, karena disajikan oleh dua perempuan yg berjauhan domisilinya: satu di Jawa Tengah satu lagi di Amerika. Tidak semua penulis mampu berbagi karya novel, termasuk saya, sebab novel sangat pribadi. Ternyata duet Julie da Dian berhasil menyajikan sebuah novel yang ciamik. Selamat!" (Pipiet Senja, novelis Indonesia, mukim di Depok)

“L.U.V menampilkan kisah cinta yang di luar kebiasaan. Dari bab ke bab, latar belakang dan kepribadian para tokohnya dikupas perlahan oleh Julie Nava dan Dian Nafi, yang akan membuat pembaca penasaran. Tokoh-tokoh yang awalnya terlihat biasa dan sempurna, ternyata menyimpan kepribadian kuat dan rahasia yang kelam.” (Santi Dharmaputra – None Jakarta dan penulis, tinggal di Sydney) 

“Tak mudah menyatukan kesepahaman cerita oleh dua penulis. Namun di tangan Dian Nafi dan Julie Nava; ternyata bukan masalah. Novel ini benar-benar Two in One. Dua orang dalam satu cerita. Awesome! Masing-masing tokoh dalam cerita ini memiliki karakter, dan keunggulan dari karya ini adalah, masing-masing penulisnya mampu membentuk karakter yang utuh. Tentunya ini tidak terlepas dari keterasahan para penulis dalam menekuni dunia kepenulisannya. Bagaimana para penulis begitu smart-nya mengemas konflik, dengan gaya bahasa masing-masing, dan pendeskripsian yang benar-benar mampu membuat pembacanya menyatu dalam cerita.” (Elis Tating Badriah – penulis dan pendidik, tinggal di Bandung)

Sneekpeak dan Quote- quote-nya bisa dibaca di sini : http://www.goodreads.com/work/quotes/23593717-l-u-v-untuk-cinta-yang-selalu-menunggu

Dan gratisan novelnya bisa diperoleh di sini :
http://www.goodreads.com/giveaway/show/40749-l-u-v-untuk-cinta-yang-selalu-menunggu

L U V
:Untuk Cinta Yang Selalu Menunggu
Penulis: Dian Nafi - Julie Nava
Penerbit: Hasfa Publishing
168 hal
ISBN 978-602-9160-23-9
harga Rp 38.000

DISKON 30% utk pre order s/d 1 Februari 2013.
silakan pesan via sms 081914032201 atau inbox fb Hasfa Publisher.
tulis nama/alamat/kodepos/jumlah/judul buku yg dipesan

For The Love Of Mom


Kasih ibu tak akan pernah ada habisnya.  Bak sebuah sumber air yang cintanya tak pernah berhenti mengalir. Cinta ibu memberi kita kekuatan menjalani hidup. Pelukannya memberi kehangatan di kala jiwa didera letih teramat sangat.  Ketegarannya menyadarkan diri akan masa depan yang masih terbentang luas, menunggu untuk dilukis dengan hati tulus penuh rasa syukur.
Alhamdulillah. Telah terbit For The Love of Mom, sebuah buku antologi kisah-kisah inspiratif tentang ibu. Buku ini mengungkapkan sosok ibu dengan segala perjuangannya. Semuanya tentang ibu, ibu yang hebat. Buku terbitan Penerbit Imania ini sudah bisa didapatkan di toko-toko buku terdekat..
Sebagai salah seorang penulis di antara ke-37 kontributor kisah-kisah yang ada di dalam buku ini, saya merasa sangat bersyukur mendapat kesempatan memberikan persembahan terbaik untuk para ibu, di mana pun mereka berada. Buku ini adalah wujud rasa terima kasih saya pada ibunda tercinta, yang tak pernah lelah menyayangi anak-anaknya dengan tulus tanpa pamrih.
===
Menjadi wanita itu takdir, menjadi istri adalah sebuah pilihan. Tetapi menjadi seorang ibu adalah konsekuensi seumur hidup (Shahnaz Haque Ramadhan, ibu 3 puteri).  Sanggupkah kita para wanita, menjalani kehidupan sebagai isteri sekaligus ibu yang selalu diliputi cinta kasih?  Temukan inspirasinya dalam buku ini… :)

Catatan Akhir Tahun

Bismillah. Alhamdulillah.

Sebenarnya aku tidak begitu tertarik untuk membuat catatan ini. Mungkin karena segala pencapaian juga koreksi serta intropeksi sudah seringkali kita lakoni tiap harinya. Berkat adanya fesbuk, twitter, blog dan lainnya yang memudahkan kita mengupload apa saja yang sedang mengaduk - aduk isi kepala kita.

Namun kiranya catatan perlu juga ditulis untuk menjadi sebuah jejak yang bisa dibaca - baca kembali di kemudian hari.

Apa sih maksud dari keberadaan kita di sini, dalam kehidupan ini, sepanjang tahun ini.
Mungkin sebagaimana yang para suhu itu ajarkan pada kita, bahwa dalam sebuah cerita yang penting adalah perubahan. PERUBAHAN. di awal cerita, si tokoh begini. di tengah cerita,dia mengalami ini ini dan ini. akhirnya di akhir cerita, dia berubah begini.  gitchu !

So, dalam kehidupan ini, kitapun begitu. diharapkan berubah.
jadi sebenarnya bukan apa - apa yang sudah kita capai. Tetapi ke arah mana kita ini berubah. Menjadi yang lebih baikkah atau sebaliknya. Meskipun yang baik dan tidak itu bisa relatif, tergantung kaca matanya.

ok... karena aku harus menulis PR, bersambung ya :D

Love To Share. Share With Love



Here we are. Alhamdulillah. when passion meet opportunity, now we arrive to this place.
Menyambut kehadiran buku baruku : 101 Bisnis Online Paling Laris terbitan Gramedia Pustaka Utama, sekaligus kulaunching program baruku mengawali tahun 2013 ini.

tajuknya adalah :
Love To Share. Share With Love.

Onlinepreneuship ataupun writerpreneurship kami selenggarakan secara on line ataupu off line (tatap muka)
untuk info lebih lanjut, silakan email ke hasfriends57@gmail.com dengan subject email: PELATIHAN.

Ada pelatihan menulis fiksi, non fiksi, cerpen, novel dll
Dan pelatihan onlinepreneurship, pelatihan blogging dll


jaga terus keingintahuanmu, Tuhan akan memberi jawabannya dari arah mana saja.
siapa tahu ini juga salah satu pintu atau jalan itu ?

salam kreatif dan salam manfaat

Differences between writing and speech


Differences between writing and speech

Written and spoken language differ in many ways. However some forms of writing are closer to speech than others, and vice versa. Below are some of the ways in which these two forms of language differ:
  • Writing is usually permanent and written texts cannot usually be changed once they have been printed/written out.
    Speech is usually transient, unless recorded, and speakers can correct themselves and change their utterances as they go along.
  • A written text can communicate across time and space for as long as the particular language and writing system is still understood.
    Speech is usually used for immediate interactions.
  • Written language tends to be more complex and intricate than speech with longer sentences and many subordinate clauses. The punctuation and layout of written texts also have no spoken equivalent. However some forms of written language, such as instant messages and email, are closer to spoken language.
    Spoken language tends to be full of repetitions, incomplete sentences, corrections and interruptions, with the exception of formal speeches and other scripted forms of speech, such as news reports and scripts for plays and films.
  • Writers receive no immediate feedback from their readers, except in computer-based communication. Therefore they cannot rely on context to clarify things so there is more need to explain things clearly and unambiguously than in speech, except in written correspondence between people who know one another well.
    Speech is usually a dynamic interaction between two or more people. Context and shared knowledge play a major role, so it is possible to leave much unsaid or indirectly implied.
  • Writers can make use of punctuation, headings, layout, colours and other graphical effects in their written texts. Such things are not available in speech
    Speech can use timing, tone, volume, and timbre to add emotional context.
  • Written material can be read repeatedly and closely analysed, and notes can be made on the writing surface. Only recorded speech can be used in this way.
  • Some grammatical constructions are only used in writing, as are some kinds of vocabulary, such as some complex chemical and legal terms.
    Some types of vocabulary are used only or mainly in speech. These include slang expressions, and tags like y'knowlike, etc.

    sumber : internet

Rumah Bambu

Green Arsitektur dengan Rumah Bambu

Mungkin bagi orang Indonesia bambu sering dipandang sebelah mata. Bambu di anggap materialnya “wong kere”. Bahan bangunan bagi orang yang tidak mampu membeli batu bata, semen, genteng dan lain-lain yang 
relatif mahal. Orang melihat bahan baku rumah adalah menunjukkan status sosial seseorang dan mungkin gengsi seseorang. Maka hanya orang miskinlah yang dianggap yang mampu membeli bambu dan hanya mampu mewujudkan desain rumah bambu saja. Kalo menurut para ahli asing berpendapat bahwa bambu merupakan material masa depan yang berpotensi menggantikan kayu karena makin menipisnya hutan tropis yang merupakan penghasil kayu yang utama untuk saat ini.

Jika kita perhatikan, ada beberapa macam alasan dan keuntungan yang membuat kita harus meyakini bahwa desain rumah bambu ternyata desain rumah terbaik untuk kediaman manusia.

1. Desain rumah bambu memiliki nilai estetika yang cukup tinggi. Lihatlah bangunan-bangunan gazebo yang dibangun secara alami ditempat-tempat wisata, mushala serta tempat-tempat persinggahan yang cukup nyaman untuk dikunjungi. Bahkan bangunan rumah tinggal pun yangb terbuat dari bambu bisa dirancang lebih estetis dan natural menawan.

2. Desain rumah bambu termasuk pada desain rumah tahan gempa sebab anyaman bambu tak akan mudah roboh sebagaimana bangunan batu. Jika pun Anda kejatuhan dinding bambu, akibatnya tentu tidak akan seburuk jika Anda tertimpa batu-batu rumah gedung.

3. Rumah bambu lebih nyaman, dingin dan tak memerlukan perawatan yang mahal. Rumah bambun tak membutuhkan AC karena kesejukan alami akan datang menyusup ke sela-sela dinding rumah.

4. Desain rumah bambu dengan pengelolaan ketahanan yang benar, dapat bertahan selama 20 tahun.

5. Desain rumah bambu menjaga pemiliknya dari rasa sombong dan angkuh dari kekayaan rumah, namun juga tak perlu membuat minder para pemiliknya, karena dengan pola desain rumah bambu yang unik dan kreatif, bisa jadi rumah bambu menjadi perhatian setiap orang.

Bambu merupakan salah satu tanaman lingkungan yang berfungsi untuk menjaga keseimbangan alam. Dengan banyaknya bambu yang ditanam, tentu saja akan menjaga keselamatan lingkungan

Di siang hari, pori-pori alami bambu mampu melepaskan udara dingin yang disimpannya pada malam hari. Hasilnya, siang hari di dalam rumah tetap terasa sejuk. Sebaliknya di malam hari, pori-pori mampu melepaskan panas yang ditabungnya pada siang hari. Alhasil, Anda akan menghabiskan malam di dalam rumah terasa lebih hangat. Selain bernilai artistik, alasan penggunaan rumah bambu sebagai material bangunan memang atas dua hal tersebut. Bambu mampu meredam panasnya matahari siang, sebaliknya menghangatkan rumah di dinginnya malam. Tidak heran, dengan cungkupan udara dingin yang menyelimuti kawasan Puncak - Cianjur, Jawa Barat, banyak bangunan vila memakai bambu sebagai material bangunan bahkan interiornya. Meski tidak seratus persen mendominasi semua sudut bangunan, beberapa restoran tradisional sunda pun banyak menggunakan konsep bambu sebagai daya tariknya. Bagi Anda yang tertarik dengan konsep rumah bambu ini tentu tidak sulit memilih. Model rumah bambu terbilang variasi, mulai rumah bambu berarsitektur tradisional, modern standar, serta semi permanen. Berdasarkan variasi tersebut, penggunaan bambu bisa begitu dominan, separuh, atau sekadar pemanis di beberapa sudut bagian tertentu.





sumber : internet

Pesan Pak Ahmad Tohari Kepadaku


Pesan pak Ahmad Tohari (penulis Ronggeng Dukuh Paruk) khusus kepadaku setelah beliau membaca novel Mayasmara-ku adalah supaya aku terus menulis yang semacam itu. Yang eksistensialis. 
Penasaran apa eksistensialis itu? ini saya kutipkan dari wikipedia. smoga berguna.

Eksistensialisme adalah aliran filsafat yang pahamnya berpusat pada manusia individu yang bertanggung jawab atas kemauannya yang bebas tanpa memikirkan secara mendalam mana yang benar dan mana yang tidak benar. Sebenarnya bukannya tidak mengetahui mana yang benar dan mana yang tidak benar, tetapi seorang eksistensialis sadar bahwa kebenaran bersifat relatif, dan karenanya masing-masing individu bebas menentukan sesuatu yang menurutnya benar.
Eksistensialisme adalah salah satu aliran besar dalam filsafat, khususnya tradisi filsafat Barat. Eksistensialisme mempersoalkan keber-Ada-an manusia, dan keber-Ada-an itu dihadirkan lewat kebebasan. Pertanyaan utama yang berhubungan dengan eksistensialisme adalah melulu soal kebebasan. Apakah kebebasan itu? bagaimanakah manusia yang bebas itu? dan sesuai dengan doktrin utamanya yaitu kebebasan, eksistensialisme menolak mentah-mentah bentuk determinasi terhadap kebebasan kecuali kebebasan itu sendiri.
Dalam studi sekolahan filsafat eksistensialisme paling dikenal hadir lewat Jean-Paul Sartre, yang terkenal dengan diktumnya "human is condemned to be free", manusia dikutuk untuk bebas, maka dengan kebebasannya itulah kemudian manusia bertindak. Pertanyaan yang paling sering muncul sebagai derivasi kebebasan eksistensialis adalah, sejauh mana kebebasan tersebut bebas? atau "dalam istilah orde baru", apakah eksistensialisme mengenal "kebebasan yang bertanggung jawab"? Bagi eksistensialis, ketika kebebasan adalah satu-satunya universalitas manusia, maka batasan dari kebebasan dari setiap individu adalah kebebasan individu lain.
Namun, menjadi eksistensialis, bukan melulu harus menjadi seorang yang lain-daripada-yang-lain, sadar bahwa keberadaan dunia merupakan sesuatu yang berada diluar kendali manusia, tetapi bukan membuat sesuatu yang unik ataupun yang baru yang menjadi esensi dari eksistensialisme. Membuat sebuah pilihan atas dasar keinginan sendiri, dan sadar akan tanggung jawabnya dimasa depan adalah inti dari eksistensialisme. Sebagai contoh, mau tidak mau kita akan terjun ke berbagai profesi seperti dokter, desainer, insinyur, pebisnis dan sebagainya, tetapi yang dipersoalkan oleh eksistensialisme adalah, apakah kita menjadi dokter atas keinginan orang tua, atau keinginan sendiri.
Kaum eksistensialis menyarankan kita untuk membiarkan apa pun yang akan kita kaji, baik itu benda, perasaaan, pikiran, atau bahkan eksistensi manusia itu sendiri untuk menampakkan dirinya pada kita. Hal ini dapat dilakukan dengan membuka diri terhadap pengalaman, dengan menerimanya, walaupun tidak sesuai dengan filsafat, teori, atau keyakinan kita

5 plus1 tips menulis dari Tasaro


5 plus1 tips menulis dari Tasaro

melatih  gampg saja. Lihat pmandngan, inventarisasi objek, buat diskrpsi detail. Hingga pmbaca sprti mlihat lngsung.

Prgi ke pasar. Mata merem. Dngarkan suara2. Inventarisasi. Diskripsikan. Hingga pmbca seolah2 mendengarkannya.

Dtangi pdang bumbu2an. Mt merem. Cium satu2. Inventerasiasi. Diskripsikan. Hingga pmbaca seolah menciumnya.

raba poko pohon, permukaan tanah, permukaan daun. Diskripsikan. Hingga pmbca seolah mrasakann di muka kulitnya.

. ke dapur deh. Cicipi smua mkanan. Diskripsikan rasanya. Sampai pmbaca seolah mrsakan di lidahnya

koneksi: bicara stu hal dikaitkan dg hal lain. Shingga tulisan mjd bergizi, tdk an sich dan menggelontor bgt sj.

jangan lupa buat perumpamaan. Memudahkan pmbaca mlakukan penginderaan. Slmat mnulis

 Dua tahapan krusial bg penulis adlah 1. kementokan, 2. kritik. Lolos dr keduanya, karyanya kelak medeka

 sesekali kita cicipi cerita silat atau ditektif. Itu nutrisi bagi kreativitas menulis dan imajinasi

membuat cerita yang bagus

Dasar dari sebuah cerita adalah premis.

4 cara untuk memastikan premis yang kita buat itu menarik: 
plausible - masuk akal
inherent conflict -konflik melekat
emotional appeal - menarik scr emosional
authentic- otentik

Premis adalah satu kalimat yang menjelaskan tentang: someone wants something so badly but having a hard time while getting it

Cerita yang bagus juga punya karakter2 yg menarik. Tentukan fisik, sifat, artefak dan lingkungan yang terkait dengan karakter

Dari karakter tersebut, tentukan keinginan (wants) & kebutuhan (needs) sang karakter. Jangan lupa tentukan tema cerita juga

Premis yang dibuat, harus membuat orang yang membaca bertanya-tanya "what's next?"

Sekarang kita masuk ke plot. Setiap cerita punya awal (babak 1), konflik (babak 2) dan akhir (babak 3).

disarikan dari Noer, internet

From evernote




Evernote
 is perhaps the most popular productivity app right now. You may already know that, actually you may even be using it. The product was launched into open beta on June 24, 2008 and reached 11 million users in July 2011. Evernote now has over 45 million users. The company’s current product (Evernote Business) lets users share information within a company or with clients, while IT controls permissions. You can join Evernote Business
The Evernote products help you remember and act upon ideas, projects and experiences across all the computers, phones and tablets you use. Users can take notes, clip webpages, snap photos using their mobile phones, create to-dos, and record audio.
Phil Libin (co-founder of Evernote) shared these founder lessons and how Evernote became the most popular productivity app in various interviews. You could apply some of these tips to your own startup.
  1. Concept: I think from the very idea, this concept that this is the one we want and if you’re building something that you love and you’re building it for yourself you shouldn’t want to sell it, you should want to keep it.
  2. Launch: We launched closed beta on TechCrunch, we were lucky enough that TechCrunch wrote about us right as we were starting the closed beta and we gave away 100 invites, that was the first spark.
  3. Company: We don’t just want to build a 100 year company, we want to build a 100 year startup.
  4. Product: We don’t care if you pay, we just want you to stay around and keep using it and get all your friends to use it. The longer you stay, the more likely that you’re going to fall in love with it and then pay.
  5. Product: Everything we make is basically made for me, it’s what I want to use. For me and for the rest of the team, we’re  passionate about the idea of remembering things.
  6. Product: We are building a product that you use for the rest of your life.
  7. Product: The only products we make at Evernote, [we make for ourselves]. We are the customers. We just hope that if we love something, others will.
  8. Design: Focus entirely on what is the experience of using that and then add the features almost as a secondary criterion.
  9. Feedback: We get quite a bit features from users  and we really want to hear from users and see what they think. We’ve found that different types of user feedback is relevant in different ways. The least relevant is when you ask users what should we build, having users do product design or feature roadmap for you doesn’t really work.
  10. Product: We spend money on the same things that we always do, it all goes to the product.
  11. Culture:  We have a flat and very open structure. Nobody has an office. In fact, there are no perks that are signs of seniority.
  12. Culture: We try to have an organization that just helps you get your work done, and then it’s my job to eliminate all of the risks and all the distractions so you can just focus on achieving.
  13. Culture: One of the things I’ve tried to do is uproot any sort of e-mail culture at Evernote. We strongly discourage lengthy e-mail threads with everyone weighing in.
  14. Culture: The thing that we do that people love the most, though, is housekeeping. If you work at Evernote, you get professional housecleaning twice a month.
  15. Growth: It’s all just word of mouth and people finding Evernote because of friends who love it recommending it.
  16. Growth: Whenever a new device or platform would come out, we would work days and nights for months before that to make sure Evernote was there and supporting the new device.
  17. Hiring: The most important baseline skill for any position is communication. We want you to be able to explain what you mean; we want you to be articulate. That cuts out a lot of people, because a lot of people are probably pretty good technically.
  18. Hiring: To guarantee the long term success of the company, the only way to do it is to make sure that the team continues to be the right kind of people.
  19. Funding: When we think about funding, we really think about in the context of wanting to isolate ourselves from having to make any short term decisions and being influenced by fluctuations in the market.
  20. Funding: We don’t go out and look for money, we get a ton of inbound requests on a daily basis from people who want to invest.
  21. Investor Pitch: Match the investors that you’re talking to with the strengths that you currently have and the stage of the company that you’re currently in.
  22. Investor Pitch: For us it was about showing we had traction, we understood what our users were doing, we understood what they wanted. We could deliver a product, meet on time, deliver our plans and fundamentally we got the unit economics right.
  23. Acquisition: We have turned down every acquisition offer.
  24. Lesson: The fundamental thing that I wish I’d of known, is I underestimated the importance of simplicity and design.
  25. Lesson: The most important thing for consumer facing software was that it was beautiful, simple, people immediately and intuitively understood how to use it.
 sumber : internet

ORES


Aku melihat Ores di wajah istri-istri para mantan pacarnya. Aku menemukan Ores menjadi nama yang disandang anak-anak para mantan pacarnya. Aku melihat Ores menjadi obsesi, aku melihat Ores menjadi tugu.
Tapi Ores yang menanggung semua karma. Di balik semua kekaguman dan obsesi yang meliputinya, dia harus menanggung semua akibat dari apa yang dia lakukan. Dia menerima kekalahan setelah kemenangan-kemenangan semu yang entah sengaja entah tidak, telah ia pahatkan. Ia patahkan hampir semua pria yang menaruh hati padanya. Tanpa alasan atau alasan yang tidak ia ungkapkan.
Ores psikopat dibalik semua kecerdasan, keberanian, ketangkasan, prestasi-prestasinya yang gemilang dan kecantikannya. Dia mengukir luka dari masa lalunya, menjejakkan dan membagi luka itu kepada siapa saja yang ingin mengobati dan memberinya penawar.
Ores yang malang. Ores yang luka dan semakin luka. Dia tak lagi menemukan dirinya. Dia tersesat jauh dan semakin jauh.
***
“Apa kabar Ores?”
Dua puluh tujuh  pria berkumpul secara incidental di sebuah loby hotel di sudut kota. Mereka datang dari seluruh pojok negeri dan benua. Incidental? Dua puluh tujuh? Tidak mungkin!
Secara jelasnya, Ores mengatur semuanya sedemikian rupa sehingga tampak seperti bukan undangan. Tetapi dua puluh tujuh mantannya berkumpul di tempat yang sama dalam satu waktu.
“Apa kabar Ores?”
Beberapa di antara mereka saling mengenal. Beberapa lain yang tidak, akhirnya tahu dengan siapa-siapa mereka bertemu. Tapi Ores tidak ada bersama mereka, belum. Dan Ores tentu saja menjadi tugu yang diperbincangkan meski ia tak nampak dan meski jelas bahwa pertemuan ini dirancang untuk sesuatu. Tapi tak seorang pun beranjak.

“Aku tidak pernah membencinya meski ia mencampakkan aku. Dia jadi mercu suarku sepanjang waktu. Memikirkannya dan ekspetasinya, membuatku memiliki dendam positif sehingga menjadi sukses seperti sekarang” seorang dokter spesialis terkemuka membuka suara.
Jelas siapa yang ia bicarakan dan agak aneh karena meski kedua puluh tujuh pria itu terobsesi pada tugu yang sama, namun tak ada lagi aroma persaingan seperti belasan tahun yang lalu.
Kemudian satu persatu bicara tanpa ada permusuhan, meski di antara mereka dulunya pernah nyaris berjibaku karena memperebutkan tugu yang sama.
“Ores perlu disembuhkan” sebuah suara bicara. Seorang insinyur brilliant menukas di tengah riuh rendahnya testimony.
“Ia jelas sakit. Apa ia sudah sembuh? Ia menginginkan sesuatu dari kita? Pemberian maaf?” seorang pengusaha tambang angkat bicara.
“Aku sudah memaafkannya sejak lama” sambungnya.
Lalu semua berdengung seperti lebah. Bersahut-sahutan seperti burung berkicau. Lalu, senyap.
“Di mana Ores?” hampir semua bertanya. Masih dalam dengung dan sahut menyahut.
Tak ada yang bisa menjawab. Namun tak satupun yang beranjak pergi.
***
Ores menekur, lama terpekur. Dia kesepian dan lelah mencari dirinya sendiri. Kembali sendiri setelah kematian suaminya, membuatnya kembali bertualang. Tapi dia tak menemukan apa yang dicarinya. Akhirnya dia sadar, dia takkan pernah bisa. Dia meninggalkan banyak luka setelah kelukaannya sendiri dan belum meminta maaf. Jadi sejauh apapun langkahnya, dia takkan pernah sampai.
***
Aku orang yang Ores temui setelah tujuh belas tahun tak pernah lagi bertatap muka meski aku terus mengikuti apa saja yang dia kerjakan. Dia tuguku juga. Tapi aku tak pernah menampakkannya, jadi aku mungkin orang kedua puluh delapan yang harusnya ada di daftar, tetapi dia menempatkanku di nomor nol.
“Untuk apa pertemuan itu, Ores?” tanyaku. Tuguku tak harus menasbihkan diri sebagai seorang psikopat meski kenyataannya begitu.
“Bukan untuk apa-apa. Bukan untuk siapa-siapa. Kamu mau melakukannya untukku kan?”
Aku hanya mengangguk. Seperti dulu aku mengangguk jika dia mengirimkan surat balasan untuk pacar-pacarnya lewat aku. Seperti dulu aku mengangguk, mengiyakan permintaannya padaku untuk mengantar undangan pernikahan ke beberapa mantannya. Seperti dulu aku mengangguk.
***
Ya. Kenapa harus wajah Ores yang melekat pada wajah istri para mantan pacarnya. Kenapa harus nama Ores tersandang pada nama anak-anak mereka. Kenapa?
Menurutku bukan Ores yang seharusnya meminta maaf pada mereka. Tetapi mereka yang harus meminta maaf padanya. Beban itu menindih luka yang telah ia derita. Ores yang malang.
***
Malam itu Ores belum lagi nampak. Tapi tak seorang pun hendak beranjak. Mereka bermalam, namun tak seorang pun menutup mata. Semalaman membincangkan Ores tanpa henti. Tugu itu tak pernah rubuh ternyata. Sangat sangat mengherankan dan tak masuk akal, apalagi hampir semuanya terpelajar dan memiliki keluarga bahagia. Balas dendam positif menjadikan mereka tugu- tugu yang sesungguhnya.
***
Sampai matahari hampir kembali bangun, Ores belum lagi nampak tapi tak seorang pun beranjak. Tidak ada pembunuhan malam itu, jadi ini bukan thriller. Tapi apa ini?
“Senang sekali bertemu dengan semua pria sukses di ruangan ini” seorang creative director membuka pagi. Mereka berkumpul menikmati kopi dan harum pegunungan. Sisa hujan dan bias purnama semalam merapatkan mereka lagi. Ores ada di sini. Bersama mereka, tapi entah di mana.
Setahun terakhir mereka memang kehilangan jejaknya. Tugu itu tak pernah pergi dari hati. Jadi merindukannya dan hasrat ingin bertemu kembali yang membawa mereka semua datang ke tempat ini.
“Tapi dimana Ores?”
Pertanyaan yang sama meski mereka tahu Ores tak pernah pergi. Mereka menyimpannya di dalam hati. Ores yang luka, Ores yang mereka cintai, Ores yang paradox, Ores yang sama sekali tak sempurna tetapi menjadi tugu.
***
Perbincangan siang sudah bergeser dari Ores menjadi perbincangan lain. Sama-sama sukses, sama-sama berkelas, jadi pertemuan itu serupa pintu-pintu baru yang mengasyikkan untuk saling berbagi. Karir yang bagus, keluarga yang bahagia dan jalan hidup yang menanjak adalah common thing, hal sama yang terjadi pada mereka.
Perbincangan tentang sukses, pencapaian bermuara pada balas dendam positif atas apa yang Ores lakukan pada mereka.
“Kita berhutang terima kasih pada Ores” senada merdu suara bersahutan.
Perbincangan tentang happy family membuka kesadaran bahwa mereka tak pernah melepaskan Ores sedikitpun. Ores ada pada wajah istri-istri mereka. Ores adalah nama yang mereka sebut ketika memanggil nama anak-anak mereka.
“Kita menyerap energy terlalu banyak dari Ores!” seorang pengusaha property sukses tercekat dalam teriakan kecilnya. Dalam kesadarannya. Aku rasa hampir semuanya mengangguk dalam hati kecilnya, seperti aku mengangguk.
“Bukan Ores yang menghendaki pemberian maaf dari kita. Kita yang mustinya meminta maaf dari dia” pria rapi direktur perusahaan asuransi menyimpulkan sesuatu. Aku rasa hampir semuanya mengangguk dalam hati kecilnya, seperti aku mengangguk.
“Tapi di mana Ores?” semua orang bertanya, kecuali aku.
***
Ores menekur, terbujur. Dia kesepian dan lelah mencari dirinya sendiri. Kembali sendiri setelah petualangannya. Tapi dia tak menemukan apa yang dicarinya.
Aku takkan membiarkannya terluka lagi lebih lama. Aku mencintainya, sangat. Aku mengabulkan apa saja yang dia inginkan. Aku ingin selalu membahagiakannya, dulu, sekarang, selamanya. Aku membebaskannya. Membebaskannya dari derita, dari karma, dari luka. Aku menebas tugu itu, rubuh dan terbaring.



OUTEDDY



OUTEDDY

Hari ini, kulepaskan kau dari hatiku.

Mungkin karena dia untuk pertama kalinya adalah pria yang akhirnya berhasil menyentuhku. Memboncengkanku kemana –mana. Menelponku sesuka hatinya. Mungkin karena aku seorang perempuan yang untuk pertama kalinya jatuh dalam buaian manis kata – kata seorang pria setelah sebelumnya menutup hati begitu erat. Mungkin.
Mungkin dia yang hangat, nyaman dan perhatian membuatku lumer seperti es krim.
            “Aku selalu ingin memiliki keluarga yang  harmonis seperti ayah ibuku” katanya suatu ketika serupa mantra yang menghipnotisku dan percaya dia belahan jiwaku soulmateku.
            Bahkan setelah bertahun – tahun tak lagi bersamanya, hanya ada dia yang menghiasi mimpi – mimpi malamku. Bahkan ketika dia sudah beristri dan aku sudah bersuami. Dan ini mungkin sekali karena aku menyimpan boneka teddy bear yang ia berikan padaku di ultahku yang kesembilan belas.
“Aku nggak bisa kasih apa-apa, Fin. Jangan dilihat harga atau barangnya ya, tapi lihat dari orangnya yang kasih “ kata-kata pasaran dan jamak tetapi tetap terdengar sebagai buaian maut di telingaku waktu itu. Dasar akunya perempuan yang mudah terbuai, hardik diriku  yang sekarang.
            Membuka bungkusnya, aku terkejut dan seketika melempar boneka Teddy bear warna coklat pekat itu. Gerakan refleks yang tak terhindarkan karena aku memang tak terbiasa dengan boneka. Ibuku tak mengijinkannya , tak pernah tahu apa maksud dari larangan itu.
“Bagaimana Fin. Kamu suka hadiahnya?” telponnya beberapa saat setelah kami pulang dari jalan-jalan tadi sore. Dia pandai sekali menebak bahwa mungkin sekali aku sudah membuka bingkisan special itu.
“Aku….aku….aku…terima kasih ya” kataku akhirnya.
            Cinta membutakan  melenakan Bahkan boneka yang tak aku sukai sebelumnya menjadi teman tidurku setelahnya. Teddy yang malang karena terus kubawa ke mana –mana. Bahkan ke rumah baruku bersama suamiku. Aku yang gila, tentu saja
Teddy yang sama, mimpi –mimpi yang sama.
Sampai suatu ketika kami bertemu lagi dan setelah 15 tahun tak bertemu itu aku ternyata masih berada dalam cengkraman pesonanya. . Aku yang gila. Aku yang bodoh.
“Tidak apa kan, Fin?” tanyanya.
Kami berada dalam satu company sekarang. Takdir memperjalankan kami seperti ini. Dia menjadi boss-ku. Dan antara sadar dan tidak aku seperti sapi dicongok hidungnya ketika kami membuat kesepakatan mengenai beberapa hal dalam pekerjaan yang kami kerjakan bersama.
Tuhan menghendaki aku mengakhiri kegilaanku dengan cara yang diaturNya sedemikian rupa. Pekerjaan yang kami bangun bersama pada akhirnya tidak menempatkan aku pada posisi yang layak untuk terus bersama. Jadi aku terpaksa disingkirkan.
“Terima kasih” kataku di akhir perjalanan yang tidak berlangsung mulus.
Lebih berterima kasihnya lebih bukan karena dia telah pernah  memberiku kesempatan untuk bersama –sama lagi dengan judul bernama pekerjaaan. Tetapi lebih berterimakasih karena dengan pertemuannya yang kali ini menyadarkanku tentang sebenarnya siapa dan bagaimana dia . Jadi, tak ayal lagi saatnya tiba kini aku melepaskan dirinya dari hatiku. 
            Kulempar boneka Teddy bear seperti dulu pernah kulempar secara refleks ketika pertama kali aku menerimanya. Kali ini kulempar dengan kesadaran penuh dan tak akan kupeluk lagi.
“Dag dag..teddy bear”
Dan seperti sebentuk balon yang terlepas ke udara, hatiku terasa ringan melepaskan racun dan rantainya yang membelengguku.
Aku bebas, bebas lepas. Terima kasih Tuhan…..:)

Dua Orang Tersesat


dua orang tersesat duduk merapat
mencari cahaya di  jalan serupa

dua orang merapal cinta
menari menangis di atas dosa

dosa?
bukan!

Tuhan mengatur pertemuan
dua orang hanya menapak titah

dua orang bertemu bentuk
mencari bentuk
kehilangan bentuk
terbentur bentuk
terantuk bentuk

dua orang pingsan
bangun dan terbangun
dibangunkan cahaya

dua orang duduk merapat

bertemu cahaya di satu bentuk

SESAT MEMBAWA NIKMAT



SESAT MEMBAWA NIKMAT

Arsitek yang jadi penulis, mungkin tidak mengherankan dan mengundang decak kekaguman jika ia menulis tentang arsitektur. Seperti Imelda Akmal dan Avianti Armand. Namun jika ia menulis sastra yang indah dalam bentuk puisi ataupun novel, hmmm…mungkin dia memang berbakat atau memiliki multitalenta. Atau dianggap salah jurusan jika akhirnya dia memilih menanggalkan profesinya sebagai arsitek dan memilih jalan hidupnya sebagai novelis atau sastrawan. Ada juga kan?
            Ada seorang dokter hewan yang menjadi sastrawan seperti penyair terkenal Taufik Ismail. Juga dokter Tompi yang menjadi penyanyi. Bahkan ada pula dokter yang jadi developer perumahan sepenuhnya dan meninggalkan profesinya sebagai dokter. Sarjana Teknik yang memilih jalan hidup sebagai guru PAUD sambilannya petani jamur. Sarjana akutansi menjadi trainer parenting class dan seterusnya dan sebagainya.
            Jurusan pendidikan yang dipilih tidak sesuai dengan jalan karir, atau bisa juga disebut jalan karir yang tidak sesuai dengan latar belakang pendidikan yang dimiliki bisa disebabkan oleh banyak hal. Pilihan jurusan yang tidak sesuai minat, bakat dan potensi karena tidak mengenalinya dengan baik, karena paksaan orang tua, karena ketersediaan tempat, dana yang tidak memungkinkan dan lain-lain alasan. Jalur karir yang diambil seadanya yang bisa dikerjakan, kondisi mengharuskan seseorang melanjutkan bisnis keluarga dan kemungkinan lain adalah dia baru menyadari kemampuan, minat, bakat dan potensinya di jalur lain. Jalur yang mungkin sama sekali lain.
            Karena kita bicara tentang pendidikan dan hak asasi manusia, kita akan meneropong dan menguliti bagaimana pendidikan dengan spesialisasi / jurusan tertentu yang dipaksakan oleh siapa saja termasuk orang tua akan bersinggungan dengan hak asasi manusia. Seperti halnya orangtua yang memaksakan anak-anaknya menerima perjodohan. Hmmm….
           
Orang tua dan orang yang merasa tua terkadang merasa lebih tahu apa yang baik untuk anak-anaknya. Padahal pada kenyataannya, seringkali para orangtua ini hanya didorong oleh keinginan untuk memperoleh prestige karena memiliki anak-anak yang sekolah kedokteran, teknik dan seterusnya yang sesuai  keinginan pribadi mereka. Yang demikian ini mengkin penghiburan dan kebanggaan bagi orangtua, akan tetapi bisa jadi penyiksaan dan tekanan bagi anak-anak yang menjalaninya.
            Melihat banyaknya kasus dan kecenderungan yang seperti itulah, semestinya paradigma berpikir dan tindakan diperbaiki dari saat ini, mulai dari diri, kemudian merambah ke lingkungan yang lebih luas dan program yang lebih panjang lebar dan dalam. Agar tidak terjadi lagi pemaksaan dan pemerkosaan terhadap pilihan –pilihan siapapun terhadap program pendidikan apapun.
            Masih lumayan jika ketersesatan mereka dalam jalur karir pilihan mereka akhirnya membawa nikmat meski tidak sesuai dengan latar belakang pendidikannya. Atau mereka tetap pada jalur karir yang sesuai dengan latar belakang pendidikan meskipun akhirnya tidak bisa optimal dan maksimal karena mereka tidak menyukai bidang tersebut. Karena cinta yang tulus terhadap pekerjaan, perasaan enjoy atau menikmati suatu aktifitas  akan membangkitkan antusiasme tinggi dan outputnya tentu saja lebih baik, apalagi jika didukung dengan kemampuan/skill..
Yang parah dan memprihatinkan jika pendidikan mereka tidak selesai (tidak lulus) karena frustasi di tengah jalan. Oh oh ! Ini menakutkan! Ada lagi yang lebih menyeramkan, yaitu banyaknya pengangguran dari kelompok sarjana /lulusan perguruan tinggi karena menganggap lowongan pekerjaan yang ada ‘tidak pantas’ dan ‘tidak layak’ untuk sarjana lulusan perguruan tinggi ternama seperti mereka.
Agar hak asasi manusia yang ini terlindungi, akan bijaksana jika terus digalakkan parenting class baik bagi orangtua maupun guru dan unsur-unsur terkait dengan pendidikan. Menjadi penting bagi semua orang untuk mengenali minat, bakat dan potensi anak-anak serta generasi muda. Terdapat  berbagai cara yang saat ini dikembangkan  untuk tujuan tersebut seperti pengamatan langsung dan mendalam secara perseorangan/personal, test minat bakat, melalui tulisan tangan anak, melalui sidik jari/ fingerprint dan lain-lain.
Bergerak dari pemahaman dan pengenalan ini dilanjutkan dengan komunikasi dua arah dengan anak mengenai keinginan mereka, memberikan arahan atau masukan yang mereka butuhkan dan seterusnya , kemudian pilihan jurusan rel pendidikan yang sesuai. Para guru dan pendidik di sekolah dan institusi juga harus membebaskan diri dari menghakimi terhadap anak-anak didik mereka. Menghitamputihkan , mengkotak-kotakkan dan sejenisnya.
Para pendidik juga semestinya terus menerus mengembangkan sistem pembelajaran yang berorientasi kepada anak didik. Mefasilitasi mereka sehingga semakin kreatif , menjadi problem solver dan menuangkan serta mengembangkan sayap-sayap kemampuan mereka selebar-lebarnya, melangitkan cita-cita ,melambungkan dan memercusuarkan karya-karya mereka setinggi-tingginya dengan hati yang tetap membumi dan akhlaq yang tetap santun.
PR berat?
Mungkin!
Nonsense?
Tidak ada yang tidak mungkin jika diupayakan dengan sungguh –sungguh dengan dukungan semua pihak dan tentu saja tak lepas dari pertolongan Tuhan Yang Maha Pendidik. Robbul Izzati. Tuhan yang Maha Tinggi dan Maha Mulia. Yang memuliakan manusia dengan membekalinya dengan potensi unik bagi setiap orang. Sehingga sangat tidak bijak jika kita mengabaikan potensi unik ini apalagi membonsai dan mengkerdilkannya dengan cara pemaksaan yang tentu saja melanggar hak asasi manusia.
            

Dikembalikan Oleh Paradoks


KEMBALI

“Tidak perlu malu, Li” kata  ibu muda dengan wajah tirus dengan sedikit noda merah di sisi kanan wajahnya. Seorang  teman baiknya.  Setidaknya begitu keadaan memaksa dan mengkondisikan mereka demikian. Mereka tinggal di satu rumah kost.
“Aku sudah tak lagi punya apa yang disebut dengan malu, Fah” Lili memalingkan dan melemparkan pandangku sejauh-jauhnya.
Sebuah pohon berbuah delima di sebelah pohon nangka yang besar tinggi menjulang tertangkap matanya. Seekor kupu – kupu beterbangan di antara dedaunan pohon delima yang mulai merontok bunga dan menuju prosesnya menjadi buah. Dan seekor burung terbang melintas dekat pohon nangka
“Sudah, Li. Nanti ada jalan keluar” suara Sholih menengahi keheningan antara dua perempuan yang mengadu rasa, entah pada siapa.
Pria tambun suami si perempuan bernama Fah ini duduk menjajari mereka. Tapi dia mengawan pada pikirannya sendiri teringat kenangan bersama Rozaq ketika sama-sama di Gontor. Bareng digunduli karena nakal telat atau bolos jamaah. Namun dibalik itu juga berprestasi dan aktif di madding dan bulletin pondok.
Beruntung, seusai menyelesaikan pendidikan di Gontor, Rozaq melanjutkan studi di Makkah. Berbeda dengan sahabatnya yang  batal berangkat karena tidak cukup biaya.
“Tetep sohib” pesan Rozaq sebelum berangkat.
Sekembalinya ke Indonesia,  entah karena takdir bicara demikian atau memang sengaja mendekat. Rozaq ikut mengajar di sebuah lembaga pesantren yang meniru program studi di Gontor tapi di kota kecil mereka berdua, bersama Sholih.
“Masih untung kau, Lih” seloroh Rozaq
“Untung apa?” Sholih yang sering merasa kalah langkah dari Rozaq.
“”Kamu sudah punya keluarga, istri dan anak. Bahkan istrimu juga berkarir”
Orang seringkali memandang orang lain lebih sukses dan lebih bahagia. Seandainya saja orang tahu apa yang sebenar-benarnya terjadi dalam kehidupan orang lain. Pastilah masing-masing pandai bersyukur.
Fah, istri Sholih, dinas 20km sebelah timur kota kecil mereka. Sebuah kota yang terkenal dengan menaranya. Rozaq turut mengantar keluarga kecil ini pindah ke sebuah rumah kost di Kudus,  kota eksotis.
Saat itulah untuk pertama kalinya dia bertemu Lilik, salah seorang penghuni rumah kost. Pertama bertemu , langsung jatuh hati dan ternyata tak bisa berpaling sesudahnya.. Teman satu kost dengan sahabatnya sekeluarga itu langsung memikat hatinya.
Dan bagi Lilik, Rozaq adalah juga cinta pertama. Hei hei. Ini tahun 70 an. Jadi memang indah sekali pertemuan antara pertama dengan yang pertama. So original dan bisa berarti timeless priceless. Mereka akhirnya mempunyai hubungan istimewa. Sangat sangat istimewa.
Sayangnya Rozaq kemudian dijodohkan orangtuanya dengan seorang ning (seorang putri kyai) dari Jawa Timur, untuk gengsi, kehormatan , kekayaan  dan lain-lain alasan yang orangtuanya saja pahami, tidak bagi Rozaq. Karena hatinya sebenarnya telah tertambat satu hati. Tapi dia tak bisa mengelak. Berkali permohonan maaf dan perpisahan memilukan  akhirnya terjadi antara Rozaq dan Lilik.

Lilik terus menerus menangisi perpisahan ini.
Aku sakit. Aku sakau……….
Lili terus terusan menangis, terluka dan nanar jiwa dan hatinya.

Daun runtuh luruh jatuh ke bumi kering yang kerontang. Dan ilalang terbakar matahari yang meranggaskan pepohonan , hutan dan semesta. Alam tak lagi hijau, tak lagi segar, tak lagi ada kehidupan.
Rozaq sama tak bahagianya. Pernikahannya tidak berjalan dengan baik. Hari –hari kelabu, malam – malam yang dingin. Pagi tanpa senyuman, siang sore senja yang tak bisa lagi dibedakan karena yang ada hanya gelap dan suram. Bahkan beberapa bulan tanpa Rozaq menyentuh istrinya. Ganjil khan…cowok gitu lhoh. Istrinya halal baginya, tapi dicuekin.

Rozaq menumpahkan kegalauannya pada sahabat dan istrinya. Lilik masih bersama mereka, tinggal dalam satu kost.
Dan dengan bantuan pasangan ini-sahabat dan istrinya- Rozaq  akhirnya bercerai dari istrinya. Berhasil meyakinkan Lilik untuk menunggu. Dan akhirnya mereka bersama lagi.

Keluarga baru ini membina keluarga yang bahagia, sukses dan harmonis. Mencapai titik titik kesuksesan dan pencapaian yg tak dpt disangkal lagi, krn energi cinta yg sedemikian besar antara keduanya. Salingpercaya, saling  dukung dst.

Tak terhitung besar rasa terimakasih mereka terhadap mak comblang pertama mereka bertemu dan akhirnya membantu pertemuan mereka lagi..
You bring joy to my life, bisik Rozaq.
Thank you for being here. For coming back to my life, bisik Lili.
I’ll stand by you, janji Rozaq
Please promise, pinta Lili

Padahal mereka- pasangan mak comblang ini -  sebenarnya tak kompak dan harmonis dalam keluarga mereka sendiri. Paradoks kan

UNTUNG DUA DUNIA



UNTUNG DUA DUNIA

Mungkin tidak banyak diketahui orang bahwa praktek ekonomi syariah sesungguhnya sangat sangat menguntungkan. Bagi diri sendiri maupun umat secara nyata. Keuntungan yang diperoleh tunai di dunia maupun keuntungan akhirat karena mengaplikasikan apa yang disyariahkan Allah dalam Alquran. Untung dua dunia,intinya.
Dari investasi yang ditanam saja, hasilnya di perbankan syariah lebih banyak jika dibandingkan kalau kita menanamnya di bank konvensional. Untuk uang Rp 25 juta dalam setahun kita bisa mendapatkan bagi hasil sekitar Rp 8 juta. Hasilnya bisa fluktuatif tergantung dengan perputaran pengelolaan modal/ saham tersebut.
Kalau di bank konvensional? Sila cek sendiri.
Bagaimana bisa lebih banyak?
Kemungkinannya karena pengelolaan keuangan dengan system syariah ini menyentuh langsung para pemain pasar yang mengelola dengan baik dan melaporkannya secara transparan. Keuntungan dari hasil pengelolaan dibagi nisbahnya dengan para pemodal/penanam saham dengan prosentase yang adil dan rasional bagi keduanya.
Biaya administrasi dan lain-lain biaya juga lebih ringan dibandingkan dengan biaya di bank bank konvensional.
Mengenai jatuh cintaku dengan perbankan dan ekonomi syariah ini tak lepas dari sosok Bapak Syafii Antinio yang memperkenalkannya sejak lama.
Menjadi impian saya sejak lama untuk bisa duduk bersama beliau  dan bertanya mengenai banyak hal. Semoga suatu masa impian saya ini akan terwujud. Aamiin.
Kecerdasannya, intelektualitas, pemahaman terhadap Islam dan Alquran, wawasan, visi, misi dan juga aktualias dan implementasi Bapak Syafii dalam kehidupan sungguh membumi dan juga komplit-kaffah.
            Prinsip ekonomi syariah yang Bapak Syafii perkenalkan beberapa tahun lalu bahkan sekarang menjadi economic trend di dunia. Salah satu pendekatan pengelolaan keuangan yang semakin diminati oleh dunia internasional. Subhanallah.
            Dan hampir sendirian, menjadi leader sebuah kelompok kecil dan mungkin saat itu tidak popular, Bapak Syafii menengahkan prinsip ini dengan bahasa santun, tidak arogan, simpatik dan persuasif.
Lebih dari semua itu, yang menjadi saya semakin terkagum – kagum adalah kenyataan bahwa Bapak Syafii seorang mualaf. Tidak memeluk Islam dari semenjak lahir namun memiliki pemahaman dan penerapan Islam secara Kaffah, holistic dan menyeluruh. Melebihi kebanyakan muslim yang menjadi Islam semenjak lahir.
Banyak sekali ayat – ayat Alquran yang Bapak baca di luar kepala, sehingga saya mengira kalau Bapak kemungkinan hafal Alqur’an. Tetapi seorang yang tawadlu dan rendah hati seperti Bapak Syafii, saya kira mungkin tidak ingin menonjolkan kemampuannya yang ini pula.
Visi perbankan dan ekonomi syariah menyalakan spirit dan semangat menjadi muslim kuat dalam arti yang seluas – luasnya. Kuat iman, fisik dan juga kuat ekonomi. Saya ingin anak-anak saya menjadi Syafii Antonio kedua, ketiga atau keberapa, tapi menjadi seperti Syafii Antonio.
Lingkungan sekitar saya banyak sekali kyai dan ustadz. Namun yang juga berwawasan ekonomi dan mempunyai manajerial seperti Bapak Syafii, hampir tidak ada. Bahkan tidak ada. Banyak kawan-kawan dan senior saya yang menjadi pengusaha sukses tetapi jarang yang lengkap dengan pemahaman mengenai ekonomi syariah apalagi mengaplikasikannya secara membumi.
Kebiasaan dan budaya mengkotak-kotakkan ‘ibadah mahdhoh’ dan ‘aktifitas ekonomi’ yang dianggap keduniawian serta materialistis selama ini, sesungguhnya melemahkan dan mengamputasi kemampuan umat itu sendiri. Curiga saya, kebiasaan dan buadaya ini kemungkinan memang diciptakan oleh penjajah Belanda dan semacamnya yang tidak ingin melihat rakyat jajahannya maju dan berjaya. Karena saat ini kita sudah lama sekali memproklamirkan kemerdekaan, semestinya kita juga merdeka dengan sesunguh – sungguhnya merdeka. Termasuk melepaskan diri dari kungkungan penghitamputihan dengan yang disebut ibadah. Meraih  kemerdekaan dan kemandirian sebagai pribadi maupun bangsa dari penjajahan apapun, termasuk penjajahan ekonomi dalam bentuk hutang luar negeri dan semacamnya.
Memiliki satu Syafii Antonio saja sudah memberikan harapan bagi kami untuk bangkitnya negeri ini. Apalagi jika Bapak Syafii juga nantinya mau mendidik putra putri saya (saat ini berusia enam dan empat tahun) agar mereka kuat dalam pemahaman Islam serta Alqurannya juga kuat prinsip ekonomi syariah serta cerdas dalam aplikasinya dalam kehidupan.
Seperti Bapak Syafii Antonio menginspirasi saya untuk memiliki banyak keberanian dan cita-cita demi kemandirian diri, kejayaan umat dan kesuksesan dunia akhirat. Saya juga ingin menginspirasi sebanyak-banyak orang untuk mempraktekkan perekonomian syariah dan menggunakan perbankan syariah sebagai pilihan.
Salah satu caranya adalah menjadi contoh dan model sukses sebagai seorang usahawan yang menggunakan dan mengaplikasikan perekonomian syariah dalam roda usahanya. Contoh dan teladan sejuta kali lebih berbicara dibandingkan kalimat, kata-kata maupun tulisan saja.
Cara lain dengan terus menerus berperan serta dalam komunitas-komunitas apa saja dan mengenalkan system perekonomian dan perbankan syariah ini dengan mempresentasikan contoh dan model – model suksesnya.
Kampanye melalui berbagai kegiatan dan brand awareness yang telah sukses harus disertai dengan peningkatan pelayanan dan peningkatan mutu terus menerus demi kesinambungan kredibilitas dari masyarakat dan khalayak umum.
Insya Allah, jika Allah menjadi tujuan kita. Jika Dia yang kita harapkan ridloNya, Dia akan menolong dan memudahkan langkah-langkah kita. Aamiin.
Kini, saatnya diri bangkit. Saatnya umat bangkit. Saatnya bangsa bangkit!