nemu jamu

“Wah, ada tukang jamu lewat nih”
Segera dia pelankan motor yang melaju dan mendekati tukang jamu yang melintas di tepi jalan yang dia lewati. Galian singset adalah menu favoritnya. Seperti biasanya jika ketemu di jalan, pasti tak pernah dia lewatkan.

Satu gelas jamu diminum dalam satu kali helaan nafas.
“Astaghfirullah. Aku puasa!”

Segera dia serahkan gelas kepada tukang jamu yang nyengir. Tukang jamu menerima gelas itu  sambil berkata, “ ya sudah, mbak. Itu namanya rejeki. Puasanya dilanjutkan saja”

Subhanallah. Basah air jamu yang melewati kerongkongan kering menghentakkan kesadarannya. Semudah ini seharusnya kita meninggalkan maksiat yang kita lakukan ketika khilaf. Bukankah jamu ini terminum olehnya karena dia lupa, dan dia  segera kembali berpuasa ketika ingat. Semestinya demikian juga dalam perjalanan kehidupan. Ketika suatu kali kita khilaf kemudian menikmati hubungan tanpa ikatan misalnya, itu bisa berarti air minum yang membasahi kekeringan kita. Namun seharusnya ketika sadar bahwa itu salah, bahwa itu khilaf, langsung kembali ke jalan yang lurus dan benar adalah sangat bisa dilakukan asal tekad kita kuat dan tak terpatahkan.

0 komentar:

Posting Komentar