Tak Semua Pisang

Ada masa -masa dia ingin sekali makan empek - empek atau minum es kolak. keduanya ini sudah seperti candu. semacam makanan eksotis yang menggugah keinginan mengkonsumsinya tiap kali dia mengalami masa reses. udara yang sangat gerah, panas, banyaknya pekerjaan ataupun stressing lainnya.

Jadilah senja itu dia sekenanya mengambil pisang dalam kulkas. Lalu mengolahnya menjadi kolak. Dia mengira akan merasa puas setelah kolak itu jadi dan bisa dinikmati. Menuntaskan keinginannya yang seperti orang ngidam.

Ouch. Oops. Tapi salah besar. Ternyata kolak itu rasanya tidak enak sama sekali. Bukan karena bumbu atau bahan yang menyertai pisangnya yang salah, tetapi pisang itulah yang tidak pas jika dipakai sebagai bahan membuat kolak.

Jadi memang ada pisang yang pas-nya untuk digoreng. Ada yang pasnya untuk dikolak. Ada yang pasnya untuk dimakan begitu saja tanpa diolah. Dan ada pisang yang enak untuk diolah jadi apa saja.

Kiranya pisang juga punya spesialisasi. Sepertinya demikian  juga dalam menulis. Ada yang lebih pas nulis genre chicklit, ada yang pasnya nulis teenlit, atau cerita anak misalnya, yang lain pas-nya sastra, ada yang essai , jurnal, dan seterusnya dan sebagainya. Ada juga yang menguasai semuanya, tapi jarang sekali yang bisa begini.

Hmm.. kalau pasnya sebenarnya nulis genre A tetapi nulis genre B,mungkin jadi tidak berasa kolak yang nikmat. Ya kan? mending digoreng..... :D

0 komentar:

Posting Komentar