beda frekuensi


hari sekolah tinggal besok, tetapi anak laki - laki itu bersikukuh hendak menemui seorang temannya hari ini. tiga minggu liburan ternyata menimbulkan kerinduan yang sangat dalam dirinya. dan sang ibu akhrnya meluluskan keinginan tersebut dengan mengantarkannya sampai ke rumah sahabat sang anak.

kerinduan menggebu anak laki-lakinya terbayar sudah. meski dari peristiwa ketemuannya dua anak lelaki di siang hari itu, ada sesuatu yang mengganjal. tetapi membangkitkan kesadaran sang ibu. bahwa belum tentu orang yang sangat kita rindui itu juga merindukan kita dalam kapasitas yang sama. bahkan mungkin tidak rindu sama sekali. sang anak lelakinya yang begitu antusias bercerita dan berbagi pada teman sekelasnya itu hanya mendapat sambutan yang biasa saja. sang sahabat menanggapi dengan cool gaya anak kecil yang tampaknya tidak memiliki frekuensi yang sama dengan anaknya, tidak memiliki kerinduan sebesar yang dimiliki anaknya. so... apakah itu mengurangi rasa suka sang anak pada sahabatnya itu? sang ibu mencoba mencari tahu. apakah anaknya menjadi kecewa dan kemudian berubah sikapnya?  so.... kisah serupa seringkali dialami para dewasa juga. seseorang mungkin mengalami hal hebat dalam perasaannya sendiri terhadap orang lain. Namun sang obyek belum tentu berada dalam frekuensi yang sama. Apakah ini musti dilahirkan dalam kata – kata atau harus diterjemahkan sendiri melalui penginderaan terhadap bahasa tubuh dan bahasa diam? Ini yang sulit, karena manusia dewasa kadang penuh rekayasa dan pandai menyembunyikan sesuatu bahkan mengelabui. Hoho.

2 komentar:

  1. hehe, jadi inget sama temen kalo lama ga kumpul, dia suka nanya, kangen ga? dan kadang perasaannya biasa aja. mungkin karena beda frekuensi ya,mba :D

    BalasHapus
  2. iya, Ila. kadang perasaan dan pikiran sendiri bisa menipu.. hehe.
    perlu dua arah dan saling bicara untuk tahu apa yang sebenarnya dirasakan oleh masing - masing :)

    BalasHapus