Mentari, Gerhana, Ibu dan Iman


Gemerisik daun berjatuhan dekat jendela kamar Dina masih kalah oleh sontak kemarahan seorang perempuan tua yang merasa menjadi ratu di rumah itu. Tanpa mengetuk pintu, atau memberi kesempatan korbannya menyembunyikan bukti yang senyata dan sekeras batu. Membuat Dina hanya bisa beringsut sedikit demi mengatur nafasnya yang memburu seperti kacau dikejar hantu.

“Untuk apa kamu membaca novel- novel terus, Dina”
Ibu tak bisa menyembunyikan risau dan kebencian di matanya.
‘Buku-buku puisi ini juga. Apa gunanya?”
Dua buku puisi yang sudah tak cantik rautnya itu menjadi korban. Ibu mengambil untuk membantingnya ke meja di depan gadis berahang kokoh dengan burai sedikit anak rambut di atas telinganya.
Perempuan berhati sutra itu bergeming. Ditegakkannya punggung sambil menarik nafas.
“Membaca sastra itu bisa melembutkan kalbu. Andai ibu tahu” jawabnya lirih. Dia selalu ingin menghormati ibunya. Di tahta ibu, pusaka hidupnya berada. Dia yakin itu.

“Membaca Alquran dan berdzikir, itu yang sebenar-benarnya melembutkan hati” tajam ibu menyampaikan kenyataan dan mungkin juga dogma. Kemarahan yang sama, kemarahan yang itu – itu lagi.
Dina hampir kaku tak bisa menjawab. Tapi dia tahu ibunya menunggu sesuatu bunyi keluar dari bibir tipisnya. Ditahannya agar tak ada segarispun bening keluar dari mata mengarsir tulang pipinya yang tinggi.
“Melakukan sesuatu yang sama kadang jenuh, bu. Perlu melakukan sesuatu lainnya yang juga bermanfaat” bisiknya.
Ingin sebenarnya dia berteriak. Ibu seharusnya bersyukur karena dirinya lebih memilih membaca buku daripada dugem atau minum ciu.

Tapi begitulah….ibu masih menggumam serentetan risau yang keluar dari pengertiannya sendiri. Novel itu omong kosong, loghow dalam bahasa santrinya, membuang waktu, tidak produktif, mengajarkan angan-angan panjang, dan tetek bengek kontrapositif tentang sastra dan semacamnya.

Ah, ibu.  Ibu saja yang tidak pernah membaca novel bagus. Ibu hanya mendengar keburukannya dari ustadz, dari kyai, dari siapa saja yang terkungkung labirin dan kacamata prasangka.
Orang  kuno selalu kuno, lirihnya.
Anak muda selalu pemberontak, geram ibunya.

**

Jadi begitu alurnya. Dia kenal dekat dengan seorang mualaf. Gerhana ini membawanya semakin mencintai sastra. Di komunitas sastra, apalagi yang umumnya dibaca kalau bukan buku. Dan bukan kitab suci atau kitab lainnya.
Berinteraksi intens dengan mualaf membuatnya sedikit menurunkan tingkat fanatisme terhadap agama. Dia tak ingin membuat Gerhana takut. Keraguan dan kebimbangan yang menderu di kepala Gerhana seringkali berimbas pada dirinya. Untuk suatu waktu, kadang Dina mempertanyakan kembali beberapa hal yang selama ini diyakininya dengan pasti. Untuk suatu alasan, dia mengulang dan menginterpretasikan kembali segala sesuatunya.

Anehnya kehidupan bahkan menyeretnya lebih jauh keluar dari lingkaran amannya. Kali ini dia dipaksa takdir bertemu Mentari. Yang bahkan  berbeda keyakinan. Bukannya Dina tak pernah berkawan dengan mereka yang tidak sekeyakinan dengannya. Tapi kali ini lain, karena lelaki itu menggerus dan merongrong sisi halus dalam dirinya.
Hidup agak kacau dalam kepalanya kini. Kadang-kadang dalam keadaan setengah tidur, ia cemas. Meraba dadanya, apakah iman masih bersemayam di sana. Kadang ada perasaan mengapung, melayang tanpa sesuatu pengait, pasak atau apa saja yang mencengkeram dirinya berpilin erat dengan akar iman. Kadang ada rasa itu, dan dia takut.

Karenanya saat terbangun di pagi hari dalam keadaan beriman, dia selalu bersyukur. Dengan sebenar-benarnya syukur. Iman itulah yang paling berharga. Seolah dia bersyahadat kembali dalam kesadarannya yang terkini. Betapa mahalnya iman, betapa takutnya dia tergelincir, betapa rapuhnya dunia dan kehidupan jika tak memiliki keyakinan.

Yang paling parah dan lebih berat dari segala kegalauan ini adalah dia harus menghadapai kekhawatiran dan kecemasan ibunya yang berlebihan. Tak seharusnya demikian. Dina cukup terbekali oleh semangat mengabdi kepadaNya dan tak mau menggadaikan keyakinan demi apapun. Tidak cinta, tidak harta.

Tidak ada yang lebih menyedihkan dibanding tatapan curiga dari orang yang kepadanya dia persembahkan seluruh waktu, perhatian dan kehidupannya. Yang di rumahnya, dia telah bersedia dipenjara, merelakan mimpi-mimpinya sendiri terkubur.
**


*posting tulisan lama

2 komentar:

  1. oh Lisna. betapa berharganya iman.
    betapa takutnya kita kehilangan. semoga iman selalu ditetapkanNya pada kita. aamiin

    BalasHapus