Yang Tak Lepas


ia datang lagi setelah tiga tahun lalu, setelah tujuh belas tahun lalu.
membuat perempuan itu tersipu dan malu saat ingatannya dilemparkan ke suatu waktu.
"yang jualan pecel waktu itu masih ada?"
perempuan itu tak mungkin lupa. 
"yang jualan sudah meninggal dunia"
jawabnya sambil menutupi wajahnya. perasaan bersalah yang hadir kembali.
mereka tidak pernah membahas ini, belum pernah.
"waktu itu, aku sempat makan tidak ya?", pria itu mengingat-ingat.
"kayaknya tidak", jawabnya sendiri.
"aku pulang, jalan menyusuri sungai itu............"
ucapan terakhirnya terasa mengambang, di awang - awang.
perempuan itu merasakan luka di sana. 
mereka belum pernah membahas ini sebelumnya. yang ia tahu, lelaki itu tampak tegar waktu itu. tegas.
ia masih menutupi wajahnya, menyembunyikan rasa bersalah yang tak pernah ia ungkapkan dengan jelas.
hanya tangisan berbulan - bulan dan tubuh luruh yang kehabisan daya hidup.

tulang rusuk yang melepaskan diri sebelum dipasang. 
sesal yang tak bisa pulang. 

"anak-anakmu sehat?", pria itu mengalihkan pembicaraan.
"alhamdulillah. nayla, kasih salam sama oom, dong", si kecil datang mendekat.
"siapa ini, bu?" 
"oom ini teman ibumu", jawab pria itu menyodorkan jabat tangannya.

dia belum berubah, mereka belum berubah.
mereka masih sepasang, seperti dulu. seperti orang-orang mengira mereka adalah pasangan. 
apakah pasangan tetap pasangan meski tidak menyatu? entahlah. 
ada banyak misteri di dunia ini. kita tak pernah tahu. 

*posting tulisan lama

0 komentar:

Posting Komentar