Di Antara Empat Soko Guru

Di Antara Empat Soko Guru
oleh Dian Nafi

Kamu masih ingat dua belas tahun lalu, sayang? Di malam tahun baru seperti ini? 
Saat itu tanpa kuketahui alasannya dengan jelas, engkau menekuk mulutmu. Memalingkan wajahmu dariku, padahal kita pengantin baru.  Yang duduk bersanding di pelaminan beberapa bulan lalu.
Aku baru saja masuk kamar kita setelah tadi berkumpul dengan ibu dan adik-adikku di ruang tengah. Menikmati tayangan akhir tahun di televisi seperti biasanya. Heran saja kenapa kamu tak juga keluar dari kamar padahal kami berempat sudah teriak-teriak dan seru-seruan mengomentari semua yang tampil di layar kaca malam ini.
“Mas, ada apa?” aku mendekatimu dengan sebungkah penasaran.
Kamu diam saja. Membisu. Bungkam.
Mungkin saja cecak di dinding kamar sempit kita turut menahan napas menunggu kalimat-kalimatmu.
“Mas marah sama aku? Tapi kenapa?” kuputar isi kepalaku untuk mencoba mencari tahu apa kesalahanku padamu.
Tapi kamu masih bergeming.
“Tolong mas kasih tahu saya kenapa mas jadi marah?” aku terus mendesakmu.
Namun hanya wajah kusut dan mbetatut yang kuterima.
Karena tak juga mendapat jawaban darimu sementara suara iklan di televise sudah selesai, aku pun beranjak.
“Mau ke mana?” akhirnya kamu membuka suara.
“Nonton TV lagi,” dengan nada ringan dan senyum terkembang aku menjawab.
Akhirnya kamu mau bicara. Aih, senangnya.
Cecak yang tadi diam di dinding sebelah atas kaligrafi bergerak cepat mengejar mangsanya.
“Kamu nih! Bukannya menemaniku tetapi malah nonton TV terus!”
Aha! Oh jadi ini yang membuatmu manyun.
“Aduh, maaas. Maaf yaaaa..” aku menghambur memelukmu.
“Apa meluk-meluk?” kamu merenggangkan pelukanku, menepiskan kedua tanganku dari pinggangmu agak kasar tapi masih dengan hati-hati.
“Maaf ya maass… Habisnya sudah menjadi kebiasaan di rumah ini kalau tahun baru-an kami pasti sama-sama nonton televise karena acaranya seru-seru,” aku berusaha menjelaskan.
“Tapi kan itu dulu sebelum ada aku,” wajah murammu masih di situ.
“Kenapa mas tidak bergabung saja dengan kami. Kan sekarang mas anggota keluarga juga. Ayo yuk,” aku menggamit lenganmu.
“Nggak! Aku nggak mau nonton televisi,” masih kamu jaga nada suaramu agar tidak terlalu tinggi dan keras.
Aku tahu kamu berusaha agar ibu dan adik-adikku tidak mendengar perdebatan kita di malam yang seharusnya dimanfaatkan untuk bersenang-senang. Menurutku. Menurut kebiasaan keluarga kami.
“Terus mas maunya sekarang ngapain?” aku mengerjap-ngerjapkan mataku ke arahmu.
Siapa tahu kamu mau mengulang malam pertama kita waktu itu. Yang justru terjadi bukan di malam pertama setelah pesta pernikahan kita. Tapi seminggu sesudahnya karena biasalah… ada bulan yang suka datang sehingga sedikit menunda kesenangan. Membuat makin penasaran. Dan menjadikan gelombang yang datang makin besar dan dahsyat.
Hmmm.. malam tahun baru oke juga buat main gelombang-gelombang-an. Halagh.
“Ayo kita jalan-jalan saja,” ajakmu akhirnya setelah tak kuasa menahan cemberut lagi. Tapi cukup malu untuk langsung mengiyakan ‘ajakanku’ sebagai ‘permintaan maafku’.
**
Kita lalu menyusuri jalan yang mulai ramai oleh orang-orang yang bertahun baru. Alun-alun penuh dengan orang-orang yang bersuka ria. Suara dangdutan di atas pentas. Sahut menyahut terompet dari segala penjuru. Klakson kendaraan dari arah kejauhan, dari jalan raya yang berada dekat sisi timur alun-alun.
Aku mencoba menggandeng tanganmu, mencairkan kebekuan di antara kita yang tadi sempat tercipta. Kamu tidak menolaknya tapi juga tidak membalas genggamanku seperti biasanya.
Semarah itukah kamu?
Apa kamu cemburu dengan ibu dan adik-adikku?
Atau memang aku yang keterlaluan karena tidak peka dengan kemauan dan keinginanmu?
“Mas?”
Dan kamu masih diam saja. Pandangan matamu jauh memandangi kerlap kerlip kembang api di tengah alun-alun. Aku pun hanya bisa mengikutimu, menikmati malam tahun baru ini dalam diam. Dalam sepi di tengah keriuhan suara terompet dan ledakan petasan di mana-mana.
Beberapa pasangan muda mudi bergandengan seperti kita menyusuri jalan dan menikmati malam. Tapi wajah-wajah mereka tampak sumringah dan berbunga-bunga. Tidak seperti kita. Aku yang terbelenggu tanya. Dan kamu yang memendam jawabnya.
Seekor kucing buluk tampak berjalan cepat menyelinap di antara orang-orang yang duduk lesehan menyantap makan dan jajanan. Kamu memberinya jalan melewati kita, sementara penjual nasi-yang merasa kecurian ikan- meneriakinya. Kucing itu berlari cepat dan kamu tak menghiraukannya. Aku ingin tertawa melihat betapa tak pedulinya kamu. Tapi wajah cemberutmu mengurungkanku. Cukup berjalan di sisimu saja mungkin hal yang terbaik yang bisa kulakukan saat ini. Jelas kamu sedang tidak ingin bergurau dan melucu seperti biasanya.
Deretan warung makanan, minuman dan jajanan pun tidak ada yang menggugah seleramu. Seleraku juga. Beruntung sekali beberapa tahun terakhir aku melanglang berbagai kota. Sehingga tak banyak orang yang kukenal dan mengenaliku di tengah kota kecilku malam ini.  Dan artinya aku tidak perlu memasang senyum atau bersandiwara pada siapapun. Bagaimanapun berjalan-jalan bersama suami sebagai pengantin baru tanpa kelihatan hangat dan mesra akan menimbulkan tanda tanya.
Aku berharap langkah kita agak lebih jauh sehingga bisa melewati masjid agung, tempat perjumpaan kita pertama dulu. Tempat kamu mengucapkan akad nikahmu setengah tahun sesudah itu. Mungkin menginjak pelatarannya, memasuki terasnya, berdiam di dalam ruangan utamanya, bisa menyejukkan kita. Dan meredam kesal serta amarahmu. Atau apapun itu yang mengganggu pikiranmu.
Aku masih ingat pertama kali bagaimana kita bertemu. Kamu sedang tiduran di teras masjid kuno dengan enam tiangnya yang dari majapahit itu. Aku dengan satu payung terkembang dan satu payung lagi di tangan kiri, berjalan mondar mandir di pelataran masjid. Mencari sosokmu. Satu jam sebelumnya kamu datang ke rumah karena disuruh ibumu untuk menemuiku. Gadis yang dijodohkan denganmu. Tapi aku tengah pergi kondangan, sehingga kamu pamit ke masjid untuk sholat dan istirahat.
Aku membangunkanmu dan menanyakan namamu karena tak yakin. Aku menungguimu sholat. Lalu berjalan di belakang dirimu yang tidak mengembangkan payung yang kuberikan. Membiarkan titik-titik air membasahi rambut dan tubuhmu yang bagus. Kurasa sejak itu aku sudah mulai jatuh cinta padamu. Sejak aku mengamati punggung dan pinggangmu saat kita melintasi pelataran masjid menuju rumahku.
Aku berharap langkah kita agak lebih jauh sehingga bisa melewati masjid agung, tempat perjumpaan kita pertama dulu. Tempat kamu mengucapkan akad nikahmu setengah tahun sesudah itu. Mungkin menginjak pelatarannya, memasuki terasnya, berdiam di dalam ruangan utamanya, bisa menyejukkan kita. Dan meredam kesal serta amarahmu. Atau apapun itu yang mengganggu pikiranmu.

 “Yuk pulang ke rumah,” ajakanmu membuyarkan harapanku barusan.
Tapi aku menurut saja. Karena istri sholihah dalam pengertianku, pengertianmu juga, adalah yang sami’na wa atho’na pada suami. Alias yang mendengar dan manut.
Langkah-langkah pendekku mengejar langkah-langkah kaki panjangmu. Sementara suara batinku sebenarnya masih bertanya-tanya. Yang bergema jauh di dalam lubuk hatiku adalah apakah kamu sebenarnya sungguh mencintaiku? Mengingat bahwa sebenarnya kita bertemu karena dijodohkan.
Apakah cemburumu tadi pada ibu dan adik-adikku adalah pertanda cintamu?
Mungkinkah ini waktu yang tepat untukku menanyakan perihal ini kembali?
“Mas..” bisikku lembut sembari menyandarkan kepala di lenganmu waktu kita sampai di dalam kamar kembali.
“Apa?” kamu menegakkan punggung seolah hendak menghindari sentuhan kulitku atau godaan apapun dariku. 
Tuh kan. Nadamu kok juga masih sadis gitu ya?
Aku jadi makin ingin tahu sebenarnya kamu sungguh mencintaiku atau tidak? Atau belum?
Apa yang sesungguhnya berdiam dalam pikiranmu tentangku? Tentang kita?
“Sebenarnya mas ini cinta sama aku atau tidak?” malu-malu kutanyakan juga akhirnya.
Kulepaskan peganganku untuk memberimu ruang. Sekaligus agar aku bisa leluasa mengawasi perubahan ekspresi wajahmu.

“..”
Dan wajahmu datar.
“Mas?” setengah putus asa aku merajuk.
“Pertanyaan opo kuwi?” sembari bergeser dan menyandarkan punggungmu ke kepala ranjang.
“Kok gitu sih mas? Mas ini cinta sama aku atau nggak?” aku bergeming, kekhawatiran merayapiku.
“Nggak perlu dijawab,” acuh tak acuh nada suaramu.
Tanganmu meraih kaca mata di atas meja nakas dan memakainya. Lalu meraih buku teka teki silang yang kamu suka isi jika sedang sendiri di rumah ini. Saat-saat aku sedang berada di kantor dan kamu hanya bisa menunggu dalam kamar. Karena tempat kerjamu sejam dari kota kecil ini dan bisa tutup kapan saja. Sebuah toko alat tulis dan tempat foto kopi yang kadang ramai kadang sepi.
“Mas nggak cinta aku ya?” desakku sembari mengawasimu yang entah pura-pura atau sungguh-sungguh mengisi TTS.
Ini jelas bukan malam tahun baru yang lumrah. Tidak bisa disebut sebagai perayaan. Setidaknya bercinta sebenarnya lebih baik daripada sekedar mengisi TTS. Tapi sebelum membuat percintaan malam tahun baru ini istimewa, aku butuh tahu sesuatu.
Sebuah kejelasan.
Sebuah pengakuan.
Sebuah pernyataan.
“Kamu kok nanyanya gitu?” kamu meletakkan buku TTS bercover foto artis ibu kota.
Semoga frase kata barusan tidak membosankan meski klise.
“Saya mau tahu mas ini cinta sama saya, nggak?” aku yakin cantik bukan ukuran cinta. Jadi meskipun aku kalah cantik dengan artis di cover TTS itu, aku masihlah bisa dan patut mendapatkan cinta. Dari suamiku sendiri.
“Nggak perlu dijawab,” pendek, tegas.
Jawabanmu membuatku tercekat.
“Ya Allah. Berarti mas nggak cinta aku?” masih kuberi kesempatan untukmu memperbaiki kalimatmu.
Tapi kamu memilih berbaring. Tidur tanpa mengajakku. Aku bisa saja membalasnya dengan keluar kamar dan meneruskan nonton televise dengan ibu dan adik-adikku. Tapi aku memilih berbaring di sampingmu. Dengan hanya bisa memandangi punggungmu.
Mungkin benar kamu belum bisa mencintaiku. Mungkin benar cinta pertamamu yang keturunan India dan bernama Farah Diba itu telah menghabiskan seluruh rasamu dan tak menyisakannya untukku.
Tahukah kamu ini menyiksaku?

**

Dan penasaran itu terus menyiksaku bahkan setelah kepergianmu. Kucari nama Farah Diba melalui dunia maya via socmed apa saja. Berdasarkan ingatanku akan fotonya yang kamu perlihatkan padaku seminggu setelah pernikahan kita. Saat kamu boyong aku ke rumah orang tuamu. Tapi tak kutemukan Farah Diba yang sama. Kamu mati membawa misteri. Apakah kamu hanya mencintai Farah Diba seumur hidupmu, sehingga tidak berhasil mencintaiku.
Apakah semua  pengorbanan yang kamu lakukan untukku dan keluarga kecil kita itu bisa disebut cinta? Aku selalu ingin menanyakannya kembali tetapi kamu keburu pergi.
Dua belas tahun berlalu sejak malam tahun kita sama-sama waktu itu. Hanya enam tahun kita bersama. Enam tahun berikutnya kulewati malam tahun baru tanpamu lagi. Kamu pergi terlalu cepat. Hanya selang sepuluh hari setelah ulang tahunmu yang keempat puluh.
Tak terasa malam tahun baru datang lagi. Dan seperti sebelum-sebelumnya, aku selalu teringat malam tahun baru yang pertama kali kita lewati bersama. Dalam kejengkelanmu, kepenasaranku dan kebekuan kita. Yang kubawa terus penasaran itu sampai sepeninggalmu.
Malam ini langkahku menapaki jalan-jalan yang dulu kita lewati malam tahun baru waktu itu. Dari depan teras rumah ibuku menyusuri jalan sepanjang tepi alun-alun. Menikmati malam yang berwarna oleh kembang api yang meluncur dari berbagai tempat. Juga ramai oleh tiupan terompet.
Tidak seperti dulu saat kita balik kanan dan bukannya melangkah jauh memasuki pelataran masjid, kali ini aku  melakukannya. Bulikku menceritakan sebuah mitos padaku waktu itu, beberapa waktu setelah kita menikah. Untung saja aku bertemu dengan kamu di masjid tua ini, katanya. Karena siapa saja yang bertemu dengan seorang lawan jenis yang ditaksirnya di masjid ini, maka mereka akan menjadi pasangan. Wow!, seruku waktu itu. Setengah percaya setengah tidak. Lalu bulik menyebutkan beberapa nama pasangan yang kisahnya hampir mirip dengan kita. Bertemu di masjid tua dengan enam tiang dari majapahit dan empat soko guru itu membawa keberkahan tersendiri.
Pertanyaan berikutnya adalah apakah menjadi pasangan saja cukup? Apakah kita juga membutuhkan cinta selain mempunyai pasangan?
Ke masjid ini aku kembali melangkah. Mengingati kenangan kita waktu itu saat bertemu di terasnya dengan enam tiangnya yang berasal dari keratin majapahit. Berbeda jauh dengan keadaan alun-alun dan jalanan yang penuh sesak dengan orang-orang yang merayakan tahun baru, masjid sepi. Hanya beberapa orang yang tampak sholat. Yang lainnya duduk-duduk dan tiduran.
Kutatap tempat dulu kamu pernah berbaring. Melewatinya dengan mencoba mencium dan mengingat aroma bau tubuhmu. Tapi aku tak berhasil. Enam tahun ternyata jarak yang cukup jauh. Pintu masjid berukiran petir yang terkenal dengan nama pintu gledheg itu seperti mengundangku masuk. Langkahku makin jauh. Di dalam masjid, semakin sedikit orang. Empat soko guru berdiri menantang di tengah-tengah ruangan utama masjid. Saka sebelah tenggara adalah buatan Sunan Ampel. Sebelah barat daya buatan Sunan Gunung Jati. Sebelah barat laut buatan Sunan Bonang. Sedang sebelah timur laut buatan Sunan Kalijaga. Yang dikenal sebagai saka tatal karena tidak terbuat dari satu buah kayu utuh melainkan disusun dari beberapa potong balok yang diikat menjadi satu.
Aku pernah mendengar mitos dari beberapa orang. Bahwa dengan memeluk salah satu soko guru itu, kita bisa mendapatkan apa yang kita inginkan. Dan saat ini aku ingin mendapatkan jawaban. Setelah dua belas tahun menunggu, apakah aku akan mendapatkan jawabannya sekarang, batinku meragu. Kenapa tidak kupeluk soko guru ini bertahun-tahun lalu. Kenapa aku sekarang menjadi sedemikian gila sehingga mempercayai mitos. Tapi bertanya-tanya saja hanya akan membawa rasa penasaran ini semakin membesar. Dari tahun ke tahun. Aku tak ingin melewatkan malam tahun baru tahun depan dengan pertanyaan yang sama.
Biarlah aku memeluk salah satu soko guru. Tidak peduli apakah aku akan mendapatkan jawaban yang kutunggu dan kuinginkan.
Biarlah aku memeluk salah satu soko guru. Tidak peduli apakah orang akan menganggapku gila atau menganggapnya sebagai tradisi baru dalam merayakan tahun baru.
Persoalannya sekarang adalah manakah dari antara empat soko guru ini yang akan kupeluk?











Resolusi 2014

Alhamdulillah astaghfirullah 2013 hampir kita lewati, ada banyak syukur yang saya tulis di http://diannafi.blogspot.com/2013/12/catatan-akhir-tahun-2013.html

Terus, apa resolusi 2014-nya?
Bismillah astaghfirullah, berikut list-nya :
1. one day one juz
2. food combining lagi (setelah setahun lalu terampas saat camp di puncak pas Noura Books Academy)
3. noom walk
4. 8 juz hfln -yg ilang2,hiks- jadi wirid
5. perbaiki kualitas terus tulisan
6. selesaikan  novel-novel dan buku-buku pesanan
7. beli gran max (?)
8. menempati rumah dan kantor baru (?)
9.  Belajar (lagi) fotografi
10. Sketching (lagi)
11. Dapat drafter (tambahan) untuk konsultan arsitektur Hasfa
12. Marketing buku-buku digital Hasfa
13. Imam untuk keluarga kecil kami (?)
14. sementara itu dulu ya daftarnya..... ntar ditambahin lagi :D

Catatan Syukur Akhir Tahun 2013

Alhamdulillah selama setahun di 2013 ini Allah melimpahi kami dengan banyak nikmat.

Dalam setahun, saya dan anak-anak berkesempatan mengadakan perjalanan Juni seminggu di Jakarta, Oktober seminggu di Ubud Bali, Desember seminggu ke beberapa kota di Jawa Timur.
Perjalanan kerja sembari refreshing :D 

Wa syukurillah ada 12 buku yang terbit tahun ini :
101 Bisnis Online Paling Laris - Gramedia Pustaka Utama
Cerita Cinta Kota - Plot Point
Engkau Lebih Dari Bidadari - Qudsi
Miss Backpacker Naik Haji - Imania Mizan
Belajar dan Bermain Bersama ABK
Storycake for Mompreneur - Gramedia Pustaka Utama
Ayah, Lelaki Itu Mengkhianatiku - Divapress
Anakku Terhebat - Familia
Storycake Keajaiban Rejeki - Gramedia Pustaka Utama
Pantang Menyerah Mengasuh Asih Anak Berkebutuhan Khusus
Sarvatraesa - Diandra
Rumah Tangga Penuh Cinta - Familia
Mesir Suatu Waktu - Grasindo

Hamdan lillah, berkesempatan bedah buku dan mendapat undangan sharing kepenulisan di beberapa tempat. 
Januari 2013 Bedah Buku 101Bisnis Online Paling Laris terbitan Gramedia di tobuk Gramedia Pandanaran Semarang
13 Juli 2013 Sharing Kepenulisan untuk 200 audiens Komunitas Sukses Mulia di Merapi Ballroom Hotel Grasia Semarang
11-15 Oktober 2013 Ubud Writers & Readers Festival
2 Des 2013 : Writing or Nothing l Sharing Kepenulisan di IAIN Semarang l 13.00-16.00 WIB
27 Des 2013 : Sharing Kepenulisan l Ponpes Langitan Tuban Jawa Timur l 09.00-12.00 WIB

Alhamdulillah berkesempatan pula talkshow di radio Sonora FM dan TVKU Semarang 
Alhamdulillah beberapa karya, review, liputan aktifitas komunitas dan profil dimuat di Jawa Pos, Radar Semarang, Tabloid Cempaka, Koran Joglosemar, Tribun Jogja, Liputan6, Pikiran Rakyat, Koran Sindo, Koran Jakarta, Tabloid Simpang Lima, Suara Merdeka, Tribun Jateng, Tabloid Sekar.  

Alhamdulillah beberapa naskah selesai dikerjakan dan sekarang tengah menunggu terbit dan rilisnya : 
#B, #BAD, #RTA, #SSRM, #ABK, #H, #S.  Mohon doanya semoga semua lancar dan berkah. Aamiin.

Alhamdulillah tsumma alhamdulillah

Aish, hampir lupa tahun ini saya ketemu dan belajar dari banyak orang hebat, yang wuaaaah akan panjang sekali daftarnya kalau disebut satu persatu :D


Kuis Novel Sarvatraesa DL 30 Desember 2013

Hai teman-teman, ketemu lagi di acara kuis-kuisan nih.

Ini syarat2nya :
1. Follow twitter atau Likes Fans Page FB

2. Kirimkan karya kreatif kamu yang mencerminkan ungkapan kamu kepada cinta pertamamu.

3. Hasil karya berupa FOTO bisa di twitpict ke mimin #

4. Hasil karya berupa postingan blog bisa dishare link-nya ke

5.Atau posting status di twittermu ttg mention boleh lbh dr 1tweet

6.Hasil karya (Bebas) yg penting murni karya kamu&bukan hasil karya orang lain.

7. Kuis di mulai tgl 20 - 30 Desember 2013, dan pengumuman pemenang insyaAllah 5 Januari 2014

8. Jangan lupa share KUIS ini ke teman-teman kamu.

Tentang Sarvatraesa:
Apa yang lebih mengganggu daripada rasa kepenasaran. 
Apa yang lebih melukai ketimbang rasa dikhianati setelah memberi kepercayaan. 
Apa yang lebih ditunggu kecuali balasan rasa cinta yang telah penuh diberikan dan membutuhkan setidaknya penerimaan.


Dia yang berasal dari keluarga sederhana, merasa tertohok harga dirinya ketika keluarga sang profesor mengungkit kembali latar belakangnya. Meskipun benar Sarva tampan dan cerdas, dia bukanlah siapa-siapa jika bukan keluarga sang profesor yang mengangkat derajatnya.
Dia berusaha mencari kehormatan bagi dirinya sendiri dengan melepaskan bayang-bayang mertuanya. Dia pergi ke Aceh, juga ke Ambon. Mengabdikan diri sebagai dokter tentara di daerah yang penuh silang sengkarut itu. Istri dan anaknya di Jakarta sesekali ditengoknya.
Di Aceh maupun di Ambon, Sarvatraesa terlibat cinta dengan perempuan lain. Davina meradang dan berharap jika Sarva hendak menikah lagi, dia rela berbagi tetapi hanya dengan Mayana.
Karena Davina tahu Mayanalah cinta pertama Sarvatraesa. Yang menghabiskan seluruh rasa lelaki itu sehingga tak bersisa untuk siapapun, kecuali petualangan-petualangan. 

Apakah Mayana menerima permintaan gila ini?

Facebook Page: Sarvatraesa
Follow our Twitter Account: https://twitter.com/sarvatraesa01


Judul : Sarvatraesa
Penulis : Dian Nafi

Penerbit : Pustaka Diandra 
ISBN : 9786021612040



Lagi, Cara Melatih Otak Kanan Agar Kreatif

Cara Melatih Otak Kanan Agar Kreatif

1. Membuat Gambar / mengambil foto terbalik, sehingga memikirkan perbedaan/sudut pandang/perspektif lain.
2. Gunakan anggota tubuh yang non dominan. Letakkan sesuatu berlawanan  dari yang biasa dilakukan.
3. Balik peran, misal biasanya jadi bos ganti peran sebagai office boy dsb
4.  Menggambar bayangan pada cermin
5. Berjalan dengan menutup mata
6. Liarkan pikiran, ex. membuat mind map dengan koneksi yang longgar
7. mendengarkan musik
8. bernyanyi dan bergerak bersamaan, dance
9. berpikir dengan membayangkan, imajinasi
10.  melakukan kegiatan yang tidak mungkin menurut nalar

Mengasah Otak Kanan

1. Dengarkan panduan visualisasi atau meditasi (beribadah/sholat juga berarti bisa dong ya)
2. menyanyi, belajar bermain alat musik, mendengarkan musik baru
3. mengambil kelas seni, ex. sketsa, gambar, patung
4. mengembangkan hobi kreatif, ex. merajut, menganyam, menjahit
5. praktik nulis, gambar menggunakan bagian tubuh non dominan


selamat mencoba!

Belajar menulis dari penulis Mike Elgan

Saya sudah ditagih terus untuk memposting cerpen di blog, sudah jadi sih....tapi kemarin cerpennya saya kirim dulu ke media. hehe. Sembari menunggu postinga cerpen saya yang lainnya, yuk kita belajar menulis dari penulis Mike Elgan dulu ya :)
How did you become a writer? After college, I got a job as a reporter with a local newspaper company in Santa Barbara, California. That job gave me the opportunity to write all kinds of things, from obituaries to political stories to opinion pieces.
Name your writing influences (writers, books, teachers, etc.). My first (and longest-lasting) job in technology writing was at Windows Magazine. I had a great boss, Fred Langa, who mentored me and taught me a lot about writing. We also had a great staff, and many of us were talking about writing constantly. I've also been influenced by Strunk and White (while at UCLA), as well as Hemingway, Fitzgerald, Christopher Hitchens, George Will and countless others. I've learned one or two things each from hundreds of columnists and writers.
When and where do you write? I have a desk in my living room with a big iMac on it. That's where I do most of my writing. I also have a laptop and an iPad, both of which I enjoy writing on at coffee shops. I write almost every day, and almost all day, if you include blogging.
What are you working on now? I have five opinion column deadlines a week, plus I post between three and fifteen blog posts a day. My wife and I are working on a diet and health book.
Have you ever suffered from writer’s block? Sort of. But it's gotten better with time. Nowadays I'm pretty good at bringing in my intuition to figure out what point of view or opinion or angle I want to take. Once I have that, the words flow unblocked.  
What’s your advice to new writers?Originality is the most important thing, which is why you should avoid clichés, idioms and other commonly used words and phrases. Just talk plainly and say what's true. It's impossible to be too clear.
Writing is nothing more than organized thinking captured in written language. The thinking is what matters most. When you are thinking about what you'll write, you're actually engaged in the craft of writing -- you're doing the most important part of writing. So write in the shower. Write while you're falling asleep. Write all the time, guard your attention and don't let anyone steal it while you're writing, even if you're not typing. 
Emotion creates memory and reader affinity. Humor is emotion and often the most powerful one. Don't tell jokes. Expose the humor of reality and truth. 
Blogging is a powerful learning tool because your readers will teach you to anticipate what they're going to be confused about, disagree with and what they like and don't like. You can use that anticipation to write better. 
Bio: I'm a Silicon Valley-based writer, columnist and blogger, covering technology and culture. My work appears all over the place, most frequently Computerworld, Datamation, Cult of Mac, PC World, InfoWorld, MacWorld, CIO Magazine, the San Francisco Chronicle and The CMO Site.
sumber: webadvicewriter




Di mana bisa ketemu Sarvatraesa?

Sarvatraesa sudah menjadi kejutan sekaligus misteri sejak pemunculan pertamanya di novel Mayasmara.
Kali ini dia mulai menampakkan dirinya.

Teman-teman bisa menemuinya segera di toko-toko buku. Juga di tobuk online berikut :

http://www.bukabuku.com/browse/bookdetail/2010000191903/sarvatraesa-sang-petualang.html

http://gramediaonline.com/moreinfo.cfm?Product_ID=870639

Selamat bertemu Sarvatraesa ya,
Ditunggu komen, kritik dan sarannya.

salam hangat

Perkawinan Sebagai Kesadaran Menyatukan Cinta Kasih (Resensi Novel di Koran Jakarta 19 Juni 2013)



Perkawinan sebagai Kesadaran Menyatukan Cinta Kasih



Cinta adalah penyerahan diri sepenuhnya kepada orang yang dicintai dan membiarkan orang yang dicintai bertumbuh. Namun, orang sering salah mengerti bahwa ‘cinta’ adalah memiliki dan karena itu bukanlah ‘cinta’ melainkan sebuah belenggu


Perempuan diciptakan dari rusuk pria agar tidak menginjak dan tidak mengatasi, melainkan sejajar dan sederajat. Wanita tidak boleh manja. Dia juga harus kuat dan mampu mandiri. Novel ini bisa menjadi cermin terkait pemahaman itu. Diceritakan, Ratri yang telah menikah dan memiliki tiga anak harus menghadapi kenyataan pahit. Jiwanya tercabik-cabik. Suaminya menuangkan “air mendidih” di jiwanya dengan berselingkuh.




Hancur hati Ratri ketika seorang wanita mengaku hamil karena telah berhubungan terlalu jauh dengan suaminya, (hlm 54-58). Segala pengorbanan Ratri untuk keluarga seakan sia-sia. Namun, tidak ada yang peduli pada luka yang tergores di batinnya. Keluarga suaminya seolah hanya peduli atas status mereka sebagai keluarga terhormat di mata masyarakat.




Tentu saja, hati perempuan tidak bisa dimanipulasi. Perasaan Ratri tidak bisa berubah cepat. Atas nama keutuhan rumah tangga ataupun kehormatan keluarga, ada dimensidimensi perasaan perempuan yang sulit berubah, (hlm 99-107). Seorang perempuan tidak mudah bertransisi dari perasaan sedih ke bahagia dan sebaliknya. Sebagaimana umumnya perempuan, begitu pula yang dialami Ratri.




Dia yang kecewa dan sedih mengetahui ulah suaminya. Dia merasakan kehampaan dalam hubungan rumah tangga. Bagaimana mungkin bisa menata perasaan saat berdekatan bersama suami yang telah tega berkhianat dengan perempuan lain. Sepolos dan selugu apa pun perempuan seperti Ratri, tidak mungkin mudah melupakan.




Permintaan maaf suami juga tidak cukup. Beberapa pria biasanya memudahkan kelakuan buruknya terhadap istri dengan kata maaf. Wanita harus tegas sehingga kalau mengalami kasus seperti ini tidak cengeng, melainkan tatag. Dalam kaca mata psikologi, sesungguhnya perasaan tidak dapat disalahkan. Tidak ada yang salah dengan perasaan Ratri yang tak mudah menghilangkan kebencian terhadap suaminya.




Sangat manusiawi jika Ratri marah atau tidak sepakat, merasa tak nyaman, sakit hati, bahkan keberatan. Namun, wanita yang baik harus juga menjadi pemaaf, agar dapat melupakan masa kelam dan membangun dunia baru. Dari awal sampai akhir cerita, novel Ayah, Lelaki Itu Mengkhianatiku ini bisa dijadikan refl eksi rumah tangga sekaligus tamparan keras bagi suami dan istri.




Meskipun perempuan bisa saja tidak setia, tetapi fakta sosial kerap kali menempatkan laki-laki yang lebih sering tidak setia. Namun, di zaman sekarang banyak juga wanita yang berselingkuh, terutama di kota-kota besar. Jadi, dua-duanya berpotensi berselingkuh. Kini tinggal tanggung jawab moral masing-masing pribadi, tak lagi berdasarkan jenis kelamin. Pihak perempuan sering kali menjadi korban ulah suami yang mata keranjang. Namun, sebenarnya keputusan ada di pihak wanita, mengapa dia mau diajak berselingkuh.




Parahnya, demi alasan moral dan menjaga kehormatan keluarga, perempuan sering kali dipaksa diam. Lewat novel ini, suami dan istri diajak menyadari bahwa pernikahan harus dijaga setiap hari. Mereka berdua sudah berjanji sehidup semati sampai akhir zaman. Tak ada yang boleh memisahkan, kecuali kematian. Pernikahan tak sekadar menyatukan pria dan wanita, tapi lebih dari itu sebagai kesadaran saling mencintai. Cinta adalah penyerahan diri sepenuhnya kepada orang yang dicintai dan membiarkan orang yang dicintai bertumbuh.




Namun, orang sering salah mengerti bahwa ‘cinta’ adalah memiliki dan karena itu bukanlah ‘cinta’ melainkan sebuah belenggu. Pernikahan juga upaya membangun generasi mendatang yang lebih baik. Sebagai ikatan suci, suami dan istri terikat janji untuk mempertahankan biduk rumah tangga.




Banyak konfl ik rumah tangga yang salah satunya disebabkan oleh pengkhianatan salah satu pihak. Kisah dalam novel ini mengajarkan arti kesetiaan, pengorbanan, dan kesabaran dalam sebuah hubungan rumah tangga.







Diresensi Armawati,

alumna Universitas Tidar, Magelang.




Judul Buku : Ayah, Lelaki Itu Mengkhianatiku

Penulis : Dian Nafi

Penerbit : DIVA Press

Cetakan : I, Mei 2013

Tebal : 208 halaman

ISBN : 978-602-7933-92-7






sumber http://koran-jakarta.com/index.php/detail/view01/122066

Menulis Dengan Emosi Sebenar-benarnya

Ayah, Lelaki itu Mengkhianatiku, Dian Nafi
Menikah dengan perjodohan demi meringankan beban orang tuanya, hidup dengan tanda tanya apakah rumah tangganya sebenarnya punya cinta, pengabdian kepada keluarga suami yang dibalas dengan perlakuan tak mengenakkan dari mereka, dan akhirnya sebuah pengkhianatan-tak sengaja-yang dilakukan suaminya. Apa yang akan kalian lakukan kalau menjadi Ratri? Setelah 14 tahun menikah, telepon dari seorang wanita yang mengaku tengah hamil anak suaminya menghancurkan hati Ratri. Sanggupkah ia menghadapi prahara yang menerpa rumah tangganya?
Hiks, huhuhu… Betapa malangnya nasib Ratri. Setelah semua pengorbanannya untuk suami dan keluarga besar suaminya, dia harus menghadapi pengkhianatan yang meluluhlantakkan hatinya. Dian Nafi menulis semua kisah ini dengan emosi sebenar-benarnya seorang perempuan yang tersakiti. Perasaan marah, kecewa, tak berdaya, kalut, semua digambarkan secara mendalam pada diri Ratri. Seolah-olah kita ikut bisa merasakannya. Sayangnya, ending novel ini masih menggantung, saya kurang tau apakah novel ini ada kelanjutannya atau tidak.

***