MEJA PANJANG (cerpen)


Menyesal ia tak membawa kameranya pagi ini, karena kamera satu-satunya yang ia miliki dipinjam keponakannya untuk plesir minggu lalu, dan belum dikembalikan. Mestinya alamat yang dicarinya ada di sekitar jalan ini. Nhah itu dia! Hanya selisih satu bangunan dengan sebuah tempat bilyard yang dulu sempat ia survey ketika seorang klien memesan desain bangunan yang sama. Pool itu sekarang sepertinya berubah fungsi menjadi restoran, tampak dari baliho depannya yang berubah. Atau mungkin tidak berubah, hanya bertambah fungsi , mungkin pool itu masih di sana. Tapi bukan ke sana, ia kali ini pergi. Ia datang untuk sebuah undangan RPS tahunan yang penyelenggaraannya berpindah – pindah sesuka hati panitianya dan tentu jelas sesuai dengan anggaran yang mereka miliki.

Ia memarkir kendaraannya dan seorang pegawai restoran yang konon sering dikunjungi menteri-menteri ini, membukakan pintu. Ini pertama kalinya ia ke sini, dan karenanya sekali lagi keluh menyelip di dadanya karena ia tak membawa kamera. Sementara kamera ponselnya juga tak lagi normal alias blur. Di lobby yang cozy dengan lantai dan dinding menggunakan perpaduan batu alam dan marmer, resepsionis menyambutnya ramah . Seperti telah menduga untuk apa  ia datang ke sini. Perempuan muda cantik namun sederhana itu menunjukkan arah menuju ruang pertemuan pagi ini. Senyum perempuan itu terkulum manis memaksanya menarik kedua ujung bibirnya tergerak ke atas, meski sedikit.
Melewati area resto yang lebih luas di sisi kiri restoran, ia memperlambat langkahnya. Hampir – hampir bergeming demi menikmati aura dan suasananya, bunga-bunga segar di sisi-sisi meja kursi makan, mozaik alam yang dipijaknya dan ia bahkan ingin menyentuh arsiran kayu di sebagian dinding-dindingnya. Tapi sesuai petunjuk perempuan berdagu sederhana tadi, langkah membawa tubuh mungilnya ke bagian pojok kanan bangunan setelah melewati hampir keseluruhan ruangan resto.

Sekitar empat perempuan berseragam biru menyambutnya di pintu. Salah seorang di antaranya menjerit kecil, riang.
“aku nggak nyangka mbak bisa datang !”
Ia tak bisa menutupi rasa senangnya juga karena setidaknya ia dirindukan. Mereka berpelukan. Lama.
“kebetulan aku sempat dan aku ingin datang” sekedar memberi jawaban meski yang datang padanya bukan pertanyaan.
Hanya setahun sekali mereka bertemu. Acaranya sama, RPS. Perempuan berwajah lancip dan bertubuh kecil ramping selalu menjadi panitia tetapnya. Dan ia, perempuan mungil yang sekarang jarang berolahraga sehingga sedikit berisi sekarang, hanya sekali absen. Tidak datang tahun kemarin. Karena sesuatu hal yang entah apa, ia lupa.

Ditanggapinya semua cerita yang mengalir dari perempuan panitia itu dengan wajah yang penuh perhatian. Mereka duduk bersisian seperti layaknya sahabat lama. Demikianlah takdir menautkan sesuatu, mempertalikan orang – orang, membenangmerahkan peristiwa-peristiwa.

Perempuan berbaju biru yang bermata bening bulat  ini datang melayat ke rumahnya tiga hari setelah suaminya meninggal.  Saat airmatanya telah mengering tapi sukmanya masih belum mengerti. Si bening sebenarnya datang untuk mengantar undangan RPS tahun itu. Sebagai pegawai baru yang menggantikan pegawai yang biasanya berhubungan dengan nasabah yang kini menjadi janda. Mereka menemukan titik getar sama dalam misteri yang belum terbaca saat itu. Beberapa hari kemudian, si bening itulah yang menjadi janda sebab suaminya yang juga masih muda meninggal karena sakit keras.  Kekhawatiran si bening yang menjadi kenyataan. Penyakit suaminya sejak kanak-kanak yang belum jua terobati, jelas tergambar dalam benaknya selama ia takziyah kemarin lalu. Melihat ketegaran si mbak mungil itu, ia merasa seharusnya ia lebih siap jika menghadapi hal serupa.

Empat tahun berlalu dengan cepat, dan di sinilah mereka berdua. Sepasang pipit kecil yang sama gender-nya, menanggung tanya  yang tak habis dari anak-anak mereka, tentang sosok lelaki yang disebut sebagai ayah. Mereka berdua sempat berpose bersama di sudut resto yang eksotik, dijepret kamera milik panitia. ia cukup puas dengan sekali jepretan. cukup menjawab penyesalannya karena tidak membawa kamera.

Seratus menit percuma bagi pembawa dan pengisi acara RPS di depan ruangan, karena dua pipit kecil ini asyik sendiri. Si bening sibuk berbagi cerita apa saja, si mungil setengah memperhatikannya. Dan setengah lagi memperhatikan yang lainnya. Menanyakan wajah-wajah baru yang turut hadir dalam rapat terbatas yang hanya terdiri empat puluh undangan saja.

“Yang ini siapa?” seorang perempuan berbaju ungu, berkacamata yang baru saja memasuki pintu ruang tempat mereka duduk nyaman di sudut dekat meja penerimaan. Tak diingatnya ada wajah ini di RPS dua tahun lalu. Satu kali saja ia absen, ternyata ada banyak wajah yang hadir tak dikenalinya dengan baik.

“ia produser. Bla bla bla….” si bening menerangkan dengan lancar selancar aliran kali tanpa hambatan.
Selang – seling dengan ceritanya sendiri, secara tak sadar memenuhi keingintahuan hebat yang sekarang menjalar dan mengakar kuat dalam diri si mungil. Secara ia sejak suaminya meninggal, menemukan dirinya terlahir kembali dalam jalur yang tidak biasa, jalan yang berbeda, tersembul begitu saja dari alam bawah sadar, cita-cita masa kecil yang tak dikenali sebelumnya. Mendengar dengan mata, melihat dengan telinga, membau dengan telapak tangan dan merasa dengan penciuman. Ia sepenuhnya menjadi berbeda sebelum dirinya sendiri menyadarinya.

“Kalau yang ini?” seorang lelaki berbaju khaki dengan rambut menyentuh bahu.
“Kontraktor yang sedang naik daun” alunan lagu si Bening terdengar merdu dalam microchip si mungil. Bergegas menera jejak-jejak yang barusan didapatnya dengan sukarela.

Yang ini? yang itu? yang ini? yang itu?
Tumpukan tanya jawab terus berlanjut ketika mereka mulai bergeser dari ruang rapat menuju area makan resto. Duduk berjajar berhadapan dalam dua sap meja panjang.

Banyak wajah dan karakter menjadi perbendaharaan baru baginya pagi sampai sesiang ini. Ia pun beramah tamah dengan samping kanan kiri dan juga depannya. Si bening duduk bergeser ke meja khusus panitia. Sehingga si mungil hanya bisa sesekali bertanya ketika ia mampir mendekatinya saat perjalanan menuju dan dari ke wastafel atau toilet.  
Perempuan –perempuan socialite di sekitar tempat duduknya mulai bercicit cuit tentang apa saja. Sekolah anak-anak, anak-anak itu sendiri, cincin, BB, daun muda, proyek, termijn, menopause, menu tentu saja yang kini terhidang dengan cantiknya di depan mereka. Saling bertukar dan menawarkan isi lapak yang dihadapi ke teman yang di depannya terpapar sajian berbeda.

“Gimana jeng? Aku membayangkannya apa ya sanggup ya?”  Perempuan berbaju ungu di sebelah kanan berbincang dengan dua perempuan di depan dan kanannya. Mungkin ia mulai dikenali sebagai seorang yang kurang berminat dengan pembicaraan yang ini. Ia menyibukkan diri menikmati hidangan penutup.

“Tapi pasti terjadi dan kita harus siap, jeng” sejerumputan komentar dan pendapat saling menumpang tindih antara mereka. Dan si mungil hanya tersenyum kecil, ketika banyak perempuan sedang cemas membayangkan bagaimana rasanya ditinggalkan pasangan, ia dan teman berbincangnya dari pagi tadi sudah duluan melaluinya. Dengan tenang dan tabah dalam kesendirian.

Ia melirik tempat duduk si bening, hendak melempar senyum dan kerling mata penuh arti. Namun didapatinya si bening tengah asyik bicara dengan sedikit tawa manis dengan seorang tamu undangan yang diketahuinya tadi sebagai kontraktor yang sedang naik daun. Ia menghela nafas, menghembuskannya pelan. Tahun depan mungkin si bening tidak lagi menjadi panitia yang menyambutnya dengan teriakan kecil dan wajah riang merindukan teman berbincang, teman senasib.

by Dian Nafi

Kunjungan


Kunjungan 1/
Dia tidak ingat apakah dulu sekali pernah berkunjung ke rumah ini. Mungkin sekali pernah karena ayahnya dulu berteman dengan seorang ayah juga yang empunya rumah.  Berita duka tentang seorang ayah ini hampir membuatnya berkunjung dan memasuki rumah itu, tapi urung ia lakukan karena ada banyak sekali pertimbangan – pertimbangan yang entah. Dia memang tak lagi punya banyak hubungan dengan teman-teman dan sahabat-sahabat ayahnya.

Ketika berita duka kembali datang dan kali ini berkenaan dengan sang ibu, istri mendiang seorang ayah yang teman ayahnya itu, kakinya melangkah ke sana, akhirnya. Menganulir segala rasa dan prasangka terhadap dirinya sendiri. Putra putri dalam rumah ini adalah teman, senior, yuniornya di sekolah dan kampusnya dulu. Sudah semestinya dia juga datang untuk mereka selain datang mewakili ibunya sendiri dan rasa persahabatan yang diwariskan dari almarhum ayahnya sendiri. 

Kematian kadang serasa jauh meski dia berada di hadapan seseorang yang telah mengalaminyai. Sebab terbesarnya mungkin adalah rasa seolah –olah masih akan hidup lebih lama. Dengan harapan-harapan yang meski entah tetapi sering menelusup, menjarah kesadaran. Tapi dia melihat wajah teduh itu, senyuman yang terukir di sana. Mungkin itu juga penyebabnya, seseorang bisa jadi hidup selamanya dan tidak bisa dikatakan mati. Karena cintanya masih dan selalu hidup dalam sanubari putra-putrinya yang tabah. Yang tersenyum menyambut tamu-tamu yang datang. Yang tak bisa dibaca arti senyumnya, termasuk oleh dia yang datang setelah menganulir seluruh prasangka terhadap dirinya dan takdir. Sama tak terbacanya seperti takdir yang penuh misteri.

Kunjungan 2/
Seperti penyakit menular, kematian kembali menyapa seorang ibu lainnya. Dia datang bersama kenangan. Dia pernah ke rumah ini sepuluh tahun lalu. Ketika sebuah telpon dari rumahnya sendiri mengabarkan ada seseorang yang datang dan menunggunya, sehingga dia bergegas pulang. Lalu peristiwa sore gerimis di masjid itu menjadi salah satu kenangannya.

Enam tahun setelah itu, dia berstatus sama dengan seorang ibu ini, yang berpulang setelah tiga puluh tahun sebelumnya suaminya juga berpulang. Kegigihan sebagai single parent, kesetiaan sampai akhir hayat, dan kebaikan seorang ibu ini terhadap  dirinya adalah yang memicu derasnya air mata yang kemudian mengalir. Kematian yang tadinya terasa  masih jauh, tiba-tiba terasa dekat. Hanya setapak tangan jarak dirinya beserta kedua anaknya dengan keranda yang membawa seorang ibu ini. Yang meninggalkan dua anak juga. Beserta seluruh kenangannya. Termasuk kenangan yang dia simpan, doa-doa dan dukungan padanya. Setelah empat tahun dia lalui status serupa, ibu itu  selalu membisikkan doa di telinganya. Antara harapan agar tegar meski tetap sendiri sepertinya dan doa yang terbaik apa saja bentuknya , meski mungkin itu artinya ada status baru.

Ketika bersama satu fatihah, satu langkah ke depan diambil oleh para pengusung keranda, ada yang lolos dari hatinya. Remuk redam.  Dia juga akan mengalami hal yang sama. Dia juga akan pergi kembali ke bumi. Kematian serasa dekat . Selangkah lagi terseret bersama satu fatihah, dia semakin tergugu. Pilu. Betapa Tuhan suka bercanda. Kehidupan ini, kematian ini. Secepat kilat ditebasnya pemikiran untuk menggugat atau mencibiri Tuhan atas candaNya yang membuatnya masygul sekejap. Sekali lagi fatihah terluncur dengan suara yang perlahan menghilang karena serak dan retak, langkah para pengusung tak lagi tersendat. Keranda itu semakin jauh, jauh. Namun bayangan kematian itu semakin dekat, dekat. Dia hanya menunggu antrian saja. Sekarang, apa yang terbaik yang harus dia lakukan selagi antrian itu belum tiba, itulah yang menjadi concern-nya.


*tulisan ini juga ada dalam  novel Lelaki Kutunggu Lelakumu. Dapatkan novelnya di tobuk gramedia dll

Pulang Mencerap Kemurnian


Jadzab, majdzub, ditarik olehNya. Begitulah kira - kira perjalanan kali ini. Ditemani salah satu empunya yang namanya seperti nama anaknya. Medan yang jauh, berkelok dan bergelombang tidak terasa. lama perjalanan yang ditempuh menjadi nikmat karena serasa pulang. mencerap kemurnian.

Dia merasakan kehangatan selagi memasuki pintunya. Disambut keramahan seorang gadis tinggi putih yang selama ini hanya dia kenal nama samarannya. Menggenggam dan mencium punggung tangan seorang ummi yang dari rahimnya lahir para punggawa ahlul qur'an, ahlul ilmi. Menikmati pandangan sejuk para ‘alim yang foto-fotonya terpasang di setiap dinding, termasuk kamar istirahat bagi tamu.  Air sejuknya membasahi jiwa yang kering, membersihkan peluh dan daki, melunturkan debu kegalauan, menjernihkan dan memurnikannya.

Malam semakin hangat ,berbincang sampai larut dengan ummi dan putrinya yang cantik tinggi putih sholihah punggawa Alquran . Mendengar kisah tentang Abuya dan murid-muridnya, keluarganya dan kelahiran putra putri Baba dan ummi sendiri. Kisah -kisah mereka dan kiat-kiat ummi mendidik. Begitu banyak hal yang dia dapatkan. Hingga dia berbaring di peraduan dengan rasa yang indah dan bangun kembali dalam rasa yang baru.

Air matanya meleleh saat mendengar wirid dan doa Baba yang menyelusup dari ruang tengah menuju peraduannya. Kedua tangannya bergetar, menadah ke atas, ya Rabb..Kau berkenan kembalikan aku, pulangkan aku, tak cukup terima kasih ya Rabb. Aku tak cukup punya banyak kata… hanya air mata.

Betapa sopan, alus, resik, apik. Kesemuanya. Tidak hanya fisik tetapi juga batiniah, ruh rumah dan seluruh penghuninya. Dia sungguh ingin berlari ke Baba, tetapi dia menahan diri. Kesopanan para ahlullah ini menular pasti. Perempuan cantik tinggi putih lemah lembut itu masuk ke kamarnya dan mempersilakan dirinya jika ingin bertemu Baba.

Dan Baba, subhanallah.. berjam –jam pun tak terasa jika berbincang dengan beliau. Darinya guyon sekaligus hikmah, terpetik dan terangkum dalam sanubari. Dia tak menyembunyikan air matanya dari Baba dan ummi di sana, dia senang menjadi salah satu bagian dari momen – momen indah ini. Berbagi cerita, kisah dan kenangan. Ketika dia nyadung dungo, Baba ngendhiko ‘pasti takdungakno’. Alhamdulillah. Baba menahannya untuk menginap semalam lagi, tetapi dia teringat kedua anaknya di rumah ibunya. Sehingga agar tidak mengecewakan Baba, dia mengulur waktunya untuk tinggal sedikit lebih lama dari rencananya.

Ditemani gadis cantik putih tinggi, dia beredar ke sarang para pencecap kemurnian. Salah seorangnya kemudian menemaninya berkeliling. Termasuk ke maktabah yang fotonya waktu itu hanya bisa dia nikmati dari jauh. Dia di sini sekarang,berpose di depan deretan almari penuh buku dan kitab. Subhanallah. Seperti mimpi yang terwujud.
Dia berusaha mencerap sebanyak mungkin dalam waktu yang sempit itu, tapi dia cukup puas. Dapat copy-an satu buku kecil amalan untuk misi besarnya kali ini, misi yang tertunda. Dan yang sangat mahal dan tak ternilai harganya adalah tekad, charge energy, kiat-kiat praktis terutama dalam parenting dan hifdzil qur’an. Ya Robb, karuniakanlah pertolonganMu agar ini semua bisa segera dipraktekkan dan bukan euphoria sesaat yang lekang serta lempus ketika kembali tergerus kesibukan duniawi. Aamiin….

Saatnya pamit dan Baba mengantonginya doa, ummi membawakannya banyak bingkisan, gadis cantik dan misannya mengantarnya hingga dia menaiki bis untuk kembali pada kedua anaknya. Dengan rasa dan hati baru. Dengan himmah dan ghiroh. Ayo nak, kita kejar ketinggalan kita.

Sulit Untuk Tidak Jatuh Cinta (Sehari Bersama Pak Ahmad Tohari)


Ketika melewati Malioboro kali ini, sensasi yang dirasakannya tidak seperti waktu dulu dia pernah beberapa kali menikmatinya. Ada apa, pikirnya. (belakangan dia paham karena menurut seseorang, ini mungkin karena spiritualitasnya meningkat sehingga tidak lagi mudah tergoda seperti dulu. oh ya? mungkin juga)

Meski begitu Jogja masih se-eksotis yang dia kenal dan rasai. Persinggungannya beberapa kali  dengan kota ini dalam misi jalan-jalan , budaya ataupun intelektual, masih menempatkannya sebagai salah satu kota yang sulit untuk tidak dijatuhcintai.

Seperti sama sulitnya untuk tidak jatuh cinta dengan seorang legenda yang ditemuinya hari ini. Bapak Ahmad Tohari penulis Ronggeng Dukuh Paruk. Betapa beruntungnya dia karena sempat secara personal duduk bersama, berbincang dan bapak berkenan membuka serta membaca sekilas salah satu buku perempuan itu. Serta membahasnya dengan antusiasme yang tidak dia perkirakan sebelumnya.

“ah, kamu bahkan sudah melampaui saya dalam hal ini. Belakangan ini saya baru mulai. Dan ini benar. Bahwa semua yang ada di sekitar kita ini, benda-benda ini, materi ini, yang kita lihat, sentuh, semuanya hanyalah maya. “ kata bapak sambil menyentuh benda –benda di sekitarnya. Dia, perempuan yang terkesima dengan uraian-uraian selanjutnya dari sang bapak, semakin jatuh cinta saja pada bapak yang satu ini. Dan cintanya semakin jatuh ketika bapak berkata,
“saya punya pesan khusus untuk kamu. Jaga dan terus pertahankan eksistensialisme-mu”
Jleb!

Ketika bapak berbicara di depan audience mengisi acara workshop hari itu, si perempuan kembali terkesima karena bapak kembali menotice dirinya (bahkan menyebut kotanya..ehm..) di sela –sela uraian sang bapak.
IQRO’ BISMI ROBBIK

Berikut secara lengkap uraian bapak yang ditulis kembali olehnya dengan bahasanya sendiri:
Satu tujuan saya menulis Ronggeng Dukuh Paruk (RDP) adalah melahirkan. Karena saya sudah hamil selama lima belas tahun.

Semua berawal di tahun 1964, ketika saya duduk di kelas 2 SMA. Hobi memburu burung membawa saya pada salah satu dataran agak tinggi. Yang suatu ketika, saya menyaksikan seorang perempuan tanpa busana sedang mandi di pancuran di bawah beringin.

Bayangan perempuan yang seorang ronggeng, istri simpanan seorang pejabat itu, terus menggelayut di kepala saya. Sehingga imajinasi saya liar ke mana-mana. Tahun 1965, perempuan yang saya gandrungi itu ditangkap dan ditahan. Ada gejolak luar biasa dalam diri saya karena tak mungkin seorang ronggeng bersinggungan dengan dunia politik. Bersamaan dengan itu, saya melihat secara langsung pembunuhan –pembunuhan yang dilakukan bangsa ini terhadap sesame saudara sebangsa sendiri. Rasa kemanusiaan saya bangkit, saya marah. Bullshit. Sejak itu saya kehilangan rasa hormat terhadap bangsa ini. Bangsa yang telah kehilangan rasa sopan dan kemanusiaan.

Selama bertahun-tahun saya menunggu. Tetapi para penulis senior seperti Gunawan Muhammad, Mochtar Lubis, Rosihan Anwar dll. Tidak ada yang menulis tentang peristiwa 1965 ini. Hanya ada satu cerpen tulisan Romo Mangun. Sampai tahun 1980, saya tunggu masih belum ada juga yang menuliskannya. Beratus wartawan dan puluhan penulis ini berhutang pada bangsa ini jika sampai tidak ada yang menuliskan dan mencatat peristiwa tersebut. Saya akhirnya menulis RDP yang semula saya rencanakan sebagai roman picisan menjadi sebuah novel yang penuh emosi dan pemberontakan. Novel RDP ini adalah novel penderitaan kita semua.  

Saat itu saya menjadi redaktur di Jakarta. Ketika sampai halaman 80 dari novel tersebut, saya sadar novel ini tidak bisa dikerjakan sebagai sambilan. Sehingga kemudian saya mengundurkan diri dan mengerjakan novel ini selama tiga tahun. Alhamdulillah saat ini novel ini sudah berusia 31 tahun dan berkali –kali dicetak ulang. Mengentaskan kelima anak saya menjadi sarjana. Tiga di antaranya jadi doctor, satu dari Hokaido, satu dari Florida.

Saya terpaksa mengalah ketika pertama kali diterbitkan , 40 halaman pertama dari buku ketiga (trilogi RDP) ini dipotong karena situasi politik saat itu. Tantangan dan masalah lain datang dari dua kubu. Yang pertama, dari orang-orang muslim. Mereka menyayangkan saya yang lahir di bawah kubah masjid kampong dan notabene anak kyai kampong, kenapa menulis tentang ronggeng.  Saya jawab, kita ini dilahirkan untuk membaca alam semesta. Lahuu maa fissamawati wa maa fil ardhi. Dan ronggeng itu termasuk lahu maa fil ardhi, jadi wajib dibaca.

Sastro kang gumelar ini baik dan buruk harus dibaca, hanya saja harus dengan kondisi membaca atas nama tuhan (iqro bismi robbik). Kalau pembacaan kita lepas dari kondisi ini, tentu saja akan menjadi liar. Kalau pembacaannya dengan atas nama Tuhan, kita jadi menggunakan akal untuk memikirkan penciptaan.
Kalau membaca dengan dan atas nama Tuhan, maka kita akan sangat diperkaya. Sehingga kemudian hamil dan akhirnya melahirkan tulisan –tulisan yang bermakna.

Gugatan yang kedua datang dari militer. Jadi mereka tetap teriak padahal saya sudah bungkus RDP itu dengan kisah ronggeng yang asyik masyuk. Dan juga profesi Rasus sebagai tentara, untuk melunakkan hati militer. Tetap saja militer marah. Namun Alhamdulillah saat ini semuanya baik, bahkan saya berterima kasih karena mereka meloloskan adegan –adegan peristiwa 1965 dalam film RDP ini.
(Bapak berkali –kali mengusap air mata dan tampak emosional ketika menyampaikan uraiannya)

Pesan untuk para penulis yang hadir dalam workshop:
Libatkan emosi saat menulis. Dengan cara membawa otak kita dalam kesadaran yang dalam.  Rasakan bahwa semua kehadiran di alam ini terencana. Daun yang jatuh itu juga terencana. Ketika dalam kesadaran seperti itu, emosi kita terlibat sehingga aura-aura itu terasa dalam tulisan kita. Dengan begitu kita bertasbih, mensucikan penciptanya. Yang jika dilakukan dengan ikhlas, akan menggetarkan pembacanya. Ada sesuatu yang mengikat pembaca karena kesadaran yang dalam.
Untuk mencapai itu, kita harus punya kepekaan social, kepekaan alam dan kepekaan kosmis. Anak muda dan orang jaman sekarang terlalu banyak tersedot perhatiannya kepada informasi yang telah dikapitalisasi. Termasuk yang terjadi baru-baru ini. 30 orang termasuk Bupati berduyun datang ke stasiun TV di  Jakarta untuk mendukung salah seorang warganya yang menjadi finalis Idol. Padahal semua semestinya tahu bahwa ini adalah rekayasa pengusaha pulsa, kepentingan kapitalisme.  Banyak orang sekarang ini terpukau pada artifisial dan tidak memperhatikan yang hakiki.
Penulis punya SIM untuk menulis tentang apapun, selama bisa mempertanggungjawabkan tulisannya dan tidak menyebabkan dekadensi. Saya juga menulis tentang gowok dan bukak klambu, karena tidak mungkin menulis tentang ronggeng tanpa menuliskan kedua prosesi ini. Tetapi semata saya menulisnya secara jujur, dan bukan untuk dekadensi. Karena penulis bertanggung jawab untuk mempertinggi keadaban. Sastro kang gumelar wajib dibaca secara paripurna.

Sekali lagi bapak menekankan untuk iqro’ bismi robbik. Dengan kerendah hatian, idealisme dan caranya berbagi, sulit untuk tidak jatuh cinta pada bapak ini.

Sama sulitnya untuk tidak jatuh cinta pada sebuah senyum yang terus terukir pada sebuah wajah yang sore itu mengantarnya pulang.