MEJA PANJANG (cerpen)


Menyesal ia tak membawa kameranya pagi ini, karena kamera satu-satunya yang ia miliki dipinjam keponakannya untuk plesir minggu lalu, dan belum dikembalikan. Mestinya alamat yang dicarinya ada di sekitar jalan ini. Nhah itu dia! Hanya selisih satu bangunan dengan sebuah tempat bilyard yang dulu sempat ia survey ketika seorang klien memesan desain bangunan yang sama. Pool itu sekarang sepertinya berubah fungsi menjadi restoran, tampak dari baliho depannya yang berubah. Atau mungkin tidak berubah, hanya bertambah fungsi , mungkin pool itu masih di sana. Tapi bukan ke sana, ia kali ini pergi. Ia datang untuk sebuah undangan RPS tahunan yang penyelenggaraannya berpindah – pindah sesuka hati panitianya dan tentu jelas sesuai dengan anggaran yang mereka miliki.

Ia memarkir kendaraannya dan seorang pegawai restoran yang konon sering dikunjungi menteri-menteri ini, membukakan pintu. Ini pertama kalinya ia ke sini, dan karenanya sekali lagi keluh menyelip di dadanya karena ia tak membawa kamera. Sementara kamera ponselnya juga tak lagi normal alias blur. Di lobby yang cozy dengan lantai dan dinding menggunakan perpaduan batu alam dan marmer, resepsionis menyambutnya ramah . Seperti telah menduga untuk apa  ia datang ke sini. Perempuan muda cantik namun sederhana itu menunjukkan arah menuju ruang pertemuan pagi ini. Senyum perempuan itu terkulum manis memaksanya menarik kedua ujung bibirnya tergerak ke atas, meski sedikit.
Melewati area resto yang lebih luas di sisi kiri restoran, ia memperlambat langkahnya. Hampir – hampir bergeming demi menikmati aura dan suasananya, bunga-bunga segar di sisi-sisi meja kursi makan, mozaik alam yang dipijaknya dan ia bahkan ingin menyentuh arsiran kayu di sebagian dinding-dindingnya. Tapi sesuai petunjuk perempuan berdagu sederhana tadi, langkah membawa tubuh mungilnya ke bagian pojok kanan bangunan setelah melewati hampir keseluruhan ruangan resto.

Sekitar empat perempuan berseragam biru menyambutnya di pintu. Salah seorang di antaranya menjerit kecil, riang.
“aku nggak nyangka mbak bisa datang !”
Ia tak bisa menutupi rasa senangnya juga karena setidaknya ia dirindukan. Mereka berpelukan. Lama.
“kebetulan aku sempat dan aku ingin datang” sekedar memberi jawaban meski yang datang padanya bukan pertanyaan.
Hanya setahun sekali mereka bertemu. Acaranya sama, RPS. Perempuan berwajah lancip dan bertubuh kecil ramping selalu menjadi panitia tetapnya. Dan ia, perempuan mungil yang sekarang jarang berolahraga sehingga sedikit berisi sekarang, hanya sekali absen. Tidak datang tahun kemarin. Karena sesuatu hal yang entah apa, ia lupa.

Ditanggapinya semua cerita yang mengalir dari perempuan panitia itu dengan wajah yang penuh perhatian. Mereka duduk bersisian seperti layaknya sahabat lama. Demikianlah takdir menautkan sesuatu, mempertalikan orang – orang, membenangmerahkan peristiwa-peristiwa.

Perempuan berbaju biru yang bermata bening bulat  ini datang melayat ke rumahnya tiga hari setelah suaminya meninggal.  Saat airmatanya telah mengering tapi sukmanya masih belum mengerti. Si bening sebenarnya datang untuk mengantar undangan RPS tahun itu. Sebagai pegawai baru yang menggantikan pegawai yang biasanya berhubungan dengan nasabah yang kini menjadi janda. Mereka menemukan titik getar sama dalam misteri yang belum terbaca saat itu. Beberapa hari kemudian, si bening itulah yang menjadi janda sebab suaminya yang juga masih muda meninggal karena sakit keras.  Kekhawatiran si bening yang menjadi kenyataan. Penyakit suaminya sejak kanak-kanak yang belum jua terobati, jelas tergambar dalam benaknya selama ia takziyah kemarin lalu. Melihat ketegaran si mbak mungil itu, ia merasa seharusnya ia lebih siap jika menghadapi hal serupa.

Empat tahun berlalu dengan cepat, dan di sinilah mereka berdua. Sepasang pipit kecil yang sama gender-nya, menanggung tanya  yang tak habis dari anak-anak mereka, tentang sosok lelaki yang disebut sebagai ayah. Mereka berdua sempat berpose bersama di sudut resto yang eksotik, dijepret kamera milik panitia. ia cukup puas dengan sekali jepretan. cukup menjawab penyesalannya karena tidak membawa kamera.

Seratus menit percuma bagi pembawa dan pengisi acara RPS di depan ruangan, karena dua pipit kecil ini asyik sendiri. Si bening sibuk berbagi cerita apa saja, si mungil setengah memperhatikannya. Dan setengah lagi memperhatikan yang lainnya. Menanyakan wajah-wajah baru yang turut hadir dalam rapat terbatas yang hanya terdiri empat puluh undangan saja.

“Yang ini siapa?” seorang perempuan berbaju ungu, berkacamata yang baru saja memasuki pintu ruang tempat mereka duduk nyaman di sudut dekat meja penerimaan. Tak diingatnya ada wajah ini di RPS dua tahun lalu. Satu kali saja ia absen, ternyata ada banyak wajah yang hadir tak dikenalinya dengan baik.

“ia produser. Bla bla bla….” si bening menerangkan dengan lancar selancar aliran kali tanpa hambatan.
Selang – seling dengan ceritanya sendiri, secara tak sadar memenuhi keingintahuan hebat yang sekarang menjalar dan mengakar kuat dalam diri si mungil. Secara ia sejak suaminya meninggal, menemukan dirinya terlahir kembali dalam jalur yang tidak biasa, jalan yang berbeda, tersembul begitu saja dari alam bawah sadar, cita-cita masa kecil yang tak dikenali sebelumnya. Mendengar dengan mata, melihat dengan telinga, membau dengan telapak tangan dan merasa dengan penciuman. Ia sepenuhnya menjadi berbeda sebelum dirinya sendiri menyadarinya.

“Kalau yang ini?” seorang lelaki berbaju khaki dengan rambut menyentuh bahu.
“Kontraktor yang sedang naik daun” alunan lagu si Bening terdengar merdu dalam microchip si mungil. Bergegas menera jejak-jejak yang barusan didapatnya dengan sukarela.

Yang ini? yang itu? yang ini? yang itu?
Tumpukan tanya jawab terus berlanjut ketika mereka mulai bergeser dari ruang rapat menuju area makan resto. Duduk berjajar berhadapan dalam dua sap meja panjang.

Banyak wajah dan karakter menjadi perbendaharaan baru baginya pagi sampai sesiang ini. Ia pun beramah tamah dengan samping kanan kiri dan juga depannya. Si bening duduk bergeser ke meja khusus panitia. Sehingga si mungil hanya bisa sesekali bertanya ketika ia mampir mendekatinya saat perjalanan menuju dan dari ke wastafel atau toilet.  
Perempuan –perempuan socialite di sekitar tempat duduknya mulai bercicit cuit tentang apa saja. Sekolah anak-anak, anak-anak itu sendiri, cincin, BB, daun muda, proyek, termijn, menopause, menu tentu saja yang kini terhidang dengan cantiknya di depan mereka. Saling bertukar dan menawarkan isi lapak yang dihadapi ke teman yang di depannya terpapar sajian berbeda.

“Gimana jeng? Aku membayangkannya apa ya sanggup ya?”  Perempuan berbaju ungu di sebelah kanan berbincang dengan dua perempuan di depan dan kanannya. Mungkin ia mulai dikenali sebagai seorang yang kurang berminat dengan pembicaraan yang ini. Ia menyibukkan diri menikmati hidangan penutup.

“Tapi pasti terjadi dan kita harus siap, jeng” sejerumputan komentar dan pendapat saling menumpang tindih antara mereka. Dan si mungil hanya tersenyum kecil, ketika banyak perempuan sedang cemas membayangkan bagaimana rasanya ditinggalkan pasangan, ia dan teman berbincangnya dari pagi tadi sudah duluan melaluinya. Dengan tenang dan tabah dalam kesendirian.

Ia melirik tempat duduk si bening, hendak melempar senyum dan kerling mata penuh arti. Namun didapatinya si bening tengah asyik bicara dengan sedikit tawa manis dengan seorang tamu undangan yang diketahuinya tadi sebagai kontraktor yang sedang naik daun. Ia menghela nafas, menghembuskannya pelan. Tahun depan mungkin si bening tidak lagi menjadi panitia yang menyambutnya dengan teriakan kecil dan wajah riang merindukan teman berbincang, teman senasib.

by Dian Nafi

0 komentar:

Posting Komentar