Qalbu adalah Singgasana Allah
Pusat kendali diri setiap manusia
Landasan penampakkan Al Haq
Ranah hamparan kasih rahmatNya

Ia adalah cerminan hakikatNya
Mikroskop nilai keluhuranNya
Wadah penampung kalamNya
Jaring penangkap isyarat-isyaratNya

Ia dianalogikan dengan cahaya
Diurai dengan huruf-huruf Qur’ani
Ia laksana, minyak dan lampu
Dalam Misykat serta kaca menyala

Ia mudah terbalik dan pongah,
Qalbu yang ingat mulia, yang lalai nista,
Ia kadang bersinar, kadang gelap,
Ia menyinari jagad diri dan kehidupan,

Qalbu didatangi DutaNya untuk
Dipersiapkan menerima tugas ketuhanan
Qalb suci bermoral malaikatNya
Qalbu kotor berkarakteri setan terlaknat

Qalbu adalah penanda setiap insan
Adakah ia manusia baik atau buruk
Ia merupakan pundit rahasia batin
Samudera pengetahuan setiap manusia
Ia kunci pembuka keagunganNya
Pintu pembentang rahasia-rahasiaNya

Itulah wajah hakiki qalbumu yang sesungguhnya
Simpanlah rahasia batinmu, kau akan melihat rahasiaNya

Kebahagiaan dunia bisa diraih dengan jejak kaki
Kebahagiaan hakiki akhirat hanya bisa ditempuh dengan qalbu

Penyingkapan Agung dan tirai Makrifat terbuka oleh “laku“ qalbu
Rapor kebaikan dan keburukan setiap insani berdasar “laku“ qalbu

Manusia yang membiarkan kalbunya penuh noda hati
Selamanya tidak akan merasakan penyingkapan rahasia AgungNya

Qalbu adalah perbendaharaan agung
Modal utama setiap manusia menujuNya
Insan yang tidak memuliakan kalbunya
Akan menuai keburukan abadi di sisiNya

Qalbu adalah landasan pacu hakikat
Nilai hakiki tidak akan landing di qalbu yang kotor
Qalbu yang tidak suci berlumur hijab
Qalbu yang terhijab tidak akan Makrifatullah

Qalbu adalah media Wushul dan Qurb
Keintiman denganNya juga dengan “laku“ qalbu
Hakikat kebaikan bersendikan qalbu
Kebaikan yang tidak bernurani, adalah busuk

Ilham suciNya turun di qalbu suci
Qalbu buruk adalah landasan bisikan jahat setan
Muara “laku“ qalbu adalah ridhaNya
KerelaanNya hanya berdasarkan “laku“ qalbu jernih
KemurkaanNya akibat “ulah“ qalbu
Siksa pedih akhirat juga akibat “ulah“ busuk qalbu

Qalbu adalah sentra penentu nasib
Kebahagiaan dan kesengsaraan hakiki akibat qalbu
Qalbu yang taat beroleh ridhaNya
Qalbu yang kufur, akan menuai kemurkaanNya
Qalbu yang pongah dan tersesat
Adalah qalbu yang lupa mendzikir padaNya
Wajah kebaikan qalbu adalah lurus
Wajah kesesatan qalbu, tindak kemaksiatannya

Tajamkan mata Qalbu dan pikir
Akan tersingkap keagungan rahasia ayat-ayatNya
Qalbu adalah pengantin jasad dan ruh
Hanya Qalbu Sakinah yang sambung dengan DiriNya

Lihatlah kepada “laku“ baik qalbumu
Itulah rahasia batinmu, dan modal utamamu menujuNya
Pandanglah kebaikan-kebaikanNya
Akan ditampakkan untukmu segala makna hakiki


Sumber:
MAJELIS RATIB DAN MAULID HABIB ABU BAKAR BIN ALWI ALHABSY

Menulis adalah Jalan Filsafat

Menulis adalah jalan filsafat. 
Menulis adalah menuangkan penghayatan. Menulis adalah momen katarsis, di mana kita bisa mengendapkan pengetahuan atau pengalaman. Dalam kanal itu, kita bisa membangun pemaknaan. Dari pemaknaan, kita berharap akan lahir kearifan.
Maka, menulis lebih dari persoalan teknis. Menulis membutuhkan bingkai filosofis yang akan membantu kita menemukan dan mengikat makna. SMDH karenanya, mengajak Anda melebihi kaidah-kaidah teknis penulisan. Ada pelajaran teknis di dalamnya, juga ada perspektif filosofis. Ada panduan merangkai fakta, juga ada kaidah memahami fakta.
Sekolah Menulis DH (Dian-Hasfa) terbuka untuk mereka yang hendak belajar menulis ataupun membaca. Diselenggarakan secara tatap muka maupun online. Melalui jaringan online ini, SMDH  ingin membuka akses seluas-luasnya bagi siapapun untuk belajar menulis bersama Dian-Hasfa. Jadi siapapun, di manapun, dan kapanpun bisa belajar menulis dalam SMDH Online ini.

silakan add fans page facebook Dian Nafi Insya Allah mengikuti jejak-jejak guru, saya ingin juga berbagi sedikit untuk mereka yang ingin belajar membaca dan menulis (creative writing)

MENGENANG RASULULLAH SHALALLAAHU 'ALAIHI WA SALLAM BERSAMA UKASYAH RA


(by
Akhinaa fillaaH Muhammad Hadnan)

Assalamu'alaikum wa rahmatullahi wa baakaatuh
Semoga Keselamatan, Rahmat dan Berkah Allah selalu tercurah atasmu

Ada pepatah tak kenal maka tak sayang, maka kita harus lebih banyak mengenalnya agar lebih menyayanginya.
Berkaitan dengan keadaan kita di hari akhir, kita akan bersama dengan orang-orang yang disayang.
Jadi bagaimana kita akan berada di surga bersama Rasulullah, kalau tidak ada rasa cinta kepadanya?
Tidak ada kerinduan untuk bersamanya? Berterima kasih atas perjuangan mendakwahkan Islam sehingga sampai kepada kia?
Cinta memang tidak bisa datang dengan sendirinya, untuk menumbhkan kecintaan kepada Beliau, kita harus banyak mengetahui Beliau yang sebenarnya, melalui Al-Quran dan sunnah-sunnanya.
Sungguh Semakin mengenal Rasulullah Shalallahu 'alaihi wa sallam kita akan semakin mencintainya.

Berikut secuil kisah Rasulullah Shalallaahu 'alaihi wa sallam, agar kita lebih mengenal beliau dan lebih mencintainya.

Diriwayatkan dari Ibnu Abbas r.a. bahwa setelah dekat waktu wafatnya, Rasulullah memerintahkan Bilal supaya adzan. Memanggil manusia untuk sholat berjama'ah. Maka berkumpulah kaum Muhajirin dan Anshor ke Masjid Rasulullah saw. Setelah selesai sholat dua raka'at yang ringan kemudian beliau naik ke atas mimbar lalu mengucapkan puji dan sanjung kepada Allah swt, dan kemudian beliau membawakan khutbahnya yang sangat berkesan, membuat hati terharu dan menangis mencucurkan air mata. Beliau berkata antara lain :

" Sesungguhnya saya ini adalah Nabimu, pemberi nasihat dan da'i yang menyeru manusia ke jalan Allah dengan izin-Nya. Aku ini bagimu bagaikan saudara yang penyayang dan bapak yang pengasih. Siapa yang merasa teraniaya olehku di antara kamu semua, hendaklah dia bangkit berdiri sekarang juga untuk melakukan qishas kepadaku sebelum ia melakukannya di hari Kiamat nanti"

Sekali dua kali beliau mengulangi kata-katanya itu, dan pada ketiga kalinya barulah berdiri seorang laki-laki bernama 'Ukasyah Ibnu Muhsin'. Ia berdiri di hadapan Nabi s.a.w sambil berkata :

"Ibuku dan ayahku menjadi tebusanmu ya Rasullah. Kalau tidaklah karena engkau telah berkali-kali menuntut kami supaya berbuat sesuatu atas dirimu, tidaklah aku akan berani tampil untuk memperkenankannya sesuai dengan permintaanmu. Dulu, aku pernah bersamamu di medan perang Badar sehingga untaku berdampingan sekali dengan untamu, maka aku pun turun dari atas untaku dan aku menghampiri engkau, lantas aku pun mencium paha engkau. Kemudian engkau mengangkat cambuk memukul untamu supaya berjalan cepat, tetapi engkau sebenarnya telah memukul lambung-sampingku; saya tidak tahu apakah itu dengan engkau sengaja atau tidak ya...Rasul Allah, ataukah barangkali maksudmu dengan itu hendak melecut untamu sendiri ?"

Kemudian Nabi menyuruh Bilal supaya pergi ke rumah Fatimah, " Supaya Fatimah memberikan kepadaku cambukku " kata beliau

Bilal segera ke luar Masjid dengan tangannya diletakkannya di atas kepalanya. Ia heran dan tak habis pikir, "Inilah Rasulullah memberikan kesempatan mengambil qishas terhadap dirinya!"
Diketoknya pintu rumah Fatimah yang menyahut dari dalam : "Siapakah diluar?", "Saya datang kepadamu untuk mengambil cambuk Rasullah" jawab Bilal.

" Duhai bilal, apakah yang akan dilakukan ayahku dengan cambuk ini?" tabta Fatimah kepada Bilal.

"Ya Fatimah ! Ayahmu memberikan kesempatan kepada orang lain untuk mengambil qishas terhadap dirinya " Bilal menegaskan.

"Siapakah pula gerangan orang itu yang sampai hati mengqishas Rasulullah ?" tukas Fatimah keheranan. Biarlah hamba saja yang menjadi ganti untuk dicambuk.

Bilal pun mengambil cambuk dan membawanya masuk Masjid, lalu diberikannya kepada Rasulullah, dan Rasulullah pun menyerahkannya ke tangan 'Ukasyah

Suasana mulai tegang... Semua sahabat bergerak.... Semua berdiri.... Jangankan dicambuk, dicolek saja, ia akan berhadapan dengan kami. Mungkin begitu mereka bicara dalam hati. Semua mata melotot. Memandang Ukasyah dan sebilah cambuk.

Saat itulah, Abu Bakar dan Umar r.a. bicara, "Hai 'Ukasyah ! kami sekarang berada di hadapanmu, pukul qishas-lah kami berdua, dan jangan sekali-kali engaku pukul Rasulullah s.a.w !"

Mungkin saat itu Umar meraba pedangnya. Seandainya saja, diizinkan akan aku penggal kepala orang yang menyakiti Rasulullah.

Rasulullah menahan dua sahabatnya. Berkata sang pemimpin yang dicintai ini : "Duhai sahabatku, Duduklah kalian berdua, Allah telah mengetahui kedudukan kamu berdua!"

Kemudian berdiri pula Ali bin Abi Tholib sambil berkata. Kali ini lebih garang dari sahabat Abu Bakar : " Hai Ukasyah! Aku ini sekarang masih hidup di hadapan Nabi s.a.w. Aku tidak sampai hati melihat kalau engkau akan mengambil kesempatan qishas memukul Rasulullah. Inilah punggungku, maka qishaslah aku dengan tangnmu dan deralah aky dengan tangn engkau sendiri!"
Ali tampil ke muka. Memberikan punggungnya dan jiwa serta cintanya buat orang yang dicintainya. Subhanallah... ia tak rela sang Rasul disakiti. Ia merelakan berkorban nyawa untuk sang pemimpin.

Nabi pun menahan. " Allah swt telah tahu kedudukanmu dan niatmu, wahai Ali !"

Ali surut, bergantianlah kemudian tampil dua kakak beradik, Hasan dan Husein. " Hai Ukasyah ! Bukankah engkau telah mengetahui, bahwa kami berdua ini adalah cucu kandung Rasulullah, dan qishaslah kami dan itu berarti sama juga dengan mengqishas Rasulullah sendiri !"

Tetapi Rasulullah menegur pula kedua cucunya itu dengan berkata "Duduklah kalian berdua, duhai penyejuk mataku!"

Dan akhirnya Nabi berkata : "Hai 'Ukasyah ! pukullah aku jika engkau berhasrat mengambil qishas!"

"Ya Rasul Allah ! sewaktu engkau memukul aku dulu, kebetulan aku sedang tidak lekat kain di badanku" Kata Ukasyah. kembali suasana semakin panas dan tegang. Semua orang berpikir, apa maunya si Ukasyah ini. Sudah berniat mencambuk Rasul, ia malah meminta Rasul membuka baju. "Kurang ajar sekali si Ukasyah ini. Apa maunya ini orang..."

Tanpa bicara....
Tanpa kata...
Rasulullah membuka bajunya.
Semua yang hadir menahan napas...
Banyak yang berteriak sambil menangis...
Tak terkecuali.... Termasuk Ukasyah...
Ada yang tertahan di dadanya. Ia segera maju melangkah, melepas cambuknya dan...

Kejadian selanjutnya tatkala 'Ukasyah melihat putih tubuh Rasulullah dan tanda kenabian di punggungnya, ia segera mendekap tubuh Nabi sepuas-puasnya sambil berkata : "Tebusanmu adalah Rohku ya Rasulallah, siapakah yang tega sampai hatinya untuk mengambil kesempatan mengqishas engkau ya Rasul Allah ? Saya sengaja berbuat demikian hanyalah karena berharap agar supaya tubuhku dapat menyentuh tubuh engkau yang mulia, dan agar supaya Allah swt dengan kehormatan engkau dapat menjagaku dari sentuhan api neraka"

Akhirnya berkatalah Nabi saw "Ketahuilah wahai para sahabat ! barang siapa yang ingin melihat penduduk surga, maka melihatlah kepada pribadi laki-laki ini!"

Lantas bangkit berdirilah kaum Muslimin beramai-ramai mencium 'Ukasyah di antara kedua matanya. Rasa curiga berubah cinta. Buruk sangka berubah bangga. Berkatalah mereka : "Berbahagialah engkau yang telah mencapai derajat yang tinggi dan menjadi teman Rasulullah s.a.w di surga kelak!"

Ya Allah! Demi kemuliaan dan kebesaran Engkau mudahkan jugalah bagi kami mendapatkan syafa'atnya Rasulullah s.a.w di kampung akhirat yang abadi ! Amien ! Mau'izhatul Hasanah

Allah SWT berfirman:
"Yaa siin...Demi Al Quran yang penuh Hikmah...
Sesungguhnya Engkau (Muhammad) sungguh sebagian dari para Rasul-rasul...
Yang berada di JALAN yang LURUS" (QS. Yaasiin : 3-4)

" Sesungguhnya Allah dan para Malaikat-Nya bershalawat kepada Nabi,
Hai orang-orang yang beriman bershalawatlah kepadanya dan salam taslim kepadanya." (QS Al Ahzab)

"Allahumma shalli 'alaa Nabiyinaa Muhammad wa'alaa aalihi wa shahbihi wa sallim"

Wassalamu'alaikm wa rahmatullahi wa baakaatuh
Semoga Keselamatan, Rahmat dan Berkah Allah selalu tercurah atasmu

By:OFA from:KKH


Penghibur

Ini dia si lucu yang selalu saja punya ide untuk bikin aku senyum.................

terima kasih sayang......

Anak adalah tumpuan harapan, sekaligus amanat yang besar. Orang tua dan pendidik, serta lingkungan masyarakat bertanggung jawab, untuk mempersiapkan mereka sebaik-baiknya sehingga menjadi insan yang berhasil di dunia dan akhirat. Agar anak bisa mencapai masa depan yang gemilang; benar akidahnya, baik akhlaknya, kokoh imannya, kuat dan tepat ibadahnya dan terampil tangan untuk bekerja dan memberi manfaat bagi agama serta umat ini, perlu proses pendidikan yang tepat untuk mengantarkannya, kita perlu mengawal dan mengawasi mereka dengan sebaik- baik pengawasan. Tetapi pada saat yang sama, harus kita ingat bahwa kita tidak akan pernah sanggup untuk mengawasi mereka dengan sempurna dan terus menerus ada waktu dimana kita tidak mungkin mengawasi mereka meskipun kita sangat ingin. Ini berarti kita perlu model pendidikan yang memungkinkan anak-anak berkembang tanpa terus-menerus kita dampingi. Kita perlu cara mendidik yang menjadidkan anak senantiasa belajar tanpa harus kita marah-marah setiap hari, lebih- lebih, memerintah dengan cara marah-marah, kerap kali hanya efektif untuk saat itu saja. Agar senantiasa belajar dengan gigih, mereka harus memiliki motivasi yang sangat kuat. Motivasi ini terutama berasal dari diri sendiri (intrinsik). Bukan motivasi yang muncul karena adanya daya tarik dari luar. Semakin kuat motivasi intrinsik seseorang, maka ia akan semakin terpacu untuk bersungguh-sungguh, meskipun banyak tantangan dari luar. Rajin belajar saja tidak cukup, karena rajin belajar hanya membuat ia pandai dalam bidang yang ia pelajari, tetapi bukan membuatnya berakhlak baik, banyaknya pengetahuan tidak berhubungan langsung dengan perubahan perilaku kearah yang lebih baik. Misalnya; tahu bahaya rokok tapi tidak serta merta membuat orang berhenti merokok, kepandaian juga tidak serta merta membuat seseorang memiliki percaya diri yang kuat, citra diri positif dan penerimaan diri yang baik. Betapa banyak orang yang pandai secara akademik, tetapi harus menghabiskan banyak waktunya di rumah sakit jiwa karena jiwanya terganggu, betapa banyak remaja kita yang memiliki kepandaian luar biasa, tetapi percaya dirinya sangat rapuh
Kita bisa menempa anak-anak kita untuk memiliki keunggulan di bidang tertentu, apakah kemampun kognitifnya secara umum, hafalannya, kecakapan fisiknya dalam olahraga, kehalusan tutur katanya atau kepiawaian seninya, jenis- jenis kecakapan itu bisa kita tempa dengan mudah tetapi segala kecakapan itu bukan jaminan kebahagiaan, tidak terkait langsung dengan dengan akhlakul kharimah, apalagi terhadap keselamatan dunia akhirat. 


Apa yang dalam waktu singkat yang tampak baik, juga belum tentu membawa kebaikan untuk masa-masa berikutnya. Dengan demikian, mengingat berat dan besarnya peran pendidikan agama Islam, maka perlu diformulasikan sedemikian rupa, baik yang menyangkut sarana insani maupun non insani secara komperehensif dan integral. Formulasi yang demikian bisa dilakukan melalui sistem pengajaran agama Islam yang baik dengan didukung oleh sumber daya manusia yang berkualiats, metode pengajaran yang tepat, sarana dan prasarana yang memadai, terlebih lagi dengan sumbangsih dari keluarga dan masyarakat, karena ruang gerak anak banyak dihabiskan dilingkungan keluarga dan masyarakat, sehingga pola pemikiran mereka akan banyak terkonstruk oleh lingkungan. Apalagi dengan pesatnya teknologi sehingga membuka ruang kepada anak untuk mengadopsi budaya luar tanpa sepengetahuan para pendiidik. sehingga butuh tembok yang membentengi mereka di dalam keluarga, bagaimana keluarga muslim memberikan motivasi dalam mendidik anaknya, serta merespon perguruan Islam secara positif, dan menyadari pntingnya kecerdasan spiritual bagi seorang anak, dalam menyeimbangi langkahnya, dan dapat tercipta generasi yang rabbani, dan mengetahui hakikat hidup.





Tangga Menjadi Manusia Sejati



كُنْ وَرِعًا تَكُنْ أَعْبَدَ النَّاسِ وَكُنْ قَنِعًا تَكُنْ أَشْكَرَ النَّاسِ وَأَحِبَّ لِلنَّاسِ مَا تُحِبُّ لِنَفْسِكَ تَكُنْ مُؤْمِنًا وَأَحْسِنْ جِوَارَ مَنْ جَاوَرَكَ تَكُنْ مُسْلِمًا وَأَقِلَّ الضَّحِكَ فَإِنَّ كَثْرَةَ الضَّحِكِ تُمِيتُ الْقَلْبَ

Jadilah seorang yang wara' maka
jadilah engkau orang yang paling beribadah
dan jadilah engkau orang yang puas dengan apa yang Allah berikan
niscaya engkau akan menjadi orang yang paling bersyukur.
Cintailah manusia apa yang engkau cinta pada dirimu sendiri
pastilah engkau menjadi seorang mukmin
dan berbuat baiklah pada orang yang bertetangga denganmu
pastilah engkau menjadi seorang muslim
dan sedikitlah tertawa karena sesungguhnya banyak tertawa itu mematikan hati (HR. Baihaqi).'

lepaskan dari belenggu diri sendiri

Hadapi kenyataan: Mungkin saja yang menjadi “polisi tidur” penghambat jalan sukses anda adalah diri anda sendiri.
1. Seringkali langkah tersulit membebaskan diri kita dari kesulitan adalah mengakui bahwa sebenarnya kita adalah biang keladi kesulitan. Karena itu, saat anda menghadapi masalah di jalan mencapai kesuksesan, pertimbangkan dengan hati-hati apakah anda merupakan sumber semua masalah tersebut.
2. Anda dapat melakukan apa yang anda inginkan. Namun bagaimanapun, anda mungkin tidak mampu melakukan semua yang anda inginkan. Belenggu kita adalah kita berusaha untuk melakukan semua hal dalam sekali waktu yang sama. Meski kita bekerja keras untuk melakukan segala hal, pada akhirnya kita hanya akan menyelesaikan sedikit hal saja. Yang kita perlukan sebenarnya adalah memusatkan perhatian pada satu atau dua proyek saja, karena hal ini justru meningkatkan kesempatan untuk mendapatkan apa yang anda inginkan.

3. Agar mendapat gambar yang jelas, anda pelu fokus. Begitu anda mengetahui proyek-proyek mana yang akan anda erjakan, anda harus memfokuskan diri pada apa yang benar-benar diperlukan untuk mengerjakannya. Susunlah rencana selangkah demi selangkah apa dan kapan anda harus mengerjakan.

4. Apa yang tertulis di atas kertas adalah rencana, sedangkan apa yang tertulis di kepala adalah mimpi. Beberapa orang segan untuk menuliskan rencana-rencana mereka. Menulis rencana di atas kertas merupakan langkah awal menuju pencapaian hasrat seseorang. Tanpa rencana tertulis, kebanyak orang akan memulai suatu proyek namun segera perhatiannya akan teralihkan oleh banyak hal kecil yang muncul kemudian.


5. Bila anda bergerak itu belum berarti maju. Gejala pasti anda dalam belenggu kesulitan adalah saat anda telah bekerja keras namun tidak jua mendekati titik sasaran. (Hal ini sering terjadi juga pada orang-orang yang tidak mau menyusun rencananya secara tertulis.) Agar anda dapat bergerak maju, anda harus mengambil langkah-langkah yang diperlukan pada saat yang diperlukan pula.

6. Tidak memilih adalah pilihan. Penghalang jalan lain yang kita ciptakan sendiri adalah terlalu banyak memikirkan pilihan-pilihan sehingga membuat kita tidak melakukan apa-apa. “Saya bila melakukan A, B, atau C. Kalau begitu sebaiknya saya pikirkan baik-baik,” begitulah angan-angan kita. Kemudian kita mulai merenungkannya, namun kita sama sekali tidak memutuskannya. Sebenarnya pada saat itu kita melakukan sesuatu, yaitu memutuskan untuk tidak melakukan apa-apa. Tapi coba tebak apa hasilnya? Bila anda tidak melakukan apa-apa maka hasilnya pun bukan apa-apa.

7. Pusatkan pada apa yang akan berhasil. Beberapa orang sangat pandai mencari-cari alasan mengapa sesuatu tidak berjalan sebagaimana mestinya. Jangan melipatgandakan sesuatu yang akan berakibat negatif. Lipat gandakalah seuatu yang positif. Berkonsentrasilah pada apa yang akan berjalan baik bagi anda.

8. Bila tidak berhasil, jangan kerjakan. Salah satu pertanda “manusiawi” adalah “mengerjakan hal yang sama secara terus-menerus, namun mengharapkan hasil yang berbeda.” Saya cenderung untuk menyatakan itu sebagai pertanda “humanitas”. Terkadang banyak orang tidak mampu mengakui bahwa sesuatu tidak berjalan dengan semestinya karena alasan harga diri, “sudah dari sononya”, atau sikap keras kepala. Jika itu adalah anda, maka terimalah moto baru: “Jangan lakukan!” Bila segala sesuatunya tidak berjalan, hentikan, setel kembali persenelling, baru kemudian bergerak maju.

9. Bila anda tidak tahu, mintalah pertolongan. Kita tidak dapat mengetahui segala hal. Kita pun tak kan mampu memecahkan semua persoalan. Ada banyak konsultan, penasehat, dan pembimbing yang dapat diajak kerja sama oleh anda untuk memecahkan persoalan anda. Mintalah pertolongan mereka.

10. Bila tidak membuat anda bahagia, jangan kerjakan. Melaju di jalur menuju kesuksesan anda tidaklah mudah. Mungkin anda tidak mendapatkan keceriaan di setiap langkah anda sehingga membuat anda ingin kembali mundur ke garis start. Namun demikian, secara keseluruhan anda seharusnya merasa bahagia karena ini adalah jalan yang anda pilih. Bila anda tidak merasa bahagia maka anda perlu mengevaluasi tujuan anda atau bagaimana anda mencapai tujuan
tersebut. (diadaptasi dari: 10 Tips to Getting Out of Your Own Way – Jim Allen)

Tangga Bahagia




Tangga Bahagia

Pendapat-pendapat Bertrand Russel, Amin Al-Raihany dan Al-Anisah Mai tentang ‘Bahagia’.

Sebelum kita munci pasal kebahagiaan dan sebelum kita tutup dengan menerangkan sebab orang jadi celaka, lebih dahulu kita salinkan beberapa pandangan dari ahli fikir yang besar-besar di Barat dan Timur.

Pertama Bertrand Russel, filosof yang masyhur di Inggeris itu. Kita bandingkan falsafah perjuangannya dengan keterangan Imam Ibnu Qayyim.

Kedua Amin Al Raihany, sorang filosof Arab yang beragama Nasrani, seorang pujangga perempuan Anisah Mai, yang juga beragama nasrani. Kita dahulukan menyalin kerangan-karangan pendapat mereka, supaya kaum Muslimin memperluas dadanya mencari hikmat, akan kita tutup dengan pendapat Sheikh Yusuf Dajwi tentang sebab-sebab celaka.

A. Bertrand Russel

Filosof Bertrand Russel dalam bukunya “Kemenangan Manusia Lantaran Bahagia”, telah menulis perasaan, dan yang kedua tempat timbulnya ialah fikiran. Bahagia manusia pada yang pertama sama darjatnya, tetapi dalam bahagian kedua (fikiran), tidaklah merasainya melainkan dalam kalangan ahli-ahli ilmu.

Rasa bahagia timbul menurut darjat panas dinginnya perasaan hati (syu’ur) dan menurut ukuran kemahuan bekerja. Seorang biadab di Australia yang memburu kanggaru, merasa amat beruntung bila buruannya dapat ditangkapnya. Seorang pemeriksa kuman-kuman penyakit (bakteriologi) yang berkerja memisahkan kuman-kuman dalam laboratorium, merasa beruntung bila dapat mengetahui apa nama kuman yang sedang diselidikinya. Sama perasaannya dengan pemburu kanggaru di Australia itu.

Menghadapi pekerjaan sehari-hari pun bermacam-macam pula, corak manusia. Ada orang yang menghadapi pekerjaan diserang oleh ‘ghurur’ (kesombongan), tidak menghargai jasa dan usaha orang lain, merasa dia saja yang berhak mengerjakannya pada fikirnya, takabur (merasa diri besar) bahawa orang lain kalau tidak sedalam pengetahuannya tidak boleh masuk ke medan yang telah dimanukinya itu. Tetapi dibalik itu ada pula orang yang menghadapi pekerjaannya dengan tawadhuk, insaf akan kekurangan dirinya, dan insaf bahawa pengalaman dan perjalanan hidup itu adalah sekolah yang setinggi-tingginya, yang tidak tamat, sebelum mati.

Maka orang yang menghadap pekerjaan dengan kesombongan (ghurur) dan ketakburan itu, selamanya tidak akan mengecap rasa bahagia, meskipun waktu dia mendapa kemenangan (sukses) sekalipun. Kerana kesombongan itu selalu menghambat dan menyebabkan rasa kurang terima, sebab selalu merasa dirinya lebih dari kedudukannya yang sebenarnya. Oleh kerana yang demikian maka suksesnya yang besar, selalu kecil dalam hatinya, padahal dia seorang yang lebih dari ‘luar biasa’ menurut perasaan ghururnya. Sebaliknyajuka dia jatuh atau kalah bukan main mendongkolnya. Dia pantang dibantah.

Adapun orang yang tawadhuk memandang segala perangsuran langkah perjalanan itu, ialah kemenangan yang harus dishukuri.

Timbulnya kekuatan menghadapi pekrjaan dan usaha, ialah dari kekuatan keyakinan dan kepercayaan (iman). Lawannya iala tiada peduli dan leah iman.

Inilah sebabnya pemuda zaman sekarang di Eropah kurang beroleh bahagia dan kemenangan dalam pekerjaan, sebab keprcayaannya lemah terhadap orang yang lebih mengerti daripadanya. Tetapi pemuda di Rusia lain, mereka merasa kekurangannya, tetapi insaf serta berusaha, sehingga di dalam pekerjaan tangan dan perburuhan mereka lebih menang dari pemuda Eropah.

Kalau dibandingkan pekerjaan perburuhan halus dengan pertanian, lebih tinggi darjat pekerjaan pertanian, lebih tinggi darjat pekerjaan pertanian. Sebab perputaran mesin dan keadaan tanam-tanaman sejak dari tunas lalau mengarang bunga, lalu menjelmakan buah, semuanya berbekas kepada jiwa pak tani.

Ole sebab mengharapkan bahagia, seharusnya kita menghadapi segala usaha dengan percaya, diadakan hubungan diri dengan pekerjaan hubungan cinta dan persaudaraan,bukan enci dan bosan.

1. Tangga Bahagia Yang Pertama

Tangga bahagia yang pertama, ialah sehingga mana jangka perasaan kelazatan di dalam hidup. Untuk menjelaskan soal ini haruslah lebih dahulu kita beri keterangan dengan suatu kemestian yang tidak boleh dipisah-pisahkan dari manusia, iaitu mereka ketika menghadapi makanan. Kerana makanan adalah keharusan hidup yang pertama.

* Ada manusia yang menghadapi makanan seperti menghadapi barang yang tidak ada rasanya saja, tidak ada lazatnya, meskipun enak rasanya dan maal harganya. Orang ini, ialah orang yang belum mencuba bagaimana rasa lapar. Belum pula merasai bagaimana hajat selera kepada makanan di waktu susah mencarinya.
* Kaum Epicurian, yang makan hanya sekadar untuk hidup saja. Lebih dari jangkaan itu, dia mendongkol dan dipandangnya berlebih-lebihan. (Atau sebagai kaum Suluk Tariqat Naqsyabandi yang di dalam Rabithah 40 hari, makannya hanya ditentukan setakat nasi dan garam, tidak boleh makan daging dan cili).
* Orang yang sangat rakus. Baru saja melihat makanan, belum sampai masuk mulutnya, air seteranya telah titik. Orang ini tidak mahu berhenti makan, sebelum lebih dari kenyang.
* Orang yang mempunyai percernaan sihat dan fikiran waras. Mereka suka kepada makanan, dan makan dengan nafsu yang baik, tetapi sebelum sampai kenyang dia telah berhenti. Dia tidak mengisi perutnya secara berlebihan sampai perutnya gendut.

Orang yang merasa bahagia di dalam hidup, hampir samalah keadaannya dengan orang makan pada pangkat yang keempat ini. Mereka merasa dan mengakui, bahawa makanan itu memang lazat, tetapi mereka tidak mahu memperturutkan kehendak nafsunya lebih dari yang mesti.

Kebahagiaan seorang insan, sangat berhubung dan bersangkutan dengan tarikan hidup. Bertambah kuat tali tarikan itu, bertambah kuat pula pertalian diri dengan bahagia. Yang menyebabkan kebencian kepaa hidup, yang menyebabkan hidup ini tidak menarik hati, ialah kalau tidak tahu rahsia hidup. Manusia yang arif akan erti hidup dengan sedalam-dalamnya, tidak setengah-tengah jalan, sentiasa merasa beruntung merasa beruntung dan tenteram.

Akal adalah alat yang pertama dalam menempuh hidup. Dia ambil segala lukisan lahir yang terbentang di luar, dibawanya masuk ke akalnya. Ketika itu timbullah lazat dan puas. Bekerja dan berusaha dengan tidak mempergunakan akal, dan tidak kuat membawa apa yang di luar ke dalam, ‘fabrik’ akal supaya beroleh bentuk yang special, yang menyebabkan akal menjadi ‘pengangguran’, tumpul. Kecewa datang, bahagia terbang.

Apa yang membawa akal kepada tarikan hidup? Dalam cara bagaimana akal dapat mencari bahan buat diberi bentuk di dalam batin? Ialah dengan jalan menghadapi hidup dan tidak mengutuk hidup. Sebab hilang kekuatan akal itu pada kebanyakan manusia di hari ini, ialah lantaran terikat oleh raam basi (adat-istiadat), etika, yang dibuat oleh kemajuan.

Cubalah bandingkan bagaimana kaum biadab Afrika berburu menjangan atau mejaring ikan, dengan orang kota pergi ke pejabat. Keduanya sama-sama mencari makan, tetapi kelazatan yang dirasai orang biadab itu atas makanan yang didapatinya tiap bulan atau tiap minggu jauh lebih terasa. Sebab orang primitif itu hanya semata-mata mengubati kelaparan, sedang orang kota sudah ditambah oleh keperluan-keperluan lain yang pada hakikatnya tidak perlu.

2. Tangga Kedua

Perasaan hati, salah satu sebab orang merasa miskin atau sunyi dari bahagia, ialah perasaan sendiri, bahawa dia tidak disukai orang.

Kalau ada perasaan bahawa orang suka kepadanya timbullah kekuatan menghadapi kehidupan dan timbul keberanian.

Sebabnya timbul perasaan diri tidak disukai orang, amat banyak. Orang begini mengerjakan suatu pekerjaan bukan lantaran pekerjaan itu wajib dikerjakan, melainkan lantaran mengharapkan penerimaan manusia. Kalau tidak diterima orang, sedihlah hatinya. Kerana manusia itu seluruhnya hanya mahu menerima yang telah jadi saja. Lantaran merasa bahawa orang tidak percaya kepadanya, lalau dia membalas dendamnya kepada segenap masyarakat. Orang-orang beginilah yang kerap mengotorkan sejarah, membuat huru hara, membikin pemberontakan. Kalau dia wartawan, dipergunakan ppenanya untuk mencela memaki orang , menghinakan dan menyesali orang. Ini golongan aktif.

Hidupnya bertanjuran,ertinya kerana orang tidak juga akan memuji kita, lebih baik kita lepaskan apa yang tersenak dalam hati, biar kita dicela – Penyalin.

Adapun golongan yang pasif, kebanyakan tidak mahu mengganggu masyarakat, tetapi diundurkannya dirinya ke belakang. Tidak mahu memperdulikan dunia dan isi dunia. Dia tegak seorang dirinya, dalam dirinya dengan perasaannya kecewa dan taasyum (pesimis), tidak merasa puas dengan segala yang ada. Lantaran dia meminta supaya orang suka memperhatikan dirinya, padahal hubungannya telah diputuskannya dengan luaran, maka dia tidak pernah merasai ketenteraman. Dia tidak berani, terlalu banyak pertimbangan, mundur maju, dan kalau hidup itu dicapai oleh orang lain, dia kembali mengeluh.

Itulah sebabnya kebanyakan penganjur-penganjur bangsa, ahli-ahli politik dan pahlawan-pahlawan pena, pertaliannya dengan hidup itu amat teguh seketika orang masih banyak menghargai buah tangannya. Kalau tidak ada lagi, maka kebanyakan orang ini mengundurkan diri, menjauh dari masyarakat dan sengaja dirinya dilupakan.

Maka kian lama jauhlah dia. Tidak ada orang yang sempat menjemputnya, sebab putaran roda hidup amat cepat.

Sebab itu,haruslah pendidik, terutama ayah bonda mencari tempat mana yang patut dihargai mana yang disayangi dan mana yang patut dipuji buat anaknya yang akan menempuh hidup dengan segenap kesulitannya di belakang hari.

Dalam pada itu Bertrand Russel tidak pula melupakan sebab-sebab yang paling penting, yang menjadi tangga di dalam mencapai bahagia itu, iaitu kesempurnaan rumahtangga. Kata beliau:

3. Yang Ketiga Ialah Rumahtangga

Sejauh manusia hidup, rumahtangga adalah pusat kesenangan dan bahagia. Tetapi sekarang, rumahtangga pulalah yang paling kacau-bilau. Kecintaan di antara ayah dan anak, kian lama kian kering dan kaku. Kelemahan tiap-tiap orang mencari ketenteraman fikiran di dalam rumahtangganya, itulah yang paling membawa kecelakaan masyarakat pada hari ini. Kecelakaan rumahtangga tersebab dari kedaan diri masing-masing, keadaan ekonomi dan pergaulan sehari-hari. Tidak usah kita mengambil keterangan terlalu jauh. Secara pendek saja dapat kita terangkan salah satu sebab yang menimbulkan kerosakan rumahtangga.

Pertama: Lapangan kerja terbuka amat besar bagi kaum perempuan.

Kedua: Perempuan zaman kini sudah mulai bosan memandang rendah melakukan kewajipan-kewajipan yang perlu dalam rumahnya.

Dia hendak bekerja pula, sebab itu rumahtangga tak ubahnya dengan hotel tempat singgah menumpang tidur.

Ada lagi yang terpenting, iaitu masalah kesulitan tempat diam yang sederhana. Sebab kota-kota mulai ramai, orang kampung lari ke kota tidak beroleh rumah tinggal yang layak dan agak cukup dan mengurangi kesenangan fikiran.

Lain dari itu ialah lantaran zaman telah berpindah dari zaman feodal kepada zaman demokrasi. Tetapi kerap melampaui batas. Orang tidak merasa perlu lagi taat kepada yang patut ditaati, sehingga anak pun tidak taat lagi kepada ayahnya. Si ayah tidak lagi akan kewajipan kepada anaknya, dan si anak pun demikian. Lama-lama kuranglah jumlah keturunan, jaranglah kelahiran yang baru. Sebab tidak ada lagi keinginan orang kepada perkahwinan, lantaran mengelakkan tanggungan rumahtangga dan kebebasan pergaulan.

Kemajuan yang sekarang telah sampai di puncaknya, tidaklah akan kekal dan panjang umurnya, bilamana tali berketurunan itu telah mulai genting akan putus. Inilah suatu bahaya yang amat besar yang mengancam masyarakat, yang harus diubati segera. Ialah dengan pendidikan tentang rumahtangga bahagia dan mengaturnya dengan peraturan-peraturan agama.

Perasaan sebagai ibu dan ayah, itulah yang amat banyak menimbulkan bahagia dalam diri. Kalau orang tidak merasainya, dia tidak akan tahu apa sebab dan apa nama kekurangan itu. Supaya bahagia dirasai, apalagi kalau zaman remaja telah mulai lepas, hendaklah kita merasai bahawa kita tidak sendiri di dalam alam ini. Kita ada hubungan dengan masyarakat, ada pertalian dengan orang lain. Pertalian yang dikatakan itu tidak terasa kalau hanya dengan sahabat atau handai taulan. Yang sejati pertalian dengan alam, dengan hidup dan dengan masyarakat, ialah berketurunan, beranak, bercucu. Kalau hidup tidak ada pertalian dengan zaman yang akan datang, nescaya kita bosan dengan hidup. Hidup itu terasa hambar, tidak ada paterinya dengan diri terasa tidak sama sekali pentingnya bagi kita. Kalau ada hubungan kita dengan zaman yang akan datang itu, iaitu anak dan turunan, maka terbentanglah di hadapan kita pengharapan,seagai yang terbentang di mata Nabi Ibrahim ketika dia mengetahui bahawa anak cucunya akan memenuhi bumi.

Jadi menurut Bertrand Russel yang mengalami sendiri kegoncangan hidup moden Eropah: Bahagia itu adalah dalam rumahtangga.

4. Yang Keempat, Apakah Mata Penghidupan Itu Membawa Bahagia Atau Celaka?

Banyak mata penghidupan atau perusahaan itu memenatkan badan memayahkan diri. Tetapi tidak dapat dimungkiri bahawa perusahaan yang ada buahnya, walaupun bagaimana payah mengerjakan, membawa bahagia bagi diri.

Zaman kemajuan ini segala daya upaya mengikhtiarkan bagaimana supaya orang merasai kesenangan dan bahagia di waktu yang lapang, atau di waktu cuti bekerja. Kepayahan yang dirasai orang di zaman moden ini di waktu bekerja, kecil sekali jika dibandingkan dengan kepayahan dan kesudahannya bilamana diam mempergunakan istirehat itu, istirehat lebih susah sekaaang dari bekerja.

Usaha (mata penghidupan) itu ialah jalan manusia mencapai kejayaan. Kalau pekerjaan itu masih lekat dengan diri, selama itulah dia disukai orang, selama itu pula ada harapan perusahaan itu akan membawanya kepada kepayahan. Oleh sebab itu, kalau orang masih yakin dan percaya di dalam megang pekerjaan, selama itu pula dia mempunyai harapan akan mencapai bahagia.

Dua sebab yang boleh menjadikan usaha kita itu menarik hati, iaitu:

* Mahir
* Pandai mencari bentuk baru.

Orang yang mengerjakan suatu pekerjaan dengan sungguh-sungguh, selalu berusaha mempermoden, memperbaharui dan memperindah pekerjaan itu. Di waktu orang masih muda remaja, perasaan ini nyata berlebihan.

Kemahiran dan kesanggupan membuat bentuk baru, sangat sekali menimbulkan bahagia di dalam hati, walaupun hasilnya yang lahir tidak kelihatan pada waktu itu juga.

Seorang ahli politi yang pernah menjadi menteri dalam pemerintahan, bila telah tua, sangatlah bahagia hatinya melihat hasil pekerjaannya dahulu itu. Tetapi di kalangan ahli seni ada yang cepat putus asa. Sebab itu kalau orang ini tidak beroleh sukses di dalam pekerjaannya, ramai di antara meraka yang mengundurkan diri dan memencil.

Kebahagiaan seorang pengarang ialah mahir mengatur bahasa dan pandai mencari teknik yang baru dari kerangannya atau surat-khabarnya. Tetapi pada zaman kita kaum wartawan itu banyak yang tidak merasa bahagia, lantaran kebanyakan orang menerbitkan surat khabar tidak didasarkan suatu cita-cita, tetapi untuk mencari wang. Sebab itu mereka tidak dapat memuaskan kemahirandan teknik atau bentuk yang baru, sebab takut akan merugikan perusahaan majikan, yang menyebabkan hilangnya sesuap nasi. Sebab itu kebanyakan mereka menulis hal yang tidak sesuai dengan perasaan hati sendiri, hanya laksana mesin saja, menghasilkan tulisan dan menerima gaji tiap bulan. Lain dari ini… masa bodoh! (jangan hiraukan).

Orang yanghidupnya hanya untuk mencari sesuap nasi, bukan kerana kesenangan mengerjakan pekerjaan, amat sukarlah merasai bahagia, tetapi kian lama kian mundur tenaganya, dan kian kecewa hatinya.

5. Kebahagiaan Dicapai Dengan Berjihad Dan Berjuang.

Yang kelima, kebahagiaan itu bukanlah anugerah Allah yang dapat diterima dengan mudah saja. Yang selalu kejadian, ialah bahawa mencapai bahagia ialah setelah berjihad, berjuang.

Tiap-tiap manusia berjuang. Semangat berjuang lebih kelihatan dimiliki oleh bangsa Barat, dan kurang sekali pada kalangan Timur. Terutama udara dan pergaulan Barat menyebabkan ‘kerja lebih disukai orang daripada malas. Itulah sebabnya maka berbezapandangan Barat dengan Timur dalam perkara mencapai bahagia. Bagi Timur dengan berdiam diri dan bermenung, bersemedi dan suluk, dianggap bahagia. Tetapi bagi Barat bermenung atau menyerah saja, tiadakan dapat menghasilkan bahagia.

Bangsa Barat tidak hendak mencukupkan keprluan sekadar yang perlu tiap-tiap hari saja, tetapi menghendaki lebih dari itu. Kerana usaha yang berhasil (sukses) itulah kebahagiaan yang sebenarnya bagi mereka. Cuma sayang pada masa yang akhir-akhir ini kebahagiaan itu telah diukur orang dengan ukuran materi, kebendaan.

Disinilah keteledoran bangsa Barat. Akibat lebih mementingkan kehidupan materi, mereka lupa pada rohani. Akibat mementingkan kebahagiaan diri, mereka lupa pada orang lain di luar dirinya. Termasuk hubungan suami isteri menjadi kendur. Bila hubungan suami isteri rosak, yang menjadi korban tiada lain ialah anak-anak.

Kalau ini diingat dan diinsafkan kembali oleh bangsa Barat, bahawa kemenangan atau kekayaan dan penghasilan yang mereka pendapat dalam perjuangan hidup ialah buat keberuntungan anak dan turunan di belakang hari, haruslah mereka perbaiki kembali hubungan suami isteri itu.

Sebaliknya dengan Timur, mereka belum banyak memikirkan apa erti perjuangan. Itulah sebabnya kemajuan masih sangat jauh dari bangsa Timur.

Manusia berkehendak kepada kekuatan. Ada orang yang menggunakan kekuatan untuk memelihara diri sendiri, dan ada yang menggunakan kekuatan buat menguasai dan mempengaruhi orang lain, atau digunakan untuk mengubah aturan yang pincang dalam masyarakat, maka semua kekuatan itu tidak diiringi oleh perjuangan.

Orang yang tidak merasa perlu ada kekuatan, bererti sudi enghadapi perjuangan. Orang ini tergolong orang yang tidak bertanggungjawab. Saya kritik bangsa Barat yang pada masa akhir-akhir ini hendak meniru “Kebijaksanaan Timur”, menyingkirkan perjuangan, hanya hendak tenteram dalam diri sendiri. Padahal orang Timur sendiri sudah mulai membenci “Kebinaksanaan” itu.

Sekian
by: Bertrand Russel.

CINTA OH CINTA

Delapan Pengertian Cinta Menurut Qur’an

Menurut hadis Nabi, orang yang sedang jatuh cinta cenderung selalu mengingat dan menyebut orang yang dicintainya (man ahabba syai’an katsura dzikruhu), kata Nabi, orang juga bisa diperbudak oleh cintanya (man ahabba syai’an fa huwa `abduhu). Kata Nabi juga, ciri dari cinta sejati ada tiga : (1) lebih suka berbicara dengan yang dicintai dibanding dengan yang lain, (2) lebih suka berkumpul dengan yang dicintai dibanding dengan yang lain, dan (3) lebih suka mengikuti kemauan yang dicintai dibanding kemauan orang lain/diri sendiri. Bagi orang yang telah jatuh cinta kepada Alloh SWT, maka ia lebih suka berbicara dengan Alloh SWT, dengan membaca firman Nya, lebih suka bercengkerama dengan Alloh SWT dalam I`tikaf, dan lebih suka mengikuti perintah Alloh SWT daripada perintah yang lain.

Dalam Qur’an cinta memiliki 8 pengertian berikut ini penjelasannya:

1. Cinta Mawaddah adalah jenis cinta mengebu-gebu, membara dan “nggemesi”. Orang yang memiliki cinta jenis mawaddah, maunya selalu berdua, enggan berpisah dan selalu ingin memuaskan dahaga cintanya. Ia ingin memonopoli cintanya, dan hampir tak bisa berfikir lain.

2. Cinta Rahmah adalah jenis cinta yang penuh kasih sayang, lembut, siap berkorban, dan siap melindungi. Orang yang memiliki cinta jenis rahmah ini lebih memperhatikan orang yang dicintainya dibanding terhadap diri sendiri. Baginya yang penting adalah kebahagiaan sang kekasih meski untuk itu ia harus menderita. Ia sangat memaklumi kekurangan kekasihnya dan selalu memaafkan kesalahan kekasihnya. Termasuk dalam cinta rahmah adalah cinta antar orang yang bertalian darah, terutama cinta orang tua terhadap anaknya, dan sebaliknya. Dari itu maka dalam al Qur’an , kerabat disebut al arham, dzawi al arham , yakni orang-orang yang memiliki hubungan kasih sayang secara fitri, yang berasal dari garba kasih sayang ibu, disebut rahim (dari kata rahmah). Sejak janin seorang anak sudah diliputi oleh suasana psikologis kasih sayang dalam satu ruang yang disebut rahim. Selanjutnya diantara orang-orang yang memiliki hubungan darah dianjurkan untuk selalu ber silaturrahim, atau silaturrahmi artinya menyambung tali kasih sayang. Suami isteri yang diikat oleh cinta mawaddah dan rahmah sekaligus biasanya saling setia lahir batin-dunia akhirat.

3. Cinta Mail, adalah jenis cinta yang untuk sementara sangat membara, sehingga menyedot seluruh perhatian hingga hal-hal lain cenderung kurang diperhatikan. Cinta jenis mail ini dalam al Qur’an disebut dalam konteks orang poligami dimana ketika sedang jatuh cinta kepada yang muda (an tamilu kulla al mail), cenderung mengabaikan kepada yang lama.

4. Cinta Syaghaf. Adalah cinta yang sangat mendalam, alami, orisinil dan memabukkan. Orang yang terserang cinta jenis syaghaf (qad syaghafaha hubba) bisa seperti orang gila, lupa diri dan hampir-hampir tak menyadari apa yang dilakukan. Al Qur’an menggunakan term syaghaf ketika mengkisahkan bagaimana cintanya Zulaikha, istri pembesar Mesir kepada bujangnya, Yusuf.

5. Cinta Ra’fah, yaitu rasa kasih yang dalam hingga mengalahkan norma-norma kebenaran, misalnya kasihan kepada anak sehingga tidak tega membangunkannya untuk salat, membelanya meskipun salah. Al Qur’an menyebut term ini ketika mengingatkan agar janganlah cinta ra`fah menyebabkan orang tidak menegakkan hukum Allah, dalam hal ini kasus hukuman bagi pezina (Q/24:2).

6. Cinta Shobwah, yaitu cinta buta, cinta yang mendorong perilaku penyimpang tanpa sanggup mengelak. Al Qur’an menyebut term ni ketika mengkisahkan bagaimana Nabi Yusuf berdoa agar dipisahkan dengan Zulaiha yang setiap hari menggodanya (mohon dimasukkan penjara saja), sebab jika tidak, lama kelamaan Yusuf tergelincir juga dalam perbuatan bodoh, wa illa tashrif `anni kaidahunna ashbu ilaihinna wa akun min al jahilin (Q/12:33)

7. Cinta Syauq (rindu). Term ini bukan dari al Qur’an tetapi dari hadis yang menafsirkan al Qur’an. Dalam surat al `Ankabut ayat 5 dikatakan bahwa barangsiapa rindu berjumpa Allah pasti waktunya akan tiba. Kalimat kerinduan ini kemudian diungkapkan dalam doa ma’tsur dari hadis riwayat Ahmad; wa as’aluka ladzzata an nadzori ila wajhika wa as syauqa ila liqa’ika, aku mohon dapat merasakan nikmatnya memandang wajah Mu dan nikmatnya kerinduan untuk berjumpa dengan Mu. Menurut Ibn al Qayyim al Jauzi dalam kitab Raudlat al Muhibbin wa Nuzhat al Musytaqin, Syauq (rindu) adalah pengembaraan hati kepada sang kekasih (safar al qalb ila al mahbub), dan kobaran cinta yang apinya berada di dalam hati sang pecinta, hurqat al mahabbah wa il tihab naruha fi qalb al muhibbi

8. Cinta Kulfah, yakni perasaan cinta yang disertai kesadaran mendidik kepada hal-hal yang positip meski sulit, seperti orang tua yang menyuruh anaknya menyapu, membersihkan kamar sendiri, meski ada pembantu. Jenis cinta ini disebut al Qur’an ketika menyatakan bahwa Allah tidak membebani seseorang kecuali sesuai dengan kemampuannya, la yukallifullah nafsan illa wus`aha (Q/2:286)

posted by : Mubarok institute

Diposkan oleh Mistikus CintaDelapan Pengertian Cinta Menurut Qur’an
Share
Tuesday, August 4, 2009 at 8:33am
Menurut hadis Nabi, orang yang sedang jatuh cinta cenderung selalu mengingat dan menyebut orang yang dicintainya (man ahabba syai’an katsura dzikruhu), kata Nabi, orang juga bisa diperbudak oleh cintanya (man ahabba syai’an fa huwa `abduhu). Kata Nabi juga, ciri dari cinta sejati ada tiga : (1) lebih suka berbicara dengan yang dicintai dibanding dengan yang lain, (2) lebih suka berkumpul dengan yang dicintai dibanding dengan yang lain, dan (3) lebih suka mengikuti kemauan yang dicintai dibanding kemauan orang lain/diri sendiri. Bagi orang yang telah jatuh cinta kepada Alloh SWT, maka ia lebih suka berbicara dengan Alloh SWT, dengan membaca firman Nya, lebih suka bercengkerama dengan Alloh SWT dalam I`tikaf, dan lebih suka mengikuti perintah Alloh SWT daripada perintah yang lain.

Dalam Qur’an cinta memiliki 8 pengertian berikut ini penjelasannya:

1. Cinta Mawaddah adalah jenis cinta mengebu-gebu, membara dan “nggemesi”. Orang yang memiliki cinta jenis mawaddah, maunya selalu berdua, enggan berpisah dan selalu ingin memuaskan dahaga cintanya. Ia ingin memonopoli cintanya, dan hampir tak bisa berfikir lain.

2. Cinta Rahmah adalah jenis cinta yang penuh kasih sayang, lembut, siap berkorban, dan siap melindungi. Orang yang memiliki cinta jenis rahmah ini lebih memperhatikan orang yang dicintainya dibanding terhadap diri sendiri. Baginya yang penting adalah kebahagiaan sang kekasih meski untuk itu ia harus menderita. Ia sangat memaklumi kekurangan kekasihnya dan selalu memaafkan kesalahan kekasihnya. Termasuk dalam cinta rahmah adalah cinta antar orang yang bertalian darah, terutama cinta orang tua terhadap anaknya, dan sebaliknya. Dari itu maka dalam al Qur’an , kerabat disebut al arham, dzawi al arham , yakni orang-orang yang memiliki hubungan kasih sayang secara fitri, yang berasal dari garba kasih sayang ibu, disebut rahim (dari kata rahmah). Sejak janin seorang anak sudah diliputi oleh suasana psikologis kasih sayang dalam satu ruang yang disebut rahim. Selanjutnya diantara orang-orang yang memiliki hubungan darah dianjurkan untuk selalu ber silaturrahim, atau silaturrahmi artinya menyambung tali kasih sayang. Suami isteri yang diikat oleh cinta mawaddah dan rahmah sekaligus biasanya saling setia lahir batin-dunia akhirat.

3. Cinta Mail, adalah jenis cinta yang untuk sementara sangat membara, sehingga menyedot seluruh perhatian hingga hal-hal lain cenderung kurang diperhatikan. Cinta jenis mail ini dalam al Qur’an disebut dalam konteks orang poligami dimana ketika sedang jatuh cinta kepada yang muda (an tamilu kulla al mail), cenderung mengabaikan kepada yang lama.

4. Cinta Syaghaf. Adalah cinta yang sangat mendalam, alami, orisinil dan memabukkan. Orang yang terserang cinta jenis syaghaf (qad syaghafaha hubba) bisa seperti orang gila, lupa diri dan hampir-hampir tak menyadari apa yang dilakukan. Al Qur’an menggunakan term syaghaf ketika mengkisahkan bagaimana cintanya Zulaikha, istri pembesar Mesir kepada bujangnya, Yusuf.

5. Cinta Ra’fah, yaitu rasa kasih yang dalam hingga mengalahkan norma-norma kebenaran, misalnya kasihan kepada anak sehingga tidak tega membangunkannya untuk salat, membelanya meskipun salah. Al Qur’an menyebut term ini ketika mengingatkan agar janganlah cinta ra`fah menyebabkan orang tidak menegakkan hukum Allah, dalam hal ini kasus hukuman bagi pezina (Q/24:2).

6. Cinta Shobwah, yaitu cinta buta, cinta yang mendorong perilaku penyimpang tanpa sanggup mengelak. Al Qur’an menyebut term ni ketika mengkisahkan bagaimana Nabi Yusuf berdoa agar dipisahkan dengan Zulaiha yang setiap hari menggodanya (mohon dimasukkan penjara saja), sebab jika tidak, lama kelamaan Yusuf tergelincir juga dalam perbuatan bodoh, wa illa tashrif `anni kaidahunna ashbu ilaihinna wa akun min al jahilin (Q/12:33)

7. Cinta Syauq (rindu). Term ini bukan dari al Qur’an tetapi dari hadis yang menafsirkan al Qur’an. Dalam surat al `Ankabut ayat 5 dikatakan bahwa barangsiapa rindu berjumpa Allah pasti waktunya akan tiba. Kalimat kerinduan ini kemudian diungkapkan dalam doa ma’tsur dari hadis riwayat Ahmad; wa as’aluka ladzzata an nadzori ila wajhika wa as syauqa ila liqa’ika, aku mohon dapat merasakan nikmatnya memandang wajah Mu dan nikmatnya kerinduan untuk berjumpa dengan Mu. Menurut Ibn al Qayyim al Jauzi dalam kitab Raudlat al Muhibbin wa Nuzhat al Musytaqin, Syauq (rindu) adalah pengembaraan hati kepada sang kekasih (safar al qalb ila al mahbub), dan kobaran cinta yang apinya berada di dalam hati sang pecinta, hurqat al mahabbah wa il tihab naruha fi qalb al muhibbi

8. Cinta Kulfah, yakni perasaan cinta yang disertai kesadaran mendidik kepada hal-hal yang positip meski sulit, seperti orang tua yang menyuruh anaknya menyapu, membersihkan kamar sendiri, meski ada pembantu. Jenis cinta ini disebut al Qur’an ketika menyatakan bahwa Allah tidak membebani seseorang kecuali sesuai dengan kemampuannya, la yukallifullah nafsan illa wus`aha (Q/2:286)

posted by : Mubarok institute


~CINTA SEWAJARNYA.~
...
~Cinta merupakan Anugerah Allah SWT yang bersemi di dalam Hati.....
Jadikanlah Cinta sebagai "E n e r g i" Perjuangan Hidup, dan
jangan jadikan berhala di dalam Hati.....

~Cintailah sesuatu apapun atas Dasar Memelihara "Amanat" dan "Anugerah" Allah SWT,.....
Jangan menCintai sesuatu,.....karena ingin "Memiliki" dan "Menguasai".....

~"Cintailah seseorang dengan sewajarnya,.....
bisa jadi suatu saat dia akan menjadi musuhmu.....
Dan Bencilah seseorang dengan sewajarnya,.....
boleh jadi suatu saat dia akan menjadi kekasihmu.....(HR.At-Tirmidzi).~

sumber: dari mana-mana

Bidadari Surga - UJE

Setiap manusia punya rasa cinta,
yang mesti dijaga kesuciaanya
namun ada kala insan tak berdaya,
saat dusta mampir bertahta

kuinginkan dia,
yang punya setia.
Yang mampu menjaga kemurniaannya.
Saat ku tak ada,
ku jauh darinya,
amanah pun jadi penjaganya

Hatimu tempat berlindungku,
dari kejahatan syahwatku
Tuhanku merestui itu,
dijadikan engkau istriku

Engkaulah.....
Bidadari Surgaku

Tiada yang memahami,
sgala kekuranganku
kecuali kamu, bidadariku

Maafkanlah aku
dengan kebodohanku
yang tak bisa membimbing dirimu

Hatimu tempat berlindungku,
dari kejahatan syahwatku
Tuhanku merestui itu,
dijadikan engkau istriku

Engkaulah.....
Bidadari Surgaku

http://www.youtube.com/watch?v=J7ROe5NhZpM&list=PL09D542F19B2DACED

good man, 40 th, uje

air mataku tak juga berhenti menetes.

tadi pagi saat pulang dari beli bubur untuk anakku, dan menerima cerita ini dari orang rumah yang nonton tv subuh itu, rasanya aku salah pendengaran.
inna lillahi wa inna ilaihi roojiuun
lututku rasanya lemas. mendengar uje meninggal. kenapa?
ternyata kecelakaan naik motor dini hari tadi. ya Rabb ya Rabb.
orang baik selalu berpulang lebih cepat dari siapapun. dan usianya sama persis dengan saat suamiku meninggal dunia, juga karena kecelakaan. 40 tahun. Life starts at 40. dan mereka, the good men, memulainya di tempat yang terbaik, surga.

subhanallah, uje pernah mengalami hari-hari kelam. Allah menakdirkannya bertaubat nasuha dan bahkan menjadi salah satu prajurit pasukan, bagian dari  armada yang berdakwah di jalanNya.
alhamdulillah allahu akbar, uje meninggal dalam keadaan kehidupan yang masih baik. Allah menyelamatkannya dari cela dan fitnah dunia yang lebih lagi, seumpama kabar poligami yang masih pro kontra oleh masyarakat, korupsi, dan lain-lain fitnah dunia.

ya Allah..
rasanya masih tidak percaya. tapi aku pernah mengalaminya langsung. Allah berkehendak mengistirahatkan manusia-manusia pilihannya.

dan subhanallah...
benarlah seperti yang uje tulis sendiri di path-nya beberapa saat lalu, sebelum beliau mengalami kecelakaan itu. pada akhirnya semua akan menemukan apa yang namanya titik jenuh. dan pada saat itu, kembali pada yang terbaik. kembali kepada siapa? kepada Dia pastinya. Bismikallohumma ahya wa amuut.

subhanallah.. air mata terus mengalir.
kematiannya sungguh indah, di hari Jumat, seketika tanpa kesakitan. kematian yang mudah. semoga husnul khotimah. demikian juga semoga husnul khotimah akhir hayat kita. aamiin...

dan lihat begitu banyaknya orang yang merasa kehilangan, banyak sekali orang yang mendoakan. siapapun boleh iri betapa senangnya menjadi orang baik seperti ini. kita boleh iri. boleh.....


Behind The Scene BackPacker Naik Haik Haji


Too Good To Be True
Demikianlah gambaran perjalananku dan adik-adikku ke Tanah Suci. Di hadapan-Nya kami tertunduk malu. Betapa banyak dosa dan kealpaan kami, namun Dia dengan kasih sayangmemperjalankan kami ke tanah haramain, bertemu dengan saudara sesama muslim dari berbagai negara. 
Kisah perjalanan kami berdua kurangkai dalam novel ini. Sebuah perjalanayang tak  terlupakan. Suka, duka, tangis, tawa, dan pahit mewarnai seluruh perjalanan yang Insya Allah memperoleh ridho dan berkah. Semoga kami menjadi haji dan hajah mabrur serta mudah-mudahan diberi lagi kesempatan oleh-Nya untuk bisa kembali ke rumah-Nya, lagi, dan lagi. Amin.
Syukur tertinggi untuk yang Mahaasih, yang dari-Nya segala cahaya. Teruntuk Ayah (alm) yang mendorongku menjadi pembelajar sejati. Teruntuk Bunda atas segala doa dan pengertiannya. Teruntuk suami (alm), darinya aku belajar membumi. Teruntuk dua permata hatiku, doa dan sayangku menyertai kalian. Teruntuk guru-guruku, terima kasih untuk bimbingan, dukungan, dan kasihnya. Teruntuk seluruh perempuan, tabahlah. Teruntuk semua sahabat di komunitas, dengan pena kita berjuang untuk berkontribusi. Bismillaah.
Terima kasih tak terhingga atas kerja sama yang manis editor dan penerbit
. Juga kasih untuk ketiga adikku yang menjadi aktor dalam novel iniKemal, Neli, dan Wiya. Kalian matahariku, bintangku. Gemerlap hari-hari indah di haramain bersama kehadiran kalian. Berjanjilah mengajakku serta jika kalian berkesempatan ke sana lagi J.
Harapan saya, novel ini bisa diterima dengan baik oleh banyak pihak. Semata Allah yang berkuasa menghibur, menggugah, dan mendidik kita semua. Semua kebenaran dan pencerahan datangnya dari Allah. Untuk segala kekurangan dalam novel ini, saya memohon maaf, kritik, dan saran dari teman-teman semua

behind the scene novel AYAH, LELAKI ITU MENGKHIANATIKU


Waktu mas Edi  memberikan judul malam itu, aku langsung kebut membuat satu sinopsis. Ketika sudah jadi tiga perempat bagian, tiba–tiba terlintas cerita lain dalam kepalaku yang menurutku lebih oke dan nge-jleb. Akhirnya aku meletakkan sinopsis yang pertama dan beralih mengerjakan sinopsis kedua. Ngebut juga, karena sesuatu yang panas di dalam kepala saat itu memang harus segera dituangkan biar tidak keburu dingin. That’s it, jadi. Langsung kukirim ke email mas Edi dan minta masukannnya. Dan beliau bilang ini sudah bagus banget, serta memberikan beberapa poin penting termasuk berapa halaman seharusnya novel ini.
Setelah menyelesaikan beberapa PR lain, aku akhirnya mulai mengerjakan novel ini. Aku targetkan dalam sebulan, novel ini harus rampung ditulis. Karena cukup tebal, tadinya aku sempat bagi bab–babnya dalam file terpisah. Dan kukerjakan melompat–lompat dari satu bab ke bab lain, karena sifat pembosanku sedang mampir dan ingin melakukan semacam eksperimen. Tetapi di tengah jalan, salah satu guru menulisku mengkritik caraku, sehingga aku menyatukan beberapa penggalan–penggalan yang sudah kukerjakan dalam satu file. Semuanya ada sekitar 107 halaman. Ketika hendak kulanjutkan, tiba–tiba kepikiran untuk membuatnya semakin dramatis dengan membuat situasi bahwa anak terkecil dari tokoh utama ini masih bayi, jadi terbayangkan kerepotannya akan lebih. Karena ada baby blues dan semacamnya. Walhasil aku akhirnya harus agak sedikit membongkarnya lagi supaya sesuai dengan skenario terakhir ini.
Bismillah…semoga lancar.
Oh ya, sempat mondak mandek tidak lancar. Aku kepikiran membaca Amba lagi karena Amba sangat kuat sekali aura kesedihannya. Tapi kupikir lagi, mas Edi maunya ini bacaan popular, sedangkan Amba agak sedikit nyastra kan. Ada kumcer mas AS Laksana datang, aku baca untuk isi bensinku supaya lancar nulis. Tapi kan gaya penulisannya sungguh lain, jadi ya hanya menyumbang sedikit energy. Ada kumcer mas Benny Arnas, kubaca untuk kepentingan yang sama, mendorongku merampungkan novel ini, tapi mas Benny kan bahasanya melayu banget ya, sastrawi habis, jadi ya menyumbang sedikit. Lalu datang novel Adit, teman satu camp-ku di salah satu writing camp, kubaca langsung habis dalam setengah hari novel hampir empat ratus halaman itu dan well, kayak gini nih seharusnya aku nulisnya. Mengalir, lancar, penuh konflik, berasa aura dan emosinya, kuat karakternya, ok aku siap. Tapi kepala berat karena habis membaca segitu banyak dalam sekali duduk dan hanya selang seling sedikit kegiatan lain. Walhasil akhirnya aku istirahat tidur dulu dan tidak langsung lembur. Paginya bangun, eh malah nulis behind the scene ini. Jadi here we go, aku lanjutkan nulis novelnya setelah sholat subuh. Bismillah.
Pas sudah sampai halaman 124, tetiba aku teringat punya bagan yang kemarin – kemarin biasa kugunakan untuk merencanakan secara detail novelku. Terpikir untuk menggunakan bagan tersebut di tengah–tengah proses ini, dengan tujuan supaya di bagian yang mandeg ini aku bisa jadi lebih lancar. Tapi agak ribet juga ya kalau menggunakan bagan di tengah jalan begini. Kayaknya jadi tidak praktis dan musti makan waktu untuknya. Jadi kuputuskan untuk kembali menyentuh dan melanjutkan naskah ini dengan langsung terjun di dalamnya lagi. Dan mungkin mengintip dan memakai bagan itu pada bagian yang dibutuhkan saja.
Lalu ternyata aku mengalami kesulitan lagi. Benar–benar stuck. Tanpa malu dan ragu, aku mencari tahu tips melalui masalahku ini dengan bertanya pada seorang novelis yang novelnya jadi tiap sebulan sekali. Apa rahasianya. Kemudian disarankan untuk aku kembali mengerjakan per bab. Jadi aku lepas lagi per bab itu dari naskah utuh. Kukerjakan  per babnya. Setiap satu bab selesai, kupasang ke dalam file yang mengangkut seluruh bab. Demikian, satu persatu sehingga akhirnya keseluruhan cerita itu komplit. 

praktekkin writing while sleeping

pas kemarin aku jatuh sakit dari minggu malam, aku banyak menghabiskan waktuku untuk tidur. jangankan pegang laptop untuk melanjutkan naskah-naskahku, megang ipad atau ponsel saja untuk membalas mention2 dan sms2, aku nggak kuat. nyerah.

jadilah aku mengalami banyak mimpi dalam tidurku itu.  kalau miturut ilmunya john gardner, bisa digunakan sebagai raw material yang bisa disusun menjadi sebuah cerita.
baiklah, ini mesti dicoba. meskipun sebenarnya mimpi2nya agak kacau balau. aku ketemu dengan banyak orang yang sudah mati. nenekku, ayahku, suamiku (meski yang ini tidak tampak, tapi aku dengar pesannya)

*by the way, gegara sakit ini kayaknya aku urung pergi seru-seruan di kampus baru sahabatku itu. hiks. nggak apa-apalah. smoga mei mendatang ada kesempatan utk ke sana ya. aamiin

Cerita Cinta Kota


Kota dan desa dua tempat yang bertolak belakang. Kota menawarkan beragam modernitas, sedangkan desa menyajikan nostalgia keindahan pemandangan alam dan nilai-nilai tradisional. Kota dan desa sulit dipertemukan. Kerap lebih terjadi benturan dibandingkan perdamaian.
Hidup di kota identik dengan waktu yang tunggang-langgang. Waktu adalah uang. Aktivitas warga mudah dikonversikan dalam  berapa jumlah nominal uang yang dapat terkumpul. Desa punya cerita sederhana. Warga menikmati ritme waktu dengan segala kepolosan dan kebersahajaan.
Buku Cerita Cinta Kota menyajikan untaian kisah yang mewakili cerminan dari pelaku utama. Mereka berkisah tentang kota dengan segala keunikannya. Ada 10 kota yang menjadi latar cerita bagi para penulisnya. 10 kota dengan beragam penanda. 10 kota dengan suasana dan manusia yang khas. 10 kota tersebut terdiri dari Demak, Malang, Palembang, Palangkarya, Depok, Semarang, Probolinggo, Bojonegoro, Jakarta dan Bali.
Buku ini berawal dari inisiatif Plotpoint Publishing untuk menerbitkan cerita-cerita yang menghidupkan kota-kota tempat tumbuh dan berkembang penghuninya.
Buku Cerita Cinta Kota yang hadir di tangan pembaca merupakan kumpulan cerpen dari pemenang kompetisi penulisan. Ada 10 penulis yang kisahnya menjadi pemenang. Mereka adalah Dian Nafi, Nita Aprilia, Dita Hersiyanti, Fakhrisina Amalia Rovieq, Rizky Suryana Siregar, Ismaya Novita Rusady, Rina Wijaya, Mario Mps, Noury, Winda Az Zahra. Naskah 10 pemenang dilengkapi dengan cerpen dari novelis Raksasa dari Jogja.

Dari buku Cerita Cinta Kota pembaca dapat mengetahui betapa beragam kota-kota di Indonesia. Malang dengan ciri khas buah apel, Semarang dengan penanda Simpang Lima dan Lawang Sewu, Demak dengan suasana grebeg besar, Bali dengan tradisiomed-omedan, Palembang dengan penanda Jembatan Ampera dan Jakarta dengan Transjakarta. Kota dan penandanya menjadi latar cerita tokoh. Tokoh utama dengan beragam latar belakang mampu meraih cinta dengan penghias kota masing-masing. Ada kisah cinta sederhana antara sopir jip dan wisatawan, teman dari kecil, pasangan berbeda usia, pasangan yang terpaksa kandas cintanya. Kisah para tokoh dalam buku menghadirkan makna. Makna kesetiaan, pengertian, kesabaran dan keikhlasan.
Buku Cerita Cinta Kota sudah menghadirkan kisah-kisah keunikan kota dengan pelaku utama di dalamnya. Kota dan manusia bagai sebuah entitas yang saling melengkapi. Kota semakin bermakna berkat kerja keras manusia. Manusia perlu wadah untuk mereka melakukan aktualisasi hidup. Cerita Cinta Kota mampu memberikan alternatif pemahaman bahwa kota tak selalu kejam, namun kota pun mampu mendukung manusia di dalamnya untuk menemukan makna dan merasakan cinta yang sesungguhnya.

sumber/by: bona ventura

ROMAN

Pengertian Roman

Roman adalah suatu jenis karya sastra yang merupakan bagian dari epik panjang. Dan dalam perkembangannya roman menjadi suatu karya sastra yang sangat digemari. Seperti yang dikemukakan Ruttkowski & Reichmann (1974 : 37) bahwa : “Der Roman hat sich seit den 16. Jahrhundert zur beliebigsten epischen Großform in der Prosa entwickelt.” 
Sebagai karya sastra epik panjang, roman berisi paparan cerita yang panjang yang terdiri dari beberapa bab, di mana antara bab satu dengan yang lain saling berhubungan. Biasanya bercerita tentang suatu tokoh dari lahir sampai mati.
Kata roman sendiri berasal dari bahasa Perancis “romanz” abad ke-12, serta dari ungkapan bahasa Latin yaitu “ lingua romana”, yang dimaksudkan untuk semua karya sastra dari golongan rakyat biasa.(Matzkowski,1998:81).
Roman adalah suatu karya sastra yang disebut fiksi. Kata fiksi di sini berarti sebuah karya khayalan atau rekaan. Dengan kaitannya roman sebagai karya yang fiksi, Goethe mengatakan :
“Der Roman soll uns mögliche Begebenheiten unter unmöglichen oder beinahe unmöglichen Bedingungen als wirklich darstellen. der Roman ist eine subjective Epopöe, in welcher der Verfasser sich die Erlaubnis ausbittet, die Welt nach seiner Weise darzustellen” (Neis, 1981:13).

“Roman (seharusnya) mengambarkan peristiwa yang mungkin terjadi dengan kondisi yang tidak memungkinkan atau hampir tidak memungkinkan sebagai sebuah kenyataan. Roman adalah sebuah cerita subjektif, di dalamnya pengarang berusaha menggambarkan dunia menurut pendapatnya sendiri”.

Dari pengertian di atas dapat dittarik kesimpulan bahwa roman adalah sebuah karya gambaran dunia yang diciptakan oleh pengarangnya, yang di dalamnya menampilkan keseluruhan hidup suatu tokoh beserta permasalahannya, terutama dalam hubungan dengan kehidupan sosialnya.

Jenis Roman
Karya sastra yang akan dibahas oleh penulis adalah Bildsdungroman. Agar dapat memahami sebuah roman, kita harus bisa membedakannya dari roman-roman jenis lain. Roman diklasifikasikan ke dalam kelompok-kelompok berdasarkan pengutamaannya. Ruttkowski dan Reichman (1974 :23), mengatakan bahwa jika dalam sebuah roman lebih diutamakan penggambaran seseorang atau beberapa orang tokoh, maka roman itu disebut Figurenroman; atau penggambaran sebuah dunia, disebut Raumroman; atau pembentukan suatu tindakan yang menarik disebut Handlungsroman.
Berdasarkan penitikberatan cerita, roman dibagi dalam :
a. Roman Kriminal dan Detektif ( Krimi –und Detektivroman)
Sebuah roman kriminal menitikberatkan ceritanya kepada psikologi seorang penjahat, sedangkan dalam roman detektif lebih kepada teka-teki yang harus dipecahkan oleh detektif dengan kemampuan melacaknya. 
b. Roman Petualangan ( Abendteuerroman)
Pada roman petualangan sang tokoh utama, baik sengaja maupun tidak sengaja terjebak dalam berbagai macam petualangan yang kebanyakan satu sama lain tidak berhubungan. Roman petualangan merupakan jenis sastra yang disukai pada segala zaman karena ceritanya yang menegangkan.
c. Roman Psikologi ( psychologischer Roman )
Dalam “Schüler Duden-Die Literatur” (1989:66) dijelaskan bahwa roman psikologi adalah jenis roman yang sedikit sekali menceritakan tentang perbuatan tokohnya, tetapi lebih kepada bagaimana keadaan batin tokoh. Pengarang lebih tertarik pada penggambaran kejiwaan dan karakter seorang manusia.

d. Roman Pencintaan (Liebesroman)
Dalam buku “Sachwörterbuch der Literatur” (Wilpert, 1989:513), dijelaskan sebagai berikut :
1. Bahwa dari segi bahan cerita, tema utama roman ini adalah percintaan zaman Romantik 
2. Dalam artian yang lebih sempit, roman percintaan adalah jenis roman picisan (Trivialroman) untuk pembaca wanita, yang kebanyakan menyangkut sisi kepahlawanan wanita yang klise dan idealis dengan gaya bahasa picisan sampai kepada akhir bahagia yang tidak dapat dihindarkan dan tidak realistis(Wilpert, 1989:513).
e. Roman Hiburan (Unterhaltungsroman)
Roman ini dibuat untuk memuaskan keinginan para pembaca terhadap hiburan. Dibandingkan dengan yang lebih berkelas (gehobene Literatur), jenis roman ini tidak bercerita tentang perselisihan yang mendalam dengan permasalahan yang mengharukan seperti juga melalui bentuk-bentuk baru pada gaya dan penggambaran, agar tidak menyulitkan pembaca untuk mengerti jalan ceritanya. Kebanyakan roman ini berakhir dengan bahagia.
f. Roman Anak dan Remaja (Kinder-und Jugendroman)
Tema, bahan cerita, dan bentuk roman ditulis untuk anak dan remaja, dan biasanya terdapat aspek untuk menghibur, mengajar dan mendidik. Dalam roman ini biasanya disertai dengan dengan gambar ilustrasi yang bertujuan agar pembaca mudah memahami isi cerita yang disajikan. Prinsip dasar roman ini adalah adaptasi/asimilasi : kalimat – kalimat yang terdapat dalam roman harus disesuaikan dengan psikologi anak dan remaja.(Groschenek, 1979 :7)
g. Roman pendidikan (Bildsdungsroman)
Tema dan isi cerita dalam roman ini menitik beratkan pada perkembangan pendidikan tokoh utama dalam cerita. Oleh W. Dilthey roman ini disebut roman zaman klasik dan romantik. Pendidikan mempunyai arti “ kemanusiaan yang sempurna (vollendeter Humanität). Roman pendidikan dimaksudkan untuk roman yang bercerita tentang perkembangan kejiwaan dan karakter seorang manusia (1989 : 66). 
Menurut Metzler Lexikon Literatur roman terbagi atas beberpa bagian yang besar yaitu berdasarkan materi, berdasarkan tema, berdasarkan teknik penceritaan, berdasarkan sasaran, dan berdasarkan tuntutan.
a. Roman berdasarkan materi (Roman nach Stoffen und dargestelltem Personal) : roman petualangan (Abendteuerroman), roman pahlawan (Ritterroman), roman kriminal (Kriminalroman), roman perjalanan (Reiseroman)
b. Roman berdasarkan tema (Roman nach Themen und behandelten Problemen) : roman percintaan (Liebesroman), roman pendidikan (Erziehungsroman), roman sosial (Gesellschaftsroman)
c. Roman berdasarkan teknik penceritaan (Roman nach dem Erzählverfahren) : roman orang pertama (Ich-Romane), Roman orang kedua (Er-Romane)
d. Roman berdasarkan sasaran (Roman nach dem Addresatten) : roman perempuan (Frauenroman), roman remaja (Jugendmädchenroman), roman anak-anak (Kinderroman)
e. Roman berdasarkan tuntutan (Roman nach Anspruch und Verfahrenweise) : roman picisan (Trivialroman), roman hiburan (Unterhaltungsroman)

Unsur Intrinsik dalam Roman
Dalam mengkaji suatu karya sastra, kita tidak akan bisa lepas dari apa yang membangun suatu karya sastra itu sendiri, yaitu unsur ekstrinsik dan unsur intrinsik. Unsur intrinsik dalam suatu karya sastra, dalam hal ini adalah roman, yaitu unsur – unsur yang terdapat di dalam karya sastra itu sendiri yang akan ditemukan oleh para pembaca seperti tema, alur, tokoh dan penokohan, gaya bahasa, sudut pandang, dan latar, sedangkan unsur ekstrinsik sendiri adalah unsur yang mempengaruhi karya sastra namun tidak menjadi bagian di dalamnya biografie pengarang, keadaan politik, dan ekonomi.
Berikut akan dijabarkan unsur – unsur intrinsik yang membangun suatu roman untuk menjadi suatu karya sastra yang utuh.
Tema
Dalam suatu karya sastra pasti ada sesuatu yang ingin disampaikan oleh pengarang melalui hasil karyanya. Sesuatu yang berupa gagasan atau ide yang mendasari karya sastra tersebut disebut tema.
Der Begriff “Thematik” bezeichnet den eigentlichen Aussagegehalt, das, was man gemeinhim “Sinn”, “Gehalt”, “Problematik” oder gelegenlicht gar “Anliegen” nennt (Gutzen, 1997:13).


Definisi “Thematik” (isi pokok pembicaraan/uraian/karangan; Heuken, 1993:505) menunjukkan suatu majna karya sastra yang sesungguhnya yang biasa disebut suatu “arti”, “isi”, “permasalahan”, atau terkadang disebut juga sebagai “keinginan”. 

Jenis roman yang akan dibahas dalam penelitian ini adalah Bildsdungroman (roman pendidikan) yang menitikberatkan tema pada perkembangan dari tokoh utama baik secara kejiwaan dan batiniah.
Alur
Alur meliputi bahan cerita dari roman, maupun isi cerita dari roman, serta struktur bangunan cerita. Di dalam struktur bangunan cerita dapat dilihat isi cerita yang terangkai dari unsur – unsur cerita. 
Pada dasarnya sebuah cerita tersusun dari beberapa rangkaian peristiwa. Dan peristiwa itu sendiri dapat diartikan sebagai, “peralihan dari suatu keadaan ke keadaan lain”(Luxemburg dalan Nurgiyantoro, 1995 : 117), sedangkan kaitan antarperistiwa yang menimbulkan sebab akibat disebut alur atau plot.
Untuk menghasilkan suatu cerita yang bersifat padu dan utuh diperlukan alur yang memiliki sifat keutuhan dan kepaduan pula. Menurut Aristoteles, untuk memenuhi kriteria tersebut sebuah alur harus terdiri dari “tahap awal (beginnign), tahap tengah (midle), dan tahap akhir (end)” (Abrams dalam Nurgiyantoro, 1995 : 142)

sumber: http://sobatbaru.blogspot.com/2010/06/pengertian-roman.html