Takdir Yang Terulur


TAKDIR YANG TERULUR
Oleh Dian Nafi

Punggungku langsung menegak. Seluruh inderaku bangkit. Radar yang sudah lama tertutup rimbun ketiadaan harapan, seakan menyala kembali.  Berita kecil yang mengejutkan,
Mobil sedang berhenti di ujung gang menuju rumah iparku ketika adik laki – lakiku yang memegang kemudi membawa berita mengejutkan itu. Kami tengah menuju perjalanan menuju Solo. Menghadiri pernikahan adik ipar dari pamanku. Dari obrolan tentang sang calon pengantin sampai akhirnya membicarakan dua saudaranya yang lain. Hingga kemudian kenyataan sedih itu tercetus keluar dari mulut adikku.
“Kakangnya, Amat, padahal belum juga punya anak. Kata om Munir, justru Amat yang punya masalah pada kesuburannya” 
Deg !
Ada yang menggedor dadaku kencang. Sembilan tahun pernikahan dan Amat masih belum juga dikaruniai keturunan. Terbersit sewajah kecewa milik Amat, seseorang yang amat kukasihi sepuluh tahun lalu. Rasa kasihan pada istrinya pun menyelinap dalam dadaku.
Adik laki – lakiku memang dalam dua tahun terakhir kuliah spesialis di Solo, tapi dia tidak pernah cerita apapun sebelumnya. Aku tidak pernah mengikuti perkembangan dan kejadian mengenai Amat,  mantan pacarku yang kutinggal menikah karena aku dijodohkan oleh orang tuaku waktu itu.
Kami sempat berjumpa lagi beberapa tahun lalu pada acara pernikahan sepupuku. Amat mengejar agar bisa berdekatan denganku karena aku menjadi single lagi sejak kematian suamiku. Tapi karena dia beristri, tentu saja aku menghindarinya.
“Kalau yang seperti ini, laki – laki yang tidak bisa punya anak sendiri. Mungkin bisa” sambar ibu.
Mungkin bisa menjadi ayah bagi anak – anakku, maksud ibu demikian. kami pernah membahas  tentang calon suami yang paling tepat untukku. Bukan duda cerai, karena rawan kembali ke istri lamanya. Duda punya anak, pasti aku tambah repot. Yang paling pas adalah duda mati tanpa anak atau lajang yang tidak subur.
Tak kusangka restu ibu akhirnya datang untukku dan Amat. Setelah sepuluh tahun maksud baik Amat ditolak ibu karena dia lebih muda dari aku dan tentu saja belum mapan. Tapi rupanya Tuhan berkehendak lain. Setelah sepuluh tahun berlalu, kesempatan bersatu itu mungkin datangnya saat ini.
“Tapi jangan godain dia ya” pesan ibu membuatku terkejut.
Apa aku sedemikian hinanya sehingga harus genit menggoda suami orang.
“Ibu, nih. Aku bahkan tadinya sama sekali tidak kepikiran ini lho bu” membela diriku sedemikian rupa. Karena meski memang ada rasa ingin melihat tampangnya lagi, tapi tak terbersit sedikitpun niat menggodainya. Apalagi merebut dia dari istrinya. Aku sudah tobat. Sejak tiga teman perempuanku curhat padaku karena diselingkuhi suaminya.
“Yo wis, ibu kan tugasnya Cuma mengingatkan” ibu menurunkan nada suaranya.
Akupun menarik kepalaku dari menjorok ke bagian tengah mobil tempat ibu duduk di jok tengah. Kembali mendlosor di jok belakang. Menikmati lamunanku sendiri.
Amat. Mantanku yang cakepnya mirip Primus Yustisio. Menjadi ayah untuk anak – anakku? Segera terbayang kejadian beberapa tahun lalu, saat dia berusaha mendekati anak – anakku ketika kami kembali bertemu setelah dia menikah dan aku menjanda. Meski dia tampak masih cinta padaku, tak terbersit pikiran akan menjadi istri keduanya karena itu pasti melukai hati istrinya yang cantik. Tapi keadaan sekarang lain, istrinya dan banyak orang lain juga mungkin tidak akan keberatan. Karena Amat memang membutuhkan anak, yang tak bisa dia dapatkan dari benihnya sendiri.
“Tapi dia tidak impoten kan?” tanya ibu tiba – tiba pada adik lelakiku yang berada di belakang kemudi.
Aduh, ibu… kok begitu sih pertanyaannya. Melecehkan sekali, gerutuku dalam hati. Meski sempat juga hatiku berdesir, masak iya impoten? Seingatku dulu, sepuluh tahun yang lalu, Amat selalu menegang, kupingnya memerah, tiap kubisikkan kata lembut atau kuelus dekat pinggangnya kalau aku sedang membonceng atau kami duduk bersisian. Tapi tidak tahu juga dengan ‘anunya’ ya. Aku tidak pernah menengok dan tentu tidak sopan untuk bertanya, apalagi mencoba. Astaghfirullahal adziim. Meskipun aku badung dan tengil, aku masih tahu batas – batas lah. Tapi kalau impoten sih, aku juga pikir – pikir kalau aku jadi istri keduanya. Atau malah enggak ya? Toh kami dulu pernah punya cinta, mungkin sampai sekarang cinta itu masih terjaga karena belum sungguh – sungguh sampai. Kalau cinta, tentu tidak akan jadi masalah impoten atau tidak. Atau justru jadi masalah? Aku tak tahu, karena almarhum suamiku dulu tidak impoten.
Untung adikku menjawab lantang “ Tidak impoten, bu”
Syukurlah, aku tersenyum. Dan merasakan lega dalam hati yang tadi sempat ciut. Adikku mungkin melihat senyumku dari cermin spion depan. Aku tidak merasa keberatan sama sekali. Aku tahu adikku menginginkan kebahagiaan untukku. Kukira, sejak kami lahir berdekatan, hanya selisih satu setengah tahun. Dulu dia bahkan tidak keberatan atas hubunganku dengan siapa saja, termasuk dengan Ama. Adikku hanya ingin melihatku bahagia. Hanya saja dia seringkali mengalah dengan kekerasan kehendak ibu. Dan ibu menyingkirkan Amat dari kandidat calon menantu, meski dengan baik – baik Amat datang sepuluh tahun yang lalu untuk melamarku.
Materialisme, hedonism dan semacamnya nyata –  nyata memisahkan hubungan kasihku dengan Amat waktu itu. Dan sekarang seolah – olah semesta berpihak pada kami kembali. Amat pastilah telah mapan. Aku membutuhkan teman, dan dia membutuhkan anak. Kami akan klop.

**
Memasuki kota Solo, aku jadi teringat cerpenku yang kubuat waktu itu. Judulnya The Young Man and The Old City. Cerpen itu yang membawaku menjadi salah satu yang terpilih untuk ikut workshop cerpen Kompas. Dan bahkan telah kukembangkan menjadi sebuah novel dan sedang menunggu keputusan dari penerbit. Mengisahkan tentang pertemuanku kembali dengan Amat. Iya, Amat yang sama. Yang hendak ketemu ini nanti. Kutulis juga berdasarkan kisah nyata. Hanya saja dalam cerpen itu akhirnya lucu juga sedih. Karena Amat yang kukira masih menungguku dan akan menjadi tempat berlabuhku setelah kematian suamiku, ternyata telah menikah.
Kali ini akan lain ceritanya. Aku pasti akan menuliskan cerita ini. Ketar  - ketir aku menunggu scene – scene yang mungkin akan terjadi antara aku dan Amat. Di pesta pernikahan adiknya ini nanti, mungkin kami akan saling bertegur sapa biasa. Lalu dia akan meminta nomer telponku yang baru, karena nomer telponku lama yang dia punya sudah hangus lupa kuisi ulang. Beberapa hari kemudian mungkin kami keep in touch lagi. Dia curhat tentang Sembilan tahun pernikahannya tanpa anak. Dia merindukan anak – anak hadir dalam kehidupannya. Lalu dia melamarku lagi. Dan aku tanpa ragu akan menerimanya kali ini. Karena aku tahu adikku dan ibu akan menyetujui hubungan baru dengan mantanku ini.
Membayangkannya membuat pipiku menghangat. Geletar cinta masih mengalir dalam jiwaku. Bersama getar mobil yang melambat. Karena kami sudah memasuki pelataran Wisma Batari tempat diselenggarakannya perhelatan ini.
**
Kami masuk ke dalam gedung lewat pintu belakang, karena semua tempat sudah penuh dengan tamu undangan. Maklum kami datang dari jarak delapan puluh kilometer. Seluruh keluarga yang telah duluan hadir menyambut kedatangan kami.
Kakak perempuan Amat langsung memelukku dan berterima kasih karena aku bisa datang. Suaminya yang adalah pamanku menjabat tanganku, masih dengan kaku. Sama seperti dulu. Dia yang berada di garda paling depan, tidak menyetujui hubunganku dengan adik iparku. Alasannya aku tidak tahu persis. Mungkin karena dia takut seorang player seperti aku akan mematahkan hati adik iparnya sehingga membuat malu dirinya sebagai pamanku. Dan kenyataannya memang itulah yang kulakukan dulu, sepuluh tahun yang lalu. Sekarang ini tentu saja beda, aku tidak akan mematahkan hatinya lagi. Aku akan menyambung dan memperbaiki hati yang dulu kuretakkan. Akan kubahagiakan dirinya dengan kehadiranku kembali bersama anak – anak yang telah dia rindukannya dalam kehidupan pernikahan.
Belum kutangkap sosoknya. Aku juga tidak buru –  buru mencari. Akan kubiarkan dia yang menemukanku. Jadi aku dan anakku berjalan ke beberapa sudut ruangan. Mengambil foto – foto. Adik lelakinya Amat yang duduk di pelaminan dengan diapit dua pasang orang tua. Salah satunya adalah dulu calon mertuaku tetapi wurung atau gagal waktu itu. Dan kini mungkin akan jadi calon mertuaku lagi. Menyadari ini, pipiku kembali menghangat. Mungkin juga memerah dadu, entahlah.
Seusai mengambil foto – foto, aku duduk bergabung dengan keluarga besar kami di tempat khusus di pojok dekat pintu keluar ruangan utama Wisma Batari. Di sayap kiri gedung. Ada sekitar empat sap kursi dan aku duduk di bagian paling belakang supaya tidak langsung terlihat dan tampil menonjol.
Lalu kulihat sosok itu. Amat. Yang masih ganteng dan seksi seperti dulu. Dengan lesung pipit dan gigi gingsulnya. Aih, aku tiba – tiba jadi malu dan gelisah. Jadi kututupi wajahku dengan kedua telapak tanganku. Menunduk. Dan ketika wajahku terangkat kembali dengan kedua telapak tangan tak menutupinya, aku tak melihat sosok Amat lagi. Mungkin pergi ke backstage, daerah belakang ruangan utama. Tapi aku tidak mengejarnya, aku ingat pesan ibu.
Sekilas kemudian kulihat dia kembali. Berlalu dengan cepat menuju ruangan utama di depan pelaminan. Membawa dua lelaki dengan dua pikul  penuh berisi berbagai alat rumah tangga yang hendak diperebutkan oleh yang hadir di perhelatan ini. Sebagai satu rangkaian adat yang mendapat sambutan seru para tamu undangan.
Amat keluar lagi beberapa waktu seusai acara keroyokan itu selesai. Mungkin mengantar dua lelaki itu kembali ke backstage. Aku lagi – lagi berusaha menutupi wajahku, dengan berpura – pura pusing. Kedua telapak tangan dan jempolku bergerak memijit pelipisku sendiri. Seiring dengan itu sebenarnya jantungku berdebar kencang. Kuatir dia melihatku dan menyapaku. Aku ingin sedikit menunda pertemuan kami kembali. Menahan agar debaran ini lebih lama mempermainkan hatiku sendiri.
Tapi yang terjadi kemudian benar – benar mengejutkan hati, jiwa dan jantungku. Amat kembali dengan menggendong bayi, dengan seorang perempuan muda berjalan di belakangnya. Aku lupa – lupa ingat, tapi yakin kalau itu istrinya. Tapi, siapa bayi yang digendongnya itu?
Aku bertanya pada Ulin, sepupuku, yang dulu juga kutanyai sewaktu peristiwa yang kurekam menjadi cerpen The Young Man And The Old City itu.
“Itu bayi siapa, Lin? Katanya dia tidak punya anak?” setengah berbisik aku berhati – hati memilih kalimatku. Sembari menyiapkan mentalku lagi.
“Itu anak angkat mereka kayaknya. Baru hari ini tadi mereka mengambilnya”
Deg!
Plash !
Aku langsung menunduk lesu. Harapanku untuk bersama kembali dengan Amat dan mendapatkan ayah baru bagi anak – anakku kandas. Dengan dia mengadopsi anak, berarti dia tidak membutuhkan anak – anakku lagi.
Ini seperti de javu.
Engkau masihlah laut juga sekaligus langit. Aku tenggelam olehmu, namun engkau tak pernah juga tergapai.

0 komentar:

Posting Komentar