Siapa Bilang Pacaran Nggak Boleh?

Waktu aku mendapatkan TOR even ini dari panitia, sebenarnya sedikit geli juga. Eh kok ya setelah dua puluh tahun aku berlalu dari masa-masa itu, saat menjadi ketua rohis SMA, juga fakultas teknik di kampus. Materi dan tema itu lagi yang diangkat? :)

Ternyata oh ternyata. Memang masalah cinta percintaan ini masih abadi sepanjang masa. Kapan saja dan di mana saja. Dan kalau kita membelalakkan mata saat ini, mereka yang galau akibat virus merah jambu ini semakin ke sini sini, makin 'menyeramkan'.

Dulu pacaran bukan seperti yang secara awam diartikan seperti sekarang. Surat-suratan, pacok-pacokan atau seloroh-seloroh juga disebut pacaran. Tapi pacarannya anak sekarang tambah ngeri. Daaan.. mereka yang berjilbab bahkan ikut-ikutan tidak malu-malu lagi seperti dulu. Naudzubillahi min dzalik.
Jadi judul acara bedah buku dan motivasi ini dituliskan seperti itu, dengan maksud untuk menarik mereka yang bahkan juga sedang berpacaran. Agar mereka datang ke acara ini dan mendapatkan manfaatnya. Terinspirasi bahwa Pacaran itu boleh kok....asal dengan pasangan yang halal.  Atau taaruf tapi dengan cara yang baik dan syar'i.  Otomatis buat yang belum pacaran tapi pingin, even ini memberi rambu-rambu. Oh ya, saya juga bedah novel Ketika Jatuh Cinta di sini :)

Alhamdulillah ada sekitar 200 peserta yang hadir di lantai 9 Kampus Unisbank Jl. Pandanaran Mugas Semarang. Saya  bersama bu Endah dosen Psikolog Undip menjadi nara sumbernya. (beliau ini yang dulu saya undang menjadi narasumber jaman saya kuliah. eh sekarang malah duduk berdampingan sama-sama jadi nara sumber. ajaibnya waktu)

Daripada pacaran, mending salurkan energi merah mudanya untuk menulis. Menulis apa saja. Iya kan?
Senyum peserta dari sisi kiri

Semoga berkah manfaat. Ayo pacaran..tapi dengan yang halal :)

Setiap orang punya kisah yang bisa dibagikan dalam cerita baik itu cerpen, novel atau memoir.
Yuk menulis! *provokasi saya :D


Sunan Bayat Murid Sunan Kalijogo

Sunan Bayat

SEJARAH & NASAB SUNAN BAYAT & SUNAN PANDANARAN

by AZMAT KHAN AL-HUSAINI (Pattani, Royal Kelantan, Walisongo Family & Relatives etc.) on Sunday, July 18, 2010 at 10:28pm
"Tulisan ini mencoba menjelaskan "versi" sejarah & nasab Sunan Bayat & Sunan Pandanaran yang berdasarkan penelitian penulisnya, dianggap lebih mendekati kebenaran & kevalidan"

Oleh : Habibullah Ba-Alawi Al-Husaini
Dalam Forum diskusi Group Majelis Dakwah Wali Songo

[Data Sejarah Dari catatan Al-Habib Bahruddin Azmatkhan Ba'alawi tahun 1979]



Data Tentang Sunan Bayat & Sunan Pandanaran :

I. Nama asli Sunan Bayat : Sayyid Maulana Muhammad Hidayatullah

Nama Lain / Gelar-gelar Sunan Bayat adalah:
1. Pangeran Mangkubumi,
2. Susuhunan Tembayat,
3. Sunan Pandanaran (II), [Kata-kata Pandanaran juga berasal dari bahasa Jawa Kawi yaitu Pandan arang = artinya kota Suci]
4. Wahyu Widayat

Beliau Hidup pada masa Kesultanan Demak dan Giri Kedathon (Pad abad ke-16 M, di era Kesultanan Demak tersebut, Jabatan penasehat Sultan dipegang oleh Sunan Giri, Dan Sunan Giri mendirikan Kerajaan di daerah Giri Gresik dengan nama Giri Kedathon dan merupakan Kerajaan bagian dari kesultanan Demak)

Makam beliau terletak di perbukitan ("Gunung Jabalkat" berasal dari kata Jabal Katt artinya Gunung yang tinggi dan jauh ) di wilayah Kecamatan Bayat, Klaten, Jawa Tengah dan masih ramai diziarahi orang hingga sekarang.


II. Ayah Sunan Bayat atau Sunan tembayat adalah Sayyid Abdul Qadir yang lahir di Pasai, putra Maulana Ishaq. Beliau diangkat dengan arahan Sunan Giri yang merupakan saudara seayahnya untuk Menjadi Bupati Semarang yang pertama, dan bergelan Sunan Pandan arang.

Beliau lantas berkedudukan di Pragota, yang sekarang adalah tempat bernama Bergota di kelurahan Randusari, Semarang Selatan. Dahulu Pragota berada sangat dekat dengan pantai, karena wilayah Kota Lama Semarang merupakan daratan baru yang terbentuk karena endapan dan proses pengangkatan kerak bumi. Tanah Semarang diberikan kepada Pandan Arang oleh Sultan Demak. Beliau wafat di Kelurahan Mugassari Semarang Selatan.


Sunan Bayat

SEJARAH & NASAB SUNAN BAYAT & SUNAN PANDANARAN
by AZMAT KHAN AL-HUSAINI (Pattani, Royal Kelantan, Walisongo Family & Relatives etc.) on Sunday, July 18, 2010 at 10:28pm
"Tulisan ini mencoba menjelaskan "versi" sejarah & nasab Sunan Bayat & Sunan Pandanaran yang berdasarkan penelitian penulisnya, dianggap lebih mendekati kebenaran & kevalidan"

Oleh : Habibullah Ba-Alawi Al-Husaini
Dalam Forum diskusi Group Majelis Dakwah Wali Songo

[Data Sejarah Dari catatan Al-Habib Bahruddin Azmatkhan Ba'alawi tahun 1979]

Data Tentang Sunan Bayat & Sunan Pandanaran :

I. Nama asli Sunan Bayat : Sayyid Maulana Muhammad Hidayatullah

Nama Lain / Gelar-gelar Sunan Bayat adalah:
1. Pangeran Mangkubumi,
2. Susuhunan Tembayat,
3. Sunan Pandanaran (II), [Kata-kata Pandanaran juga berasal dari bahasa Jawa Kawi yaitu Pandanarang = artinya kota Suci]
4. Wahyu Widayat

Beliau Hidup pada masa Kesultanan Demak dan Giri Kedathon (Pad abad ke-16 M, di era Kesultanan Demak tersebut, Jabatan penasehat Sultan dipegang oleh Sunan Giri, Dan Sunan Giri mendirikan Kerajaan di daerah Giri Gresik dengan nama Giri Kedathon dan merupakan Kerajaan bagian dari kesultanan Demak)

Makam beliau terletak di perbukitan ("Gunung Jabalkat" berasal dari kata Jabal Katt artinya Gunung yang tinggi dan jauh ) di wilayah Kecamatan Bayat, Klaten, Jawa Tengah dan masih ramai diziarahi orang hingga sekarang.


II. Ayah Sunan Bayat atau Sunan tembayat adalah Sayyid Abdul Qadir yang lahir di Pasai, putra Maulana Ishaq. Beliau diangkat dengan arahan Sunan Giri yang merupakan saudara seayahnya untuk Menjadi Bupati Semarang yang pertama, dan bergelan Sunan Pandan arang.

Beliau lantas berkedudukan di Pragota, yang sekarang adalah tempat bernama Bergota di kelurahan Randusari, Semarang Selatan. Dahulu Pragota berada sangat dekat dengan pantai, karena wilayah Kota Lama Semarang merupakan daratan baru yang terbentuk karena endapan dan proses pengangkatan kerak bumi. Tanah Semarang diberikan kepada Pandan Arang oleh Sultan Demak. Beliau wafat di Kelurahan Mugassari Semarang Selatan.



Jadi Sayyid Abdul Qadir adalah Sunan Pandan arang, jabatannya Bupati Semarang, Gelarnya adalah Maulana Islam, lahir di Pasai, wafat di Semarang.

Gelar-gelar Sayyid Abdul Qadir bin Maulana Ishaq :
1. Ki Ageng Pandan Arang, bupati pertama Semarang.
2. Sunan Pandanaran 1
3. Maulana Islam
4. Sunan Semarang

III. Ibu Sunan Bayat atau istri Sunan Pandanaran I bernama Syarifah Pasai adik Pati Unus @ Raden Abdul Qadir (Mantu Raden Patah Demak) putra Raden Muhammad Yunus dari Jepara putra seorang Muballigh pendatang dari Parsi yang dikenal dengan sebutan Syekh Khaliqul Idrus @ Abdul Khaliq Al Idrus bin Syekh Muhammad Al Alsiy (wafat di Parsi) bin Syekh Abdul Muhyi Al Khayri (wafat di Palestina) bin Syekh Muhammad Akbar Al-Ansari (wafat di Madina) bin Syekh Abdul Wahhab (wafat di Mekkah) bin Syekh Yusuf Al Mukhrowi (wafat di Parsi) bin Imam Besar Hadramawt Syekh Muhammad Al Faqih Al Muqaddam.


IV. Nasab Sunan Bayat & Sunan Pandanaran I :

Ada berbagai versi yang beredar ttg Nasab Sunan Pandanaran, sebagian besar babad menyatakan bahwa ia adalah putra dari Pati Unus @ Panembahan Sabrang Lor (sultan kedua Kesultanan Demak) yang menolak tahta karena lebih suka memilih mendalami spiritualitas. Posisi sultan ketiga Demak kemudian diberikan kepada pamannya. Pendapat lain menyatakan bahwa ia adalah saudagar asing, mungkin dari Arab, Persia, atau Turki, yang meminta izin sultan Demak untuk berdagang dan menyebarkan Islam di daerah Pragota. Izin diberikan baginya di daerah sebelah barat Demak. Cerita lain bahkan menyebutkan ia adalah putra dari Brawijaya V, raja Majapahit terakhir, meskipun tidak ada bukti tertulis apa pun mengenainya.

Berbagai versi di atas tidak dapat dipertanggung jawabkan dan perlu diluruskan. Versi Pertama muncul karena Ki Ageng Pandan Arang memiliki hubungan dekat dengan Pati Unus. Hubungan Ki Ageng pandan Arang atau Ki Ageng Pandanaran atau Sunan Pandanaran dengan Pati Unus (Pangeran Sabrang Lor) menurut Habib Bahruddin adalah hubungan anak angkat dengan ayah angkat.

Pati Unus mengangkat Sunan Pandanaran sebagai anak angkatnya. Karena Syarifah Pasai adalah adik kandung Pati Unus.

Pendapat kedua muncul karena Sunan Pandanaran nampak seperti orang asing karena memang memiki darah Arab, sbgmn akan kita lihat dalam data di bawah; namun kisahnya sbg saudagar tidak tepat, lantas pendapat ketiga merupakan kebiasaan mitos setempat melegitimasikan kekuasaan akan suatu daerah karena dianggap sebagai turunan Penguasa Jawa sebelumnya yakni dari Majapahit, riwayat ini amat lemah karena tidak ada bukti tertulis apa pun mengenainya.

Riwayat dari catatan habib Bahruddin ba'alawi, tahun 1979, telah menggugurkan hikayat atau babad yang menceritakan bahwa Ki Ageng pandanaran adalah anak kandung Pati Unus dan versi-versi lainnya

Nasab Sunan Pandanaran & Sunan Bayat :
1. Nabi Muhammad
2. Sayyidah Fathimah Az-Zahra
3. Al-Husain
4. Ali Zainal Abidin
5. Muhammad Al-Baqir
6. Ja’far Shadiq
7. Ali Al-Uraidhi
8. Muhammad
9. Isa
10. Ahmad Al-Muhajir
11. Ubaidillah
12. Alwi
13. Muhammad
14. Alwi
15. Ali Khali’ Qasam
16. Muhammad Shahib Mirbath
17. Alwi Ammil Faqih
18. Abdul Malik Azmatkhan
19. Abdillah
20. Ahmad Jalaluddin
21. Jamaluddin Al-Husain
22. Ibrahim Zainuddin Al-Akbar
23. Maulana Ishak
24. Maulana Islam @Ki Ageng Pandanaran @Sunan Pandanaran @Sayyid Abdul Qadir @Sunan Semarang
25. Sunan Bayat @ Sunan Tembayat @ Sunan Pandanaran II (diambil dari http://panjol-screabers.blogspot.com/2010/12/sunan-bayat.html)

MAKAM SUNAN TEMBAYAT


Di Kecamatan Bayat, Klaten, tepatnya di kelurahan Paseban, Bayat, Klaten terdapat Makam Sunan Bayat atau Sunan Pandanaran atau Sunan Tembayat yang memiliki desain arsitektur gerbang gapura Majapahit. Makam ini menjadi salah satu tempat wisata ziarah Wali Songo. Pengunjung dapat memarkir kendaraan di areal parkir serta halaman Kelurahan yang cukup luas.Sebelum menuju ke Makam , pengunjung melewati Pendopo,yang berada di depan Kelurahan Desa Paseban, di sebelah timur Pendopo, Pengunjung dapat membeli berbagai macam oleh oleh di Pasar Seni.  Setelah mendaki sekitar 250 anak tangga, akan ditemui pelataran dan Masjid. Pemandangan dari pelataran akan nampak sangat indah di pagi hari.

Sunan Bayat (nama lain: Pangeran Mangkubumi, Susuhunan Tembayat, Sunan Pandanaran (II), Ki Ageng Pandanaran, atau Wahyu Widayat) adalah tokoh penyebar agama Islam di Jawa yang disebut-sebut dalam sejumlah babad serta cerita-cerita lisan. Tokoh ini terkait dengan sejarah Kota Semarang dan penyebaran awal agama Islam di Jawa, meskipun secara tradisional tidak termasuk sebagai Wali Songo. Makamnya terletak di perbukitan (”Gunung Jabalkat”) di wilayah Kecamatan Bayat, Klaten, Jawa Tengah, dan masih ramai diziarahi orang hingga sekarang. Dari sana pula konon ia menyebarkan ajaran Islam kepada masyarakat wilayah Mataram. Tokoh ini dianggap hidup pada masa Kesultanan Demak (abad ke-16).

Terdapat paling tidak empat versi mengenai asal-usulnya, namun semua sepakat bahwa ia adalah putra dari Ki Ageng Pandan Arang, bupati pertama Semarang. Sepeninggal Ki Ageng Pandan Arang, putranya, Pangeran Mangkubumi, menggantikannya sebagai bupati Semarang kedua. Alkisah, ia menjalankan pemerintahan dengan baik dan selalu patuh dengan ajaran – ajaran Islam seperti halnya mendiang ayahnya. Namun lama-kelamaan terjadilah perubahan. Ia yang dulunya sangat baik itu menjadi semakin pudar. Tugas-tugas pemerintahan sering pula dilalaikan, begitu pula mengenai perawatan pondok-pondok pesantren dan tempat-tempat ibadah.

Sultan Demak Bintara, yang mengetahui hal ini, lalu mengutus Sunan Kalijaga dari Kadilangu, Demak, untuk menyadarkannya. Semula Ki Ageng Pandanaran adalah orang yang selalu mendewakan harta keduniawian. Berkat bimbingan dan ajaran-ajaran Sunan Kalijaga, Ki Ageng Pandanaran bisa disadarkan dari sifatnya yang buruk itu yang akhirnya Ki Ageng Pandanaran berguru kepada Sunan Kalijaga dan menyamar sebagai penjual rumput. Akhirnya, sang bupati menyadari kelalaiannya, dan memutuskan untuk mengundurkan diri dari jabatan duniawi dan menyerahkan kekuasaan Semarang kepada adiknya.

Sunan Kalijaga menyarankan Ki Ageng Pandanaran untuk berpindah ke selatan, tanpa membawa harta, didampingi isterinya, melalui daerah yang sekarang dinamakan Salatiga, Boyolali, dan Wedi. Namun, diam-diam tanpa sepengetahuannya, sang istri membawa tongkat bambu yang di dalamnya dipenuhi permata. Dalam perjalanan mereka dihadang oleh kawanan perampok yang dipimpin oleh yang namanya sekarang disebut Syekh Domba.

Maka terjadilah perkelahian dan untung saja pasangan suami istri ini berhasil mengatasinya akhirnya Allah SWT murka kemudian dia berubah menjadi sebuah mahluk dengan perawakan manusia tetapi berkepala domba. Setelah terjadi demikian, akhirnya dia menyadari dan menyesal dengan segala perbuatannya, kemudian menyatakan diri sebagai pengikut Sunan Pandanaran yang kemudian dibawa oleh Sunan Pandanaran ke gurunya yaitu Sunan Kalijaga yang akhirnya kepala dia berubah kembali menjadi kepala manusia seperti semula. Setelah itu Syekh Domba diberi tugas untuk mengisi tempat wudhu pada padasan atau gentong pada masjid yang berada pada puncak bukit Jabalkat, Bayat.

Akhirnya Ki Ageng Pandanaran berhasil sampai dan menetap di Tembayat, yang sekarang bernama Bayat, dan menyiarkan Islam dari sana kepada para pertapa dan pendeta di sekitarnya. Karena kesaktiannya ia mampu meyakinkan mereka untuk memeluk agama Islam. Oleh karena itu ia disebut sebagai Sunan Tembayat atau Sunan Bayat.(diambil dari http://usangjoko.wordpress.com/)

http://ampundumeh.blogspot.com/


Sumber : http://jembersantri.blogspot.com/2012/08/sejarah-sunan-pandanaran-sunan-bayat.html#ixzz2WfqsCC4S 

Perkawinan Sebagai Kesadaran Menyatukan Cinta Kasih (Resensi Novel di Koran Jakarta 19 Juni 2013)

Perkawinan sebagai Kesadaran Menyatukan Cinta Kasih
Perkawinan sebagai Kesadaran Menyatukan Cinta Kasih
ISTIMEWA
Cinta adalah penyerahan diri sepenuhnya kepada orang yang dicintai dan membiarkan orang yang dicintai bertumbuh. Namun, orang sering salah mengerti bahwa ‘cinta’ adalah memiliki dan karena itu bukanlah ‘cinta’ melainkan sebuah belenggu
Perempuan diciptakan dari rusuk pria agar tidak menginjak dan tidak mengatasi, melainkan sejajar dan sederajat. Wanita tidak boleh manja. Dia juga harus kuat dan mampu mandiri. Novel ini bisa menjadi cermin terkait pemahaman itu. Diceritakan, Ratri yang telah menikah dan memiliki tiga anak harus menghadapi kenyataan pahit. Jiwanya tercabik-cabik. Suaminya menuangkan “air mendidih” di jiwanya dengan berselingkuh.

Hancur hati Ratri ketika seorang wanita mengaku hamil karena telah berhubungan terlalu jauh dengan suaminya, (hlm 54-58). Segala pengorbanan Ratri untuk keluarga seakan sia-sia. Namun, tidak ada yang peduli pada luka yang tergores di batinnya. Keluarga suaminya seolah hanya peduli atas status mereka sebagai keluarga terhormat di mata masyarakat.

Tentu saja, hati perempuan tidak bisa dimanipulasi. Perasaan Ratri tidak bisa berubah cepat. Atas nama keutuhan rumah tangga ataupun kehormatan keluarga, ada dimensidimensi perasaan perempuan yang sulit berubah, (hlm 99-107). Seorang perempuan tidak mudah bertransisi dari perasaan sedih ke bahagia dan sebaliknya. Sebagaimana umumnya perempuan, begitu pula yang dialami Ratri.

Dia yang kecewa dan sedih mengetahui ulah suaminya. Dia merasakan kehampaan dalam hubungan rumah tangga. Bagaimana mungkin bisa menata perasaan saat berdekatan bersama suami yang telah tega berkhianat dengan perempuan lain. Sepolos dan selugu apa pun perempuan seperti Ratri, tidak mungkin mudah melupakan.

Permintaan maaf suami juga tidak cukup. Beberapa pria biasanya memudahkan kelakuan buruknya terhadap istri dengan kata maaf. Wanita harus tegas sehingga kalau mengalami kasus seperti ini tidak cengeng, melainkan tatag. Dalam kaca mata psikologi, sesungguhnya perasaan tidak dapat disalahkan. Tidak ada yang salah dengan perasaan Ratri yang tak mudah menghilangkan kebencian terhadap suaminya.

Sangat manusiawi jika Ratri marah atau tidak sepakat, merasa tak nyaman, sakit hati, bahkan keberatan. Namun, wanita yang baik harus juga menjadi pemaaf, agar dapat melupakan masa kelam dan membangun dunia baru. Dari awal sampai akhir cerita, novel Ayah, Lelaki Itu Mengkhianatiku ini bisa dijadikan refl eksi rumah tangga sekaligus tamparan keras bagi suami dan istri.

Meskipun perempuan bisa saja tidak setia, tetapi fakta sosial kerap kali menempatkan laki-laki yang lebih sering tidak setia. Namun, di zaman sekarang banyak juga wanita yang berselingkuh, terutama di kota-kota besar. Jadi, dua-duanya berpotensi berselingkuh. Kini tinggal tanggung jawab moral masing-masing pribadi, tak lagi berdasarkan jenis kelamin. Pihak perempuan sering kali menjadi korban ulah suami yang mata keranjang. Namun, sebenarnya keputusan ada di pihak wanita, mengapa dia mau diajak berselingkuh.

Parahnya, demi alasan moral dan menjaga kehormatan keluarga, perempuan sering kali dipaksa diam. Lewat novel ini, suami dan istri diajak menyadari bahwa pernikahan harus dijaga setiap hari. Mereka berdua sudah berjanji sehidup semati sampai akhir zaman. Tak ada yang boleh memisahkan, kecuali kematian. Pernikahan tak sekadar menyatukan pria dan wanita, tapi lebih dari itu sebagai kesadaran saling mencintai. Cinta adalah penyerahan diri sepenuhnya kepada orang yang dicintai dan membiarkan orang yang dicintai bertumbuh.

Namun, orang sering salah mengerti bahwa ‘cinta’ adalah memiliki dan karena itu bukanlah ‘cinta’ melainkan sebuah belenggu. Pernikahan juga upaya membangun generasi mendatang yang lebih baik. Sebagai ikatan suci, suami dan istri terikat janji untuk mempertahankan biduk rumah tangga.

Banyak konfl ik rumah tangga yang salah satunya disebabkan oleh pengkhianatan salah satu pihak. Kisah dalam novel ini mengajarkan arti kesetiaan, pengorbanan, dan kesabaran dalam sebuah hubungan rumah tangga.


Diresensi Armawati,
alumna Universitas Tidar, Magelang.

Judul Buku : Ayah, Lelaki Itu Mengkhianatiku
Penulis : Dian Nafi
Penerbit : DIVA Press
Cetakan : I, Mei 2013
Tebal : 208 halaman
ISBN : 978-602-7933-92-7

note to myself, note to writer

  1. Your novel is not a personal journal. Consider the reader.
  2. Writing is a business. You enter into an agreement with a reader. You agree to entertain in exchange for their money and emotion. You agree to inform for their time.
  3. Readers don’t like charmless heroes. Just because your protagonist happens to be an anti-hero does not mean you are free to make him or her 100% unlikable.
  4. Only experienced novelists who have successfully completed two published books should attempt to use an anti-hero as a protagonist.
  5. Antagonists should be people, not things.
  6. If you aren’t willing to listen to advice, if you aren’t able to learn from your mistakes, and if you aren’t prepared to let go of stories nobody wants to read, you will probably not succeed.
  7. You have to read a lot to be able to write.
  8. Using examples of famous authors who were published more than 30 years ago to justify long passages of description in your boring manuscript is not a good idea. Publishing has changed. Readers have changed.
  9. Self-publishing does not mean you don’t need to pay somebody to proofread and edit your book. Readers are insulted when they find mistakes in books. It’s like serving guests dinner on dirty plates.
  10. Always delete the first three chapters of the first draft of your first three novels. It will always be filled with backstory you don’t need.
sumber :writerswrite

Bukan Narsis Kok. Tapi Senang ^_^



Hal yang paling menyenangkan dari menulis selain mendapatkan honor dan royalti, adalah membaca apresiasi dari pembaca.

Coba simak saja review teman-teman pembaca Cerita Cinta Kota terbitan Plot Point di sini http://ceritacintakota.blogspot.com/ Itu baru beberapa yang diposting lho padahal :D

Saya cuplikkan beberapa di antara komennya ya:)
Buku ini mengangkat tema cerita cinta di tiap kota yang bisa membangkitkan kenangan kita yang miliki. Cerita cintanya tak selalu manis juga tak melulu getir. Semua rasa campur dalam satu buku yang dikemas apik.
Like always, buku ini memiliki 11 cerita, berarti harus memilih beberapa cerita favorit versi Retha. Dan ini dia 4 cerita yang meninggalkan kesan dalam hatiku *uhuk*,

1) Kopi Cinta di Grebeg Besar oleh Dian Nafi

Siti Bakilah, seorang gadis yang terlibat cinta oleh Lukman, seorang pedagang saat acara Grebeg Besar di Demak. Siti selalu mencuri waktu untuk bisa bertemu dengan Lukman pada keramaian acara ini, tentunya tanpa harus ketahuan orang tua Siti. Hingga acara Grebeg Besar akan selesai berarti Lukman harus kembali ke Bandung. Mereka mulai bimbang akankah bisa bertemu lagi. Dan sebuah keraguan nyata terlukis pada hati Siti. Karena apa? Baca sendiri akhirnya.
Eksekusi yang menegangkan di akhir cerita. Ndak nyangka beneran. Great!

Yang mau tahu keindahan kota, terutama di Jawa, sekaligus indahnya cinta yang terjalin di dalamnya, baca buku ini ya ^^
Nilai 3,25 dari 5

komen by Maretha
**
Dari buku Cerita Cinta Kota pembaca dapat mengetahui betapa beragam kota-kota di Indonesia. Malang dengan ciri khas buah apel, Semarang dengan penanda Simpang Lima dan Lawang Sewu, Demak dengan suasana grebeg besar, Bali dengan tradisiomed-omedan, Palembang dengan penanda Jembatan Ampera dan Jakarta dengan Transjakarta. Kota dan penandanya menjadi latar cerita tokoh. Tokoh utama dengan beragam latar belakang mampu meraih cinta dengan penghias kota masing-masing. 

komen by Boni Ventura
**
Oke, diulas dulu ya per masing – masing cerita, totalnya ada 10 cerita, dan nilai dari gue per cerita.
Disclaimer: Penilaian ini adalah murni dari gue sebagai pembaca, tidak ada penulis yang gue lebih-lebihkan atau kurang-kurangkan karena subyeknya. Penilaian ini berdasarkan gue yang senang dengan bacaan ringan seperti ini.
  1. Kopi Cinta di Grebeg Besar – Dian Nafi. Setting Kota: Demak
Siti Bakilah, Siti ngebaki kolah¸itu hanya nama panggilan. Nama aslinya adalah Aliya, yang setiap harinya menjaga kamar mandi umum di alun – alun Demak. Perhatiannya tertuju pada lelaki penjual kalung dan aksesoris yang berasal dari Bandung, bernama Lukman. Siti Bakilah atau nama aslinya Aliya, memanfaatkan momen kirab pencucian atau penjamasan Pusaka Kadilangu untuk menghabiskan waktu bersama Lukman. Sampai akhirnya para penjual sudah harus pulang dari Besaran, ke daerahnya masing – masing, dan kopi pertama untuk Lukman terseduh di hari perpisahannya. Apakah Siti Bakilah – atau Aliya akan bersua dengan Lukman kembali?
Nilai : 9 of 10

dst
komen by Ray F Soraya
**

Nah, siapa yg belum punya bukunya. Buruan beli di tobuk Gramedia ya :)
Omnibook Cerita Cinta Kota di rak best seller



Kesal? Marah? Heran? Takjub? Tulis!

Hari Minggu kemarin dan hari Selasa ini, aku menemui dua orang aneh. yang bikin heran dan mengejutkan.

tetapi menuliskannya begitu saja, bisa menjadi kontraproduktif buat diriku sendiri (demikian guruku pernah mengajarkan. terima kasih guru)

jd sebaiknya mari kita tulis dalam bentuk dua cerpen saja. supaya bisa diambil ibrohnya. buat diri sendiri terutama. Of course also to get insight's and transform readers, kalau bisa.

cuitanku di twitter tadi sampai pd simpulan, inilah antara lain keuntungan menulis. 

Karena menulis (cerita) bisa sbg sarana utk menjernihkan dan membeningkan rasa kesal, heran, takjub etc. to get clairvoyance, insights&awareness

Get Another Perspective

Aku sudah mendengar tentang ini lama. Juga tentang pentingnya travelling untuk mendapatkan kesegaran kembali setelah rutinitas aktifitas sehari-hari, meskipun judulnya mengasah kreatifitas dengan menulis.

seringkali muncull dalam pemikiran kita, bahwa untuk mempraktekkan ini kita butuh banyak biaya dan waktu. namun pada kenyataannya, kita hanya butuh kemauan dan sedikit ide. untuk breaking the rules, breaking the rutinity, breaking the box.

aku mempraktekkannya pagi ini. bila biasanya aku langsung pulang usai mengantar anak-anak sekolah. aku sengaja jalan kaki ke arah yang sama sekali jauh dari arah rumah. dan yups, i get refresh! alhamdulillah.

cobalah berjalan kaki bila biasanya bersepeda atau berkendara lainnya. kita akan dpt another perspective. and it's so refreshing all the way

aku ketemu dia. ada seorg ibu pemulung sampah berpapasan di jln/dia tanya,itu yg diantar sekolah anakmu atau adikmu,mbak?(semuda itukah aku?hah)adikku,jwbku

ia tahu sy ngobrol ma anakku itu,tp gak dgr apa yg kuomongin/dg PDnya ia bilang:anaknya dinasehati spy rajin sekolah y?spy gak jd tkg becak?

hah?pdhl sama sekali bukan itu yg aku obrolin ke anakku/anakku td sempat iri sm adiknya&kubilang mrk sama buatku jd tdk perlu iri bla bla

see?pemulung,tkg becak etc pun py hati/what we suppose to say to children about the importance of studying hard without make other feel hurt

dan....

by feet,meet more neighbors/smile for more evidences&people/my teacher at primary school/my children's teacher at kindergarten/also exercise

*sorry ya ambil cuplikan di twitterku @ummihasfa soalnya mau buru2 ngrampungin naskah.
oh ya, aku juga lihat segerombolan remaja masjid dari grogol jakarta kayaknya, yg asyik berfoto2 dan bercengkerama di alun2 (mungkin usai ziarah ke masjid dll).... memberikanku sedikit ide menulis semacam cerpen. *melihat org2 sholih selalu menyejukkan hati ya*

see u later and wish me luck :)