Titik Baliknya Menjadi Titik Balikku

Ini lho tulisanku yang pertama kali menang lomba di tahun 2010 :)

SUAMIKU, AKU MAKIN MEMPESONA, KAN?
by Dian Nafi
Synopsis/Premis:
(Hendak  dimadu suaminya, seorang istri yang tadinya  cuma seorang ibu rumah tangga malah menjadi wanita karir meniti kesuksesannya).

April nanti, harusnya jadi ulang tahun perak pernikahan kami. Hampir 25 tahun menemani Ilham dalam biduk rumah tangga. Anak kami, Nuha  sudah mau klas 2 SMA, Albab 3 SMP, Abshor 5SD.
Dari sejak menikah, telah terpatri di hatiku, untuk sepenuhnya mengabdi pada suami dan anak –anak. Karena keridloan Allah yang kudapat jika aku memperoleh ridlo suami . Anak-anakku meski semuanya laki-laki juga menjadi anak – anak yang santun dan berprestasi di sekolah mereka.
Kukira semuanya berjalan dengan sangat baik dan hampir sempurna. Tapi bagai disambar petir di siang bolong, aku mendapati suamiku ternyata berselingkuh dengan wanita lain. Bermula dari rekanan bisnis, suamiku banyak menjadi tempat curhat Lusi. Seorang wanita karir yang mapan tapi merasa diperlakukan dengan tidak selayaknya oleh sang suami.
Aku meradang ketika lama –lama aku merasakan rasa belas kasihan dari suamiku, Mas Antya, untuk Lusi mulai berlebihan. Berawal dari pertemuan – pertemuan bisnis, kemudian pertemuan –pertemuan curhat dan akhirnya sms –sms mesra. Laa ilaha illallah…..aku menjerit dalam hatiku, meronta, menangis.
Padahal aku berkorban begitu banyak. Terpaksa meninggalkan bangku kuliah, padahal tinggal satu semester saja menuju kelulusanku. 24 jam ku untuk suami dan anak-anak. Aku tidak berkarir, tidak berorganisasi, tidak suka berkunjung ke tetangga ngobrol ngalor ngidul.satu –satunya kegiatan di luar rumah adalah arisan dan pengajian sebulan sekali.
Hidupku seakan hancur ketika mas Antya mulai menunjukkan kemesraannya dengan Lusi dan terang – terangan memintaku untuk mau dimadu. Karena akhirnya Lusi mengakhiri hubungan dengan suaminya di peradilan dan resmi berstatus janda. Dia tinggal menunggu mas Antya melepaskan aku. Tapi sepertinya mas Antya tetap mempertahankanku dan keputusannya adalah menjadikan Lusi sebagai istri kedua. Aku sobek, terkoyak koyak robek, lalu mewek. Duniaku hanya mas Antya dan anak-anakku. (mewek = menangis dengan  kesedihan yang amat sangat)

Hari-hariku selanjutnya kupenuhi dengan kemarahan yang kutahan, agar tidak ketahuan anak-anakku dan tangisan –tangisan yang menggeram. Di kamar, di sudut kamar mandi, di sujud panjang malam-malamku.
Aku teropong lagi kehidupan perkawinan kami. Sebenarnya , sejujurnya, ini bukan pertama kalinya mas Antya berselingkuh, kalau aku bisa menyebutnya begitu. Beberapa kali malah. Dan parahnya semua selingkuhannya adalah teman- temanku juga. Suamiku memang model laki-laki yang ramah dan peduli. Mungkin itulah yang banyak memikat hati para pemujanya.
Aku pun berkali – kali sabar dan alhamdulillah telah melalui setidaknya tiga kali ganjalan , tiga kali orang ketiga, dalam hubungan kami. Aku dengan super kesabaranku, mendekati wanita yang sedang dekat dengan suamiku. Dan dengan caraku yang kukira cukup asertif dan elegan, berhasil mengusir mereka dari kehidupan perkawinan kami, satu persatu.
Tapi, entahlah , yang keempat ini agaknya agak susah aku kendalikan. Suamiku sendiri agaknya tergila –gila, dan Lusi sepertinya berkacak pinggang di atas penderitaan dan kelelahanku. Dan menambah keparahan semua ini adalah mungkin lama-lama aku bosan dengan kelakuan suamiku.
Lama –lama aku bosan bila kamu terus meninggalkan aku, gitu mungkin lagu dari Audy , lagu yang pas buat mas Antya.
Aku minta dia untuk menceraikan aku saja secara resmi di peradilan agama, karena beberapa kali dia sebenarnya , entah sadar atau tidak, berkata menceraikan aku karena terus merecoki hubungannya dengan Lusi.
“ Ayo, ceraikan saja aku. Aku juga sudah tidak tahan lagi”, tantangku suatu hari. Inilah keberanianku yang pertama kali setelah hamper 25 tahun terus menghamba dan memperbudak diriku sendiri untuk dirinya.
Aku pikir-pikir,  suami tidak tahu diuntung. Nafkah pas – pas an, beberapa kali dia selingkuh dan aku memaafkannya, seutuhnya aku hanya untuk dirinya dan anak-anak kami, bukan terimakasih dan balasan cinta yang setimpal yang kuterima tetapi justru pengkhianatannya sekali lagi. Bukan maaf dia ucapkan, tapi justru permintaan yang sulit kufahami, dimadu. Aku capek. Aku mau bubar saja.
Mas Antya meski tergila –gila dengan Lusi, ternyata tidak mau melepaskan aku begitu saja. Seringkali untuk menggertakku, ia berkata, “ Kalo mau  pergi, pergilah Gea. Anak- anak tetap bersamaku”, tukas mas Antya.
Ah ya, anak-anak.
Anak- anak adalah harta kami yang paling berharga. Tidak ada yang bisa kami perebutkan kecuali ya…anak –anak. Dan aku tidak mau. Aku juga tidak mau anak-anak hanya bersama aku. Itu akan berat untuk mereka.
Pernah beberapa kali, mas Antya tidak di rumah untuk 4 hari bukan untuk alasan pekerjaan atau sesuatu yang serius dan penting. Dia menghilang entah ke mana, mungkin jalan – jalan dengan  Lusi gila itu atau ah, aku antara peduli dan tidak mau tahu. Tapi anak-anakku yang terlihat limbung. Aku kasihan melihat mereka, aku sadar saat itu bahwa aku mungkin harus tetap mempertahankan keutuhan keluarga ini. Aku harus berusaha.
Kupanjangkan sujud-sujud malamku, kupasrahkan diriku kepada takdirNya, kumaafkan diriku sendiri sebelum akhirnya aku memaafkan suamiku dan mungkin juga mulai kumaafkan Lusi, wanita yang terus menerus merengek untuk kuikhlaskan menjadi maduku.
Aku menahan cinta yang terluka. Aku hanya bercerita sedikit dengan ayah ibuku di kota lain tentang kekisruhan ini tapi aku tidak ingin membuat mereka bersedih.
Meski malu, aku berusaha bertanya ke beberapa tetangga dan teman yang dimadu oleh suaminya. Dengan harapan aku bisa belajar, siapa tahu aku bisa. Meski aku menutupinya, lama –lama keadaan kami tercium oleh banyak orang juga, termasuk  ketiga anak lelakiku. Tetapi aku yakinkan pada mereka bahwa kami akan baik – baik saja dan keluarga akan tetap utuh, apapun yang terjadi. Alhamdulillah, anak-anakku bisa diajak bicara dan mereka tampak bisa menerima kemelut ini dengan tetap tegar. Prestasi mereka di sekolah tetap baik dan mereka masih anak – anakku yang manis. Kepada ayah mereka, kesopanan dan ketaatan tidak berubah.

Suatu kali, aku coba menempatkan diriku seolah – olah aku telah dimadu. Dengan sedikit imajinasiku, aku men-test kemampuan emosional dan mentalku. Tapi belum lagi kuselesaikan imajinasiku hari itu, aku kabur berhambur air mata yang banjir menetes dari kedua mataku yang telah lama membiru. Jalan tanpa membawa uang sejauh 5 km  dari rumah dengan tujuan yang tidak jelas. Nyaris seperti orang gila. Dan karena tidak membawa uang, dengan berjalan kaki sekali lagi menuju rumah menempuh 5km yang akhirnya baru terasa sangat melelahkan.
Perjuanganku untuk tetap bertahan dalam kekacauan badai ini, ternyata justru mendapat dukungan dari ayah dan ibu mertua serta saudara – saudara iparku. Agaknya mereka lebih mengenal mas Antya yang flamboyant dan cenderung playboy sejak masa mudanya. Sayangnya kami, aku dan mas Antya, bertemu dalam masa ta’aruf yang singkat dan karena tsiqoh/ percaya penuh kepada masing-masing perantara kami, akhirnya kami baru benar-benar mengenali karakter satu sama lain setelah beberapa tahun pernikahan kami.
Ibu mertuaku mendorongku untuk ambil peran dalam yayasan keluarga yang menangani sekolah taman kanak – kanak. Kebetulan meski sudah berusia 20 tahun, sekolah ini tidak tambah maju tapi semakin meredup. Atas ajakan ini akupun antusias menerimanya. Beberapa orang bilang dengan kesibukan, mungkin luka dan duka bisa sedikit terlupakan. Kupikir, ada baiknya energi kemarahanku ini kualihkan untuk hal yang lebih baik. Okelah kalo begitu.
Ibu mertua menugaskan aku untuk mewakili yayasan hadir dalam pertemuan – pertemuan PGTKI. Perhimpunan Guru TK Indonesia. Excited, menyenangkan juga mengunjungi beberapa lembaga pendidikan dan bertemu dengan orang – orang yang bersemangat untuk mengabdikan diri mereka untuk anak – anak , generasi masa depan bangsa.
Atas ijin anak-anakku dan mas Antya, setelah ibu mertuaku membujuknya, akhirnya aku mulai melangkah keluar rumah. 24 jam yang dulu aku habiskan hanya di dalam rumah, kini perlahan tapi pasti mulai kubagi dengan berbagai aktifitas yang baru. Seminar dan pelatihan, rapat-rapat, outing dan studi banding. Masih ada waktu yang senggang, aku tawarkan diri kepada teman, seorang janda beranak dua yang ditinggal meninggal dunia suaminya. Dia mengelola PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini) dan aku merasa perlu belajar darinya sambil melihat peluang apakah aku bisa juga membuka PAUD di yayasan keluarga mertuaku. Aku ungkapkan hal ini padanya, dan dia mendukungku. Karena lokasi yayasan mertua dan PAUD teman tempat aku magang ini, beda kecamatan, jadi tidak ada masalah sama sekali. Bersama temanku ini, aku banyak curhat. Dan kami sharing banyak hal.
Hidupku semakin berwarna setelah akhirnya aku memberanikan diri membuka PAUD di Yayasan Mertuaku, dan ipar-iparku mendukung aku. Sebuah dream team kami ciptakan dan perlahan tapi pasti langkah kami semakin mantap. Bersama mereka pula, aku akhirnya mengakhiri status quo Kepala Sekolah TK yang selama ini diamanahi mengelola TK Yayasan, tapi memanfaatkannya untuk dirinya sendiri. Setelah 20 tahun TK tidak menghasilkan apapun untuk Yayasan, kami membuat terobosan untuk membuat sebuah system manajemen yang fair dan transparan untuk siapapun, untuk yayasan maupun pengelola baru yang kami tunjuk menggantikan yang lama.
Dan selanjutnya, bahkan telah lama kukubur impian ini, aku kembali bersekolah. S1 ku yang dulu berantakan di farmasi karena pernikahan, kini kubuka lembaran baru S1 di pendidikan agar kiprahku di dunia baruku ini semakin berkualitas.
Bukan tujuanku sebenarnya untuk unjuk gigi kepada suami. Tapi ternyata dengan semua keberhasilanku ini, mas Antya semakin tidak bisa melepaskan aku. Meski dia jujur bilang tidak bisa melepaskan Lusi. Aku belum tahu ke arah mana akhir perjalanan kami. Tapi  perjalanan ini membawaku pada ungkapan seseorang yang menganjurkan kita untuk selalu berpikir apapun yang datang adalah kesempatan Tuhan untuk mengangkat kita.
Lihatlah seperti itu dan berpikirlah, “Hal ini terjadi untuk menunjukkan aku sesuatu, untuk menjelaskan sesuatu kepadaku.” Jadi panjatlah. Panjatlah menuju langkah berikutnya dengan keimanan, kesabaran, dan keihklasan.

0 komentar:

Posting Komentar