[cerpen lama] Bah Rif

BAH RIF
Oleh Dian Nafi

Aku mengulang-ulang bacaan fatihahku. Mbak Ida yang kuminta untuk membetulkan bacaanku sebenarnya sudah cukup puas. Tapi aku masih kuatir kalau bacaanku masih belum cukup baik menurut bah Rif, demikian kami para santri memanggil nama Abah Kyai Rifai.
Benar saja dugaanku.
Tar! Suara tongkat kayu tipis terdengar menggelegar di siang itu, menampar meja pendek di antara bah Rif dan aku yang duduk lesehan berhadapan. Tubuhku gemetar.
“Ulang lagi!”
Dengan hati takut-takut aku mengulangi bacaan fatihahku.  Dengan lebih tartil dan sungguh –sungguh. Alhamdulillah lancar sampai akhir.
“Besok diulangi lagi ya biar tambah lancar”
Pesan bah Rif mengakhiri setoran mengajiku hari ini.
Ufh! Aku menyusut air mata yang menetes dari kedua ujung mataku. Selalu begitu setiap kali habis mengaji setoran pada bah Rif.

**

“kamu menangis lagi, Fin?” tanya mbak Ida setibanya aku di kamar santri.
Aku hanya mengangguk, sedih. Kusurukkan wajahku ke bantalku yang mulai menipis. Suara tangisku kini pecah, aku menahannya sejak tadi. Sudah setengah bulan aku mulai mondok di pesantren ini. Sambil menunggu pengumuman penerimaan PMDK dan kelulusan SMA, aku dipondokkan oleh ayah ibu di sini. Sebenarnya kami masih memiliki hubungan kerabat dengan keluarga ndalem atau keluarga Kyai pengasuh pesantren ini. Abah Rifai putra sulung Abah Shomad almarhum yang mengajar Alquran, seni baca Alquran dan juga mengampu mujahadah setiap malam Senin. Abah Baidlowi, putra kedua, yang mengajar kitab-kitab. Keduanya terhitung masih paklik-ku dari silsilah mbah buyut kami. Tapi orangtuaku tidak ingin aku dimanjakan jadi aku tidur dan beraktifitas seperti umumnya para santri lainnya.
Mujahadah yang dipimpin bah Rif berlangsung setiap malam Senin dari bakdal Isya’, sekitar setengah delapan malam, sampai dengan jam sepuluh malam. Benar-benar meletihkan awalnya karena kami harus dalam posisi duduk bersila di lantai musholla yang dingin, agak terbantu jika kami membawa sajadah yang cukup tebal sebenarnya. Kadang-kadang kami sampai terkantuk – kantuk karena sedemikian banyak wirid dan dzikir yang harus dilafalkan bersama-sama bah Rif dan sekitar seratusan santri di AlMunawir ini.
Tapi lama kelamaan terasa nikmat dan adem di hati. Tanpa terasa kami bahkan mendapatkan kekuatan luar biasa setelah aktifitas ini. Kepercayaan diri akan dimampukan lebih oleh Allah, dirahmati dan diberkahiNya dalam segala aktifitas. Dan demikianlah ternyata kesaksian dan testimony dari para alumni santri yang sudah menjalani kehidupan di luar pesantren. Mereka yang telah menjadi dokter, insinyur, dosen, pengusaha, kyai, ustadz dan masih banyak lagi kesuksesan yang diraih, merasa bahwa mujahadah dan juga keseluruhan pendidikan di pesantren ini merupakan poin penting dalam pondasi kehidupan mereka. Sumber energi dan vitalitas.
Akupun merasakan bahwa sikap keras bah Rif saat mengajarkan Alquran dan membimbing santrinya sesungguhnya untuk kebaikan kami sendiri. Bacaan fatihahku dan alquranku menjadi lebih baik. Kami berusaha keras untuk berhati-hati, teliti, bersungguh-sungguh untuk mendekati kesempurnaan bacaan. Dan akhirnya ini merembet ke aktifitas lainnya, berusaha teliti, sungguh-sungguh dan mendekati kesempurnaan dalam amal dan pekerjaan apa saja.
Kesejukan pesantren, auranya dan hangat kekeluargaan serta gelombang energi saat mujahadah seringkali membuatku kangen. Sehingga ketika aku sudah berada di luar pesantren karena harus tinggal di rumah kost yang lebih dekat ke kampusku di Tembalang, aku seringkali datang kembali ke pesantren.
Dengan ta’dzim mencium punggung tangan mbah nyai, bah Rif dan bah Baidl. Menikmati guyonan, senyum dan keramahan keluarga ndalem. Khusyu berdiri dalam sholat berjamaah yang dipimpin bah Baidl bersama seratusan santri lainnya. Hanyut dalam mujahadah yang kadang-kadang suaranya berdengung seperti lebah, kadang menghentak ketika sampai kata’ illa’ saat berdzikir ‘Laa ilaaha illallah’. Menikmati deras bening yang mengalir dari sudut mata di wajah yang sembab, seolah melihat gerumpulan dosa tergerus bersama tumpahan air mata.
Ah, semuanya begitu indah dan menentramkan. Pesantren itu rumah cinta sejak dari dulu. Bahkan kemudian kembali menjadi rumah cinta ketika aku diangkat menjadi menantu di tahun 2002, setelah dulu aku sempat mondok di sana pada tahun 1994. Delapan tahun jarak misteri yang hanya Dia-nya sang penulis takdir yang tahu. Karena rahasia langit tak mudah terbaca, aku dijodohkan dengan putra bungsu mbah nyai. Hanya enam tahun berjodoh karena suamiku wafat dalam kecelakaan di jalan tol Cikampek setelah dua permata hati kami terlahir.
Selama itu aku semakin merasakan bagaimana keluarga ndalem, para pengasuh pesantren ini memiliki ketulusan tingkat tinggi dalam perjuangan mereka menegakkan kalimah Allah ini. Mereka terus dan tanpa henti senantiasa mendoakan para santri baik yang masih tinggal dalam pesantren maupun alumni. Inilah yang mungkin juga menjadi resep keberhasilan pesantren menelurkan santri-santri yang berkualitas dan mumpuni baik lahiriah maupun batiniahnya, sukses duniawi dan ukhrowi. Subhanallah.

0 komentar:

Posting Komentar