[cerpen lama] Di Kedalaman Hati Ibu

DI KEDALAMAN
By Dian Nafi

“Ayo..,,satu dua tiga….senyuuuum….yups.”
Klik.
“Kereeen…..kalian semua cantik - cantik dan ganteng-ganteng”
Ingin rasanya menciumi mereka satu persatu tetapi acaraku padat sekali hari ini jadi kuurungkan niatku. Aku meninggalkan satu senyuman paling manis sebelum berpamitan dengan anak-anak PAUD baru kami.
Ah Tuhan. Engkau memang paling bisa. Pembuat skenario terbaik yang pernah kukenal. Keluhan dan penyesalanku karena meninggalkan kota almarhum suamiku untuk menemani kembali ibuku, pelan tapi pasti pada akhirnya menguap.
Ketika ibu menarikku pulang kembali ke rumahnya, aku seperti kehabisan cahaya. Karena harus meninggalkan seabreg kegiatan dan keberadaanku selama ini.
“Kamu kan janda, Al. Bebas menentukan pilihan”, Hendra dan aku merapikan berkas sore itu. Dia merasa berat hati karena aku resign. Jarak kota kecil ibuku ke kota almarhum suamiku menghalangi langkah yang telah kurintis.
“Tapi aku janda pingitan”, selorohku.
Hendra memandangku iba. Aku tahu, ia ingin aku maju. Tapi ia juga tak mau aku melawan ibuku. Pilihan yang sulit.
**
Setahun menunjukkan pada dunia bahwa aku masih bisa berdiri tegak sepeninggal suamiku ternyata tidak penting bagi ibuku. Entahlah, apa yang beliau khawatirkan. Terlahir sebagai seseorang yang tidak pernah menolak perintah ibu ternyata membawaku kembali menjadi bayi. Bahkan lebih parah. Lunglai, lemah, tak bersemangat.
Kadang tiap pagi, kukayuh sepeda dalam kecepatan lambat. Mengitari tempat-tempat aku menghabiskan masa kecilku. Mencoba mencari cahaya.
“Sedang apa aku sebenarnya?” 
Begini ternyata rasanya putus asa. Bukannya malah kurus karena aku tak bercahaya, tetapi justru naik sepuluh kilogram. Wis! Semakin geram kemarahan kutahan. Aku muak tapi tak bisa berbuat banyak.
Gilanya, putus asa ini tidak terjadi tepat setelah kematian suamiku. Tetapi setahun setelah aku tetap bercahaya meski ia telah pergi.
“Apa yang sebenarnya ibu inginkan? Ia ingin aku juga 'mati'?”, aku terus bertanya-tanya sendiri karena ibuku menara gading yang segan untuk disapa, apalagi dikorek alasan-alasannya.
**
Mengantar sekolah anak-anakku di tempat yang tidak favorit dan ideal tiap hari, lalu setelahnya duduk di depan TV atau laptop. Menjenuhkan sekali. Konsultan arsitek tidak laku di kota kecil. Aku sebenarnya bisa mengajar karena sebuah sekolah juga telah meminta sumbangsihku. Tetapi ibu tidak mengijinkan
“Apa yang sebenarnya ibu inginkan? Apa yang sebenarnya ia ingin buktikan?”
**
“Kamu konsentrasi saja untuk mendidik anak-anakmu”, kata ibu suatu hari.
Aku  kehilangan cahaya dan beliau ingin aku memberikan cahaya untuk anak-anakku ? Non sense!
Ibu sungguh tidak tahu apa yang bergejolak dalam dadaku, jadi kasihan juga sebenarnya beliau karena aku terus merutukinya dalam hati. Tujuannya baik tapi caranya tidak kusukai. Tapi aku terlahir sebagai seorang penurut. Ridlo Tuhan ada pada ridlo orangtua. Semoga Tuhan punya sesuatu rencana.
**
Gerhana datang saat aku hampir benar-benar luruh. Ia menyalakan apiku setelah sebelumnya membakar geloraku. Kami menulis bersama via email.
“Kamu punya potensi, Al. Ayolah kerjakan sesuatu”, mantra-mantranya dihembuskan tiap saat, tiap menit, tiap detik.
Ketika novel pertama kami selesai, ia mendorongku menerbitkannya. Dunia maya akhirnya menjadi tempat yang tak terbatas bagiku. Aku memperoleh keberanian dan semangatku lagi. Dan tas! Seperti pendulum yang dilemparkan, tiba-tiba aku melesat jauh meninggalkan keputus asaanku. Berada di dalam rumah, dekat dengan anak-anakku tetapi karyaku bahkan melanglang buana sampai ke Hongkong, Saudi, Singapore, Inggris dan Thailand. Wow!
“Wah! Keren! Sekarang jadi penulis terkenal”, seloroh Gerhana.
Kami hanya bertemu di maya tetapi kekuatan apapun namanya hubungan yang terjadi di antara kami, mengantarku meretas jalan baru. Kepenulisan. Bakat terpendamku. Dan keberhasilan di satu sudut kehidupan kita, mengantar kita lebih berani meraih keberhasilan dan kesuksesan berikutnya.
Aku mengisi pelatihan menulis, launching di berbagai kota. Salah satu bukuku di-indie film-kan. Novel pertama kami dilamar sebuah publisher di Amerika untuk diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris dan diinternasionalkan.
Teman-teman dan jaringannya membuka jalanku sebagai arsitek kembali. Desainku malah laku lebih mahal meski konsultasi hanya dilakukan via online. Keajaiban-keajaiban terjadi dan anugerahNya yang besar kuterima, hanya dari belakang sebuah meja, di dalam sebuah kamar, di dalam sebuah rumah, rumah ibuku.
**

“Wah. Sudah berbaikan dengan ibu nih?”
Gerhana ingin mengetahui sesuatu. Tapi aku tak bisa banyak bercerita, sulitnya mengubah rasa tak suka menjadi cinta.
“Aku bahkan tak sempat mengenal ibuku” ujarnya.
Gerhana yatim piatu sejak masih balita. Betapa aku harus jauh lebih bersyukur darinya dan memeluk ibu yang saat ini masih kumiliki.
“tulislah apa yang merisaukanmu. Menulis adalah cara yang baik untuk terapi trauma. Jadi menulislah….”
Gerhana, satu-satunya orang yang mengetahui rahasia yang kusimpan sendiri bertahun-tahun. Dia yang tahu bagaimana trauma masa kecilku, Ditindih seorang pria yang masih saudara, dan ibu diam saja melihatnya. Aku tahu, sejak itu aku membenci ibuku meski banyak sekali yang ia kerjakan untuk aku dan keluarga kami.

**

Gerilya, akhirnya itu yang kulakukan di masa aku belum sepenuhnya mendapat dukungan ibu atas aktifitas dan kesibukanku. Ibu tidak mengijinkanku mengajar. Tetapi aku nekat berkolaborasi dengan tanteku dan seorang teman, aku mendirikan PAUD di kota kecilku. Pelan tapi pasti aku melakukan gerilya. Aku tidak menunjukkan dengan transparan berbagai pencapaianku kepada ibu, karena itu mungkin bisa membuatnya cemburu atau apalah namanya. Menikmatinya sendiri saja. Ah ya, dengan Gerhana. Dia selalu berada di belakangku, di sampingku, di depanku. Ia yang kehilangan ibunya saat masih berusia dua tahun, menyadarkanku akan pentingnya rasa bersyukur memiliki seorang ibu.
“Tatap matanya, tiga detik saja”, sarannya.
“Ibu mencintaimu. Kamu mencintainya. Tetapi kalian tidak tahu bagaimana caranya saling mencintai”, Gerhana dengan pasti merapalkan mantranya kembali.
Tapi aku tak pernah bisa. Mungkin karena ibuku sedemikian kuat membangun dindingnya sehingga membuat aku segan. Atau aku yang terlalu angkuh untuk menurunkan egoku demi memaafkan yang telah lalu. Entahlah.
**

Dengan seluruh karuniaNya saat ini, aku menjadi bersyukur. Dan juga berterimakasih pada ibu karena jika saja ibu tidak memaksaku untuk kembali ke rumah ini dan tinggal di dalamnya dengan segala keterbatasan mobilitas, mungkin aku tidak memperoleh pencapaian ini. Mungkin aku masih harus jungkir balik di luar sana, dengan kelelahan luar biasa namun imbalan yang kurang setimpal.
Terimakasih Tuhan, terimakasih ibu.
Aku berjanji akan belajar lebih mencintai ibuku lagi. Karena mungkin di tepi malam, di kedalaman hatinya, pada Tuhan ia sesungguhnya memohonkan bagiku semangat matahari .

0 komentar:

Posting Komentar