[cerpen lama] Diammu Cinta

DIAMMU CINTA
By Dian Nafi

Konon, Tuhan menciptakan ruh itu seperti bola. Dia kemudian membelahnya menjadi dua. Separuhnya di diri kita, separuhnya lagi di pasangan jiwa. Aku meleleh. Pasangan jiwaku tak mungkin kumiliki karena ia telah berdua sebelum bertemu aku. Untuk alasan itulah, aku menempatkan diri sebagai sahabat.
Belakangan ini mas Aris hanya sempat menelponku seminggu sekali. Kadang malah sepuluh hari aku musti menahan dera rinduku, atau bahkan dua minggu lebih. Ufh. Betapa mahalnya waktu dan komunikasi saat ini. Padahal dulu dia bisa menelponku sehari tiga kali bahkan kadang seharian full. Mungkin itu juga yang membuat semuanya menjadi candu bagiku. Dulu tak menerima telponnya sehari, aku linglung. Dua hari, aku lemes. Tiga hari, seperti kehabisan bensin.
Setelah ia terus menyapihku, aku mulai terbiasa. Aku membenamkan diri ke banyak kegiatan . Tapi sulit mencari sahabat seperti soulmateku ini. Setidaknya aku akan tetap membiarkannya bersamaku selama apapun dia mau. Aku tak menginginkannya pergi, tak juga menahannya. Sesuka dia saja. Dan akhirnya begitulah yang terjadi. Dia datang dan pergi sesuka hatinya.
Seperti biasa hari itu kami bicara tentang ide, novel, film dan semua yang kami minati bersama. Tiga puluh menit  yang terlalu singkat setelah penantian tiga minggu. Tapi aku tak mencegahnya pergi ketika pamit menutup telpon. Kemarin-kemarin aku selalu mencoba menahannya untuk tinggal dan berbincang beberapa menit lagi sebelum kami mengakhiri percakapan. Siang itu, adikku sudah menunggu jadi aku tak enak hati.
Esoknya lagi aku kirim sms menanyakan kabar dan kesehatan.Karena tak ada balasan, aku meski dengan malu hati memaksa diri untuk menelponnya. Ada paduan rasa antara khawatir dan sedikit rindu. Tapi telponku tidak diangkat. Ah, ya sudah. Mungkin sedang sibuk atau di kamar mandi atau tidur atau apalah, yang jelas pasti sedang sibuk. Biasanya mas Aris menelponku balik jika tidak sempat mengangkat telponku. Atau setidaknya sms sesuatu, bilang maaf atau apa saja. Tetapi kutunggu sampai senja, tak ada telepon atau sms.
Mungkinkah mas Aris sakit parah? Aku mulai risau. Atau mas Aris sedang mengujiku lagi? Seperti yang seringkali ia lakukan padaku. Menarik , mengulur, menarik, mengulur, memainkanku seperti layang-layang. Ah, memikirkan kemungkinan ini membuat hatiku membeku. Kaku. Aku benci kamu, mas. Jika kau buat kasihku menggantung, ingin aku tak mengenalmu saja.
“Inna lillahi wa inna ilaihi roojiuun. Pemilik akun ini meninggalkan kita semua pagi tadi. Mohon maaf atas segala kekhilafan dan kesalahannya. Terimakasih”
Esoknya tertera tulisan tersebut dari posting akun fb sahabatnya ke wall akun fb mas Aris. Aku lemas. Aku meleleh.

0 komentar:

Posting Komentar