[cerpen lama] Gatel

Aduh!
Rasanya gatal sekali. Aku sudah mencoba mengabaikannya tapi rasa gatal itu terus menyerang. Shit! Sialan! Ih…..rasanya ingin menggaruk terus bagian yang gatal itu. Tetapi kalau terus menerus digaruk, kulit yang memang sensitive karena berada di bagian vital ini bisa terkelupas dan tambah sakit.
Aduh! Gimana nih?!
Untuk mengurangi rasa gatal, aku melepas celanaku termasuk celana dalamnya. kusambar sarung terdekat dan kupakai untuk menutupi bagian bawah tubuhku. Semoga gatalnya berkurang. Tetapi masih saja terasa gatal di sana. Duuuuh!!! Sudah beberapa kali dan beberapa waktu lalu sebenarnya rasa gatal itu mengganggu. Bahkan saat aku sibuk, bahkan saat aku di tempat-tempat umum. Rasanya menyiksa sekali.
“Pantas saja ibu suka mengkonsumsi dextamine!” keluhku.
“Hmm..apa Sin?”
Ibu ternyata mendengar suaraku yang mendesis. Mungkin karena pintu kamar tidak kututup, hanya ada tirai yang menghalanginya dari ruang tengah. Ibu mungkin sudah menangkap ganjil perilakuku sejak subuh tadi.
“Nggak apa-apa bu” 
Aku menjawab cepat sebelum ibu bertanya lebih jauh lagi. Mengkonsumsi obat tak jelas juga bukan pilihan yang bijak. Aku memilih mengatasi gatal ini tanpa minum obat apapun. Karena mungkin penyebab gatalnya jelas, tiga tahun tidak difungsikan mungkin di antaranya.
Banyak orang dan pendapat yang pernah kudengar tentang ini. Meski waktu dulu aku antara percaya dan tak percaya. Tetapi setelah mengalaminya sendiri, aku tak bisa menyalahkan jika seorang duda atau janda kemudian memilih menikah lagi. Itu untuk keselamatan, kesehatan dan kenyamanan mereka juga. Namun kalau sampai sekarang aku belum menikah lagi, itu bukan karena tak ada pria yang menarik hatiku. Ada beberapa nama sebenarnya, namun mereka kuhapus dari daftarku, ada yang cepat dan ada yang lambat.

**

Kyai X, sebaiknya tidak kita sebut namanya. Ia pria pertama yang menggodaku dengan genit sejak kematian suamiku. Aku terus terang juga jatuh hati padanya, tetapi ia sudah beristri dan punya enam anak. Hmm… aku tak mau terlibat cinta segi delapan. Jadi no way.

**

Lalu ada Gun yang menawarkan diri untuk menjadi iparku. Kebetulan kakaknya masih bujangan. Lapuk  ya? Secara sekarang usianya berarti tiga puluh delapan dan belum berkeluarga, ada sesuatu yang mencekat tenggorokanku.
“Terimakasih, Gun. Kasihan kakakmu ah. Kalau dapat aku, langsung punya dua anak. Makasih ya” aku berhasil menghindar dengan halus.

**

Pria berikutnya datang tak langsung. Ia menyampaikan sindiran tentang kesendirianku via fesbuk, berusaha menjadi sahabat yang baik. Lalu tiba-tiba dua orang utusannya datang.
“Ini ada oleh-oleh dari mas Arif. Salam dari beliau” 
Untuk menghindari harapan berlebihan dari teman maya yang sangat baik ini aku berusaha menjaga jarak. Pria ini bercerai dari istri terdahulunya. Hmm..apa yang menyebabkannya? Apa yang menjadi jaminan bahwa perceraian juga akan menjadi momok bagi kami nantinya?

**

Sarvartraesa menelpon,
“Aku sudah bilang sama istriku. Dan dia setuju, bagaimana menurutmu?”
Mantan pacar dan penggemarku masa SMA mau menjadikanku istri keduanya. Hoek!

**

Gerhana. Pria humoris yang tapak tangannya bagus menjadi penghibur masa – masa kesepianku berikutnya. Penghibur yang akhirnya malah menyakitkan hati karena dia juga sudah beristri. Aku meradang beberapa waktu lamanya. Tak lagi gatal untuk sementara tetapi meradang.

**

Sanjana. Pertemuan pertama yang mengesankan karena ternyata dia sudah mengenalku sebelum aku mengenalnya. Dia tahu semua tentang aku seolah ia adalah secret admirer-ku. Yang membuatku akhirnya juga tertarik, ia lulusan komunikasi seperti Gerhana. Ia hampir mengingatkanku pada sosok Gerhana kecuali fakta bahwa Sanjana justru lebih ganteng dan lebih muda.
Oh untunglah, ia cepat membawa tunangannya di hadapanku pada suatu pertemuan di mana aku menjadi nara sumbernya. Andai tidak, pastilah aku sudang kadung jatuh hati pada pria hitam manis ini.

**
Pria berikutnya seorang anak muda bernama mirip dengan nama almarhum suamiku. Dia bos kecil di sebuah perusahaan advertising. Aku tak yakin benar dia menaruh hati padaku atau tidak. Kadang ia menampakkannya dengan malu-malu. Aku juga tak berharap banyak karenanya apalagi setelah mengetahui bahwa perusahaannya mempunyai berbagai tanggungan yang tidak sedikit nilainya.
Dia mengambil kredit untuk mesin-mesin printing, mesin cetak, mesin copy, mobil, beberapa motor. Wuih! Mentotal jumlah tagihan per bulannya bisa bikin megap-megap. Ia langsung kucoret dari daftarku, aku tak mau melibatkan diri dalam masalah yang seperti itu. Ngeriiii!..

**

Aku berjalan-jalan dengan menghentak-hentakkan kakiku karena rasa gatal kembali menyerang. Beberapa orang melihat tingkahku dengan heran. Aku  setengah berlari untuk mevariasikan gerakan masih sambil berusaha menghilangkan rasa gatal itu. Untunglah aku tak perlu terlalu lama di kantor pos. Seperti biasanya aku cukup menitipkan paket yang kukirim hari itu di meja kasir. Aku bisa meninggalkannya untuk mengerjakan aktifitas lain. Siang nanti aku kembali lagi untuk membayar total biaya pengirimannya.
Aku terburu – buru ingin segera sampai ke rumah untuk bisa membuka celana dan hanya memakai sarung. Saat ini hanya cara demikian yang sedikit mengurangi rasa gatal yang menyerang.
Bruk!!
Sialan! Perjalananku jadi terhambat gara-gara….wajahku langsung terkesiap begitu menyadari dengan siapa barusan tubuh mungilku tertabrak.
“Sin? Sinta?”
Pria di hadapanku juga terkejut. Tak menyangka bertemu aku juga mungkin.
“Restu?Restu ya”
Oh! Kukira Restu sudah mati. Teman-temanku mengabarkannya via fesbuk dan sms. Restu adalah teman SMPku dulu, penggemarku juga. Tapi anehnya hubungan kami lucu karena aku kadang sangat benci caranya menunjukkan cintanya padaku. Norak dan wagu. Jadi kami akhirnya sering ledek-ledekan dan kejar-kejaran di sekolah.
Setelah lulus SMP kami tak pernah bertemu lagi. Dia menghilang begitu saja. Dan tahu-tahu setahun lalu kabarnya Restu meninggal dunia dalam sebuah kecelakaan. Aku tak sempat takziyah karena lokasinya yang sangat jauh, ratusan kilo dari kota tempat tinggalku. Tapi kenapa juga ia terkejut melihatku?
“Iya. Ini aku, San. Oh, Santi. Alhamdulillah kamu masih hidup, kupikir….” Ia menghentikan kalimatnya sambil menatap dan mengamati diriku lebih dalam.
“What?!” aku membelalakkan mata mendengar kalimatnya barusan.
“Apa maksudmu, Restu? Kamu pikir aku sudah mati? Kupikir kamu yang sudah mati!” tampak sekali hysteria dalam kalimatku.
“Hah?!” 
Sekarang giliran Restu yang terbelalak terkejut mendengar kalimatku.
Ia mencubit lenganku.
“Mayat tidak bisa mencubit tahu!” serunya.
Aku meringis kesakitan.
“Sakit, tahu!” jeritku sambil cengengesan. Senang karena ternyata aku tidak sedang bertemu dengan hantu.
Kuseret dia keluar dari ruangan kantor pos menuju sebuah  pohon dengan beberapa kursi tunggu di halaman. Dia menurut saja dan langsung duduk di salah satu kursi di sana. Aku hanya berdiri saja.
“Kenapa tidak duduk? Nggak sopan banget!”
Ah! Dia masih ketus kayak dulu. Gaya mencintai yang tidak elegan!
Aku gatel tahu! Jeritku dalam hati saja. Dan akan semakin gatal kalau dibuat untuk duduk. Dan sekarang sedang gatal-gatalnya.

“Ogah ah!” dustaku.
“Kamu masih takut kalau aku hantu? Aku justru sebenarnya kalau kamu itu sebenarnya hantu. Kupikir tiga tahun lalu aku mendengar kamu mengalami kecelakaan fatal dan meninggal”
Restu nyerocos saja akhirnya tanpa menungguku duduk.
“oh!!” seruku. Terkejut. Jadi itu sebabnya dia juga kaget melihatku.
Lalu kami saling bertukar cerita dan tertawa –  tawa karena kesalahpahaman ini. Aku mengira dia mati dalam kecelakaan itu dan ia juga mengira aku mati dalam kecelakaanku.
“Jadi istrimu yang meninggal? Aku turut berduka, bro”
“Aku juga turut berduka atas wafatnya suamimu”
Kami berbincang dengan diriku masih dalam posisi berdiri. Kadang bergerak ke kanan kiri dengan tak beraturan.
“Kamu sakit syaraf ya?” Tanya Restu.
Huh! Tak berperasaan sama sekali.
“Tentu saja tidak. Kenapa memangnya?”
“Kupikir mungkin efek dari kecelakaan itu. Kamu goyang – goyang terus. Kenapa? Mau pipis?”
Wakakak…Restu nih memang aneh. Belasan tahun tak bertemu, tetapi sekalinya bertemu nyolot dan njengkelin banget.
“Nggak! Ah sudah ya. Aku sudah nggak tahan lagi nih. Aku pulang dulu ya”
Aku buru-buru hendak meninggalkan Restu, tapi tangannya menahanku.
“Beri aku nomer handphone-mu, please” pintanya.
Aku menyebutkan beberapa angka sambil berlari meninggalkannya sehingga aku tak yakin ia dapat menangkap dengan tepat berapa nomer ponselku. Ah peduli amat, aku sudah tak tahan. Dan tak mau bikin malu dengan berbuat yang tak pantas di dekatnya, di depan umum.
**

Kriiiing….
Kuangkat telpon rumah dan terkejut.
“Hei, San”
“Restu ya?” tanyaku ragu.
“Sorry aku telpon ke rumah. Tadi aku tidak dengar suaramu, jadi tak tahu nomer ponselmu. Untung aku masih menyimpan nomer rumahmu dan untunglah kami masih tinggal di rumah yang sama waktu kamu SMP”

**

Lalu kami beberapa kali berhubungan via telpon. Ia tinggal di rumah salah satu saudaranya selama sepekan liburan akhir tahun ini. Istrinya meninggal, ia tak punya anak, kedua orangtuanya meninggal. Jadi boleh dibilang sekarang ia sedang mencari seseorang untuk bersamanya menempuh kehidupan baru.
Dan coba tebak apa yang bikin aku kesal?
Dia menebak tentang sebab dari tingkah anehku waktu itu. Tebakannya tepat. Dan ia membahasnya melalui tinjauan medis, psikologis dan analisis – analisis lain yang membuat percakapan kami tidak menjadi tabu dan memalukan.
Dia ternyata semakin humoris dan kami banyak tertawa. Ia kadang menyelipkan pesan – pesan sponsor dalam percakapan kami. Bahwa ….bahwa… ah, ini sebenarnya memalukan.
“ Aku bisa membantumu menyembuhkan gatal itu” katanya suatu kali. Errrghhh!! Restu !!
“Kok diem?” tanyanya belagu.
Untung dia bertanya  lewat telpon. Kalau di depanku sudah kucekik itu anak.
“Mau nggak?”
Aku diam saja.
“Pakai jalan yang halal tentu saja, San. Will you marry me?” 
Alamaaaak………

0 komentar:

Posting Komentar