[cerpen lama] HILANG

HILANG
Oleh Dian Nafi

Aku bergegas mengendarai motor ke perumnas.  Terengah memasuki rumah milik ibuku yang sedang direnovasi.  Diriku berpacu dengan waktu seminggu ini, ada banyak hal yang harus kukerjakan dalam waktu yang sempit.
Tadi mbak Reni yang hendak menyewa rumah ini mengirim sms. Menanyakan apakah rumah bisa ditempati mulai Kamis. Ia akan berangkat dari Magelang dengan membawa seluruh perabot rumah dengan sebuah truk angkut.
“Kalau hari Kamis rumahnya sudah siap ditempati kan pak?” tanyaku setelah beberapa saat berkeliling.
“Besok jadi, mbak. Sudah bisa ditempati”  kata pak tukang mantap.
Alhamdulillah. Lega sekali mendengar berita ini. Baguslah. Berarti besok Kamis aku bisa mendatangi perhelatan temanku di Tembalang. Sekalian mengerjakan beberapa pekerjaan yang sudah aku buat list-nya tempo hari. Ufh! Banyak banget semoga semua bisa kelar. Karena hari Jumatnya juga masih harus ke Tembalang lagi untuk sharing kepenulisan.
Kukirim sms ke mbak Reni di Magelang.
Mbak, Alhamdulillah perbaikan rumahnya segera selesai. Hari Kamis sudah bisa ditempati rumahnya.
**
Semalam kusiapkan baju pesta sederhana untuk kupakai hari ini. Merayakan hari bersama Dafid adalah agenda yang tak mau kulewatkan. Anak itu istimewa, usianya mungkin sepuluh tahun lebih muda dariku.
Aku masih ingat bagaimana pertemuan pertama kami. Tak sengaja malam itu aku menemukan sebuah stand di tengah pameran. Penataannya yang artistik, beda, kreatif menggugah keingintahuanku. Bertanya-tanya dengan mereka yang jaga di sana, siapakah pemilik dan pemimpin stand kreatif ini.
“Siapa bosnya? Nggak ada bos di sini, mbak!” jawab seorang remaja pria tanggung dengan rambut cepak dengan nada yang agak tersinggung.
Aku agak terhenyak, duh apa yang salah dengan ucapanku. Beberapa temannya cekikikan membuatku agak tersinggung tetapi juga ingin tahu. Siapakah mereka sebenarnya? Siapa yang ada di balik semua ini, sebuah komunitas kreatif sepertinya.
“Siapa Bono? Mana yang namanya Bono? “ tanyaku penasaran sambil melihat ke arah sekitar lima enam remaja tanggung di sana. Karena aku melihat tulisan pro bono movement menjadi tagline di bawah tulisan Lini Kreatif sebagai judul utama stand ini. Kupikir ini adalah sebuah komunitas atau usaha yang digerakkan oleh seseorang bernama Bono.
“Tidak ada yang namanya Bono, mbak. Tidak ada bos-nya karena bukan seperti perusahaan atau apa. Tidak ada ketuanya juga jika mbak pikir begitu” jelas salah seorang dari mereka. Hm? Iya kah? Menurutku meskipun sebuah gerakan digerakkan bersama-sama anggotanya tetap saja ada satu atau dua orang yang menginisiasi idenya. Iya kan? Dan aku selalu tertarik pada orang di balik sesuatu, sama seperti halnya aku tertarik sesuatu di balik seseorang.
Mereka akhirnya menyebut beberapa nama, Dafidh, Fahmi, Anggri dan Dimas. Teapi ketiganya tidak sedang di sana siang itu.
“Mungkin nanti malam mereka datang, mbak” seseorang bernama Joko memberikan clue buatku.
Malamnya aku datang lagi dan berkesempatan bertemu dengan mbak Anggri. Kami mengobrol banyak karena aku sangat tertarik dengannya yang seorang produser film. Ia tertarik dengan buku yang kutulis yang tadi siang sempat kutitipkan mereka yang jaga di situ, bahkan berminat untuk membuat film indie-nya. Wow! Lalu mbak Anggri memintaku menandatangani sebuah kain putih yang membentang di dinding stand. Saat aku membubuhkan tandatanganku sebuah blitz kamera tampak berpijar dari balik punggungku. Spontan karena terkejut aku menoleh dan seorang pria muda berkulit hitam manis dengan senyumnya yang menghipnotis tampak di sana, di balik kameranya yang membidikku. Ia bahkan membidikku beberapa kali lagi saat kepalaku menoleh, masih dengan senyumnya yang memukau. Sebelum aku sempat bertanya, ia segera mengulurkan tangannya yang jari jemarinya bagus sambil menyebutkan sebuah nama.
“Mbak Fiona Arleta kan?”
Ia menyebutkan nama lengkapku! Whats?! Who is this, pikirku. Dia tahu nama lengkapku, memotretku diam-diam tadi dan tatapan matanya seolah mengatakan ia mengenalku lebih dari yang kukira.
Aku menerima uluran tangannya. Ia menjabat erat sekali tanganku seolah berusaha menyerap energiku atau apalah.
“hmm iya.….siapa ya?” 
Aku akhirnya dengan kaku bertanya karena ia tidak juga menyebutkan namanya.
Ia dengan teganya membiarkanku menunggu agak lama, membiarkanku menikmati senyuman manisnya yang menggoda, sebelum akhirnya ia mengucap namanya lirih dan pendek saja.
“Dafid”
Benar-benar menggelitik keingintahuanku. Ia berhasil membawaku turut bersamanya melewati malam itu dengan berbincang lebih akrab. Aku merasa nyaman di dekatnya. Padahal dua tahun terakhir sejak suamiku meninggal dunia, aku hanya benar-benar tertarik dengan seorang pria lagi yang sayangnya sudah beristri. Gerhana, kita anggap begitu saja namanya karena ia seperti gerhana bagiku. Aku tercengkeram dalam kegelapannya, bersamanya aku nyata sekaligus hilang. Selain dengan Gerhana, pria manapun tidak menarik hatiku meski hanya untuk bersahabat.
Dafid mirip-mirip Gerhana ternyata, pantas saja seperti ada magnet yang menarikku. Mereka sama –sama belajar komunikasi di kampus, penyuka hal-hal berbau kreatif, suka berfilsafat dan menikmati fotografi. Juga penikmat budaya dan menaruh perhatian yang besar terhadap kota kecilku yang bersejarah.
Aku menemukan Gerhana dalam diri Dafid, lalu seolah aku memiliki harapan. Gerhana tak bisa kumiliki karena telah ada seorang wanita yang ia cintai di sisinya, yang memberinya dua anak laki-laki. Dafid, dari usianya mungkin sekali masih bujang. Dari bahasa tubuhnya dan pengetahuannya tentangku yang menunjukkan rasa ketertarikannya padaku, aku  merasa ia bisa menjadi pengganti Gerhana. Kejam sekali ya kedengarannya, pengganti. Tapi itu masih lebih baik daripada jika aku merebut seseorang dari istri sahnya atau aku harus menjadi istri kedua.
**
“Mbak Ruuuuk…..” 
Aku berteriak-teriak memanggil nama pembantu.
Sialan nih pembantu. Kalau pas dibutuhkan malah tidak ada. Meski dua anakku libur sekolah harusnya mereka tetap mandi pagi seperti biasa. Tadi si sulung sudah kumandikan sekitar satu jam  yang lalu. Si bungsu maunya dimandikan si mbak.
“mbak Ruk mana dik?” tanyaku pada si sulung yang asyik bermain di teras.
“Nggak tahu” jawabnya pendek.
Demikian juga jawaban si bungsu. Aduh… aku sepertinya tadi melihat mbak Ruk melintas di ruang makan. Tampak dari ruang kerjaku beberapa saat lalu, mungkin sekitar sepuluh menit lalu. Kok sekarang tidak ada. Aku menyisir halaman depan rumah sampai ke jalan raya mencari jejaknya. Tidak ada. Kulihat kembali ke dalam kamar pembantu, tidak ada juga. Ke mana sih si mbak ini?
Aku melongok ke lantai atas sambil meneriakkan namanya dengan nada agak tinggi. Paduan emosi karena ia tak menyahut panggilanku dan kuatir penyakit budeg-nya kumat. Tak puas hanya memanggil, aku menaiki tangga dengan setengah berlari dan mencarinya di lantai atas, sampai ke balkon dan tempat jemuran. Tak nampak batang hidungnya juga. Sialan! Kesabaranku mulai menipis.
Aku turun dan melihat ke tempat biasanya ia menaruh sandalnya tiap ia datang ke rumah ini  jam lima pagi. Tak ada. Berarti dia keluar rumah. Ke mana? Sepertinya ibu tadi menyuruhnya untuk berbelanja. Ibu berangkat kantor jam setengah enam pagi ini dan tidak berpesan apapun.
“Mbak Ruuuk……” 
Aku berteriak sambil berjalan ke arah belakang rumah. Jadualku ketat sekali seminggu ini dan aku tidak seharusnya membuang waktuku dengan melakukan kegiatan yang tak penting ini. Aku seharusnya sudah siap-siap untuk berangkat ke Tembalang pagi ini menghadiri perhelatan Dafid tetapi malah harus mencari mbak Ruk yang entah di mana. Mulutku mulai mengomel tak jelas.
Aku menyerah dan duduk kembali di kursi ruang kerjaku. Akan kumandikan sendiri si bungsu, itu bukan masalah. Ke mana mbak Ruk menghilang, itu yang lebih menjadi concern-ku. Apakah dia berhubungan dengan lelaki lain selain suaminya? Dan bekerja di rumah ibuku sini setiap hari ini menjadi salah satu alibinya? Atau ada sesuatu yang mbak Ruk kerjakan yang tidak kami ketahui? Sesuatu yang terlarang? Tapi apa?
Dua bahuku melorot lemas membayangkan kemungkinan-kemungkinan yang terjadi. Lalu sebuah bunyi dari ponsel mengejutkan lamunanku.
Mbak, maaf aku pulang cepat karena ada acara haul mertuaku.
Ternyata sms dari mbak Ruk. Ufh! Ini melegakan tetapi sekaligus membuatku kesal. Mungkin ia pulang tidak pamit langsung karena kuatir ketahuan sama bungsuku. Itu bisa membuatnya rewel karena tidak mau ditinggalkan sebelum jadual seperti biasanya, jam empat sore.
“mbak Ruuuk…aduh..kenapa tadi tidak bilang dulu kalau mau pergi. Padahal hari ini kan aku mau ke rumah Dafid. Kacau deh acaraku”
Jelas rencanaku pergi ke perhelatan Dafid berarti batal hari ini. Aku tak mungkin meninggalkan dua anakku yang masih tujuh dan lima tahun di rumah sendirian tanpa pengawasan. Untuk beberapa saat aku kesal dan marah.
Tapi setelah berhasil memandikan si bungsu dan melihat kedua anakku bermain-main, aku menarik nafas panjang kembali. Mengambil sisi baik dari kejadian ini. Mungkin sebaiknya aku menggabungkan acara Kamis dan Jumat itu di hari Jumat. Toh acara sharing kepenulisan hari Jumat itu juga di Tembalang.
Segera kuraih ponselku dan menulis sms ke nomer ponsel Dafid.
Maaf, Dafid. Hari ini aku tak bisa datang. Jumat saja aku ke tempatmu ya. Semoga sukses dan berkah acaranya.
Tak ada balasan dari Dafid. Mungkin dia sedang akad nikah dan tentu saja ponselnya di-nonaktif-kan.
**
Awalnya aku terkejut karena suatu hari ketika aku sedang mengadakan pelatihan penulisan, Dafid datang dengan seorang gadis. Kupikir tadinya gadis itu adalah adiknya.
“Ratna” katanya memperkenalkan diri.
Gadis itu tampak respek kepadaku. Mungkin Dafid bercerita banyak tentangku karena bisa kulihat penghormatan dan penghargaan gadis itu di matanya yang teduh. Aku menjadi jatuh hati pada gadis tinggi putih itu di kesempatan pertama bertemu, kupikir ini akan menjadi adikku juga jadi kenapa tidak menyayanginya.
Aku menikmati kebersamaan dengan Dafid selama dua bulan terakhir di rapat-rapat menyiapkan majalah yang kami rintis bersama. Pembicaraan kami seputar kegiatan kreatif, buku, penelitian dan budaya. Sesekali tentang diri masing-masing. Aku menemukan kehebatan di dirinya yang masih muda, dan tak berkeberatan jika suatu waktu ia akan memintaku menemani hidupnya. Ia tak pernah sekalipun membincangkan tentang seorang perempuan dalam kehidupannya.
Jadi aku terkejut ketika salah seorang teman Dafid memberitahuku kalau gadis yang bernama Ratna itu adalah tunangannya. Oops!
Sesaat mungkin aku luruh dan hilang kenapa Dafid membiarkan imajinasiku tentang dia berkembang begitu saja. Apa dia menikmati dirinya dikagumi dan diinginkan lewat bahasa tubuhku? Atau dia sebenarnya memang tertarik padaku namun sudah kadung berjanji dengan Ratna yang sudah duluan bertemu dengannya sebelum aku?
Kekecewaan itu tak membuatku tenggelam. Untunglah harapanku baru mengembang dua bulan ini dan tak pernah sampai ke jauh dalam hati, hanya di permukaan. Jadi aku bisa memulihkan hatiku lebih cepat. Aku menyindir –nyindir Dafid setiap ada pertemuan untuk urusan majalah dan dia tersipu-sipu.
“Mohon doanya, mbak” begitu ucapnya.
Sampai kemudian undangan itu datang beberapa hari lalu. Dan aku tak ingin kehilangan momen menyaksikan kebahagiaan seseorang yang pernah sempat singgah di hatiku. Tapi kalau memang Allah menakdirkan aku tak bisa langsung hadir Kamis ini, aku masih bisa mengucapkan selamat besok Jumat, iya kan.
Aku meraih buku agenda dan segera mencoret semua daftar kegiatan yang sudah kususun untuk kukerjakan Kamis ini. Rencana berubah, aku bisa mengerjakan hal –hal lainnya dan akan segera kulakukan. Kemudian sepanjang hari itu aku sibuk ke sana kemari sambil membawa kedua anakku. Mengirim paket ke kantor pos, memeriksa cetak dan binding buku di percetakan, mengarahkan desainer cover untuk beberapa buku baru, menulis sebuah cerpen dan tentu saja bermain bersama anak-anakku memanfaatkan liburan mereka yang tinggal empat hari saja. Kamis, Jumat, Sabtu dan Ahad, karena Senin sudah masuk sekolah lagi. Dan aku mungkin akhirnya bisa menyambut kedatangan mbak Reni, iya kan? Aku mengambil sisi baiknya saja. Tapi ternyata Mbak Reni mengirim sms.
Mbak, saya rencana datang hari Minggu saja karena belum dapat truk-nya.
**
Setelah maghrib aku membaca Yasin dan tahlil, kebiasaan yang kubaca setiap malam Jum’at. Mengirim doa untuk almarhum suamiku. Sesudahnya menyiapkan beberapa buku yang akan kubawa besok Jumat untuk sharing kepenulisan. Tak lupa memastikan amplop untuk Dafid karena aku akan menyempatkan diri untuk singgah ke tempatnya.
**
Bakda subuh pagi harinya aku agak heran karena ibu tidak nampak tergesa-gesa. Biasanya di hari Jumat beliau berangkat lebih pagi, bahkan kadang-kadang jam lima pagi karena perjalanan dari rumah ke kantornya di luar kota bisa makan waktu sampai dua jam lebih.
“Ibu kok tenang-tenang, bu. Ntar terlambat lho. Biasanya kalau Jumat ibu kan harus berangkat dini hari kan?” godaku.
“Lho memangnya ini hari Jum’at?” tanya ibu sambil melirik kalender.
Aku tertawa kecil melihat ibuku linglung.
“Ini kan masih Kamis” seru ibu setelah beberapa saat.
“Kemarin kan Kamis, bu “ sahutku.
“Kok ngeyel,tho. Hari ini tuh masih Kamis” jawab ibu tak mau kalah.
Tak urung aku jadi ragu sehingga terdiam sesaat lalu bertanya pada anak laki-lakiku yang tiduran di depan televisi.
“Ini hari apa mas?”
“Hari Kamis.”jawabnya lantang.
Gantian aku yang linglung, bingung. Melihat bolak balik antara kalender dan jam dinding.
“Bagaimana mas tahu kalau ini hari Kamis?’ tanyaku pada sulungku yang tetap tak memindahkan perhatiannya dari film kartun favoritnya.
“Karena kemarin Rabu dan besok Jumat” sahutnya mantap.
“Hahaha..” ibuku tertawa melihatku tampak seperti orang hilang dan bodoh.
“Oh ya? Jadi ini baru Kamis? Tadi malam aku baca yasin dan tahlil lho bu” keningku berkerut-kerut dan wajahku pasti tampak lucu.
“Ya nggak apa-apa tho baca yasin dan tahlil. Hahaha…” ibuku terus tertawa-tawa.
“Memang kalau tidak punya kantor ya begitu itu. Semua hari kelihatan sama. Bahkan kalau kita dalam ruangan tertutup dan tidak melihat matahari dan tidak mendengar adzan, setiap waktu tampak sama. Tidak tahu ini siang atau malam. “ jawab ibu panjang lebar.
“makanya kalau pas pergi haji kita disuruh bawa kalender agar sadar hari dan tanggal, jadi tidak disorientasi waktu” sambung ibu.
“mosok sih ini Kamis? Bukan Jumat ya?” tanyaku masih tak puas dan tak terima kalau aku seperti hilang dari peradaban. Disorientasi waktu.
“Semua hari tampak sama ya. Bagaimana membedakannya?” tanyaku lagi masih linglung dan mencari sebab kenapa aku bisa disorientasi hari seperti ini. Apa karena aku habis mengkhatamkan membaca Dunia Sophie dan terlalu larut dalam ceritanya?
‘kalau hari Jumat tentu saja ada Jumatan” jawab ibu.
“kalau siang ada matahari, dan malam ada rembulan. Jadi setelah Jumat itu Sabtu dan seterusnya ” sambungnya lagi.
“Kalau tidak ada Jum’atan?” tanyaku bodoh. Aku benar-benar seperti hilang dalam ketidaksadaranku. Uh oh.
“Kan seperti ada bulan purnama, itu artinya tanggal lima belas. Seperti itu juga mungkin tanda alam lainnya yang bisa dibaca untuk bisa menentukan apakah ini Kamis atau Jum’at” ibu dengan tenang masih mau menjawab pertanyaanku, mengabaikan kenyataan bahwa seharusnya aku lebih cerdas dan lebih tahu daripada ibuku.
Berputar-putar berbagai hal di kepalaku apa yang membuatku sedemikian hilang. Oh ya….waktu itu mbak Reni sms tanya apakah Kamis rumah bisa ditempati. Aku bertanya ke pak tukang dan dia bilang besok sudah bisa ditempati, kupikir ‘besok’ yang dibilang pak tukang itu Kamis. Padahal hari itu waktu aku tanya pak tukang,  masih Selasa. Oalaaah.
Di atas semua keruwetan dan keabsurdan itu aku bersyukur bahwa ini masih Kamis, jadi aku bisa datang ke acara Dafid. Dafid, I’m coming…

0 komentar:

Posting Komentar