[cerpen lama] PAYUNG

PAYUNG
By Dian Nafi

Hanya sepelemparan batu dari urat niaga yang tersohor, Orchard Road, aku bergegas menuju ke sana, Singapore Botanics Gardens. Beberapa kali jepretan kamera mungkin cukup melengkapi reportaseku selama tiga hari ini di kota Singa.
Menjelang sore aku sampai di Tanglin Gate atau Botany Centre di pertemuan Holland dan Napier Road, satu dari lima pintu masuk ke kebun raya 60 ha ini. Banyak sekali pengunjung, mungkin karena ini akhir pekan. Ada anak-anak, dewasa dan pasangan-pasangan muda.
Melintasi selasar Green Pavilion dan Botany Centre, sesuatu di balik kaca Orchid Building & Micropropagation Laboratory memikat hatiku. Oh, ternyata rak pembiakan jaringan Vanda Miss Joaquim, anggrek bernuansa violet-rose dan sedikit purple jingga silangan Vanda hookeriana dan Vanda teres.
Hujan rintik menderas. Aku mencoba bertahan di rindang pohon terdekat yang kulalui. Mengambil payung dari dalam tasku dan mengawasi sekitar.
Hei! Aku seperti mengenal sosok yang ada sekitar lima meter dari tempatku berdiri.
“Nug!”, teriakku menerabas suara hujan.
Pria itu menengok dan ternyata aku tidak salah.
“ Hmm…Alya?” tanyanya setengah tak percaya.
“Kamu di sini? Ngapain?”
Aku tertawa melihat keterkejutannya.
“Ceritanya panjang. Nanti sambil minum-minum kopi. Yuk!”, ajakku.
Aku membuka payungku dan berjalan di sisinya. Ia menurut saja. Ada debar kencang di dadaku. Sebuah getar yang belum pernah kurasakan sebelumnya terhadap Nugroho. Entahlah.
**
Berpayung dengan seseorang di sebelahku membawa ingatan tiga tahun lalu. Bahkan sembilan tahun lalu. Aku pernah menuliskannya dalam sebuah cerpenku. Ada peristiwa khusus tentang payung ini, tentang almarhum suamiku dan pertemuan kami.
**
Aku masih perjalanan dari kondangan di luar kota, sekitar satu jam perjalanan dari rumah kami, ketika ibu menelponku mengabarkan kalau ada mas Faisal datang. Agak lama juga dia menunggu aku, sekitar 45 menit. Ketika aku sampai di rumah, mas Faisal sedang berada di masjid Agung dekat rumahku untuk sholat. Motor satria yang dipakainya diparkir didepan rumah.
Hujan sedemikian derasnya sehingga aku berinisiatif untuk membawakan dia payung. Namun keraguan menyelimutiku bersama titik-titik air yang semakin lebat. Aku tidak begitu mengenali wajahnya dan masjid sangat luas, bagaimana cara mencarinya.
Dulu sekali aku pernah melihatnya. Cuma punggungnya saja. Bertemu lagi, aku cuma melihat ujung celana bluejeans-nya yang robek-robek. Aku berjalan berpayung mengitari halaman masjid. Dan inilah view versi mas Faisal yang diceritakannya  padaku beberapa tahun setelah pernikahan.
“ Kulihat seorang gadis berpayung memakai setelan hijau, mondar mandir berjalan ke selatan utara barat timur mengelilingi masjid di bawah hujan lebat. Inikah gadis yang dimaksud ibu ku ?’. Serasa film India deh J
Aku akhirnya mendekat ke teras masjid, mengamati satu persatu orang disana dan terlihat seorang pemuda yang tidur (menurut dia hanya pura – pura tidur setelah melihat aku mendekat) dan kemudian (pura-pura) bangun.
 “Permisi, apakah Anda mas Faisal?”, tanyaku ragu.
“Betul. Aku sholat dulu ya”, jawabnya.
Aku melihatnya bengong. Jam berapa ini? Hampir jam lima sore!
Walah! Putra kyai tapi juga suka menunda –  nunda sholat. Penilaian  burukku bertambah setelah pada kesempatan pertama aku melihatnya tadi benar-benar tidak menaruh hati. Sudah wajahnya kucel, kelihatan belum mandi, celana butut lubang – lubang dan rambutnya alamaaaak gondrong tidak karuan. Tidak rapi sama sekali. Tapi aku menahan diri untuk tidak mencemooh dan meledek karena dia adalah putra kyai dan aku harus menghargai upayanya untuk datang dalam taaruf yang bahkan tidak aku bayangkan beberapa bulan terakhir ini.
“Silahkan, payungnya”, ujarku.
Setelah dia sholat, aku menyerahkan satu payung padanya.Dan dengan payung yang lain, aku berjalan di belakangnya.
“Terimakasih”, jawabnya pendek.
Dengan lagak gentlenya sebagai pria yang seolah tidak takut hujan sama sekali, dia bahkan tidak membuka payung itu. Hanya memegang payung  di tangannya dan membiarkan dirinya kehujanan. Ah ya….berusaha tampak seperti seorang jagoan. Aku tersenyum geli dalam hati. Hmm…
Peristiwa Payung cinta ini kami ulangi enam  tahun berikutnya, setelah pernikahan kami. Suatu Jum’at siang setelah jum’atan seperti biasa dia ziarah ke makam abahnya. Dan karena hujan turun deras sekali. Aku menjemput dia dengan membawa payung
“Kenapa payungnya cuma satu ?” Tanya dia
“Karena kita kan sekarang boleh satu payung berdua” jawabku. Dan dia dengan canda khasnya memberiku pelukan dan kecupan  sayang. Lelaki
----
Entah bagaimana ceritanya jika hujan turun deras, selalu ada rasa ingin membawakan payung cinta untuk seseorang. Tapi mas Faisal wafat dalam kecelakaan tol beberapa bulan setelah peristiwa berpayung berdua Jum’at itu. Tak ada lagi yang berpayung bersamaku.

**
Duduk berhadapan dengan Nugroho di kafe Sleepy Sam’s tempatku menginap dengan debar yang tak kunjung usai membuatku kaku.
“Kamu tahu kalau aku kuliah di sini?” Tanya Nugroho membuka percakapan kembali.
“Heh?”,
Dia pikir aku apa? Membuntutinya?
“Ge-er nih yeee…”, selorohku.
Nugroho menyembunyikan senyum malunya. Ia masih seperti dulu. Anak laki-laki lugu yang dulu kuplonco waktu SMA. Kami berjarak dua tahun, aku lebih tua.
“Fifi, ada job apa sampai jauh-jauh ke sini? Sendirian?”
Dia mulai terbiasa tidak memanggilku dengan sebutan ‘kak’ sejak suamiku meninggal tiga tahun lalu. Kami berteman lagi via maya setelah beberapa tahun lamanya tidak pernah bertemu lagi sejak aku lulus SMA. Itulah salah satu keajaiban fesbuk.
“Ada undangan kepenulisan dan sekalian kumanfaatkan untuk reportase travelling”
Sekerjap kutangkap sesuatu dari matanya. Entah apa itu. Tapi aku jadi tersipu.
Kafe dan lobby terasa menghangat. Kami lalu terlibat perbincangan yang panjang dan menghabiskan hampir separoh malam. Sampai akhirnya menutup pertemuan tak direncanakan ini dengan janji bertemu besok pagi di China Town.
**
Hanya cukup berjalan kaki sebentar dari MRT Outram Park dan MRT Chinatown untuk bisa mencapai Chinatown ini. Meski bernama pecinan, aku merasakan kemeriahan multietnis di mana kita bisa  mendatangi kuil Sri Mariamman, Masjid Jamae serta berbelanja di gerai – gerai cinderamata Cina.
Nugroho ternyata telah tiba terlebih dulu. Ia melemparkan senyumnya.
Deg!
Ada rasa yang tak biasa. Sebenarnya aku tak pernah membayangkan sebelumnya, bisa sedekat dan senyata ini bertemu dengannya. Dan rasa yang berdebar itu? Aneh saja. Aku selalu menganggapnya anak kecil dan tidak pernah masuk hitunganku meski aku tahu ia selalu mengidolakan aku sejak dulu, sejak aku memplonconya di SMA, bahkan mempermalukannya.
“Let’s time of tea’, ajaknya.
Terik di Chinatown menguap begitu the Time of Tea yang kami cari terlihat di Mosque Street. Ketika kami memasuki butik the yang mengesankan itu, seseorang yang berumur sedang membimbing murid kursus chanoyu-nya (upacara minum teh ala Jepang).
Seseorang bernama Mei melayani kami. Ia melakukan upacara juga ketika menyiapkan yellow tea pilihan saya dan floral tea pilihan Nugroho dengan cara seduh sesuai dengan jenis tehnya.
“Yellow tea yang bercita rasa seperti bunga ini menenangkan, flora tea meredakan rasa panas”, kata Mei ketika meletakkan teko dan gelas kecil di hadapan kami.
Dan kami pun memusatkan perhatian ketika menghirup teh langka itu.
“Jadi belum menemukan pengganti mas-nya?”
Deg!
Aku sungguh tak siap dengan pertanyaan mendadak seperti itu dari Nugroho sementara debar dan tanyaku sendiri juga belum sepenuhnya mereda.
“Belum. Mau carikan?”, selorohku akhirnya.
Ia diam, kami hening. Mendengarkan suara jantung masing- masing.
Pelayan datang mengantarkan kue manis sebagai teman minum teh.
“Terimakasih”, ucapku dan Nugroho hampir bersamaan.
Kami saling beradu pandang kemudian. Ah…aku tak mau terjatuh.
“Apa kabar anak-anak?”, tanyanya memecah kebekuan.
“Baik. Alhamdulillah. Bagaimana kabar ibumu?”, tanyaku balik.
“Alhamdulillah, kesehatannya sudah mulai pulih. Ia hanya terus mendesakku untuk cepat – cepat menikah”, ujung katanya lesu.
“Nhah. Ya nikah aja to. Apa susahnya nikah?”, selorohku.
Entahlah, aku senang sekali berseloroh dengan cowok satu ini. Mungkin karena kepolosannya itu. Mungkin juga sosoknya mengingatkan diriku di masa perploncoan SMA dulu, betapa jahilnya diriku.
“Ibu mengajukan beberapa calon untukku, tapi aku belum ada yang sreg”, Nugroho menandaskan teh tetes terakhirnya sambil matanya memandang jauh.
Aku tersenyum dalam hati. Model perjodohan ternyata tidak hanya berlaku di keluargaku tapi juga di keluarganya juga. Dasar orang jawa J
“Cari yang seperti apa, Nug? Mau aku carikan?”, aku tak juga berhenti berseloroh padahal hatiku deg-degan.
“Aku cari yang seperti kamu, Fi. “, katanya mantap dan jelas.
Deg! Debar dadaku semakin keras.
“Siapa ya….. yang seperti aku?”, aku menyembunyikan debar dadaku dengan pura-pura berpikir.
“Nggak ada yang seperti kamu. Yang ada ya Fifi saja. Satu.”, Nugroho menyahut dengan cepat. Ada keresahan dalam nada suaranya.
“Aku tidak juga pantas untukmu, Fi?”, tanyanya terus terang kemudian.
Ia tahu bahwa aku melewatkan beberapa tawaran dari teman-teman, keluarga maupun mereka yang datang sendiri untuk mengisi kesendirianku kini.
Duh!
Aku sungguh tak siap ditodong begini, tidak di negeri sendiri lagi. Nodongnya gak pakai acara romantic-romantisan lagi.
“Aku hanya seorang janda, beranak dua. Aku lebih tua dari kamu. Ibumu apa tidak keberatan? “, aku berusaha menhindar. Aku langsung teringat ibunya yang priyayi dan sepertinya seorang pemilih. Mirip-mirip karakternya dengan ibuku sendiri. Tidak mau sembarangan. Aku tidak ingin mengalami penolakan dari ibunya. Meski kuakui ada rasa ketertarikanku kini dengan Nugroho, apakah itu dimulai sejak kami berpayung berdua sore kemarin?

“Ibu…ibuku tadi malam kutelpon. Aku cerita kalau tak sengaja bertemu Fifi di sini”, Nugroho memandangku agak dalam. Aku membiarkannya.
“Juga kuberitahukan niatku untuk nekad menyampaikan isi hatiku hari ini. Ibu setuju dan mendukungku, beliau hanya berpesan padaku untuk siap-siap patah hati. Ibu tahu criteria standar yang Fifi dan keluarga Fifi inginkan bagi pendamping hidup”
Nugroho membuat mataku terbelalak.
“Beneran?”, tanyaku tak percaya.
“Iyalah…masak aku mengarang cerita. Aku bukan penulis sepertimu”, jawabnya bergetar.

Aku mengatupkan dua tanganku ke wajahku. Menyembunyikan rona merahnya.
“Aku sudah siap patah hati, anyway”, suara Nugroho melemah.
Aku memejamkan mata, mengerjapkannya. Ini bukan mimpi.
“bagaimana?” tanyanya kemudian.
Tanganku menopang kening. Ini bukan main-main. Aku tidak akan gegabah.
“Istikhoroh dulu. Boleh ya?”, tanyaku.
Ia mengangguk dan menarik nafas panjang.
Lalu kami saling menukar senyuman.

0 komentar:

Posting Komentar