[cerpen lama] perempuan tua yang tak tua

PEREMPUAN TUA YANG TAK TUA

Perempuan tua yang aku banyak berhutang padanya itu tak seharusnya menghalangi kebahagiaanku. Namun sepertinya memang sudah menjadi hobinya merecoki kehidupanku. Entah sampai kapan, aku tak tahu.

**

“Jangan, Vera. Kalau menurutku, kalian belum saatnya punya rumah sendiri. Biayanya sangat besar. Dan kamu mau menggunakan tabunganmu sendiri untuk proyek ini, jangan sampai kamu menyesal. Urungkan saja niatmu”
Aku takkan pernah lupa ucapan ibu  di tengah deras hujan yang mengguyur sore itu. Dengan maksud memperoleh dukungan positif, aku menelponnya. Jangankan ikut membiayai seperti yang dulu pernah nenekku lakukan untuk ayah dan ibu, ini bahkan menolak rencana baikku.
Ufh!
Dan akibatnya sampai sekarang, aku belum punya rumah sendiri. Setelah enam tahun aku menikah, sampai suamiku kemudian meninggal dalam kecelakaan dan aku menjanda empat tahun ini. Aku diharuskan kembali ke rumah ibu lagi. Apa memang itu tujuan ibu ketika tidak mengijinkanku membangun rumah, ia butuh seseorang untuk menemaninya. Seharusnya aku ikhlas menemani, iya..aku ikhlas tentu saja. Tetapi ikhlas menemani dan tetap punya rumah sendiri sebenarnya bisa jalan dua-duanya. Itu tidak  bertentangan satu dengan yang lainnya. Masygul. Itu yang dominan dalam rasaku, sampai kini.
Ibu dengan pesan implisitnya juga menghalangi aku melakukan berbagai lompatan-lompatan dalam karir dan bisnisku setelah dulu tak berhasil menjegal langkahku dalam memilih studi di universitas.
Ibu memilihkan jodohku, bagaimana aku harus hidup dan berhemat, bagaimana aku harus selektif terhadap pergaulan, ibu dengan manuvernya memaksaku tinggal di mana dan akhirnya kembali ke rumahnya. Ibu yang muna, seolah membebaskanku tetapi yang sebenarnya mengekangku. Mencengkeramku dalam pengaruhnya. Ibu tak pernah membiarkanku menjadi aku sendiri. Ibu terlalu mencemaskan aku, mengulik daftar belanjaanku, menyelidik berapa penghasilanku dan bagaimana kau memenej bisnisku. Ibu yang terlalu menaruh curiga atas segala yang kulakukan seolah aku bukan anak yang manis, padahal seumur hidupku aku takluk di bawah hipnotisnya.

**

“Tidak usah, Vera. Gajinya pasti kecil, tidak sesuai dengan waktu yang kamu luangkan. Sudahlah, kalau menurut ibu sebaiknya kamu tolak tawaran itu”
Aku tercekat, meski telah menduga sebelumnya bahwa akan seperti inilah jawaban ibu. Beliau materialistis, semua orang tahu itu. kami, anak-anaknya terlebih lagi bisa membaca ibu dengan lebih baik dari hari ke hari. Ibu kadang menutupi sifat aslinya dengan topeng kepura-puraan atau sikap manipulatif, tapi pada akhirnya semuanya terkuak karena kenyataan tak bisa dipungkiri.
Terbiasa mematuhi anjuran ibuku dan mendengarkan dengan sungguh-sungguh larangannya, akhirnya aku melewatkan kesempatan mengajar di institusi itu. dan ketika sekarang telah bergengsi, aku hanya bisa gigit jari di pinggir lapangan. Lihatlah bu, berkali-kali ibu mencegahku memperoleh kebahagiaanku. Ada apa sebenarnya dengan ibu? Apa yang ada dalam pikiran ibu?

**

Jawabnya kuperoleh malam itu ketika ibu tak sengaja keceplosan ngomong.
“Lha ya itu. wong yang tua –tua masih mau tampil, kok ya yang muda-muda mau tampil juga. Jadinya ya tabrakan.”
Deg!
Serasa ada yang mau lepas dari rongga dadaku
Hah? Jadi? Maksudnya? Keningku mengkerut sangat.
Langsung kutepok jidat tanpa sepengetahuan ibu. Aku membalikkan badanku semenit sebelum kembali lagi ke posisi semula.

“Memangnya tidak bisa ya bu tampil sama-sama?” tanyaku takut-takut.
“Lha ya ndak bisa. Wong namanya ketua itu kan ya Cuma satu orang” sahut ibu dengan nada tinggi.

Aha, ternyata ini sebabnya ibu seringkali menghalangi langkah-langkahku mengambil keputusan yang akan membantu diriku tumbuh menjadi dewasa dan jadi orang. Entah ibu sengaja atau tidak melakukannya, entah apa alibi sesungguhnya di balik pelarangan dan penjegalannya itu, tetapi bahwa bawah sadar ibu jelas mengatakan tak seharusnya yang muda-muda ini maju sebelum yang tua-tua itum mundur. Apakah itu artinya menunggu mereka lelah atau mati? Astaghfirullah..pikiran seperti ini sungguh tak pantas, tak patut dan menjijikkan.
Aku masih berusaha ingin melekukkan ibu, memindahkan mindset-nya yang mungkin kontrapositif itu ke mindset baru.
“Tetapi bidang yang dikerjakan sekarang kan lebih variatif bu. Jadi yang muda tetap bisa memimpin di sektor yang beda. Yang tua juga memimpin di sektor lainnya” kali ini aku dengan berani terang-terangan berseberangan dengan pendapat ibu.
“Tapi berapa banyak area yang tidak saling bersinggungan, Vera”  jawab ibu pendek.
Aku bisa menangkap keresahannya sekarang, ia belum mau melihatku maju ke panggung karena ibu tidak ingin disaingi. Ibu mengira ini masih masa bagi kejayaannya, jadi aku harus masih jadi anak-anak. Atau ibu selamanya ingin aku menjadi anak-anak. Omong kosong, itu namanya pembonsaian.

**

Siang yang merajah denyut di kepala tak menghalangi langkahku menuju rumah Septo. Seharusnya ia sudah membayar hutangnya yang menunggak sampai setahun ini. Berkali menagih tetapi belum berhasil, tetapi aku tidak putus asa.
Seorang perempuan tua menemuiku, aku tahu ini ibu Septo. Aku  pernah bertemu dengannya di rumah Septo ini bertahun-tahun lalu di jaman kami masih kuliah.
“Seandainya Septo mendengarkan ibu, nak. Dia mungkin tak sampai seterpuruk ini” ibu Septo menghapus air matanya yang terus mengalir. Aku sampai tak tega dan terlupa keinginan kuatku untuk menggebrak rumah ini karena Septo entah ke mana, menghilang begitu saja.
“Aku sudah bilang berkali-kali. Tidak usah tergesa-gesa menjadi kaya. Pelan –pelan saja. Tetaplah menjejak bumi. Tapi dia tidak mau menerima nasihatku, dia tidak lagi patuh dan mendengarku. Dia semaunya sendiri. Merasa dirinya pintar dan menganggap aku si tua ini tak lagi pantas memberinya masukan. Dia selalu bilang melakukan ini semua untukku, agar rumah peninggalan ayahnya ini menjadi lebih mewah. Agar aku bisa dinaikkan mobil yang hebat dan keren. Aku tak butuh semua itu, tetapi dia memaksakan dirinya. “
Ya. Aku tahu kejadian sesudahnya. Septo terbelit hutang yang cukup banyak karena mengambil kredit besar di Bank sedangkan bisnisnya tidak sepesat yang direncanakan. Ibunya tidak memberinya restu sejak  awal. Ibunya melarangnya mengambil keputusan yang tidak menginjak bumi, tetapi Septo tidak mengindahkannya. Dan sekarang banyak orang menjadi korban.
“Aku mengenalmu, Vera. Teruslah begitu. Patuhi ibumu. Mungkin sekali kami para ibu tua seperti kami ini bisa melihat sesuatu di balik apa saja yang mungkin tak terlihat kalian.” Pesan ibu Septo ketika aku berpamitan.
Ah. Begitukah? Baiknya aku memang melihat sisi baik dari sudut buruk. Ibu terlalu banyak melarang dan mengekang gerakku, aku patuh tetapi kemudian menggerutu. Seharusnya aku tak jatuh dalam penyesalan dan memperburuk keadaan. Karena pasti selalu ada hikmah di setiap peristiwa, kejadian dan musibah.

**

Sore itu tak sengaja aku dan mas Doni sama-sama sedang online dan saling komen di jejaring social. Kami melanjutkannya via japri, jalur pribadi. Ada sebuah pertanyaan yang terus mendekam dalam kepalaku.
“Jadi apa resepnya sehingga mas Doni bisa sesukses ini ;padahal mas adalah pendosa”  aku tak bisa menutupi keingintahuanku.
“Mantan, dik. Mantan pendosa. Insya Allah saya sudah tobat”
Lelaki yang sekarang semakin gentle itu tetap tersenyum meski aku menyudutkannya. Kurasakan separoh hatiku tidak terima dia yang berpuluh tahun lalu sempat melakukan pelecehan pada aku kecil, sekarang bisa sehebat ini. Sedangkan aku yang korbannya malah hanya begini – begini saja. Padahal semua orang tahu, kami sama-sama cerdas dan cemerlang. Aku hancur karena tercengkeram trauma itu, seharusnya dia lebih hancur. Tapi kenapa tidak. Apa faktor penyebabnya.

“Ibuku, dik.” sambung lelaki yang masih kerabatku itu.

Aku tahu mungkin ketika dulu ia melakukannya padaku karena gejolak kemudaannya. Mungkin itu yang namanya khilaf dan Tuhan maha pengampun. Tapi diampuni saja sudah bagus dia, tidak harus jadi sehebat ini. Terus kenapa dengan ibunya, kenapa dia menyebut ibunya.
“Aku melakukan banyak sekali kesalahan di masa lalu yang menghancurkan hati ibuku. Aku menyesal  karenanya, sangat menyesal. Dan aku bersujud memohon maafnya, seluruh kehidupanku kemudian kupersembahkan untuknya. Alhamdulillah ibu memaafkan aku dan meridloi langkah-langkahku. Aku yakin sekali ibu mendoakan aku dan itulah yang menjadi kunci semua ini” ujar mas Doni sembari terus meneteskan air mata, mungkin tiap tetes air matanya mengandung doa untuk almarhumah ibunya.
Oh. Itu kuncinya.
Terlintas wajah ibuku yang tegang dan jarang tersenyum. Ibu yang terlalu keras padaku dan karenanya aku keras padanya. Dan bukannya duduk bersimpuh di dekatnya, memohon restunya, aku lebih banyak menggerutu dan mengeluhkan tentangnya. Hanya karena merasa aku selalu patuh dan tak pernah membantah ibuku. Dan juga karena kebencianku pada ibu karena tidak menghukum mas Doni waktu itu padahal ibu melihat kejadiannya. Tapi mas Doni saja yang pendosa waktu itu, kini meraih suksesnya. Seharusnya aku juga sukses dan bukannya membenamkan diriku sendiri dalam pertanyaan-pertanyaan saja. Aku harus merebut kuncinya, kunci sukses itu.
Oh. Belum terlambat kan untuk memperbaiki. Aku bergegas menutup skype yang menghubungkanku dengan mas Doni di Amerika. Ingin segera berlari ke ibu dan memandang wajahnya yang keras, mencium punggung tangannya yang dingin dan memohon restu doa juga maafnya.

**

Ibu sedang tidur di sofa ketika aku masuk rumah. Garis –garis wajahnya yang keras tampak lesu. Kerut – kerut Nampak menajam ternyata ketika ibu dalam posisi terlena seperti ini. Begitu lemah.
Ah, aku lupa. Beliau hampir enam puluh tahun usianya, sangat lanjut jika tak bisa dibilang tua. Tetapi dengan semangat kemudaannya, ibu tak pernah tampak tua. Ia masih aktif ke kantor, pergi ke sana kemari, ikut ngaji sana sini, aktif di organisasi itu ini. Seperti mencoba membayar semua yang tak sempat dilakukannya ketika ayah masih hidup. Ketika ibu harus sepenuhnya mengabdikan diri untuk keluarga saja, aktifitas di luar keluarga hanyalah kantor. Itu juga untuk mencari nafkah demi kami semua.
Ah ibu. Kegesitan olahmu yang tak menunjukkan ketuaanmu disertai berbagai nasihat untukku agar lebih mefokuskan diri pada anak-anakku yang masih balita dibandingkan semua yang lainnya, itulah bu. Itu yang memicu keberanianku melawan ibu dengan keluhan dan kebencian, meski tampak tunduk di hadapannya. Belum terlambat kan bu, kuharap aku masih punya banyak waktu menebus kekeliruanku.

0 komentar:

Posting Komentar