[cerpen lama] sebelum cahaya

SEBELUM CAHAYA
Oleh : Dian Nafi

“Gustiii..seandainya dulu aku manut dan menurut saran ibu untuk tidak egois, mungkin saat ini aku sudah di sisi mas Nug”
Mas Nug.
Aku menyiksanya hanya karena aku merasa ia menyiksaku.

Apa susahnya bilang cinta, mas Nug? Aku istrimu. Tapi kamu menyimpannya dalam diam, sampai-sampai aku merasa tidak dicintai.

Dan demi untuk menghibur diriku sendiri atas tiadanya penerimaan sebagaimana yang aku inginkan, aku pelan-pelan berjalan menjauh darinya.

**

“Tidak usahlah kamu ambil beasiswa S2-nya, Din”
Suara ibu terdengar tegas di seberang telpon. Hatiku rusuh tapi tak segera menjawab larangan ibu.
“Dina…ibu sungguh-sungguh. Lebih baik kamu jadi pegawai biasa saja yang bisa ikut pindah ke manapun suamimu pindah. Concern saja pada pengasuhan anak-anakmu”
Aku masih terdiam. Ibu tidak tahu bagaimana aku menanggung semua derita ini. Dina yang menaklukkan banyak hati pria, tapi hanya dipandang sebelah mata oleh suaminya sendiri. What a hell!!
“Tapi terserah kalian sajalah. Kalian yang menanggung semua konsekuen pilihan kalian sendiri. Ibu tidak mau dipersalahkan jika usul ibu menyebabkanmu merasa terkekang”
Uh yeah!
Kalimat ibu yang terakhir di percakapan telpon itulah yang kupegang. Lebih susah mencari ijin ibu daripada ijin dari mas Nugroho. Mas Nug cenderung mengiyakan apa saja yang kuinginkan. Dan selama ini aku menangkapnya lebih sebagai ketidakpedulian dan bukannya karena rasa kasih sayang dan dukungannya padaku.
Tapi aku sepertinya salah.
Mungkin memang mas Nug mencintaiku dan mendukungku. Hanya saja dia diam. Tidak menampakkannya dalam kalimat dan kata-kata. Hanya dalam perilaku dan doa. Mungkin saja. Entahlah.

**

Sekarang mulai terasa sakit seluruh tubuhku. Saat terlempar dari badan pesawat tadi aku bahkan tak merasakan apapun. Semuanya gelap dan tak nampak. Aku tak ingat apapun sesaat tadi. Dan saat tersadar, sebuah nama itu yang kusebut. Mas Nug.
Mas Nug. Ada perih menggores di dalam sana. Mas Nug.
Rumput basah di bawah tubuhku mengantar dingin jiwaku terlempar ke masa – masa hangat pernikahan.
Mas Nug yang lucu, aku merindukanmu. Sangat.

“Aku gendong, Din”
Ada semburat merah muda di wajahku, aku yakin. Mas Nugroho tak menunggu persetujuanku. Ia hanya menatap senyumku yang malu-malu. Menciuminya. Dan ia langsung membopong tubuhku ke kamar mandi. Kehamilan pertamaku tak juga berkesudahan payahnya. Mual pada masa hamil muda dan kaki membengkak di usia kehamilan yang semakin bertambah.
“Mau kumandikan?” Tanya mas Nug menggoda. Ia berdiri di balik pintu kamar mandi. Tetapi kepalanya yang mungil lucu mengintip dari atas pintu kamar mandi yang memang tidak full sampai langit-langit.
“Ah, nggak..nggak..Malu ah. Aku bisa mandi sendiri”
Kuhalau mas Nug dengan pandangan mata dan alisku yang terangkat. Dia terkekeh kekeh. Kupikir ia pergi, tetapi ternyata Mas Nug dengan sabar menunggu aku selesai mandi dengan air hangat yang ia siapkan setiap hari untukku
“Perlu dibantu memakai bajunya?’ godanya lagi ketika aku tahu aku telah selesai mandi.
“Ah, mas Nug. Iya deh. Tolong dong”
Aku membuka pintu kamar mandi dan membiarkan jemari bagusnya menarik resleting baju yang kukenakan. Jemari yang indah. Aku mencintai jemarinya. Aku selalu tertarik dengan pria yang memiliki telapak tangan dan jemari yang indah. Itu juga sebabnya dulu aku menerima perjodohan yang diatur oleh ibuku dan ibunya.
Mas Nug membopongku lagi. Kali ini ke kamar. Aku benar-benar dimanjakan selama kehamilanku. Aku tersanjung. Semestinya aku mulai jatuh cinta dengan suamiku sendiri, karena sejujurnya pernikahan kami berawal memang bukan dari sana. Tetapi entah setan apa yang membisikkannya padaku. Beberapa bulan  setelah itu, pikiranku berubah begitu saja.
Suamimu memanjakan anak yang dalam kandunganmu. Tidak usah ge-er. Demikian suara itu menghasut. Dan aku … entahlah, aku merasa diabaikan.
**
Diriku semakin merasa tak penting ketika suatu kali mas Nug mengabaikan keinginanku mendengar pernyataan cintanya.
“Mas…” aku menyentuh dada bidangnya. Ini saat yang tepat, pikirku. Ia tadi mengucap I love you ketika kami bermain dengan indahnya. Aku ingin mendengarnya sekali lagi berikut alasannya kenapa mencintaiku. Ini pertanyaan wajar dari seorang perempuan, dari seorang istri.
“Hmmm.. apa Mas Nug benar-benar mencintai aku ? apa yang membuat mas mencintai aku?”
Lalu aku sadar, itu ternyata pertanyaan terbodoh. Mas Nug kelu. Tidak menjawab. Ia menyulut rokoknya, duduk, diam. Kutunggu jawaban tapi dia hanya berkata.
“Apa maksud pertanyaanmu?”
Oh my! Pertanyaan macam apa pula itu.
Terngiang kembali cerita yang pernah ia sampaikan padaku beberapa hari sebelum pernikahan. Mas Nug pernah berpacaran selama dua belas tahun dengan seseorang bernama Diva. Namun cinta mereka kandas karena tidak disetujui orang tua. Lalu akulah orang yang dipilih orang tuanya untuk menggantikan Diva dalam kehidupan mas Nug. Tapi sepertinya aku tak cukup berhasil menggeser Diva dari hati suamiku.
Aku merasa kalah. Merasa tak berarti. Lalu aku mulai melarikan diri. Mengambil beasiswa S2, lalu S3. Dan membiarkannya sendirian ketika harus pindah ke Kalimantan. Sendirian dengan segala persoalan berkaitan dengan tugas-tugasnya sebagai kepala Dinas yang konon juga mengancam jiwanya.

“Oh ya. Hati-hati, mas”
“Baik-baik di sana, mas”
Itu – itu saja jawabku di telpon. Sehingga mas Nug kemudian mulai membatasi diri untuk tidak banyak berkeluh kesah dan berbagi cerita denganku. Padahal mas Nug hanya berkunjung ke Jakarta sebulan sekali. Aku benar-benar sibuk dengan diriku sendiri, kantorku, kuliah S3-ku dan bahkan Gerhana, anak kami, juga agak luput dari perhatianku.

Kemudian tiba-tiba berita mengejutkan itu datang beberapa hari yang lalu.
“Ibu Dina, pak Nugroho masuk ICU”
Telpon dariTe pak Jumali, sopir pribadi mas Nug mengejutkanku.
“Sakit apa pak Jum?”
“Komplikasi, bu.”
Untuk berita lengkapnya kemudian, aku menghubungi dokter yang merawat suamiku. Seharusnya. Ya, seharusnya aku langsung datang setelah telpon pak Jumali itu. Tetapi kesibukan menahanku. Aku masih harus bertanggung jawab menyelesaikan beberapa tugas kantor dan juga mempresentasikan tugas thesis S3-ku.
Aku menelpon mas Nug untuk memastikan keadaannya.
“Aku baik-baik saja, Din. Iya, tidak apa. Kalau tidak bisa datang hari ini, ya besok saja”
Jawaban mas Nug kemarin di telpon membuatku tatag. Dan aku dengan teganya menunda sehari sebelum akhirnya pergi terbang dari Jakarta ke Kalimantan Barat hari ini. Namun Tuhan mendaratkan aku di sini, di tempat yang aku tak tahu persis ada di mana. Di saat mas Nug berjuang sendirian di ICU.
“Bu Dina. Pak Nugroho drop pagi ini. Beliau koma”  dokter memberi kabar sangat mengejutkan itu persis saat aku menjejakkan kakiku di bandara Soekarno Hatta. Dadaku kembang kempis. Jantungku berdetak tak beraturan. Sepanjang perjalanan di pesawat, air mataku tak henti-hentinya mengalir. Aku ternyata sungguh tak siap dengan keadaan ini. Tak kukira akan separah itu.
Koma?
Berpuluh pertanyaan bertumpuk di kepalaku. Beratus penyesalan menggulungku. Bagaimana sampai aku tak tahu persis bagaimana kesehatan suamiku sendiri selama ini? Mengapa aku sibuk dengan diriku sendiri sehingga tidak memperdulikannya sama sekali? Kenapa jarak terbentang tidak membuatku merindukannya namun  malah mengabaikannya? Istri macam apa aku ini?
Apa yang terjadi jika mas Nug pergi? Pergi ke alam yang sama sekali berbeda dengan kami, alam cahaya. Atau jika ia bertahan, apakah ia akan masih sama dengan yang dulu? Bagaimana aku akan bisa menemaninya? Apakah ia memaafkan aku?
Sekarang ditambah dengan nasibku sendiri yang tak jelas karena terdampar entah di mana. Bagaimana nasib  Gerhana, anak kami? Bagaimana jika aku tak selamat dan mati di sini? Dia masih sembilan tahun, Tuhan. Dia masih membutuhkan kami.
Bagaimana jika aku selamat namun tak sempat menemani mas Nug yang mungkin tidak bisa bertahan lagi? Mungkin aku akan berhadapan dengan keluarga besar mas Nug yang memandangku rendah, sebagai istri yang durhaka dan tidak becus.
Astaghfirullah….astaghfirullah..astaghfirullah.
Aku menata satu-satu napasku karena kurasa ketegangan hampir memuncak ke ubun-ubun dan dalam dingin hutan ini, aku semakin menggigil.

**
ku teringat hati
yang bertabur mimpi
kemana kau pergi cinta
perjalanan sunyi
engkau tempuh sendiri
kuatkanlah hati cinta 
*courtesy of LirikLaguIndonesia.net
ingatkan engkau kepada
embun pagi bersahaja
yang menemanimu sebelum cahaya

ingatkan engkau kepada
angin yang berhembus mesra
yang kan membelaimu cinta

kekuatan hati yang berpegang janji
genggamlah tanganku cinta
ku tak akan pergi meninggalkanmu sendiri
temani hatimu cinta

ingatkan engkau kepada
embun pagi bersahaja
yang menemanimu sebelum cahaya
ingatkan engkau kepada
angin yang berhembus mesra
yang kan membelaimu cinta

ku teringat hati
yang bertabur mimpi
kemana kau pergi cinta
perjalanan sunyi
engkau tempuh sendiri
kuatkanlah hati cinta

ingatkan engkau kepada
embun pagi bersahaja
yang menemanimu sebelum cahaya
ingatkan engkau kepada
angin yang berhembus mesra
yang kan membelaimu cinta

Salah satu lagu favorit mas Nug! Sebelum Cahaya-nya Letto.
Mengapa ia mengalun di tempat sunyi seperti ini. Aku mendengar sayup lagu itu. Dengan kaki yang tak bisa lagi digerakkan aku berusaha menggeser tubuhku mendekati arah suara lagu itu. Namun tak kulihat apa-apa. Segalanya semakin buram dalam pandangan mataku yang berair. Dan aku lelah, semakin lelah. Akhirnya aku menyerah dan terduduk bersandar di batang pohon besar.
Ini bagian paling menyakitkan dalam kehidupanku. Mungkin akulah yang bebal dan tidak menyadari kasih mas Nug yang tak terucap. Tak seharusnya aku meragukannya. Siapa pula Diva? Tak seharusnya nama itu membayangi dan menjadi jarak antara aku dan mas Nug. Bagaimana aku bisa begitu tidak percaya diri dan menjadi lemah hanya karena mas Nug tidak memujaku seperti para pria lain yang memujaku. Kenapa aku bisa sedemikian egois dan mementingkan diriku sendiri? Kenapa tak kupasrahkan diriku sepenuhnya saja untuk suamiku? Kenapa tak kuturuti saran ibu untuk menemani mas Nug ke manapun ia pergi dan pindah dinas? Kenapa? Semua kenapa menumpuk menjadi satu di kepalaku yang wajahnya kini entah seperti apa. Kuraba pipi kananku yang sepertinya melepuh. Dan pipi kiriku semakin membengkak sampai menutupi sebagian pandangan mata kiriku .
Aku mungkin takkan cantik lagi. Aku mungkin juga lumpuh.
Masihkan mas Nug nanti mengenaliku? Jika mas Nug tiada, dengan keadaanku yang seperti ini, masihkan ada yang akan jatuh hati padaku?
Tuhan! Inikah hukuman untuk kesombongan dan kepongakanku. Perempuan hina dina di balik polesan kecantikan dan kecemerlangan.
Tuhan! Aku tak lagi punya pilihan. Aku menyerah. Aku tak punya daya apa-apa. Aku padamu, Tuhan. Aku titip mas Nug, ia dalam genggamanMu. Apa saja yang terbaik untuknya. Jika dunia ini terlalu busuk dan istri sepertiku terlalu buruk, mungkin untuknya lebih baik surga dan bidadari. Aku titip anakku Gerhana, Tuhan. Bimbinglah dan tolonglah lelaki kecilku itu.
Aku tak layak berharap padaMu apa saja untuk diriku sendiri. Ataukah aku masih boleh berharap, Tuhan? Jangan berpaling dariku, kumohon.

0 komentar:

Posting Komentar