[cerpen] Tangga Tanya

TANGGA TANYA
By Dian Nafi

Ada yang menjadi tanda tanya besar di kepalaku?
Apakah Ramadlan yang sukses kita lalui dengan full ibadah dan meninggalkan duniawi? Ataukah kita tetap beraktifitas namun spiritual semakin mendalam dan meningkat?
Pertanyaanku kemudian adalah kenapa suatu waktu ada masa kita mengalami kemerosotan spiritual ketika kita sebenarnya mulai meninggalkan sesuatu yang dilarang, yang dulunya kita kerjakan.
Ah..
Pertanyaanku mungkin tidak bermutu dan tidak penting. Tapi jelas kurasakan jika Ramadlanku kali ini sungguh terlalu. Aku bahkan belum pernah jamaah ke masjid sekalipun, padahal ini sudah memasuki hari kedua puluh. Tadarusku biasa saja, dipotong hari haidl-ku, jadilah saat ini baru sampai juz yang kesepuluh.
Duh Gusti…apa yang sebenarnya sedang terjadi padaku.
Kutengok lagi Ramadlan – ramadlan yang lalu.
Ada Ramadlan yang dipenuhi tangis penyesalan dan pertaubatan karena bulan sebelumnya dosa-dosaku sungguh banyak, tak terkirakan rasa dan takut akan murkaNya.
Ramadlan persis tahun lalu, aku melewatinya dengan masih bermaksiat dan sambil menyesal,maksiat, menangis, maksiat, bertaubat, maksiat, hancur luluh di hadapanNya.
Ramadlan kapan itu, aku berjamaah tarawih bareng calon suamiku. Masih calon tapi sudah rajin dating ke rumah.
Ramadlan lalu –lalu, tarawihnya penuh dengan lamunan –lamunan karena rakaat yang banyak dan bacaan surat-suratnya yang panjang.
Kutelisik lagi, mungkin memang tidak begitu ada Ramadlan yang full sukses. Tapi Allah maha pemurah. Dia maha semaha-mahanya. Kemahaannya bahkan melampaui dari perkiraan dan prasangka-prasangka kita. Who knows?
Tapi kali ini aku sungguh khawatir. Ada sesuatu yang terjadi padaku. Ada degradasi, penurunan kualitas spiritualku. Oh…ini mengerikan.
Masih ada sepuluh hari terakhir. Semoga bisa mengejar ketinggalan-ketinggalanku. Yuk tutup laptop dan langsung pindah ke Alqur’an. Yuk.. ayuk..
**
Di tengah galau Ramadlan seperti ini mengingatkanku akan Ramadlan terakhir suamiku almarhum.
**
“Mas, ini sudah Ramadhan. Mungkin ada baiknya mas Faizal mengurangi kesibukan, mas. Sayang sekali jika sampai ketinggalan tarawih”, akhirnya kuutarakan juga kegalauanku.
“Sudahlah. Tidak usah ribut. Aku kan bekerja untuk kalian”, jawaban jamak seorang suami. Yang galau dan kemarahan menjadi jalan keluar dari keresahan diri.
“Istrimu kan sudah berpenghasilan cukup, Fan. Sama saja kan. Kalian kan satu kapal. Tidak ada yang salah dengan situasi ini. Kamu juga pernah di atas angin, sekarang roda sedang berputar di bawah, ya sudahlah. Tidak perlu ngoyo, memaksakan diri. Tidak perlu minder dan menjadikan malammu jadi siang”, ibu mertuaku turut memberikan panjang lebar nasihat.
***
Jika teringat lagi kini kalimat-kalimat penghiburan kami untuk suamiku waktu itu, gerimis mengalir di sudut mataku. Kami tak pernah menyadari bulan-bulan itu adalah saat-saat terakhir mas Faizal bersama kami.
Mas Faizal yang galau, yang geram dalam marah, yang banyak termenung, yang melewatkan beberapa tarawih karena harus lembur, yang masih harus lembur di malam takbiran. Tapi juga mas Faizal yang sepertiga malamnya sujud lama dan khusyu’di masjid depan rumah kami. Terutama pada sepuluh malam terakhir Ramadhan.
***
“Ada jadual untuk mas Faizal mengisi kultum tarawih nanti malam, mas.”, aku mengingatkannya dengan sangat hati-hati, pagi masih bening saat ia bersiap menuju proyek. Ia diam saja tidak menanggapi.
“Apa perlu aku persiapkan materi kultumnya jika mas tidak sempat?”, tanyaku lagi dengan nada suara selembut mungkin, tidak ingin salak di hatinya menyuara.
“Tidak usah repot!”, jawabnya ketus, masih seperti nada yang kudengar beberapa waktu terakhir. Oh, sayangku. Apa yang sebenarnya terjadi padamu, lirih hatiku menjerit.
“Tapi bisa datang kan, mas? Tidak lembur malam ini kan?”, aku masih terus bertanya menanyakan kepastian. Mungkin terdengar seperti bising di telinganya.
“Kita lihat nanti!”, masih dengan nada tak ramah.
Ah ya, baiklah. Aku harus lebih menambah dosis kesabaranku. Mungkin dia masih terus risau oleh pekerjaannya dan situasi tak nyaman dalam rumah tangga kami. Karena bagaimanapun ego lelaki tetap berbicara, tersinggung dengan kenyataan penghasilan perempuan yang lebih besar. Ufh….aku lebih memilih untuk melepaskan udara dan nafas panjang dari mulutku daripada kelihatan jelek karena manyun.
***
Pernah sekali aku mendapatkan mata suamiku melotot ke arahku dengan pandangan aneh sehingga membuatku ketakutan. Berjalan tanpa perasaan yang jelas dan malah bertemu dengan seorang tetangga yang perhatian, prihatin atas wajahku yang menekuk sore itu. Perhatiannya di atas perasaan kacauku menimbulkan getaran yang berbahaya di hatiku. Oh, hampir saja. Aku tak mau lagi mengulangi hal yang seperti itu, bisa menambah runyam.
***
Benarlah yang kukuatirkan terjadi.
“Assalamualaikum. Mas jadi bisa mengisi kultum di masjid kan?”, tanyaku hati-hati via telpon. Hari hampir maghrib, tapi mas Faizal belum juga datang.
“Aku tidak bisa. Minta tolong siapa gitu untuk menggantikan”, jawabnya lemah, mungkin kecapekan. Fisik dan psikis.
Aku meredakan kemarahan dan kekecewaanku sendiri dan berusaha mencari solusi. Kuhubungi ustadz Anwar yang menjadi ta’mir masjid perumahan kami.
“Afwan, ustadz. Mas Faizal ternyata tidak bisa mengisi kultum malam ini. Maaf juga karena mendadak sekali mengabarkan. Mohon ustadz Anwar bisa menggantikan”, telponku di senja Ramadhan terakhir itu.
“Iya, tidak apa, mbak. Saya maklum pak Faizal kan sibuk. Alhamdulillah saya sedang tidak ada jadual lain. Insya Allah nanti malam saya gantikan. Terimakasih sudah memberi kabar, mbak”, jawaban ustadz Anwar melegakanku.
“Tapi kalau nanti ternyata bisa datang tarawih. Silakan pak Faizal yang tetap mengisi kultum ya. Kuatir jamaah bosan kalau saya terus yang mengisi”, suara renyah ustadz dari seberang masih mengisyaratkan kesempatan bagi mas Faizal.
***
Ba’da maghrib persis, suamiku datang. Masih dengan wajah bersungut.
“Alhamdulillah, mas sudah datang.”, kupeluk dia dengan bongkahan rindu yang mencoba menenangkan jiwanya.
Aku menemaninya berbuka sementara dua anak kami bergelayut di dekat kaki kami masing-masing.
Aku terus berusaha tersenyum dan memasang wajah manis.
“Tadi ustadz Anwar menyediakan waktu bagi mas Faizal untuk tetap mengisi kultum malam ini”, aku berusaha membujuknya.
“Nggak-lah. Biar ustadz Anwar saja”, jawab mas Faizal menghindar.
Kupikir mas Faizal capek. Tetapi menjelang Isya’, bukannya bersiap-siap ke masjid untuk berjamaah sholat Isya’ dan tarawih, ia malah mendekati mesin cuci. Dan aku sungguh tak tahu apa yang ada dalam benaknya, cucian itu bisa kukerjakan besok pagi, tapi ia mengerjakannya malam ini.
“Aku sedang libur tidak sholat, mas. Jadi memang tidak ke masjid. Mas Faizal ke masjid saja untuk tarawih. Kultum nanti akan diisi ustadz Anwar kok”, sambil berusaha menidurkan putri kami dalam gendonganku, aku mendekati mas Faizal. Menginginkannya meninggalkan mesin cuci itu.
Dia diam saja. Aku tak berkutik. Mas Faizal sungguh aneh dan aku tak ingin membuatnya semakin gelisah dengan pertanyaan-pertanyaanku.
***
“Assalamualaikum”
Kakak iparku mampir dari masjid dan bertandang ke rumah kami.
“Alaikumsalam. Silakan duduk, pakdhe. Monggo. Kami masih ada es kolak pisang, pakdhe cicipin ya”, aku menyambutnya ramah. Kali ini sambil menggendong putra sulung kami yang sedikit rewel menjelang tidurnya.
“Di rumah to, Fan. Aku pikir belum pulang”, kak Hasyim, kakaknya menepuk punggung mas Faizal yang masih sibuk dengan mesin cuci.
“Iya, mas. Kasihan dinda, ini. Aku cuma bantu sedikit-sedikit”, kilah mas Faizal sebelum ditegur mungkin kenapa malam-malam malah mencuci, umumnya bukan pria yang mengerjakan tugas rumah tangga seperti ini.
Wis…suami jempolan tenan”, sambil menepuk punggung mas Faizal dua kali, kak Hasyim melontarkan pujian. Sambil mengangkat alisnya dan memberi kode padaku. Kak Hasyim mungkin juga menangkap gelagat perilaku tak biasa dari suamiku. Mungkin.
***
“Mana ayahnya anak-anak?”.
Pertanyaan yang seragam dari hampir semua tamu yang berkunjung di malam takbiran.
Dan aku seperti janda saja tanpa suami di sisiku yang memilih lembur di proyek di malam seharusnya seluruh keluarga berkumpul dan menikmati malam lebaran.
Pada akhirnya demikianlah adanya. Selisih kurang lebih setengah bulan sejak Ramadhan dan lebaran terakhir itu, suamiku mengalami kecelakaan lalu lintas. Mobil kijang yang dinaiki berlima dengan teman-temannya ditabrak mobil container  dari arah berlawanan di jalan tol Cikampek.
Mas Faizal yang berubah kembali menjadi hangat dan  bergairah pada tiga malam terakhir sebelum ‘kepergiannya’. Setelah kurang lebih empat puluh hari mengalami perubahan yang sebenarnya terbaca oleh kami semua, tapi tak menyangka jika itu isyarat akan kepergiannya kemudian.
**
Ramadlan sejak kepergiannya itu meski terasa suram, namun berpendar cahaya karena iparku menemaniku melewatinya dengan indah bersama anak-anak kami. Meski semuanya pada akhirnya tidaklah berakhir dengan penyatuan. Tapi anggap saja itu penghiburanNya lewat tangan orang yang dikasihiNya.
Ramadlan kedua setelah kepergiannya, sebuah cahaya baru lain juga menemaniku. Kuanggap rahmat dan berkah dariNya karena di sana terpampang keindahan, jalan baru, keajaiban-keajaiban.
Ramadlan ketiga ini sejak kepergiannya, tanda Tanya tanda Tanya itu bermunculan. Apakah aku menaiki tangga atau sedang menuruninya. Astaghfirullah. Apa yang membuatku berubah? Apakah perubahan ini positif atau negative?
Bilakah Dia jatuh cinta?
Apakah Dia sedang mengujiku? Atau malah sedang membiarkanku?
Astaghfirullah.
Aku bertanya. Bertanya. Bertanya – Tanya.
Di manakah aku?
Kenapakah aku?
Aku terus menaiki tangga tapi tangga yang penuh dengan pertanyaan-pertanyaan. Aku resah, Gusti. Jangan tinggalkan hamba meski hanya sedetik. Ampuni dan kasihi hamba, Gusti.
Duh…Gusti…
**
“Bangun, dik”, sebuah suara menyapaku penuh kasih.
Aku terbangun.
“Sudahi pertanyaanmu, ya”, katanya lembut.
Aku mungkin mengenalnya, tapi mungkin juga tidak.
“Sayang sekali jika melalui malam-malam istimewa ini hanya dengan pertanyaan – pertanyaan. Kamu selalu punya pilihan. Pilihlah dan lakukan. Kerjakan. Sekarang”, ajaknya hangat.

Aku termangu, tiga detik.
Setelahnya bangkit, mengambil air wudlu. Berdoa untuk almarhum suamiku.
Aku akan membayar hutang-hutangku besok pagi, Insya Allah. Aku merasa itu adalah termasuk hal-hal yang mengganjalku. Aku akan melayangkan permohonan maaf bagi siapa saja yang mungkin terluka olehku. Aku akan membuat daftarnya.
“dan saatnya meluangkan lebih banyak waktu dan perhatian untuk Rabbmu”, suara itu terdengar lagi. Dekat sekali.
“Ya. Insya Allah. Itu yang terpenting”, jawabku.
Tinggalkan dunia yang merisaukanmu. Tidak ada yang perlu dirisaukan. Dia penggenggam dunia. Dia saja. Dia saja. Dia saja.

0 komentar:

Posting Komentar