Ciuman Seharga Sandal Jepit

Ciuman Seharga Sandal Jepit
Oleh Dian Nafi

Ponselku hampir drop. Kurutuki diriku sendiri yang selalu lupa untuk mencabut charger-nya tepat waktu tiap kali sedang discharge. Beginilah akibatnya, baterainya jadi sering cepat drop. Padahal aku sedang dag dig dug menunggu telpon seseorang. Kuatir dia telah sampai ke dekat gedung yang kutempati sekarang, tapi tak berhasil menemukanku karena aku tidak bisa dihubungi.
Bip bip.
Wah, untung nih. Tepat persis sebelum baterai habis, dia berhasil menghubungiku.
“Aku di pintu depan gedung. Nggak berani masuk nih. Kutunggu ya”
Aku segera bangkit dari tempatku duduk. Setengah berlari menyongsong ke arahnya. Dia dengan senyuman lesung pipitnya tampak berdiri di depan pintu kaca gedung taman teater kecil. Masih setampan dulu, bahkan lebih tampan. Memakai kaus biru dongker bergaris – garis horizontal putih. Kacamatanya membuat lelaki ini makin gaya.
Aku memanggilnya masuk dengan isyarat tanganku. Masih dengan senyumnya dia mengikuti instruksiku,  mengisi buku tamu dan karenanya mendapatkan satu bendel materi talkshow sore ini.
“Hai hai…apa kabar? ” dia mengulurkan tangannya, aku menjabatnya ringan.
“Baik.. yuk” kami berjalan bersisian menuju tempatku duduk semula.
Sebenarnya dia sama sekali tidak ada dalam skenario dan rencanaku sebelum ini. Aku tiba – tiba saja entah bagaimana mengirimnya pesan singkat tadi siang. Sesaat sebelum keretaku dari Semarang tiba di stasiun Gambir. Dia pernah berpesan dulu, memintaku untuk menghubunginya kalau aku pas pergi ke Jakarta. Dan ya, begitu saja. Tiba – tiba aku mengabarkan kalau aku hampir tiba di Gambir. Dan karena mendadak aku mengabari, dia baru bisa menemuiku sore ini. Tetapi sepanjang siang sampai sore dia terus menelpon dan mengirimi aku sms, untuk mengetahui keberadaanku. Seolah – olah takut kehilangan jejakku.
Dari sudut mataku aku bisa melihat matanya yang terus mengawasiku. Dan bukannya mengikuti jejakku untuk memperhatikan pemateri di depan sana. Dia terus bicara, menanyaiku banyak hal, dengan setengah berbisik – bisik tentu saja agar tidak mengganggu peserta lainnya. Aku membagi konsentrasiku antara memperhatikan perbincangan seru -antara mas AS Laksana, mas Anton, mas Adi dan mbak Abidah ElKhaliqy di depan sana- atau menjawab pertanyaan – pertanyaan lelaki di sebelahku ini. Oh ya, menurutmu kita perlu beri nama lelaki ini atau tidak? Kurasa tak perlu ya. Sebut saja dia lelaki dari masa lalu.
“Kenapa masih belum menikah lagi? Sesusah itu ya melupakan almarhum?” itu entah keberapa kali dia tanyakan. Aku  tersenyum.
“Sini lihatin ke aku gambar – gambar kandidatnya, biar kupilihkan” dia menawarkan diri dan aku jelas menolaknya. Kurasa itu karena dia penasaran saja karena lamarannya beberapa waktu kutolak lagi. Lagi? Karena tujuh belas tahun yang lalu dia juga melamarku dan waktu itu juga tidak kuterima karena ibuku menganggap keluarganya tidak selevel dengan keluarga kami. Kejam ya? Padahal dia sudah jatuh hati padaku bahkan sejak dua puluh dua tahun lalu saat kami masih sama – sama duduk di bangku SMP.
Dan kenapa setelah aku menjanda lalu dia datang melamar lagi tapi kutolak lagi? Karena dia sudah punya istri dan tiga anak yang manis – manis. Aku tidak mungkin bahagia di atas penderitaan orang lain. Lebih dari itu, yang menjadi alasan sebenarnya adalah mungkin sekali aku tidak mencintai dia.
Dulu waktu masih gadis, aku sempat kepikiran menerima lamarannya karena aku sudah dua puluh empat tahun dan dia sudah mapan sekali. Sangat baik dan dermawan padaku. Tapi toh takdir tidak mempertemukan kami waktu itu. Malam ini adalah kesempatanku untuk mencari tahu apakah benar memang tidak ada  rasa cinta sama sekali dariku untuknya. Dan kurasa aku tahu kenapa dia terus mengejarku. Dia masih penasaran denganku, mengapa telah sedemikian baiknya dia kepadaku tetapi hatiku tak kunjung terbuka untuknya.
**
“Eh, aku ternyata belum sholat Ashar!” teringat sesuatu aku langsung bangkit dari dudukku. Dia mengikutiku. Dan aku lari – lari di atas high heel-ku menuju musholla yang ada di sudut belakang kompleks DKJ.
“Titip ya” kuberikan tasku padanya sebelum buru – buru masuk ke tempat sholat putri.
Lega seusai sholat, kami berjalan santai kembali menuju gedung taman teater kecil. Terpesona melihat bangunan Taman Teater Besar atau Grand Theater. Dengan adanya plaza terbuka di depannya kami jadi memiliki ruang yang cukup untuk  bisa menikmati keindahan bangunan yang tinggi ini. Senja yang indah dan mulai gerimis itu membuat fasade bangunan ini tampak semakin anggun, melenakan. Perpaduan antara gelap dan lampu – lampunya membuat bangunan tersebut semakin tampak menakjubkan Aku memotret bangunan beberapa kali. Dia, lelaki masa lalu itu, menawarkan diri untuk memotretku dengan bangunan mirip Opera Sidney House itu sebagai background. Sebenarnya aku jengah tapi dia terus memotretku. Lalu memaksaku untuk berpotret bersama di sana, dengan gedung itu sebagai backgroundnya. Ketika aku hendak berlari menolak, dia meraih pinggangku dan menyeret dengan halus sampai kepalaku terjatuh di dadanya. Sesaat itu kurasakan ada setrum lumayan besar mengalir dari pinggangku menuju ke sekujur tubuhku. Oh my God, tentu saja ini kejutan. Ternyata dia bisa menyetrumku juga. Oh, saat itu kupikir aku mungkin memang memiliki rasa cinta padanya. Mungkin lamarannya yang tadi disampaikannya lagi bisa kuterima? Tapi aku masih belum yakin pada diriku sendiri. Jadi aku lalu menjaga jarak lagi. Kami berjalan kembali menuju ruang pertemuan tadi.
Oops. Aku berjalan tersaruk ketika memasuki gedung lagi. Ternyata sepatu hak tinggiku sobek talinya karena kuajak berlari – lari tadi.
“Kenapa? “ katanya memperhatikan langkahku.
“Sepatuku lepas talinya” kutunjukkan sepatu yang memang sudah lumayan tua usianya itu.
“Ayo kubelikan sepatu baru” ajaknya sembari menarik lenganku keluar lagi, menuju parkiran mobil. Oh, he did it again. Dia selalu membelikanku barang – barang yang bahkan mahal – mahal sebelum ini. Gelang emas berhias batu Kalimantan adalah benda pertama yang diberikannya padaku waktu itu.   Setelah itu aku tak pernah mengingat – ingat lagi apa saja pemberiannya, saking banyak dan seringnya barang yang dia paketkan untukku. Barusan tadi dia juga menawari untuk membelikanku tiket pesawat untuk kepulanganku ke Semarang, dan tentu saja kutolak karena aku tidak mau lebih banyak lagi berhutang padanya.
Aku duduk di sampingnya. Dalam mobil CRV putihnya yang dilengkapi suara perempuan beraksen barat di GPSnya. Aku tidak mau diajak ke mall karena lokasinya jauh, sementara masih aka nada acara penyerahan penghargaan untuk novel DKJ terbaik satu jam ke depan. Jadi kami berpindah – pindah dari satu minimarket ke minimarket yang lain.
Dia mengantarkanku dengan sabar. Aku bisa merasakan benar ketulusan hatinya. Harapan dan cintanya padaku yang terus bertumbuh. Kasihan juga istrinya ya, pikirku. Tapi bisa bayangkan berjalan berdua dengan ketabahan dan penerimaannya atas kelakuan – kelakukanku yang seperti itu? (Aku jadi teringat dulu saat memintanya mengantarkan undangan pernikahanku ke teman – teman kami, selang hanya beberapa bulan setelah lamarannya kutolak) Ada sebersit kasihan itu hinggap lagi di kuncup hatiku. Sehingga ketika aku hendak jatuh saat berjalan di trotoar depan Carrefour dan stasiun KRL Cikini, dia spontan memegang jemariku, aku membiarkannya. Lalu kami berjalan bergandengan seperti dua anak SMA yang sedang jatuh cinta.
Sayangnya dari lima tempat dijelajahi, kami tidak juga menemukan sepatu yang layak. Akhirnya hanya ada sandal jepit.  Aku tidak punya pilihan lain karena acara anugerah novel DKJ akan segera dimulai, aku tidak mau terlambat. Kami kembali ke DKJ. Turun dari mobilnya, dia memintaku meninggalkan sepatuku di mobilnya daripada kubuang ke tempat sampah.
“Ntar ketahuan istrimu lhoh” dengan kening mengernyit aku melihat ke matanya yang sekarang semakin tampak bercahaya. Di bawah remang lampu parkiran mobil dan jemari pepohonan yang menghalangi cahaya bulan.
“Nggak apa – apa. Dia sudah tahu kamu. Aku sudah cerita” dengan nada tenang dan penuh keyakinan kalimatnya menyadarkan bahwa lelaki ini.. oh.. bagaimana cara mendeskripsikannya.
“Tapi maaf aku nggak bisa temani kamu sampai selesai ya. Rumahku tiga jam dari sini dan besok pagi sekali aku harus terbang ke Kalimantan.”
“Iya, tidak apa – apa. Terima kasih ya” aku justru senang dia pergi karena aku bisa bebas bertemu siapa saja sekarang, dan tidak harus berada di sisinya.
“ Salaman dulu dong” katanya mengulurkan tangannya.
Aku menerima uluran tangannya. Dan plash! Tanpa kuduga sebelumnya, dia mencuri kedua pipiku. Mengecupnya dengan lembut. What! Apa – apaan nih. Tapi aku tidak bisa marah karena terus terang aku tidak bisa merasakan apa – apa dari ciuman itu. Sialan! Gitu saja yang datang dalam pikiranku. Dia menunggu ini selama dua puluh tahun tentu saja, dan aku kecolongan hari ini.
Dia mengantarkanku ke gedung Taman Teater Kecil lagi, agar aku bisa bergabung dengan teman – teman yang lain. Lalu dia berpamitan dan aku tidak mengantarnya ke pintu, hanya sempat aku mengucap terima kasih lagi.
Seorang teman penulis yang tadi sore sempat bersalaman dengannya saat bertemu aku, menanyakan ketika duduk bareng untuk santap malam.
“Mana cowokmu yang ganteng tadi?”
“ Oh dia balik ke istrinya” jawabku santai. Dan temanku melongo. Hahah, sudah kuduga.
**

Sepanjang malam itu aku hanya geli padaku sendiri. Bagaimana bisa selama dua puluh tahun ini aku bahkan tidak pernah membiarkannya menyentuh kulitku, memegang tanganku bahkan. Lalu tiba – tiba tadi bisa kami bergandengan tangan. Dan bahkan ada ciuman seharga sandal jepit. Sialan … sialan… gerutuku sambil menahan geli.
Lalu kuterima sms-nya.
“Maaf ya, karena tidak sempat membelikan tiket pesawatnya, aku taruh uangnya di dalam tasmu” 
What?!!!
Kubuka tasku dan menemukan segepok uang berwarna merah di sana. Bisa buat naik pesawat bolak balik Jakarta Semarang empat kali. Oh. Dia pasti memasukkannya saat aku menitipkan tas ketika sholat Ashar tadi.
Tapi aku meraba lagi rasaku. Masih juga tidak kutemukan apa – apa.
Betapa malangnya dia. Setelah dua puluh  tahun menunggu dengan penuh kesabaran dan memberi begitu banyak kebaikan, ternyata cinta itu tetap tidak bertumbuh dalam hatiku.  Semakin aku menggali jauh ke dalam perasaanku, semakin sadarlah aku bahwa cinta itu memang tidak ada di sana untuk lelaki ini. Barulah aku yakin kini, bahwa memang cinta tidak bisa dipaksakan. 

0 komentar:

Posting Komentar