Kisah Ranto dan Ranti (cerpen)

Kisah Ranti dan Ranto
Oleh Dian Nafi

Kantin mulai sepi. Beberapa orang yang tadi masih menikmati camilan dan minuman serta perbincangan hangat, seru ataupun intim, satu per satu meninggalkan tempat nongkrong ini. Tinggal satu orang di belakang meja kasir dan dua orang pelayan kantin yang tampak menikmati istirahatnya, duduk – duduk di buk belakang dekat bagian dapur.
Duduk dekat area pintu, Ranti menunggu kekasihnya dengan  resah. Beberapa kali memperhatikan jam tangannya. Kepalanya segera tegak ketika dari arah jalan depan kantin, tampak sosok yang dinantinya dalam lima belas menit ini. Dari kejauhan tampak Ranto datang dengan senyuman yang ganjil dan canggung.
"Duduk di sini saja atau mau cari tempat lain yang lebih nyaman ?" Ranti membuka percakapan.
"sini saja . Aku atau kamu duluan yang mau ngomong ?" Ranto  mengambil kursi di hadapan  perempuan yang pernah dikasihinya ini.
"Bukan masalah duluan atau tidak.  Tetapi kita kan duduk sama sama di sini . Jadi apa yang kita putuskan sama sama nanti bukan karena siapa lebih duluan kan ?" Ranti mencoba mencari titik temu sebelum nanti di kemudian hari ada ganjalan di antara mereka. Bagaimanapun  Ranti ingin tetap menjalin persahabatan dengan Ranto meski tidak berhasil menjalin percintaan saat ini. Ranto masih  merupakan salah satu orang yang memiliki kualitas yang diinginkannya. Hanya saja ada beberapa hal yang sebenarnya bisa dikejar jika Ranto mau.
"Apa yang membuatmu ragu akan diriku ?"
"Semuanya" jawaban Ranti mengejutkan lelaki muda itu .  Bukan itu jawaban yang dia siap dengar.
"Jadi apa menurutmu kita harus berhenti dan menyerah ?"  Ranto terlihat berusaha agar kata putus itu bukan darinya.
"Aku tidak mau berlarut larut dalam keadaan tidak menentu dengan kamu "
"Aku tidak bermaksud sengaja menunda nunda tugas akhirku, kalau itu maksudmu "
"Tapi kenyataannya kan memang tugas akhirmu tidak selesai selesai . Entah sudah mulai dikerjakan atau belum, aku juga tidak tahu " nada kesal jelas terdengar dari kalimat Ranti .
"Pada akhirnya toh bukan tugas akhir yang  menyebabkan sebuah hubungan itu langgeng atau tidak " kata kata Ranto jelas hanya retorika , tidak perlu dijawab.
"Terima kasih anyway sudah menemani hari hariku setengah tahun ini "
"Aku melakukannya bukan untuk dirimu. Aku melakukannya untuk diriku sendiri "
"Teganya kamu. Bahkan kamu masih mau menyakiti saya di saat saat terakhir seperti ini "
"Kenapa kamu tidak bercermin ? Bukannya kamu yang selama ini selalu menyakiti saya "
"Kok bilangnya gitu sih. Kayaknya kamu fine fine saja selama ini selalu
? Ternyata kamu menyimpan  bara dan dendam dalam hatimu ya ? Ayo muntahkan. Muntahkan semua "
"Pasti aku muntahkan kalau aku bisa, Ranti. Aku mungkin terlalu menyayangimu , aku hanya ingin mengenang yang indah indah di antara kita "
"Aku tidak ingat ada kenangan yang indah di antara kita "
"Kamu terlalu sadis . Sarkasme."
"Coba ingatkan aku . Mungkin memang ada sesuatu yang indah di antara kita tapi terlindas oleh banyaknya pikiranku akan hal lain "
"Aku tidak ingat. Ya, ada satu dua yang kuingat mungkin” Ranti dengan jengah menghindari tatapan Ranto. Dengan kedua alis terangkat dan mata melebar, perpaduan antara terkejut dan mengintimidasi.
“Pertemuan pertama di toko buku Gramedia, itu yang ada dalam memoriku” kata Ranti mengenang.
“Tidak ada yang bisa melupakan apapun yang terjadi pertama kali”
“Sebenarnya keraguan itu kita sama – sama rasakan sejak pertama kali kita bertemu kan?”
“Tidak ada yang langsung yakin saat perjumpaan pertama”
“Tidak ada? Kamu belum banyak tahu saja”
“Apa sebenarnya yang kamu rasakan saat itu?”
“Kamu tidak seperti yang aku bayangkan”
“Intinya kamu kecewa. Tapi aku tidak menangkap itu dari wajahmu saat itu”
“Memangnya bagaimana tampaknya wajahku ? aku memang selalu ceria dan tersenyum, apapun keadaannya “
“Iya, aku tahu. Bahkan aku terkejut ketika melihat cerianya wajahmu saat bertemu pak Zainal. Lebih ceria dari semua ceria yang pernah kulihat darimu”
“kamu cemburu dengan beliau ya?”
“memang terjadi sesuatu antara kalian kan?”
“Tanyakan pada beliau. Aku tidak pernah tahu apa yang beliau rasakan. “
“tapi kamu memang punya rasa padanya. Iya kan?” desak Ranto.
“oh, please stop Ranto. Jangan bawa – bawa orang lain dalam kisruhnya hubungan kita”
“Aku tidak ingat kapan tepatnya chemistry di antara kita luruh dan luntur”
Ranti ikut diam dan mengenang mendengar kalimat terakhir kekasihnya. Dia juga tidak ingat kapan dan mengapa.
“Mungkin karena aku jengkel tugas akhirmu tidak selesai selesai dan kamu selalu menghindar jika diajak bicara tugas akhir”
“Aneh sekali kalau tugas akhir selalu menjadi kambing hitam”
“Kamu pasti tahu kalau bukan tugas akhir itu yang jadi masalah, tetapi cara kamu menyikapinya. Tidak adanya antusiasme. Aku tidak melihat ada semangat atau apapun itu yang aku inginkan kualitasnya ada pada pendampingku kelak”
“Bukannya pasangan itu seharusnya mendampingi dalam keadaan apapun ya?”
“Iya, tetapi bukan keadaan menyedihkan yang disebabkan oleh kemalasan dan keengganan bergerak”
“apa aku tampak seperti itu? Aneh! Harusnya kamu bisa melihat bahwa aku selalu ada setiap kamu butuhkan. Apa saja yang kamu ingin pinjam atau miliki, aku selalu mengusahakannya, sebisaku”
“tetapi kenapa tugas akhirmu sendiri malah terbengkelai?”
“kata siapa terbengkelai?”
“Itu kenyataannya tidak selesai – selesai. Atau justru belum mulai?”
“aku memang tidak suka membicarakan tugas akhir denganmu. Seharusnya kamu tahu, saat saat aku bersamamu itu artinya aku ingin rehat dari masalah – masalah lain yang bikin aku jenuh”
“oh”
“Oh?”
“intinya kita sekarang tidak seperti dulu lagi”
“Tidak ada orang yang terus menerus sama, Ranti. Semua orang berubah. Hubungan juga berubah”
“sebenarnya ada apa kamu ingin kita bertemu?”
“Awalnya ya kukira  dan  kurasa hubungan kita mungkin tak akan berhasil, daripada aku menggantung ini semua, mungkin sebaiknya kita putuskan untuk mengambil langkah terbaik”
“bilang saja kalau mau putus. Aku sama sekali tidak berkeberatan. Itu juga yang aku mau sampaikan padamu hari ini”
“kamu yakin?” Ranto menarik nafas panjang setelah melempar tanya.
“kenapa nggak? Tidak ada lagi chemistry. Tidak ada lagi yang menarik dalam hubungan ini”
“Maksudku mungkin kita tidak perlu langsung putus. Mungkin reha t dulu sementara “
“sama saja, Rantoooo. Itu malah memperpanjang kesia –siaan dan rasa sakit yang mungkin tertinggal”
“apa ada lelaki lain?”
“hah?”
“Pak zainul mungkin?”
Ranti menggeleng – gelengkan kepalanya.
“Aku bisa pergi sekarang? Percakapan ini sungguh sia – sia. Kepalaku semakin pusing saja malahan”
“Mbak, mas. Mau pesan apa?” seorang pelayan kantin datang pada saat yang tepat.
“Cappucino dua mbak. Satu teh hangat dan satu obat kepala. Paramex mungkin?” dengan cepat Ranto menyebutkan pesanannya.
“paramex?” Ranti mengkerutkan keningnya
“Tadi katanya pusing”
“Makanannya apa mbak? Atau camilan?” si mbak pelayan masih menunggu di sisi meja mereka. Dengan sebuah notes kecil dan sebuah bolpoin di tangan kanannya, siap mencatat lagi.
“ehmm…. Kentang goreng saja. Kamu apa Ranti?”
“Pisang keju saja, ada?” raut perempuan itu menjadi sedikit lebih cerah setelah tadi agak sewot.
“Ada, mbak. Kami siapkan sebentar pesanannya ya, mbak dan mas” kata si mbak pelayan sambil undur diri menuju dapur.
Untuk sesaat ada hening dan jeda di antara mereka berdua selepas pelayan itu pergi. Mereka sama – sama menikmati desir angin yang melewati bukaan – bukaan bangunan kantin. Membawa suasana  yang lebih sejuk, meredakan ketegangan yang sempat tercipta tadi.
“Ranti..” lirih Ranto menyebut nama kekasihnya.
“ya….”
“Aku ..”
“kenapa?”
“kalau kita hanya rehat dulu, kita masih ada kesempatan untuk kembali bersama lagi. “
“kalau putus pun sebenarnya tetap bisa bersama lagi jika memang harus begitu”
“tapi kalau ternyata kemudian kamu jadian dengan orang lain, kan tidak mungkin, Ranti “ Ranto mendesah panjang. Dia sebenarnya juga berketetapan untuk putus. Tetapi setelah berbincang tadi, entahlah, ada yang goyang dalam hatinya. Suatu rasa takut kehilangan.
“Ya kalau begitu namanya memang tidak berjodoh. Kenapa jadi ragu – ragu? Kupikir kamu juga menginginkan perpisahan kita”
“entahlah”
“Coba sebut satu saja yang bisa kita pertahankan dari hubungan kita?”
“kenangan?”
“tidak cukup banyak kenangan dalam setengah tahun ini. Sepertinya tidak”
“harapan?”
“untuk apa?”
“mungkin perbaikan. Memperbaiki kita. Memperbaiki masing – masing dari kita”
“entahlah. Coba yang lain”
“frekuensi yang sama”
“hah?”
“kurasa mungkin kamu sependapat denganku bahwa kita punya banyak kesamaan. Dalam banyak hal kita bertemu. Satu pemikiran, kecenderungan dan hobi yang sama. “
“Ya. Itu juga yang mungkin menyatukan kita” Ranti menerawang.
Matanya mencari – cari sesuatu di luar sana. Lewat jendela yang terbuka lebar di dekatnya, dia bisa memandang langit yang bisa diintip dari balik rerimbunan dedaunan pohon – pohon yang ada di depan kantin. Langit tampak cerah. Berbeda sekali dengan kemuraman di bawah sini. Seolah tidak mendukung adanya kepekatan yang lebih lanjut. Ranti mendesah. Menarik nafas panjang dan melepaskannya perlahan – lahan.
“kurasa cinta tidak seharusnya sepelik ini” Ranto menepuk sunyi, menguarkan lembut pertanyaan yang dikemas dalam pernyataan.
“aku sudah membuatnya sederhana, tadinya” lanjutnya. Membiarkan Ranti diam mendengarkan alunan perasaan yang telah dipendamnya sejak lama.
“Aku tidak pernah berpura – pura tidak tertarik atau berpura – pura menjaga jarak” kata – kata Ranto seolah menyindir dan menohok Ranti yang termangu.
“Apa adanya aku, itu yang aku tunjukkan. Aku juga tidak pernah marah dengan sikapmu yang menarik ulur aku seperti sebuah layangan. Aku juga tidak mengeluh jika kamu bersikap maju mundur. Entah karena keraguanmu atau itu memang caramu menjerat aku.”
Sampai di sini Ranto mengambil jeda, mencoba melihat ekspresi Ranti menanggapi keluhannya. Tetapi perempuan itu diam saja, menunggu.
“Apa tidak lelah jika terus bermain – main seperti itu ? petak umpet itu kan asyik kalau kadang – kadang saja. Main kejar – kejaran kan bisa capek kalau terus menerus” Ranto menghela nafas berat seolah menumpahkan lelahnya yang selama ini dia pendam sendiri.
Ranti hanya terdiam. Alisnya terangkat sebentar dengan moncong mulutnya maju mundur.  Menandakan seolah dia sedang mencerna kata – kata Ranto dan mencari jawaban atas keluhan – keluhan itu.
“Aku bukannya tidak tahu kalau sedang kamu uji” masih suara Ranto berdengung di tengah sepinya kantin.
“Ini mbak, pesanannya” si mbak pelayan datang tidak tepat waktu sebenarnya. Ranto dan Ranti sedang sama – sama tercekam waktu. Kenapa komunikasi justru terjalin lancar di saat – saat mereka ada di ujung tanduk.
“Silakan” si mbak pelayan mempersilakan kedua anak adam ini menyantap hidangan yang mereka pesan. Senyumnya cukup melumerkan suasana hati Ranto maupun Ranti.
“Diminum, Ran” kata Ranto mempersilakan sembari dirinya sendiri menghirup aroma hangat dan sedap dari cappuccino yang telah ada dalam cangkir yang digenggamnya.
Ranti mengambi cangkirnya sendiri dan tanpa banyak kata atau aksi menikmati kepulan cappucinonya, dia memindahkan sedikit larutan yang sering melenakan itu ke dalam tubuhnya .
“Sampai di mana tadi?” tanya Ranto setelah dia menyeruput capucino-nya hampir separuh cangkir.
“Ujian?”
“Iya. Aku bukannya tidak tahu kalau kamu uji. Aku sepenuhnya sadar jadi lama – lama kupikir it is ridiculuous. Non  sense. Kamu tidak perlu lagi mengujiku kalau sudah tahu sepenuhnya bahwa rasaku padamu. “
“Aku tidak pernah bermaksud mengujimu” kata Ranti lirih seolah merasa bersalah.
“Tapi sikapmu menunjukkan demikian. Seolah aku harus membuktikan sesuatu. Seolah aku harus mati – matian mengejarmu. Aku juga punya banyak hal lain yang harus kukerjakan untuk memenuhi kebutuhan hidupku sendiri” suara Ranto terdengar lemas. Lelaki itu tampak berusaha keras menjaga intonasi nada suaranya agar tidak tampak lemah ataupun menyerang.
“Jadi menurutmu aku harusnya bagaimana?” tanya Ranti. Ada sedikit kelembutan dalam nada suaranya. Dia mungkin mengimbangi sikap Ranto yang mulai putus asa.
“Sederhanakan cinta”
Singkat ucapan Ranto. Mengandung makna yang bisa menjadi bahan pertanyaan lebih jauh, luas dan dalam. Ranti cukup memahami maksud kekasihnya.
“Sederhanakan. Jangan dipersulit. Tidak perlu menghambat aliran cinta dengan menampung beban dan sampah – sampah lain yang tidak diperlukan. Lapangkan jalannya, biarkan energinya membuatmu penuh. Buang sauh, menepilah dan biarkan bidukmu merapat ke tempat di mana dia seharusnya berlabuh” panjang uraiannya membuat nafas Ranto menjadi tersengal.
Tapi lelaki muda itu tampak puas dengan paparannya.
“Aku tidak pernah tahu kalau kamu juga pandai berpuisi. Kupikir puisimu hanya untuk disantap di media – media, untuk mencetak uang “ komentar Ranti sembari terkekeh.
Tersungging senyum kecil di sudut bibir kiri Ranto.
 “Kenapa dulu kamu diam saja?” tanya Ranti sembari wajahnya kini mendekat menghadap wajah Ranto yang tampak terkejut dengan reaksi Ranti barusan.
“aku selalu kehabisan nafas jika di dekatmu. Selalu hilang dalam debur jantung dan gelombang rasa jika bersamamu. Aku selalu kehabisan kata – kata bahkan tidak sanggup berpikir jernih jika kamu di sisiku” suara Ranto meninggi lalu merendah sampai ujungnya seperti tertiup angin siang menjelang sore itu.
Ranti tersenyum mendengar pengakuan itu. Sejujurnya dia memang salah satu perempuan dengan tipe yang haus pengakuan dan pujian. Yang selalu ingin dikejar atau diperebutkan.
“Aku ingin membuatmu bahagia tetapi tidak selalu dengan caramu” lanjut Ranto. Jemarinya mencoba meraih jemari Ranti yang terkulai di depannya.
Ranti tidak menolak. Mungkin sudah waktunya meluruh. Jika ini benar – benar hari perpisahan mereka, setidaknya Ranto boleh mengenangnya sebagai perpisahan yang indah.
“Sedemikian menjengkelkannya dirimu, tapi aku tahu pasti, aku tidak pernah bisa membencimu. Kamu sudah meringkus hatiku sedemikian rupa. Sehingga bahkan ketika aku mencoba berpaling ke perempuan lain, senantiasa wajah, paras dan dirimu yang selalu hadir dalam benakku” digenggamnya tangan Ranti sedemikian erat seolah takut Ranti akan pergi dan larinya karena muak mendengar penjelasannya ini.
“Sedemikian takutnya aku kehilangan dirimu, semakin membuatku sadar. Jika aku semakin jauh dan lama membiarkan hatiku kamu kuasai, akan semakin sulit diriku menyembuhkan luka yang mungkin terjadi di akhir kisah cerita kita”
“jadi ini saatnya?” sahut Ranti cepat.
“bagaimana menurutmu?” Ranto balik bertanya.
“Aku tidak bisa membalas cintamu yang sedemikian besar padaku, itu jelas. Dan aku tidak tahu sampai kapan “ kata Ranti sambil memperbaiki duduknya.
Ranto perlahan mengendurkan genggaman tangannya. Jemari Ranti kini bebas, tetapi perempuan itu tidak menariknya menjauh dari sisi Ranto.
“Aku tidak bisa berpura – pura mencintai jika bukan itu yang aku rasakan” lanjut Ranti.
“maksudmu kamu tidak pernah mencintaiku?” tanya Ranto dengan nada terkejut dan kedua alisnya bertaut.
“Bukan begitu. Aku mencintaimu tetapi belum juga bisa hanya mencintaimu saja. Itu beda” buru – buru Ranti menyahut.
“Artinya masih ada orang lain. Pak Zainal?” tanya Ranto menyelidik.
“Banyak. Bukan pak Zainul saja” pengakuan Ranti mengejutkan lelaki muda itu.
“Oh ya? Tapi kenapa? Bagaimana bisa? “ Ranto memberondong kekasihnya dengan tiga pertanyaan pendek namun substansial.
“Aku tidak bisa menjelaskan, Ranto. Mungkin aku adalah seorang yang selalu haus, seorang penjelajah dan petualang. Yang tidak bisa berhenti di satu dermaga saja. Tetapi selalu ingin berlayar dari satu dermaga ke dermaga lain. Bertualang dari satu terminal ke terminal lain” ungkap Ranti. Dia tak mungkin lagi menyembunyikan kecenderungannya ini  dari seseorang yahg telah dengan tulus mengungkapkan isi hatinya yang paling jujur.
“Tapi untuk apa?”
“Untuk pengakuan, untuk kepuasan. Aku tidak tahu. Aku bahkan tidak bisa menjelaskannya sendiri. Mungkin butuh seorang psikolog dan psikiater untuk bisa menerangkan kecenderungan negative ini” kata Ranti sambil menggedikkan bahunya.
Ranto terdiam. Tercenung cukup lama. Dia mungkin pernah sekali menduganya, tetapi dia tidak sungguh – sungguh menyangka akan mendengar perihal ini dari kekasihnya, Ranti. Yang dipandangnya memiliki prinsip yang teguh, pengamalan agama yang kuat dan pandangan yang jernih akan berbagai hal.
“Kamu terkejut? Kalau aku mungkin sedikit gila? Kamu tidak ingin mempunyai pasangan yang memiliki kegilaan  di dalam jiwanya kan?” tanya Ranti sembari sebuah senyuman ganjil tampak menghiasi wajahnya yang manis.
Ranto sekali lagi hanya terdiam. Waktu setengah tahun tidak cukup panjang untuk saling mengenal siapakah sejatinya masing – masing dari mereka ini.
“Ranto..” Ranti seperti membangunkan zombie dari tidurnya.
Lelaki itu meraih cangkirnya dan menyeruput capuccinonya. Alih – alih menjawab pertanyaan Ranti, dia justru mengambil camilan di depannya dan menikmatinya segigit demi segigit.
“Aku tidak tahu kapan akan sembuh, Ranto. Aku juga tidak berharap kamu yang akan menyembuhkanku. Beban hidupmu sendiri sudah terlalu berat. Ketika kita masih bisa bersenang – senang dan menikmati hubungan ini, kurasa tidak akan menjadi masalah apakah aku sedikit gila atau tidak. “ sampai di sini Ranti mengambil jeda. Mengambil nafas. Mencoba menangkap dan menterjemahkan   raut wajah kekasihnya.
Yang ditatap hanya diam membisu. Mulutnya yang masih menampung sedikit sisa – sisa camilan itu hanya bergerak sesekali.
“tetapi kita semua tahu bahwa hubungan apapun itu pasti ada pertanggung jawaban. Darinya tercermin masa depan yang mungkin terjadi. Dan aku setiap kali melihat cermin besar yang ada di rumahku, aku melihat separuh aku menyayangimu, namun separuhnya lagi tidak menginginkan dirimu karena aku masih ingin bebas” lanjut Ranti sembari tangannya bergerak membentuk sketsa kerta s gambar entah layar PDA smarphone ke udara.
Ranto mengangguk – angguk, memahami jalan pikiran juga alasan dari  Ranti kini.
“dengan berat hati, aku harus melepas ini” Ranti membuat jemarinya terbuka. Mengambil sebentuk cincin bermata batu biru di jari manis kanannya.
“tidak perlu kamu kembalikan Ranti. Aku ikhlas”
“Iya, aku tahu. Kamu lelaku paling tulus dari semua lelaki yang aku kenal “ puji Ranti, tulus.
“tatapi ketulusan tidak penah cukup. Iya kan?” Ranto memojokkan Ranti.
“Mungkin. Satu kualitas yang juga harus dimiliki calon pendampingku adalah dia punya semangat hidup dan semangat meraih sesuatu”  jelas Ranti seolah – olah ranto memang tidak memiliki apa yang diinginkannya.
“Baiklah, Ranti. Aku cukup tahu diri. Karenanya aku mundur dari kancah ini. Dan aku selalu mendoakanmu” Ranto menegakkan punggungnya. Mereka sepertinya akan sampai di ujung percakapan serius ini.
“Ranto. Kita tidak perlu saling menyakiti setelah kemarin pernah saling menyayangi. Ini adalah salah satu episode yang memang harus kita lalui” Ranti menatap ke kedalaman dan bening mata malaikat milik Ranto.
Lelaki itu balas menatap kekasihnya dengan pandangan lembut. Kenapa harus cinta selalu berakhir dengan luka, bisik hatinya.
Mereka saling bersitatap dan berpandangan. Saling menahan nafas. Seakan akan sama – sama mencari serpihan cinta di antara puing – puing bangunan hubungan mereka. Mencari sesuatu yang mungkin bisa untuk dijadikan alasan agar masih bisa bersama – sama lagi. Namun kiranya mereka telah sampai di ujung perjalanan ini. Tidak ada lagi serpihan yang mereka cari.
Bening Kristal tiba – tiba mengkabut di mata lelaki itu.
“Kamu tidak memakan camilanmu, Ranti” ujar Ranto sejurus kemudian demi untuk menetralkan hatinya. Secepat kilat dihapusnya genangan di kelopak matanya yang hampir menetes melewati tulang pipinya yang tinggi.
“Eh iya, akan aku bawa pulang saja, Ranto”  jawab Ranti dengan gugup. Diraihnya camilan di depannya dan dibungkusnya dengan sebuah tisu yang dia ambil dari sebuah wadah di meja yang sama. Ranto hanya mengamati gerakan halus Ranti. Dia bisa merasakan ada sedikit perubahan dalam bahasa tubuh kekasihnya ini. Dia, perempuan yang dikasihinya itu, tidak tampak terburu – buru seperti biasanya.
“Aku meminta maaf jika telah merepotkanmu selama ini, Ranto” kata Ranti setelah berhasil memasukkan bungkusan camilan itu ke dalam saku belakang tas-nya.
“Kamu tidak perlu meminta maaf, Ranti. Aku ingin kamu bahagia. Jika bahagiamu itu harus tidak dengan berjalan denganku, aku rela. Justru aku yang meminta maaf karena telah menahanmu selama setengah tahun ini dalam hubungan yang menurutmu mungkin sia – sia”  Ranto mengukir wajahnya dengan sebuah senyuman. Dipancarkannya ketulusan dari wajahnya yang sekarang lebih cerah, seperti telah melepaskan pekat dan gelap yang menyesakkan dirinya selama ini.
“Kita masih akan bersahabat, kan?” tanya Ranti.
Ranto mengangguk mantap.
Mereka sama – sama berdiri dan memanggil si mbak pelayan.
“Biar aku yang traktir ya” pinta Ranto.
Ranti hanya mengangguk. Mereka telah sampai di akhir perjalanan yang membukakan sebuah awal baru. Pengertian dan saling memahami. Mungkin mereka akan berjalan bersama sebagai sahabat sejati.

0 komentar:

Posting Komentar