Tidak Serta Merta (sebuah catatan dr workshop nulis)



Alhamdulillah, workshop nulis cerpen di SMPN2 Demak-almamater saya dulu- sukses dan lancar hari ini. Ada 32 siswa yang terpilih untuk ikutan kali ini. Untuk mereka yang berminat bareng belajar nulis novel, akan dilanjutkan klas/pertemuan lanjutan.



Workshop dimulai dengan pemutaran film pendek, dilanjutkan mengapresiasi musik, berbagi teknik nulis dan akhirnya praktek nulis. (yang tadi sempat lewat tidak dikerjakan adalah sobek-sobek koran ala Bli Putu Fajar Arcana sebagai metode 'memerangi writer's block')

Memadukan olah rasa yang dulu diajarkan mas Yanusa Nugroho, praktik connectivity dari mas Tasaro, layers-nya Dee&Ayu Utami juga guru privatku, Lokomotif-nya Sungging Raga, juga bawa-bawa nama Hemingway dan Gabriel Marques, kayaknya workshop tiga jam tidak cukup merangkum apa yang sudah saya terima lebih dari tiga tahun ini. Semoga apa yang sedikit tadi, berkah dan bermanfaat.


Dan tetap saja, seperti biasa, perlu ditandaskan. Lagi dan lagi.
Nulis itu ya ketrampilan, meski bisa dibagi teorinya, tekniknya, tips nya, tetap saja kuncinya adalah practice dengan massif, tak kenal lelah&progresif. Jadi tidak bisa serta merta. Iya tho?! :D


Diskusi Buku Miss Backpacker Naik Haji



Alhamdulillah, hari ini Diskusi Buku Miss Backpacker Naik Haji berjalan sukses dan lancar.




Teman-teman yang hadir turut menghidupkan suasana dengan pertanyaan-pertanyaan sekitaran buku, haji umroh, backpacker-an dan juga kepenulisan.


 Sayangnya pemantau fashion-ku alias adikku sendiri sedang ke Magelang hari ini. Jadi kostumku agak kacau. Hahay... tapi tidak mengurangi antusias untuk berbagi dan berkumpul dengan teman-teman.





Terima kasih semua pihak yang sudah andil dan sudah hadir. Dari Mizan, Togamas dan teman-teman dari berbagai komunitas dan  teman-teman dari IAIN, UNNESS dan UNDIP. Mas Imam, mas Hanafi, mbak Iin, mbak Aan, mbak Hartari, mbak Rahayu, Muawanah cs, dll.


Alhamdulillah Menjadi Favorit LMCR Lagi

Alhamdulillah setelah pada LMCR 2011 sebelumnya, cerpen saya masuk favorit urutan 13.
Tahun ini cerpen saya masuk favorit LMCR 2013 lagi.


Kali ini aku bercerita tentang sepupuku yang kehilangan ibunya sejak masih orok. Sehingga mengalami berbagai hal yang memilukan dan membuatnya terombang-ambing. Puncaknya adalah saat dia menginjak usia remaja, dan harus merasakan kehilangan berikutnya di saat dia belum lagi membayar penyesalan-penyesalan akan sikap-sikap keliru yang pernah diambilnya pada waktu-waktu terdahulu

alhamdulillah.
terimakasih bu Naning Pranoto, seluruh juri dan panitia LMCR Rohto 2013 yang telah memilih cerpenku sbg salah satu karya favorit.
Terimakasih untuk buku&  bingkisannya :)



[even] Diskusi Buku Miss Backpacker Naik Haji

Bismillahirrohmanirrohiim

Melalui kesempatan ini, saya mengundang rekan-rekan semua untuk hadir dalam even yang Insya Allah diselenggarakan pada :

Hari : Minggu, 27 Oktober 2013
Jam : 09.30 WIB - selesai
Tempat : Togamas Bangkong Semarang (Jl. MT Haryono)
Acara :
- Diskusi  buku Miss Backpacker Naik Haji
- Bagi oleh-oleh dari Ubud Writers & Readers Festival

Ditunggu kehadirannya ya kawan-kawan.
Tiada kesan tanpa kehadiranmu ^_^

Salam hangat,
Dian

Tanda-Tanda Orang Akan Meninggal

" Tanda 100 hari menjelang meninggal "
Ini adalah tanda pertama dari ALLAH SWT kepada hambanya dan hanya akan di sadari oleh mereka yang dikehendakinya. Walau bagaimanapun semua orang islam akan mendapat tanda ini hanya saja mereka menyadari atau tidak..
Tanda ini akan berlaku lazimnya selepas waktu ashar, seluruh tubuh yaitu dari ujung rambut hingga ke ujung kaki akan mengalami getaran atau seakan-akan menggigil, contohnya seperti daging lembu yang baru saja disembelih dimana jika diperhatikan dengan teliti, kita akan mendapati daging tersebut seakan-akan bergetar. Tanda ini rasanya nikmat dan bagi mereka yang sadar dan berdetik dihati bahwa mungkin ini adalah tanda mati, maka getaran ini akan berhenti dan hilang setelah kita sadar akan kehadiran tanda ini.
Bagi mereka yang tidak diberi kesadaran atau mereka yang hanyut dengan kenikmatan tanpa memikirkan soal kematian, tanda ini akan lenyap begitu saja tanpa sembarang manfaat.
Bagi yang sadar dengan kehadiran tanda ini, maka ini adalah peluang terbaik untuk memanfaatkan masa yang ada untuk mempersiapkan diri dengan amalan dan urusan yang akan dibawa atau ditinggalkan sesudah mati.
" Tanda 40 hari "
Tanda ini juga akan berlaku sesudah waktu ashar, bahagian pusat kita akan berdenyut-denyut pada ketika ini daun yang tertulis nama kita akan gugur dari pokok yang letaknya diatas arash ALLAH SWT, maka malaikat maut akan mengambil daun tersebut dan mulai membuat persediaannya ke atas kita, antaranya ialah ia akan mulai mengikuti kita sepanjang masa.
Akan terjadi malaikat maut ini memperlihatkan wajahnya sekilas lalu dan jika ini terjadi, mereka yang terpilih ini akan merasakan seakan-akan bingung seketika.
Adapun malaikat maut ini wujudnya cuma seorang tetapi kuasanya untuk mencabut nyawa adalah bersamaan dengan jumlah nyawa yang akan dicabutnya.
 " Tanda 7 hari "
Adapun tanda ini akan diberikan hanya kepada mereka yang diuji dengan musibah kesaktian dimana orang sakit yang tidak makan, secara tiba-tiba ia berselera untuk makan.

" Tanda 3 hari "
 Pada ketika ini akan terasa denyutan di bahagian tengah dahi kita yaitu diantara dahi kanan dan kiri, jika tanda ini dapat dikesan maka berpuasalah kita selepas itu supaya perut kita tidak mengandungi banyak najis dan ini akan memudahkan urusan orang yang akan memandikan kita nanti. Ketika ini juga mata hitam kita tidak akan bersinar lagi dan bagi orang yang sakit hidungnya akan perlahan-lahan jatuh dan ini dapat dikesan jika kita melihatnya dari bahagian sisi. Telinganya akan layu dimana bagian ujungnya akan Beransur-ansur masuk ke dalam. Telapak kakinya yang terlunjur akan perlahan-lahan jatuh ke depan dan sukar ditegakan.

" Tanda 1 hari "
            Akan berlaku sesudah ashar dimana kita akan merasakan satu denyutan di sebelah belakang yaitu di kawasan ubun-ubun dimana ini menandakan kita tidak akan sempat untuk menemui waktu ahsar keesokan harinya.

" Tanda akhir "
Akan terjadi keadaan dimana kita akan merasakan sejuk dibahagian pusat dan rasa itu akan turun kepinggang dan seterusnya akan naik ke bahagian Halkum. Ketika ini hendaklah kita terus mengucap kalimat SYAHADAT dan berdiam diri dan menantikan kedatangan malaikat maut untuk menjemput kita kembali kepada ALLAH SWT yang telah menghidupkan kita dan sekarang akan mematikan pula.
SESUNGGUHNYA MENGINGAT MATI ITU ADALAH BIJAK
May ALLAH SWT bless you.
Saling berpesan-pesanlah sesama kita.
Semoga kita tetap sadar hingga pada akhirnya

Kunjungan ke majalah cempaka


Setelah kemarin Cempaka meliput komunitas kepenulisan kami dan alhamdulillah foto bedah buku Mesir Suatu Waktu ikut mejeng di sana,  gantian kita berkunjung ke cempaka.







Seru seru lho awak redaksinya. Total kru ada 30 orang. Tapi di kesempatan hari ini kita ditemui pimrednya, redaktur busana, kuliner dan koordinator redaksi.


[even] sharing nulis di IAIN Semarang

Alhamdulillah, pada hari Ahad 6 Oktober 2013, saya jadi silaturahim memenuhi undangan dari LPM Idea. Untuk sharing nulis pada workshop yang mereka selenggarakan di  Fakultas Ushuluddin IAIN Semarang.


Bagian paling menyenangkan dari sharing adalah energi kita menjadi terbarukan kayak nge-charge lagi. 
semoga sedikit yang saya bagikan berkah dan bermanfaat. Aamiin. 

[even] Sounding & Sharing dengan Penerbit & Wawancara dengan Tribun Jateng

Alhamdulillah,   kita sukses menggelar kopdaran lagi alias kumpul bareng teman-teman komunitas.
Kali ini dalam even Sounding & Sharing dengan Penerbit. (Terima kasih traktirannya ya:))
Dilanjut dengan wawancara dengan Tribun Jateng :)

*sampai rumah, langsung bongkar-bongkar stock outline juga stock naskah untuk dipermak dan dikirim. hehe  :D


[even] Pre-Launching Novel Sarvatraesa di Ubud

Alhamdulillah, novel Sarvatraesa sudah naik cetak. Dan kalau kita beruntung, mudah-mudahan bukti terbitnya sudah sampai di tangan sebelum saya berangkat ke Ubud untuk festival.

Insya Allah dengan teman-teman di Ubud, akan kita adakan pre-launching novel Sarvatraesa.
Doakan lancar dan sukses. Juga kisah yang dibagikan ini membawa hikmah serta berkah. Aamiin.

Tunggu cerita selanjutnya ya ^_^

[even] Diskusi Buku Miss Backpacker Naik Haji 27 Oktober 2013

Alhamdulillah, mengikuti suksesnya diskusi buku Mesir Suatu Waktu di Gramedia Pandanaran Semarang (13 September 2013) dan Novel Ayah, Lelaki Itu Mengkhianatiku di Togamas Bangkong Semarang (22 September 2013) saya dihubungi untuk bedah  buku berikutnya.

Insya Allah diselenggarakan pada:
Hari/Tgl : Minggu, 27 Oktober 2013
Jam : 09.30 WIB -selesai
Acara :
- Diskusi Buku Miss Backpacker Naik Haji
- (sedikit) pelatihan manasik haji (secara singkat)

Seperti biasanya, pasti full diskon dan banyak doorprize.
See you there, teman-teman ^_^

nb: insya Allah kalau saya jadi ke Ubud pertengahan Oktober. oleh-olehnya sekalian saya bagikan di even ini. (*maksudnya oleh-oleh cerita dan tips-tips nulis dari para pakarnya..hehe)
Buku Miss Backpacker Naik Haji terbitan Imania-Grup Mizan
bisa didapatkan di toko buku Gramedia, Togamas dll

[even] 6 Oktober 2013


LPM Idea IAIN Semarang mengundang saya untuk even yang Insya Allah diselenggarakan pada :

Hari : Minggu, 6 Oktober 2013
Jam : 09.00 WIB - selesai
Tempat : Fakultas Ushuluddin IAIN Semarang
Acara :  Ngobrol kepenulisan : Bagaimana Menulis Cerpen dan Bagaimana/Kiat Produktif Nulis

Silakan hadir, rekan-rekan, untuk sharing dan brainstorming bersama.

Salam hangat,
Dian

[catatan] Wajah Di Jendela

WAJAH DI JENDELA
Oleh dian nafi

Apa yang akan kau lakukan jika tidur di tempat tidur yang bukan tempat
tidurmu membawamu kepada mimpi buruk? bahkan juga pikiran-pikiran
buruk.
Siapa coba yang menginsulinkan dalam pikiranku dengan tiba-tiba
seperti ini. Seseorang yang mengagungkan cinta dan pernikahan seperti
aku tiba-tiba bangun tidur dengan membawa pengertian baru, bahwa
betapa buruknya ide pernikahan itu. bagaimana mungkin seorang
perempuan mau-maunya mengikatkan diri pada seorang lelaki yang jika
suaminya itu mengucapkan kata cerai maka putuslah hubungan mereka.
Betapa tidak adilnya. Betapa naifnya perempuan yang menyerahkan
kebebasannya pada lelaki yang bisa sewaktu-waktu membuatnya terancam
janda.
Wuah. Mimpi apa yang paling buruk dibanding bangun tidur dengan sebuah
pengertian dan pemahaman terbalik dari semua yang diyakini selama ini.
Menurutku ini yang paling terburuk.
Meskipun dalam tidur singkatku yang berasa semalaman itu berisi
mimpi-mimpi buruk dalam beberapa episode dan tema. Betapa
mengerikannya. Kurasa aku mungkin memilih tidur di tempat tidurku saja
lagi daripada tidur di tempat yang lebih empuk dan sejuk itu.
Hei, apa mungkin mimpi dan pikiran buruk itu datang kepadaku gegara
sebelum tidur aku sempat berpikiran mengapa aku terima diberi tempat
tidur yang buruk seperti tempat tidurku sehari-hari. Dan bukannya
diberi tempat tidur empuk sejuk yang malam itu aku tiduri, yang
notabene pernah menjadi tempat tidurku saat pengantin baru.
Atau mungkin sebenarnya waktunya bertepatan saja dengan gerundelan
mantan pacarku sehingga dia datang dalam mimpi burukku semalam. Dia,
dalam mimpi itu, memberikanku apa saja, melayani kepentingan dan
kebutuhanku dalam apa saja, tetapi aku mencuekinya seperti aku
mencueki dalam kehidupan nyata. Dia jatuh terduduk, wajahnya terkulai,
tapi aku masih mengabaikannya dan berlalu, dalam mimpi itu.
Lalu namanya juga mimpi, aku yang sedang berganti baju dalam kamar
ibuku dikejutkan kehadirannya yang membuka pintu kamar ibu dan masuk
dengan hanya memakai kaos dan celana dalam. Karuan saja, dalam mimpi
itu, ibuku yang datang persis setelah dia masuk, langsung marah-marah
dan menuduh kami macam-macam. Padahal tidak ada sesuatupun yang kami
lakukan. Aku menjerit-jerit mencoba menjelaskan, tetapi ibuku terus
menangis kesal dan menyalak marah. Aku bisa bayangkan dalam kehidupan
nyata, pasti itu jugalah yang akan dilakukan ibuku.
Namun yang paling mengganggu pikiranku adalah bahwa orang seringkali
menjatuhkan prasangkanya sendiri pada orang lain, meski kejadian yang
sebenarnya tidaklah sama dengan yang disangkakannya. Eh, mungkin dari
sini pikiran buruk tentang betapa tak adilnya pernikahan itu menelusup
ke dalam otakku. Bayangkan jika seorang suami tersulut cemburu lalu
darinya terbetik dan terucap kata cerai. Kemudian sang istri jadi
menderita perceraian, menjanda dan stigma buruk pasti jatuh padanya.
Wow, buruk sekali. Mengerikan. Mending tidak menikah saja kalau hanya
mau statusnya menjadi  permainan di tangan lelaki yang bahkan tadinya
bukan siapa-siapanya. Hmm, mungkin pikiran-pikiran ini yang menggeluti
otak dan perasaan para feminis itu. Ada gunanya juga mimpi dan pikiran
buruk ini. Setidaknya aku bisa menyelami dan berempati pada para
feminis, dan bukannya mencemooh mereka saja. Seperti yang banyak
dilakukan oleh para ‘ahli agama’ dan ‘orang-orang suci’ yang suka
beredar di TL alias timeline twitter itu.
Hei. Kalian masih mau mendengarkan mimpi burukku yang lainnya bukan.
Sesuatu yang menerangkan kenapa judul cerpen ini adalah Wajah Di
Jendela.
Mimpi buruk berikutnya adalah seorang lelaki yang entah siapa
mengetuk-ngetuk jendela kamar tidurku sendiri. Dia menanyakan kepadaku
dalam deras hujan yang membuat wajah dan rambutnya di mimpi itu basah
kuyup, apakah keluarga kami memiliki kijang biru. Kepalaku menoleh ke
belakang, dalam mimpi itu, ke arah ibu yang berdiri agak jauh di
belakang punggungku. Beliau mengangguk. Lalu mata kepalaku beralih
pada wajah di jendela. Dia mengabarkan bahwa kijang biru itu mungkin
mengalami kecelakaan. Dan seluruh pikiran buruk menerpa, mengingat
dalam kehidupan nyata saat aku sedang bermimpi itu keluarga sepupu
kami sedang pergi keluar kota mengendarai mobil ibuku. Meskipun
mobilnya bukan kijang biru, tapi avanza hitam. Dalam kehidupan nyata,
kijang biru itu sendiri adalah mobil ibuku yang mengalami kecelakaan
lima tahun lalu dan menewaskan suami dari sepupu yang hari ini tadi
pergi meminjam avanza hitam itu.
Sudah.
Sudah kuceritakan mimpi buruk dan pikiran buruk yang datang setelah
aku bangun dari tempat tidur yang bukan tempat tidurku. Bisakah aku
tidur lagi sekarang. Tentu saja di tempat tidurku sendiri. Yang
meskipun jelek, keras, kasar, tipis dan suhu kamarnya kadang
menjengkelkan, tapi tidak pernah memberikan aku mimpi dan pikiran
buruk.
Baiklah, selamat tidur.

[cerpen] Ban Serep

Kemarahanku tidak tertahan lagi. Sudah sampai di ubun-ubun dan siap meledak sekarang.

“Mbak Syafina nggak fair! Kan waktu itu kita sudah bikin kesempatan!” aku meradang.

Telunjuk mengacung-acung ke arah kakakku yang wajahnya cantik seperti bidadari tapi hatinya bak nenek sihir. Tapi dia tidak bereaksi, tidak membuka mulutnya. Wajahnya datar. Tak kutangkap aura penyesalan sedikitpun. 

“Mah.. “ kulirik Mama untuk mencari dukungan.
Tapi Mama  menunduk sejak tadi. Masih kutunggu beberapa waktu, tapi dia tidak berani mendongakkan wajahnya.

“Pah..”  dengan tatapan tajam kupandangi Papa. Berharap dia bersuara untuk membela kepentinganku. Tapi papa diam seribu bahasa.

“Pokoknya kalau mbak Syafina nggak mau pesta nikahan kita jadi barengan, aku batalin pernikahanku!” ancamanku tidak main-main.

Aku masih berharap salah seorang di rumah ini membelaku. Mungkin mbak Syafina akan berubah pikiran di menit-menit terakhir pertemuan menegangkan ini. Atau Papa yang diktator memberikan keputusan tepat. Atau Mama yang pengasih berusaha membujuk kakak keras kepalaku itu.
Aku masih menunggu dengan getir.
Tapi harapanku sirna. Tak ada yang bergeming. Semuanya memang raja tega. Semua tak peduli akan kebahagiaanku. Tak peduli perasaanku.
“Oke! Aku juga tidak harus peduli siapapun!” teriakku sembari pergi cepat meninggalkan ruangan busuk yang penuh orang-orang busuk itu.

Air mata yang terus mengalir sedikit menyamarkan penglihatanku. Meski sambil berlari masih kujejakkan hati-hati kakiku meniti tangga menuju lantai rumah di mana kamarku berada.
Bam! Suara pintu kamar tak cukup mengekpresikan kemarahanku sebenarnya. Seandainya aku bisa meledakkan sesuatu yang lebih besar dan menghebohkan.
Kuhempaskan tubuh yang beberapa bulan ini menahan lapar demi bisa makin langsing dan siap di pelaminan tapi ternyata sia-sia. Kuraih ponsel di meja nakas sebelah ranjang. Kabut di mata makin menebal, tapi aku sudah bertekad untuk tidak peduli. Untunglah aku tak perlu memijit tuts nomor-nomor karena ada speed dial.

“Malam-malam nelpon. Ada apa, sayang?” suara renyah cowok di seberang telpon terdengar basa-basi dan berisik di telingaku.

“Sayang, sayang. Aku bukan sayangmu lagi! Pernikahan kita batal! Kita putus!” teriakku lalu menutup telpon dengan semena-mena.
Ingat kan? Aku tak harus peduli siapapun lagi.

**

Seperti dugaanku, cowok berkaca mata yang sama sekali memang bukan tipeku  itu datang ke rumah. Tapi aku bersikeras tidak mau menemuinya di ruang tamu. Meski begitu, telingaku awas. Duduk di pojok ruang tengah yang tidak berdaun pintu, aku bisa mendengar percakapan mama, papa dan mbak Syafina yang egois itu dengan mantan cowokku. Ingat ya? Mantan! Dia barusan semalam kuputus dan batal jadi calon pendampingku.

“Kami juga kaget mendengar ini,” itu suara papa usai mendengar penuturan Hendra.

“Gina apa-apaan sih pakai acara memutus hubungan kalian,” itu gerutuan mbak Syafina.

Mana suara Mama? Aku masih menunggu.
Ternyata Mama memilih tidak bicara dan malah pergi menemuiku.

“Kamu kenapa mutusin Hendra?” bisik Mama sembari memegang kedua tanganku.
Kutepiskan perlahan tangan Mama. Tak kujawab pertanyaannya. Sebenarnya aku agak tega dengan wajah Mama yang memelas. Tapi apa peduliku. Toh semua orang juga tidak peduli padaku. Kularikan tubuh dan jiwaku kembali berguling di kamar tidur. Membiarkan Mama mengejarku tapi beliau hanya berhasil sampai di pintu kamar, karena aku telah bergegas menguncinya.

**

Hendra datang di saat yang tepat. Itu saja sebenarnya alasan kenapa waktu itu aku menerimanya sebagai pacar sekaligus tunangan dalam waktu penjajakan yang singkat. Padahal jelas-jelas Hendra bukan tipeku.

“Gina? Kamu yakin pilihanmu?” banyak orang meragukanku, termasuk mbak Syafina sendiri.
“Sudah deh…. Gue gampang kok beradaptasi,” sahutku asal, meski tidak terlalu yakin.

Setelah lama memilah dan memilih, akhirnya Mbak Syafina menentukan siapa calon suaminya. Tapi seperti juga kakak kami yang pertama dan akhirnya kawin lari bahkan tidak kembali ke rumah ini, mbak Syafina terbentur pada perijinan keluarga kami. Waktu itu Papa yang keras dan sulit ditaklukkan akhirnya mengikuti bujukanku agar menyetujui calon iparku. Dan sebagai hadiah atas keterlibatanku menggoalkan calon suaminya, aku mau pesta pernikahan mbak Syafina adalah juga pesta pernikahanku. Meski waktu itu aku baru saja putus dari cowokku sebelumnya. Begitu mbak Syafina setuju, aku langsung menerima Hendra.
Tapi semuanya kacau ketika mbak Syafina berubah pikiran. Di tengah-tengah perjalanan mempersiapkan acara-acara dan pesta pernikahan, si egois itu mendepakku dari rencana hari indah itu.

“Kalau aku tidak jadi menikah barengan mbak Syafina, artinya aku tidak jadi menikah!” tandasku keras ketika Hendra menelponku usai gagal menemuiku pagi tadi.
“Tapi kan kita masih bisa menikah besok-besok,” Hendra terdengar memelas.
Tapi aku sudah kukuh dan kokoh dengan pendirianku sendiri.
“Tentu saja kita masih bisa menikah besok-besok. Tapi menikah sendiri-sendiri. Kamu kalau menikah duluan juga nggak apa-apa, Hendra,” suaraku meninggi.
Aku sebenarnya tidak mau lebih tajam lagi menggores luka di hatinya. Tapi kalau Hendra terus mendesak, mau bagaimana lagi?

“Aku hanya akan menikah denganmu. Aku masih menunggumu sampai kamu siap,” suara lembut Hendra jelas mengandung ketakutan.
“Aku yang tidak siap,” nada suaraku menurun.
Kuambil gelas berisi air putih di meja nakas sebelah tempat tidurku. Kuteguk perlahan.

“Kalau kakakmu yang salah. Kenapa aku harus turut menjadi korban?” Hendra terdengar merengek.
Aku semakin mentertawakannya dalam hati. Dasar cowok cengeng. Dari pertama dulu aku juga sudah mengira dia bukan tipe cowok kuat. Bukan tipeku sama sekali. Beruntunglah aku batal menikahinya.
“Sudahlah, Hendra. Ada banyak cewek lain lebih baik daripada aku di luar sana. lebih muda, lebih cantik. Kamu boleh menikah dengan siapa saja. Siapa bilang kamu korban jika sekarang kamu dilepaskan begini. Justru kamu menjadi korban kalau menikah denganku karena jelas-jelas aku memanfaatkanmu untuk kepentingan mengejar pesta itu,” jelasku panjang lebar.
Setidaknya Hendra harus dibangkitkan kepercayaan dirinya. Dan yang jelas, semakin dia bangkit dari keterpurukan dan segera menikah, akan semakin baik bagiku. Aku tidak mau dia terus membayangiku, menghalangi langkahku untuk menempuhi kebahagiaan dengan cowok lain yang lebih sesuai dengan kriteriaku.

“Please, Gina. Please. Aku masih menunggu kamu sampai kamu mau dan siap. Maaf kalau aku sempat kalut karena kamu putus dengan cara mendadak dan hanya via telpon,” Hendra mengiba-iba.
Cuih. Harusnya dia sadar siapa dia. Sayang sekali aku pernah sempat memberinya harapan gara-gara sempitnya waktu. Di antara beberapa cowok yang mendekatiku saat itu memang Hendra yang paling lumayan. Pemahaman dan pengamalan agamanya bagus. Itu yang terpenting buatku. Karena dari sisi karir dan pendapatan, jelas dia kalah daripada aku. Tapi saat ini situasinya lain. Pesta pernikahan yang kukejar telah lepas dari tanganku. Artinya aku masih punya waktu lebih panjang untuk kembali memilih dan mencari calon pasangan yang lebih ideal.
Jadi…

“Maafkan aku, Hendra. Maaf banget. Tapi aku tidak bisa. Maaf kalau kita harus putus,” kujaga kalimat dan nada suaraku agar tidak membuat cowok itu tersinggung karena sikap dan keputusanku.

“Kamu yakin, Gina?” suaranya terdengar jauh.

“Iya. Maaf ya..” lirihku.

“Padahal tanggal pernikahan sudah ada,” keluhnya.
Aku ingat mimpi-mimpi yang sempat kami urai bersama. Mimpi-mimpinya tentu saja. Tentang bulan madu, rumah, anak-anak dan sebagainya.

“…” aku diam tidak bicara. Semoga Hendra tabah, tulus doaku dalam hati.

“Aku akan tetap menikah tanggal itu karena seluruh keluarga telah menantikannya,” kata-kata Hendra membuatku linglung.
Oh Tuhan, jangan buat Hendra menjadi gila gara-gara penolakanku. Jangan buat dia nekat menculikku juga.

“Aku memutuskan pacarku tempo hari saat kamu punya rencana indah tentang kita. Tapi sepertinya memang kami yang sebenarnya berjodoh,” kalimat Hendra membuatku terhenyak.

What??!! Semudah itu?


“Aku akan tetap mengirimkan undangan untukmu meski berbarengan dengan pesta mbak Lili,”  lanjut Hendra dengan nada suara datar, tanpa beban.

[cerpen] Lelaki Matahari

LELAKI MATAHARI
By Dian Nafi


Lelaki itu datang tepat ketika awanku gelap, pekat. Hujan tangis baru saja menenggelamkanku dalam kepedihan. Suamiku meninggal di awal April tahun itu. Saat aku melarikan diri dan kesepianku ke laman-laman maya di fesbuk, lelaki itu menemukanku. Dalam catatan-catatan kehilanganku, dia membaca jelas apa  yang kubutuhkan.
Seorang teman.
Lambat laun dengan kepiawaiannya dalam  mengayun hati dengan bahasa puitis dan kecerdasan, dia membawaku menjauh. Dari hutan gelap tempatku banyak berkontemplasi, menuju pantai yang menawarkan kisah baru.
Kisah indah.
Kisah cinta.
Aku terbuai. Aku terlena. April tahun berikutnya, tanpa kusadari dia telah menjeratku dalam perangkapnya. Aku, perempuan rapuh yang kesepian, seperti menemukan penambat. Sebuah jangkar yang manis dan menenangkan.
Meski awalnya aku berkeberatan, tetapi dia akhirnya berhasil mendapatkan nomer ponselku. Lalu dengan rajin dan telaten, dia terus menanam benih kasih dalam hatiku yang hampir kerontang namun segera basah. Oleh puisi-puisinya tentang cinta dan keindahan. Oleh tag-tag note-nya yang menampilkan keperkasaan ide dan olah pikirnya. Oleh gambar-gambarnya yang kreatif dan anti-mainstream, yang menjungkirbalikkan kesadaran dan menggugah pemahaman. Lalu oleh suaranya yang nge-bass, menyuarakan banyak hal yang membawaku terbang berimajinasi, bermimpi dan bangkit dari keterpurukan.
Mantra-mantra  yang dia luncurkan dalam kalimat-kalimat bersayapnya. Membuat aku terus melayang. Dibuai angan. Diterbangkan harapan.
Dogma-dogma yang dia sisipkan dalam tiap percakapan juga perdebatan. Membuat rasa dan pikirku jungkir balik. Sampai-sampai aku luruh, takluk dan lemas tiap kali bersamanya. Meski jarak ratusan kilometer memisahkan kami. Tapi kemayaan itu seakan nyata. Bentang itu serasa tak ada.
Saat itu aku tidak menyadari sepenuhnya apa yang telah menyerangku sedemikian rupa. Kesabarannya mendengarkan keluh kesahku. Juga pemahamannya akan diriku serta masalah-masalahku. Dan bahkan ketulusannya memberikan masukan juga alternative dari berbagai dilema yang kualami. Mulai dari masalah keluarga, anak-anak sampai dengan karir serta pilihan-pilihan dalam kehidupan.
Demi membalas kebaikannya itulah, aku pun mendengarkannya dengan hatiku. Beberapa persoalan yang  membebani hatinya. Yang meski tidak dia ungkap secara jelas, tapi bisa kubaca dan kuraba dari serpihan catatan-catatan yang dia posting.
Tentang ibunya yang meninggal sejak dia masih bayi. Tentang dirinya yang menjadi sebatang kara. Tentang karirnya yang terus berpindah-pindah. Tentang beban pekerjaannya dan tetek bengek lainnya.
Dan yang lebih masygul, yang membuatku jatuh iba.
Tentang istrinya yang kembali berhubungan dengan mantan pacarnya. Yang membuat kelelakiannya nyaris rubuh. Kepercayaannya nyaris runtuh.
Demikianlah lama kelamaan kami semakin tergantung satu sama lain. Telponnya setiap pagi jam delapan selama satu jam penuh itu awalnya sedikit mengganggu. Namun lama kelamaan menjadi candu.
Rasa simpati dan empati juga kekaguman perlahan bertumbuh menjadi kasih. Ketika sedang gandrung, bahkan ada kalanya dia bisa terus menerus menelponku sepanjang hari. Dari pagi sampai hampir malam. Hanya diselingi makan siang atau waktu-waktu ibadah.
Saat aku berada di persimpangan antara melanjutkan karir yang sesuai dengan background pendidikanku, ataukah mengerjakan sesuatu baru yang lebih sesuai dengan passionku, dia bicara. Dan sudah dapat ditebak. Aku mengikuti anjurannya. Meski seringkali dia bilang bahwa semuanya terserah aku.
Jadilah hari-hari kami makin saling kait mengkait. Ketergantungan yang bernama apa saja. Teman, sahabat, ayah, kakak, partner kerja, juga lawan diskusi. Dan akhirnya rekan duet dalam menulis.
Sayangnya kenyataan bahwa dia bukanlah single yang available untuk dijadikan kekasih, menjadikan diriku berada di antara keinginan berhenti dari ketidakpantasan dan tarikan untuk melanjutkan sebuah petualangan yang tidak tahu di mana ujungnya. 
Namun tiap kali aku berusaha melepaskan diri dari lelaki ini, tulangku serasa lepas. Tak jelas di mana ruhnya berada, lemas. Dan sepertinya ambruk menidurkan diri akan lebih baik untukku daripada terjaga dengan rasa hampa. Dalam masa-masa seperti itu aku merasa makin membutuhkan seseorang yang bisa mendekapku. Meski hanya lewat kata-kata. Hanya lewat sapaan-sapaan. Hanya lewat tag-tag note dan gambar.
Kecanduanku menjadi-jadi. Padahal kami belum pernah bertemu. Kiranya demikian pula dengan yang menimpa dirinya. Dalam rasa kepenasaran yang tinggi itulah akhirnya dari kota metropolitan dia datang mengunjungiku di kota kecil tempat kelahiranku.
Aku menuliskannya dalam sebuah cerpen tentang pertemuan kami ini. Judulnya Tapak Tangan. Kalian bisa googling kisah ini dan merasakan apa yang kurasakan saat itu. Kukira kami tak akan lagi saling tergila-gila seperti sebelumnya setelah pertemuan itu. Yang kukira akan menjadi pertemuan pertama sekaligus terakhirnya. Yang kusangka akan menjadi pertemuan satu-satunya.
Tapi dugaanku salah. Kami masih terus bersama-sama. Dalam kemayaan yang terasa nyata. Dalam jarak yang terasa dekat. Dia masih setia menelponku setiap pagi. Juga setiap sore. Dia masih rajin menuliskan note juga puisi. Tentang kami. Dia masih rajin men-tag aku setiap waktu.
Semakin aku berusaha menghindar, semakin jauh aku terikat padanya.
Dalam kegilaanku, dia orangnya yang selalu menjadi inspirasi dalam kisah-kisah yang kutuliskan. Baik saat menulis duet bersamanya. Maupun saat aku menuliskannya sendiri. Dalam puisi, dalam cerpen, dalam kisah inspiratif maupun dalam novel.
Terus begitu. Bahkan setelah dia sempat mematahkan hatiku. Awalnya terjadi sedikit kesalahpahaman. Dia tidak pernah mau hubungan kami yang indah ini terekspos. Karena tentu saja ada banyak hati yang ingin dia jaga. Istri dan anak-anaknya. Dan tentu juga keluarga besarnya. Aku menyambut ‘aturan’ ini dengan senang hati. Karena toh aku juga butuh tampil menjadi single available yang terhormat. Sehingga suatu hari saat aku bosan hanya menginbox saja, aku memakai jalur lain untuk komunikasi. Melalui status fesbuk. Tentu saja aku men-setting rahasia postingan status-status yang kubuat khusus untuknya.
Tapi tahu-tahu dia kalap. Dia mengatakan yang tidak-tidak tentangku. Dia menyamakan aku dengan mereka yang ada dalam film Narnia. Yang menyimpan kisah imajinasi sendiri tentang hubungan kami. Dengan kata lain dia hendak cuci tangan, menyangkal kegilaannya padaku. Juga kisah kami yang terangkai indah selama dua tahun ini. Dia dengan gaya bicaranya yang khas, dengan kalimat bersayapnya, seakan mencap aku gila atau sinting. Berada dalam halusinasiku sendiri.
Tidak saja aku terkejut dengan sikapnya yang arogan, kekanakan tapi juga pengecut ini. Tapi aku juga sangat kecewa dan marah. Masygulnya, aku kembali menuliskan tentang dia dalam kekecewaan dan kemarahanku itu.
Untuk sesaat kami tidak lagi berkomunikasi seperti dulu. Aku yang sering minta maaf jika ada suatu hal yang tidak berkenan baginya, kali ini merasa jengah. Meski tetap aku berusaha menjelaskan tentang setting status fesbuk yang kubuat rahasia itu. Bahwa status itu hanya bisa terbaca olehku dan dirinya saja.
Dia mulai mengendur ketegangannya demi mengetahui hal ini. Tapi aku mengalami titik balikku. Aku seperti terbangun dari mimpi panjangku saat itu. Betapa dua tahun itu aku menyia-nyiakan waktu, energy, pikiran dan hatiku untuk menjalin kasih dengannya. Yang jelas-jelas bukan milikku. Dan tidak akan pernah bisa menjadi milikku.
Untunglah saat itu aku bertemu dengan orang baru. Yang usianya lebih muda dariku. Sehingga untuk sesaat aku merasa bisa mengalihkan kepedihan dan kekecewaanku. Untuk jangka waktu yang agak lama, aku berhasil tidak memperdulikannya lagi. Biarlah kukubur kisahku dengan lelaki beristri itu, demikian tekadku saat itu.
Rasa sakit yang kualami belakangan ini berbeda dengan rasa sakit ketika aku berada dalam dilema terus bersama atau meninggalkannya pada waktu lalu. Aku melacak dan merunut lagi serta mempelajari bagaimanakah hubungannya dengan perempuan-perempuan lain. Memang menyakitkan. Sepertinya dia memanfaatkan para perempuan yang kesepian sebagai korban. Kebanyakan janda sepertiku. Ada juga perempuan bersuami yang mungkin mengalami masalah dengan pasangannya. Kurasa lelaki ini gila. Aku tidak mau lagi berhubungan dengannya, begitulah janjiku saat itu.
Tapi mungkin memang dia terlahir untukku juga. Dalam masa-masa mendungku yang masih kadang datang dalam kehidupan dan keseharianku, tiba-tiba dia datang lagi. Dengan caranya yang elegan. Yang menyentuh. Yang sama seperti dulu saat dia datang menyibak awan pekatku.
Dia kembali menyinari hari-hariku. Dia kembali menghangatkan hatiku. Dia lelaki matahariku. Datang tiap pagi melalui sapaannya di telpon selama satu jam. Dan aku tak bisa lagi menolaknya. Kekecewaan dan kemarahanku sebelumnya perlahan luntur. Tersapu kepandaiannya merangkai kata, alibi, kisah dan alasan. Gelombang kasihnya yang besar menghantam dinding keangkuhan dan pertahananku.
Cinta memang buta.
Tidak seperti matahari atau matahati yang punya mata.
Cinta memang buta.
Kali ini aku tidak lagi peduli dia milik siapa. Bahkan tidak lagi mencemaskan apapun. Dia tidak harus meninggalkan siapa-siapa untuk bersamaku. Aku menerima dia apa adanya. Seperti matahari yang terbit dan menyinari siapa saja.

[cerpen lama] HILANG

HILANG
Oleh Dian Nafi

Aku bergegas mengendarai motor ke perumnas.  Terengah memasuki rumah milik ibuku yang sedang direnovasi.  Diriku berpacu dengan waktu seminggu ini, ada banyak hal yang harus kukerjakan dalam waktu yang sempit.
Tadi mbak Reni yang hendak menyewa rumah ini mengirim sms. Menanyakan apakah rumah bisa ditempati mulai Kamis. Ia akan berangkat dari Magelang dengan membawa seluruh perabot rumah dengan sebuah truk angkut.
“Kalau hari Kamis rumahnya sudah siap ditempati kan pak?” tanyaku setelah beberapa saat berkeliling.
“Besok jadi, mbak. Sudah bisa ditempati”  kata pak tukang mantap.
Alhamdulillah. Lega sekali mendengar berita ini. Baguslah. Berarti besok Kamis aku bisa mendatangi perhelatan temanku di Tembalang. Sekalian mengerjakan beberapa pekerjaan yang sudah aku buat list-nya tempo hari. Ufh! Banyak banget semoga semua bisa kelar. Karena hari Jumatnya juga masih harus ke Tembalang lagi untuk sharing kepenulisan.
Kukirim sms ke mbak Reni di Magelang.
Mbak, Alhamdulillah perbaikan rumahnya segera selesai. Hari Kamis sudah bisa ditempati rumahnya.
**
Semalam kusiapkan baju pesta sederhana untuk kupakai hari ini. Merayakan hari bersama Dafid adalah agenda yang tak mau kulewatkan. Anak itu istimewa, usianya mungkin sepuluh tahun lebih muda dariku.
Aku masih ingat bagaimana pertemuan pertama kami. Tak sengaja malam itu aku menemukan sebuah stand di tengah pameran. Penataannya yang artistik, beda, kreatif menggugah keingintahuanku. Bertanya-tanya dengan mereka yang jaga di sana, siapakah pemilik dan pemimpin stand kreatif ini.
“Siapa bosnya? Nggak ada bos di sini, mbak!” jawab seorang remaja pria tanggung dengan rambut cepak dengan nada yang agak tersinggung.
Aku agak terhenyak, duh apa yang salah dengan ucapanku. Beberapa temannya cekikikan membuatku agak tersinggung tetapi juga ingin tahu. Siapakah mereka sebenarnya? Siapa yang ada di balik semua ini, sebuah komunitas kreatif sepertinya.
“Siapa Bono? Mana yang namanya Bono? “ tanyaku penasaran sambil melihat ke arah sekitar lima enam remaja tanggung di sana. Karena aku melihat tulisan pro bono movement menjadi tagline di bawah tulisan Lini Kreatif sebagai judul utama stand ini. Kupikir ini adalah sebuah komunitas atau usaha yang digerakkan oleh seseorang bernama Bono.
“Tidak ada yang namanya Bono, mbak. Tidak ada bos-nya karena bukan seperti perusahaan atau apa. Tidak ada ketuanya juga jika mbak pikir begitu” jelas salah seorang dari mereka. Hm? Iya kah? Menurutku meskipun sebuah gerakan digerakkan bersama-sama anggotanya tetap saja ada satu atau dua orang yang menginisiasi idenya. Iya kan? Dan aku selalu tertarik pada orang di balik sesuatu, sama seperti halnya aku tertarik sesuatu di balik seseorang.
Mereka akhirnya menyebut beberapa nama, Dafidh, Fahmi, Anggri dan Dimas. Teapi ketiganya tidak sedang di sana siang itu.
“Mungkin nanti malam mereka datang, mbak” seseorang bernama Joko memberikan clue buatku.
Malamnya aku datang lagi dan berkesempatan bertemu dengan mbak Anggri. Kami mengobrol banyak karena aku sangat tertarik dengannya yang seorang produser film. Ia tertarik dengan buku yang kutulis yang tadi siang sempat kutitipkan mereka yang jaga di situ, bahkan berminat untuk membuat film indie-nya. Wow! Lalu mbak Anggri memintaku menandatangani sebuah kain putih yang membentang di dinding stand. Saat aku membubuhkan tandatanganku sebuah blitz kamera tampak berpijar dari balik punggungku. Spontan karena terkejut aku menoleh dan seorang pria muda berkulit hitam manis dengan senyumnya yang menghipnotis tampak di sana, di balik kameranya yang membidikku. Ia bahkan membidikku beberapa kali lagi saat kepalaku menoleh, masih dengan senyumnya yang memukau. Sebelum aku sempat bertanya, ia segera mengulurkan tangannya yang jari jemarinya bagus sambil menyebutkan sebuah nama.
“Mbak Fiona Arleta kan?”
Ia menyebutkan nama lengkapku! Whats?! Who is this, pikirku. Dia tahu nama lengkapku, memotretku diam-diam tadi dan tatapan matanya seolah mengatakan ia mengenalku lebih dari yang kukira.
Aku menerima uluran tangannya. Ia menjabat erat sekali tanganku seolah berusaha menyerap energiku atau apalah.
“hmm iya.….siapa ya?” 
Aku akhirnya dengan kaku bertanya karena ia tidak juga menyebutkan namanya.
Ia dengan teganya membiarkanku menunggu agak lama, membiarkanku menikmati senyuman manisnya yang menggoda, sebelum akhirnya ia mengucap namanya lirih dan pendek saja.
“Dafid”
Benar-benar menggelitik keingintahuanku. Ia berhasil membawaku turut bersamanya melewati malam itu dengan berbincang lebih akrab. Aku merasa nyaman di dekatnya. Padahal dua tahun terakhir sejak suamiku meninggal dunia, aku hanya benar-benar tertarik dengan seorang pria lagi yang sayangnya sudah beristri. Gerhana, kita anggap begitu saja namanya karena ia seperti gerhana bagiku. Aku tercengkeram dalam kegelapannya, bersamanya aku nyata sekaligus hilang. Selain dengan Gerhana, pria manapun tidak menarik hatiku meski hanya untuk bersahabat.
Dafid mirip-mirip Gerhana ternyata, pantas saja seperti ada magnet yang menarikku. Mereka sama –sama belajar komunikasi di kampus, penyuka hal-hal berbau kreatif, suka berfilsafat dan menikmati fotografi. Juga penikmat budaya dan menaruh perhatian yang besar terhadap kota kecilku yang bersejarah.
Aku menemukan Gerhana dalam diri Dafid, lalu seolah aku memiliki harapan. Gerhana tak bisa kumiliki karena telah ada seorang wanita yang ia cintai di sisinya, yang memberinya dua anak laki-laki. Dafid, dari usianya mungkin sekali masih bujang. Dari bahasa tubuhnya dan pengetahuannya tentangku yang menunjukkan rasa ketertarikannya padaku, aku  merasa ia bisa menjadi pengganti Gerhana. Kejam sekali ya kedengarannya, pengganti. Tapi itu masih lebih baik daripada jika aku merebut seseorang dari istri sahnya atau aku harus menjadi istri kedua.
**
“Mbak Ruuuuk…..” 
Aku berteriak-teriak memanggil nama pembantu.
Sialan nih pembantu. Kalau pas dibutuhkan malah tidak ada. Meski dua anakku libur sekolah harusnya mereka tetap mandi pagi seperti biasa. Tadi si sulung sudah kumandikan sekitar satu jam  yang lalu. Si bungsu maunya dimandikan si mbak.
“mbak Ruk mana dik?” tanyaku pada si sulung yang asyik bermain di teras.
“Nggak tahu” jawabnya pendek.
Demikian juga jawaban si bungsu. Aduh… aku sepertinya tadi melihat mbak Ruk melintas di ruang makan. Tampak dari ruang kerjaku beberapa saat lalu, mungkin sekitar sepuluh menit lalu. Kok sekarang tidak ada. Aku menyisir halaman depan rumah sampai ke jalan raya mencari jejaknya. Tidak ada. Kulihat kembali ke dalam kamar pembantu, tidak ada juga. Ke mana sih si mbak ini?
Aku melongok ke lantai atas sambil meneriakkan namanya dengan nada agak tinggi. Paduan emosi karena ia tak menyahut panggilanku dan kuatir penyakit budeg-nya kumat. Tak puas hanya memanggil, aku menaiki tangga dengan setengah berlari dan mencarinya di lantai atas, sampai ke balkon dan tempat jemuran. Tak nampak batang hidungnya juga. Sialan! Kesabaranku mulai menipis.
Aku turun dan melihat ke tempat biasanya ia menaruh sandalnya tiap ia datang ke rumah ini  jam lima pagi. Tak ada. Berarti dia keluar rumah. Ke mana? Sepertinya ibu tadi menyuruhnya untuk berbelanja. Ibu berangkat kantor jam setengah enam pagi ini dan tidak berpesan apapun.
“Mbak Ruuuk……” 
Aku berteriak sambil berjalan ke arah belakang rumah. Jadualku ketat sekali seminggu ini dan aku tidak seharusnya membuang waktuku dengan melakukan kegiatan yang tak penting ini. Aku seharusnya sudah siap-siap untuk berangkat ke Tembalang pagi ini menghadiri perhelatan Dafid tetapi malah harus mencari mbak Ruk yang entah di mana. Mulutku mulai mengomel tak jelas.
Aku menyerah dan duduk kembali di kursi ruang kerjaku. Akan kumandikan sendiri si bungsu, itu bukan masalah. Ke mana mbak Ruk menghilang, itu yang lebih menjadi concern-ku. Apakah dia berhubungan dengan lelaki lain selain suaminya? Dan bekerja di rumah ibuku sini setiap hari ini menjadi salah satu alibinya? Atau ada sesuatu yang mbak Ruk kerjakan yang tidak kami ketahui? Sesuatu yang terlarang? Tapi apa?
Dua bahuku melorot lemas membayangkan kemungkinan-kemungkinan yang terjadi. Lalu sebuah bunyi dari ponsel mengejutkan lamunanku.
Mbak, maaf aku pulang cepat karena ada acara haul mertuaku.
Ternyata sms dari mbak Ruk. Ufh! Ini melegakan tetapi sekaligus membuatku kesal. Mungkin ia pulang tidak pamit langsung karena kuatir ketahuan sama bungsuku. Itu bisa membuatnya rewel karena tidak mau ditinggalkan sebelum jadual seperti biasanya, jam empat sore.
“mbak Ruuuk…aduh..kenapa tadi tidak bilang dulu kalau mau pergi. Padahal hari ini kan aku mau ke rumah Dafid. Kacau deh acaraku”
Jelas rencanaku pergi ke perhelatan Dafid berarti batal hari ini. Aku tak mungkin meninggalkan dua anakku yang masih tujuh dan lima tahun di rumah sendirian tanpa pengawasan. Untuk beberapa saat aku kesal dan marah.
Tapi setelah berhasil memandikan si bungsu dan melihat kedua anakku bermain-main, aku menarik nafas panjang kembali. Mengambil sisi baik dari kejadian ini. Mungkin sebaiknya aku menggabungkan acara Kamis dan Jumat itu di hari Jumat. Toh acara sharing kepenulisan hari Jumat itu juga di Tembalang.
Segera kuraih ponselku dan menulis sms ke nomer ponsel Dafid.
Maaf, Dafid. Hari ini aku tak bisa datang. Jumat saja aku ke tempatmu ya. Semoga sukses dan berkah acaranya.
Tak ada balasan dari Dafid. Mungkin dia sedang akad nikah dan tentu saja ponselnya di-nonaktif-kan.
**
Awalnya aku terkejut karena suatu hari ketika aku sedang mengadakan pelatihan penulisan, Dafid datang dengan seorang gadis. Kupikir tadinya gadis itu adalah adiknya.
“Ratna” katanya memperkenalkan diri.
Gadis itu tampak respek kepadaku. Mungkin Dafid bercerita banyak tentangku karena bisa kulihat penghormatan dan penghargaan gadis itu di matanya yang teduh. Aku menjadi jatuh hati pada gadis tinggi putih itu di kesempatan pertama bertemu, kupikir ini akan menjadi adikku juga jadi kenapa tidak menyayanginya.
Aku menikmati kebersamaan dengan Dafid selama dua bulan terakhir di rapat-rapat menyiapkan majalah yang kami rintis bersama. Pembicaraan kami seputar kegiatan kreatif, buku, penelitian dan budaya. Sesekali tentang diri masing-masing. Aku menemukan kehebatan di dirinya yang masih muda, dan tak berkeberatan jika suatu waktu ia akan memintaku menemani hidupnya. Ia tak pernah sekalipun membincangkan tentang seorang perempuan dalam kehidupannya.
Jadi aku terkejut ketika salah seorang teman Dafid memberitahuku kalau gadis yang bernama Ratna itu adalah tunangannya. Oops!
Sesaat mungkin aku luruh dan hilang kenapa Dafid membiarkan imajinasiku tentang dia berkembang begitu saja. Apa dia menikmati dirinya dikagumi dan diinginkan lewat bahasa tubuhku? Atau dia sebenarnya memang tertarik padaku namun sudah kadung berjanji dengan Ratna yang sudah duluan bertemu dengannya sebelum aku?
Kekecewaan itu tak membuatku tenggelam. Untunglah harapanku baru mengembang dua bulan ini dan tak pernah sampai ke jauh dalam hati, hanya di permukaan. Jadi aku bisa memulihkan hatiku lebih cepat. Aku menyindir –nyindir Dafid setiap ada pertemuan untuk urusan majalah dan dia tersipu-sipu.
“Mohon doanya, mbak” begitu ucapnya.
Sampai kemudian undangan itu datang beberapa hari lalu. Dan aku tak ingin kehilangan momen menyaksikan kebahagiaan seseorang yang pernah sempat singgah di hatiku. Tapi kalau memang Allah menakdirkan aku tak bisa langsung hadir Kamis ini, aku masih bisa mengucapkan selamat besok Jumat, iya kan.
Aku meraih buku agenda dan segera mencoret semua daftar kegiatan yang sudah kususun untuk kukerjakan Kamis ini. Rencana berubah, aku bisa mengerjakan hal –hal lainnya dan akan segera kulakukan. Kemudian sepanjang hari itu aku sibuk ke sana kemari sambil membawa kedua anakku. Mengirim paket ke kantor pos, memeriksa cetak dan binding buku di percetakan, mengarahkan desainer cover untuk beberapa buku baru, menulis sebuah cerpen dan tentu saja bermain bersama anak-anakku memanfaatkan liburan mereka yang tinggal empat hari saja. Kamis, Jumat, Sabtu dan Ahad, karena Senin sudah masuk sekolah lagi. Dan aku mungkin akhirnya bisa menyambut kedatangan mbak Reni, iya kan? Aku mengambil sisi baiknya saja. Tapi ternyata Mbak Reni mengirim sms.
Mbak, saya rencana datang hari Minggu saja karena belum dapat truk-nya.
**
Setelah maghrib aku membaca Yasin dan tahlil, kebiasaan yang kubaca setiap malam Jum’at. Mengirim doa untuk almarhum suamiku. Sesudahnya menyiapkan beberapa buku yang akan kubawa besok Jumat untuk sharing kepenulisan. Tak lupa memastikan amplop untuk Dafid karena aku akan menyempatkan diri untuk singgah ke tempatnya.
**
Bakda subuh pagi harinya aku agak heran karena ibu tidak nampak tergesa-gesa. Biasanya di hari Jumat beliau berangkat lebih pagi, bahkan kadang-kadang jam lima pagi karena perjalanan dari rumah ke kantornya di luar kota bisa makan waktu sampai dua jam lebih.
“Ibu kok tenang-tenang, bu. Ntar terlambat lho. Biasanya kalau Jumat ibu kan harus berangkat dini hari kan?” godaku.
“Lho memangnya ini hari Jum’at?” tanya ibu sambil melirik kalender.
Aku tertawa kecil melihat ibuku linglung.
“Ini kan masih Kamis” seru ibu setelah beberapa saat.
“Kemarin kan Kamis, bu “ sahutku.
“Kok ngeyel,tho. Hari ini tuh masih Kamis” jawab ibu tak mau kalah.
Tak urung aku jadi ragu sehingga terdiam sesaat lalu bertanya pada anak laki-lakiku yang tiduran di depan televisi.
“Ini hari apa mas?”
“Hari Kamis.”jawabnya lantang.
Gantian aku yang linglung, bingung. Melihat bolak balik antara kalender dan jam dinding.
“Bagaimana mas tahu kalau ini hari Kamis?’ tanyaku pada sulungku yang tetap tak memindahkan perhatiannya dari film kartun favoritnya.
“Karena kemarin Rabu dan besok Jumat” sahutnya mantap.
“Hahaha..” ibuku tertawa melihatku tampak seperti orang hilang dan bodoh.
“Oh ya? Jadi ini baru Kamis? Tadi malam aku baca yasin dan tahlil lho bu” keningku berkerut-kerut dan wajahku pasti tampak lucu.
“Ya nggak apa-apa tho baca yasin dan tahlil. Hahaha…” ibuku terus tertawa-tawa.
“Memang kalau tidak punya kantor ya begitu itu. Semua hari kelihatan sama. Bahkan kalau kita dalam ruangan tertutup dan tidak melihat matahari dan tidak mendengar adzan, setiap waktu tampak sama. Tidak tahu ini siang atau malam. “ jawab ibu panjang lebar.
“makanya kalau pas pergi haji kita disuruh bawa kalender agar sadar hari dan tanggal, jadi tidak disorientasi waktu” sambung ibu.
“mosok sih ini Kamis? Bukan Jumat ya?” tanyaku masih tak puas dan tak terima kalau aku seperti hilang dari peradaban. Disorientasi waktu.
“Semua hari tampak sama ya. Bagaimana membedakannya?” tanyaku lagi masih linglung dan mencari sebab kenapa aku bisa disorientasi hari seperti ini. Apa karena aku habis mengkhatamkan membaca Dunia Sophie dan terlalu larut dalam ceritanya?
‘kalau hari Jumat tentu saja ada Jumatan” jawab ibu.
“kalau siang ada matahari, dan malam ada rembulan. Jadi setelah Jumat itu Sabtu dan seterusnya ” sambungnya lagi.
“Kalau tidak ada Jum’atan?” tanyaku bodoh. Aku benar-benar seperti hilang dalam ketidaksadaranku. Uh oh.
“Kan seperti ada bulan purnama, itu artinya tanggal lima belas. Seperti itu juga mungkin tanda alam lainnya yang bisa dibaca untuk bisa menentukan apakah ini Kamis atau Jum’at” ibu dengan tenang masih mau menjawab pertanyaanku, mengabaikan kenyataan bahwa seharusnya aku lebih cerdas dan lebih tahu daripada ibuku.
Berputar-putar berbagai hal di kepalaku apa yang membuatku sedemikian hilang. Oh ya….waktu itu mbak Reni sms tanya apakah Kamis rumah bisa ditempati. Aku bertanya ke pak tukang dan dia bilang besok sudah bisa ditempati, kupikir ‘besok’ yang dibilang pak tukang itu Kamis. Padahal hari itu waktu aku tanya pak tukang,  masih Selasa. Oalaaah.
Di atas semua keruwetan dan keabsurdan itu aku bersyukur bahwa ini masih Kamis, jadi aku bisa datang ke acara Dafid. Dafid, I’m coming…