[catatan] Wajah Di Jendela

WAJAH DI JENDELA
Oleh dian nafi

Apa yang akan kau lakukan jika tidur di tempat tidur yang bukan tempat
tidurmu membawamu kepada mimpi buruk? bahkan juga pikiran-pikiran
buruk.
Siapa coba yang menginsulinkan dalam pikiranku dengan tiba-tiba
seperti ini. Seseorang yang mengagungkan cinta dan pernikahan seperti
aku tiba-tiba bangun tidur dengan membawa pengertian baru, bahwa
betapa buruknya ide pernikahan itu. bagaimana mungkin seorang
perempuan mau-maunya mengikatkan diri pada seorang lelaki yang jika
suaminya itu mengucapkan kata cerai maka putuslah hubungan mereka.
Betapa tidak adilnya. Betapa naifnya perempuan yang menyerahkan
kebebasannya pada lelaki yang bisa sewaktu-waktu membuatnya terancam
janda.
Wuah. Mimpi apa yang paling buruk dibanding bangun tidur dengan sebuah
pengertian dan pemahaman terbalik dari semua yang diyakini selama ini.
Menurutku ini yang paling terburuk.
Meskipun dalam tidur singkatku yang berasa semalaman itu berisi
mimpi-mimpi buruk dalam beberapa episode dan tema. Betapa
mengerikannya. Kurasa aku mungkin memilih tidur di tempat tidurku saja
lagi daripada tidur di tempat yang lebih empuk dan sejuk itu.
Hei, apa mungkin mimpi dan pikiran buruk itu datang kepadaku gegara
sebelum tidur aku sempat berpikiran mengapa aku terima diberi tempat
tidur yang buruk seperti tempat tidurku sehari-hari. Dan bukannya
diberi tempat tidur empuk sejuk yang malam itu aku tiduri, yang
notabene pernah menjadi tempat tidurku saat pengantin baru.
Atau mungkin sebenarnya waktunya bertepatan saja dengan gerundelan
mantan pacarku sehingga dia datang dalam mimpi burukku semalam. Dia,
dalam mimpi itu, memberikanku apa saja, melayani kepentingan dan
kebutuhanku dalam apa saja, tetapi aku mencuekinya seperti aku
mencueki dalam kehidupan nyata. Dia jatuh terduduk, wajahnya terkulai,
tapi aku masih mengabaikannya dan berlalu, dalam mimpi itu.
Lalu namanya juga mimpi, aku yang sedang berganti baju dalam kamar
ibuku dikejutkan kehadirannya yang membuka pintu kamar ibu dan masuk
dengan hanya memakai kaos dan celana dalam. Karuan saja, dalam mimpi
itu, ibuku yang datang persis setelah dia masuk, langsung marah-marah
dan menuduh kami macam-macam. Padahal tidak ada sesuatupun yang kami
lakukan. Aku menjerit-jerit mencoba menjelaskan, tetapi ibuku terus
menangis kesal dan menyalak marah. Aku bisa bayangkan dalam kehidupan
nyata, pasti itu jugalah yang akan dilakukan ibuku.
Namun yang paling mengganggu pikiranku adalah bahwa orang seringkali
menjatuhkan prasangkanya sendiri pada orang lain, meski kejadian yang
sebenarnya tidaklah sama dengan yang disangkakannya. Eh, mungkin dari
sini pikiran buruk tentang betapa tak adilnya pernikahan itu menelusup
ke dalam otakku. Bayangkan jika seorang suami tersulut cemburu lalu
darinya terbetik dan terucap kata cerai. Kemudian sang istri jadi
menderita perceraian, menjanda dan stigma buruk pasti jatuh padanya.
Wow, buruk sekali. Mengerikan. Mending tidak menikah saja kalau hanya
mau statusnya menjadi  permainan di tangan lelaki yang bahkan tadinya
bukan siapa-siapanya. Hmm, mungkin pikiran-pikiran ini yang menggeluti
otak dan perasaan para feminis itu. Ada gunanya juga mimpi dan pikiran
buruk ini. Setidaknya aku bisa menyelami dan berempati pada para
feminis, dan bukannya mencemooh mereka saja. Seperti yang banyak
dilakukan oleh para ‘ahli agama’ dan ‘orang-orang suci’ yang suka
beredar di TL alias timeline twitter itu.
Hei. Kalian masih mau mendengarkan mimpi burukku yang lainnya bukan.
Sesuatu yang menerangkan kenapa judul cerpen ini adalah Wajah Di
Jendela.
Mimpi buruk berikutnya adalah seorang lelaki yang entah siapa
mengetuk-ngetuk jendela kamar tidurku sendiri. Dia menanyakan kepadaku
dalam deras hujan yang membuat wajah dan rambutnya di mimpi itu basah
kuyup, apakah keluarga kami memiliki kijang biru. Kepalaku menoleh ke
belakang, dalam mimpi itu, ke arah ibu yang berdiri agak jauh di
belakang punggungku. Beliau mengangguk. Lalu mata kepalaku beralih
pada wajah di jendela. Dia mengabarkan bahwa kijang biru itu mungkin
mengalami kecelakaan. Dan seluruh pikiran buruk menerpa, mengingat
dalam kehidupan nyata saat aku sedang bermimpi itu keluarga sepupu
kami sedang pergi keluar kota mengendarai mobil ibuku. Meskipun
mobilnya bukan kijang biru, tapi avanza hitam. Dalam kehidupan nyata,
kijang biru itu sendiri adalah mobil ibuku yang mengalami kecelakaan
lima tahun lalu dan menewaskan suami dari sepupu yang hari ini tadi
pergi meminjam avanza hitam itu.
Sudah.
Sudah kuceritakan mimpi buruk dan pikiran buruk yang datang setelah
aku bangun dari tempat tidur yang bukan tempat tidurku. Bisakah aku
tidur lagi sekarang. Tentu saja di tempat tidurku sendiri. Yang
meskipun jelek, keras, kasar, tipis dan suhu kamarnya kadang
menjengkelkan, tapi tidak pernah memberikan aku mimpi dan pikiran
buruk.
Baiklah, selamat tidur.

0 komentar:

Posting Komentar