Berbagi Untuk Bahagia

Novel keren lagi nih,  pemenang penghargaan internasional.  Setidaknya tiga award dia raih.  
Wow keren ya. 

Judulnya Weeping under this same moon
penulisnya Jana Laiz
penerbitnya Elex Media.
penerjemahnya Utti Setiawati. 

Novel kemanusiaan ini diangkat dari kisah nyata penulisnya. Jadi tahu kan kenapa novel ini begitu berjiwa dan menyentuh banyak jiwa di seluruh dunia? 
Berkisah tentang Mei, gadis yang terusir dari negerinya sendiri-Vietnam. Terpaksa hanya bisa membawa kedua adik kecilnya. Sementara tiga saudara lain dan orang tuanya masih berada di tanah kelahiran mereka. Terombang-ambing di atas kapal kecil dengan ratusan penumpang. Sempat ditolak di Malaysia, dan akhirnya mendarat di Amerika. 

Di sisi lain, ada Hannah, gadis Yahudi Amerika, yang menderita anoreksia dan meski berkecukupan tidak cukup bahagia. terutama karena dia tidak nyaman di sekolah SMAnya yang sekarang. Saat dia melihat manusia perahu (Mei cs) ini di berita TV, dia yang memang suka sekali jadi volunteer tergerak melakukan sesuatu. 

Jadilah pertemuan mereka terjadi di bagian 3. setelah masing-masing bercerita dengan POV 1, di bagian 1 (Mei) dan 2 (Hannah). *Jadi ingat gaya yang sama yang digunakan Winna Effendi dalam Ai. 

Selain temanya yang bagus, unik, menarik, gaya penceritaannya juga mengalir cerdas. 
Mei yang meski pedih terus bertahan dan mengajarkan pembaca bagaimana untuk tetap bertahan dan punya harapan. 
Hannah yang eksentrik, jadi dirinya sendiri meski kadang dianggap beda, mengajarkan pembaca bagaimana untuk menemukan jati dirinya sendiri. Novel ini utamanya ingin menunjukkan bahwa dia yang  berbagi, menjadi sukarelawan, volunteer, sesungguhnya membuka pintu kebahagiaan. 

Woaah...kalau baca novel yang bagus begini, rasanya pingin banget bisa bikinnya.....
Ayo, semangat yuk, nulis terus yukk :)


dua kali patah hati

2x hari ini. 
si brond yang 10nov ktm deg2an (aku tulis di blog juga) ternyata 27okt sudah married. 
terus si gus yang ditunggu bertahun2 will marry someone else :D 

dan tahu nggak, bbrp tahun lalu sbnrnya sdh patah hati ama gus ini. tapi nggak jadi krn ternyata waktu itu statusnya cuma fake alias palsu.  nah, kalau yang sekarang kayaknya beneran. alhamdulillahnya, rasa patah hatinya pastilah berkurang dosisnya karena sudah terlatih pas patah hati yang dulu itu. 

oke, ini wajib dijadikan cerita. ya tho? 
sekarang tinggal memikirkan, apa judul yang bagus? 

*tetiba ingat novel Rafilus mati dua kali. ahahay :D

Catatan kecil dari perjalanan ke jogja

Sebenarnya kemarin itu begitu mendarat di giwangan, aku inginnya langsung memanfaatkan waktu untuk ke kantor dan ndalemnya yg punya gawe.  Hatapi mas acong membawaku langsung ke kampus fiksi.  Tadinya kubayangkan lokasi ketiganyaberdekatan, selisih beberapa gang atau gimana.  Tapi ternyata selisih 2km. Duh,  sudah terlambat untui balik kanan minta antar ke kantor dan ndalem dulu.  Nggak enak, kuatir merepotkan.

Btw, waktuku memang nggak bisa leluasa.  Daripada kemalaman banget sampai rumah,  aku memilih segera pamit begitu selesai sesi.  Dan alhamdulillah sampai rumah jam delapan  malam.

Yang seru,  ya ketemu alumni kampus fiksi yang sebelumnya sudah beberapa kali bersapa ria di timeline.  Reza, ternyata lebih keren aslinya daripada yg kubayangkan. Maksudku,  dia ternyata tinggi ramping dan face juga lagaknya tidak kekanakan seperti persepsiku selama ini.  Meski status di twitternya kadang sok tahu tentang politik lah,  kekacauan negeri,  perilaku busuk para pejabat,  kadang nyinyir dengan yang tidak sealiran,  tapi yang sesungguhnyawajahnya teduh dan bersahabat.  Sehingga kesan intoleran tak membekas di sana.
Adit, darinya aku tahu gambaran tentang akta yang diasuh sama mas Arif. Ketatnya, juga kekerasan hati mas arif akan keinginannya hanya membaca cerita bagus,  masih sama seperti dulu. Farah yang diantar ibunya, cemumut yg imut,  lia yang hangat,  mereka representasi dari keluarga kf yang akrab.
Gerombolan editor, mbak rina, ve, ayun, ita, dll langsung membuatku lebur.  Nggak ada jarak,  nggak ada yang disembunyikan. Yang ada cuma tulus dan cinta.

Dan yg plg menakjubkan adalah ibu ratu yang paling cantik di antara semuanya.  Padahal secara usia dan posisi,  beliaulah yang paling senior.
Aku meninggalkan kf dengan beberapa bekal penting dari sang empunya gawe. Yang penting jika ingin mengembangkan lagi institusi itu adl semangat dan kedekatan jiwa. Terima kasih untuk semua kebaikannya. Semoga berkah. Aamiin.



Di bis dalam perjalanan pulang,  aku ketemu santri yang menarik,  unik.  Membuatku ingat kembali pada apa yg sempat kubagikan di sesi kf 5. Peka, melatih kepekaan,  being journalist.  Jadilah aku mempraktekkannya kembali untuk peka konflik, dengan menanya nanyai santri yang bersamaku dalam perjalanan.  Selagi dia menjawab dan bercerita ttgnya, ttg keluarganya, pesantrennya, murid2nya, guru2nya, dan konflik2 sosial di sekitarnya,  dalam kepalaku terbersit kisah menarik yang bisa dituliskan.  Thanks for the story,  stranger :D

berkunjung ke sarang barokah

Subhanallah walhamdulillah
Akhirnya saya berkesempatan berkunjung ke sarangnya barokah di kampus fiksi 
Bagaimana tidak barokah? itu gedung disewa setahun, diselenggarakan kampus gratis dua bulan sekali.
kampus berlangsung tiga hari tiga malam per- angkatannya. Semua gratis ditanggung KF. subhanallah. 

Pendidikan memang seharusnya free, gratis untuk anak bangsa. Demikian kira-kira idealnya sebuah negara. Siapa yang berkewajiban? Mestinya pemerintah. Tetapi karena pemerintah nggak menyediakan, baiklah akhirnya diselenggarakan sendiri. 
Keren ya? 

Kehangatan dan kekeluargaannya terasa. Dan saya rasa yang terpenting adalah semangat, ilmu, kemanfaatan dan keberkahan yang diperoleh selama masa belajar ini. Lain-lainnya memang mustinya tidak dibikin berat dan beban. Sehingga kesederhanaan adalah bagian dari proses pembelajarannya. Jadi ingat bagaimana pesantren-pesantren berhasil menelurkan serta menghasilkan lulusan berkualitas berangkatnya dari kesederhanaan dan kebersamaan.

Senang sekali saya diberi kesempatan untuk berbagi tentang proses kreatif kepenulisan. Teman-teman KF angkatan 5 ini masih muda-muda dan jalannya masih panjang. Semua masing-masing dari kita terus berproses, untuk menjadi semakin baik dan berkualitas. Yang saya garis bawahi -adalah yang saya dapat juga dari mas Prie GS- bahwa masing-masing kita ini mendapat mandat dariNya untuk menyampaikan pesan pada dunia, pada semesta. Jadi sampaikanlah pesan itu, dengan cara bercerita yang bagus dan menarik. Karena jika pesan kebaikan itu sampai dan menginspirasi banyak orang, insya Allah ini akan menjadi ladang amal jariyah kita. Aamiin.....


Bahagia bener telah menjadi bagian keluarga besar ini. Semoga bisa menyerap dan mengaplikasikan ajaran serta tauladannya dalam berbagi kebaikan. Apalagi sepulang dari KF, saya menemukan sebuah tulisan tentang 7jalan utk keajaiban finansial, yaitu :1/memasrahkan diri kepada Allah 2/zikir dlm segala keadaan 3/ikhlas melakukan tugas 4/rutin bersedekah 5/tdk bergantung pd selain Allah /memudahkan urusan orang lain 7/tidak mengeluh dan selalu berpikir bahwa hidup ini indah

Kiranya mungkin itu juga rahasia kesuksesan dan keberkahannya. Sukses terus untuk KF.
Semoga terus istiqomah, makin bermanfaat, makin berkualitas.
Aamiin ya Robbal alamiin.


*Btw, foto yang bareng-bareng 27 pesertanya masih belum dapat  copy-nya. jadi nyusul ya. Yang ada baru yang ini nih :)


Rafillus

Membaca Rafillus mengingatkan saya pada cerpen seorang teman. yang bercerita tentang seorang lelaki berbadan besi. Baru kemudian saya sadar, justru cerpen teman saya itu yang terinspirasi oleh Rafillus. Apalagi dia terang-terangan menyukai karya-karya Budi Darma.

Gaya penceritaannya mirip mas As Laksana juga yang ini. Suka belok-belok, ke mana-mana, ngalor ngidul begitu, kadang-kadang jadi takut tersesat. hehe. lho tadi cerita apa, kok jadi ke mana.

Dan benar kalau kemarin aku sempat baca komentar seseorang (di twitter kalau nggak salah) Budi Darma ini terlalu 'dingin'. Hohoho. Sementara kesimpulanku juga sama.

Tapi kepiawaiannya menceritakan yang absurditas dan surealis ini yang justru disukai guruku. Dia juga sejenis, sealiran. Kadang-kadang demi memenuhi tuntutan pelajarannya, aku juga menulis yang serupa itu. Tapi ke sini-sini, sepertinya aku mulai lebih suka yang realistis inspiratif gitu deh.

Btw, semua kan masih proses.
Yuk kita nikmatin aja :)



voice & shibghoh

Sudah lama sekali aku ingin membaca tulisan mbak Maggie.  Pernah sekali mengintip kumcernya di sebuah pameran.  Tapi karena waktu itu uang di kantong sudah habis untuk ngeborong buku buku lain,  aku tidak membawanya pulang. 
Kumcer balada ching ching ditakdirkan berada di tanganku dari segelintir karyanya.  Mungkin karena ini tulisan lamanya, jadi mungkin tidak sehebat yang kubayangkan.  Kalau tulisannya sekarang pastilah lebih berkembang dan bagus.  Kita semua tahu setiap kita memiliki milestone yang harus dilewati untuk menuju lebih baik lagi.
Gaya berceritanya mirip pak as laksana di beberapa bagian. Ndongeng ngalor ngidul gitu,  tapi yang ini terkadang ada kesan lambat,  mengulur dsb. Padahal kalau pak as laksana yang ngedongeng, pembaca terbawa arusnya sambil bisa senyum senyum karena humornya atau satirnya yang terselip di sana.
Yang nggak aku suka adalah banyaknya adegan ranjang di hampir semua cerpen.  Semendetail itu?  Padahal kalau itu dihapus, atau dipersingkat, tidak perlu detail yang hiyyyy...masih tetep jalan lho ceritanya.  Oh ya, sebut saja aku moralis atau apa.  Tapi aku membayangkannya adalah semua tulisan tuh meninggalkan jejak lho pada pembacanya.  Lha kalau pembaca menerimanya sebagai rangsangan atau pelajaran atau pembolehan untuk beradeganspt itu, bukan pada yg halalnya,  apa nggak bahaya?
Semua tulisan dipertanggung jawabkan.  Seharusnya.
Dari kumcer ini,  banyak yang menceritakan tentang penderita penyakit jantung.  Tentang peeselingkuhan.  Aku jadi ingat sebuah novel yang ditulis orang yang setipe dengan mbak Maggie ini,  dalam persepsiku,  yang menulis cerita cerita tentang penderita kanker karena dia sendiri jugapenderita kanker.
Begitulah, penulis membawa'suara' voice dan misinya sendiri sendiri. Tergantung dari latar belakang dan penderitaannya masing masing.
Seperti juga mereka yang mengalami penderitaan psikis,  menuliskanberdasarkan pengalaman mereka dan menyuarakan idealisme mereka dalam cerita ceritanya.
Btw, tentang adegan adegan hot itu sempat terlintas di kepalaku,  mungkin karena mbak maggie menulis versi aslinya dalam bahasa inggris,  meski dia orang indonesia,  dan berasumsi pembacanya orang amerika,  jadilah adegan adegan itu ada.
Kadang Curiganya,  apakah mereka yang suka menulis adegan hot itu justru mereka yang sebenarnya lajang tapi berimajinasi seperti itu. Karena mereka tidak bisa mengalaminya di alam nyata.  Haaaa??! :D


Bisa Juga Dibeli Online



Ada beberapa teman yang menginbox soal keberadaan buku-buku saya. Pola display di gerai-gerai Gramedia memang sangat dibatasi waktu, sehingga sebuah buku tak akan bisa terlalu lama terdisplay di sebuah rak toko buku.
Maka itulah banyak buku yang teretur, sebelum sempat dilihat calon pembelinya. Sebenarnya buku-buku tersebut tak selamanya habis, tapi kadang… masih menumpuk di gudang distributor…  (m yud, ikutan nih ceritanya :D)



buat teman-teman yang masih mencari buku-buku lama saya, bisa memesannya langsung melalui saya. (sms 081914032201 atau email diannafi@yahoo.com. Silakan tulis nama, alamat, nomer telpon, judul buku yang dibeli)

Di tangan saya, jumlahnya memang tak lagi banyak, namun cukuplah bila sekadar buat teman-teman yang membutuhkan 1-2 eks. harganya pun sudah di bawah harga normal ketika rilis.
Beberapa judul buku-buku itu adalah:
(oh ya sekalian promosi buku baru, di bawah sini sekalian saya tulis judul-judul buku lama ataupun baru ya. Tentu saja buku-buku baru dengan harga rilisnya ya :))

Harga di atas belum termasuk ongkir ya. Selamat memilih :)

The Art of Waiting

Alhamdulillah wa syukurillah...

Senang sekali waktu memperoleh kabar bahwa tulisanku menang lagi dalam sebuah lomba. Rencananya kumpulan tulisan pemenang akan dibukukan bersama tulisan para sineas di Indonesia.

Kita tunggu  bareng-bareng saja ya. Semoga segera kelar prosesnya.
Maklumlah karena ngejar-ngejar para sineas yang padha sibuk untuk menulis tentulah bukan pekerjaan yang mudah. Hehehe..





Road Trip & Twist



Perjalanan yang dimulai dengan menduga-duga seringkali membawa kita pada titik-titik yang lebih banyak daripada apa yang kita bayangkan sebelumnya.

Seperti itulah kiranya yang sedang saya alami saat ini. Cerita lengkapnya insya Allah akan saya sampaikan suatu saat. Road trip ini merupakan rangkaian perjalanan dan riset yang saya lakukan atas pesanan sebuah penerbit. Dari sebuah clue yang hanya terdiri satu lembar kertas, perjalanan yang saya kira akan mudah dan segera sampai, nyatanya membawa saya harus melalui titik-titik lain.

Di sinilah ternyata benar pameo yang saya pernah baca, Berjalanlah dan akan kau temui keajaiban.
Titik-titik itu tidak saja membukakan mata hati saya, tetapi juga menambah kekayaan dalam cerita yang sedang disusun ini.

Mohon doanya teman-teman, semoga lancar dan berkah apa yang sudah dimulai ini. Serta sukses sampai akhir nanti dan tersaji sebuah cerita yang bagus dan bermanfaat.
Aamiin.

Jika hendak melihat rute-rute yang sudah saya lewati, teman-teman bisa menyaksikan di :

http://www.youtube.com/watch?v=7nJQ2QQl1g4&feature=c4-overview&list=UU-y2CIQRuPwDDLeFQ3JIERA
http://www.youtube.com/watch?v=_iSzohirwU0
http://www.youtube.com/watch?v=dcG5-Hu7Vu4&feature=c4-overview&list=UU-y2CIQRuPwDDLeFQ3JIERA
http://www.youtube.com/watch?v=h_vHoEeQI_g&feature=c4-overview&list=UU-y2CIQRuPwDDLeFQ3JIERA
http://www.youtube.com/watch?v=2W2_aelyFC4&feature=c4-overview&list=UU-y2CIQRuPwDDLeFQ3JIERA
http://www.youtube.com/watch?v=2zyZz7MrkKA&feature=c4-overview&list=UU-y2CIQRuPwDDLeFQ3JIERA
http://www.youtube.com/watch?v=XoZpuBaZHRM&feature=c4-overview&list=UU-y2CIQRuPwDDLeFQ3JIERA

dan seterusnya.. ikuti terus ya :)

Reprint Novel Mayasmara

Novel Mayasmara yang sold out pada cetakan pertama kini hadir kembali dan bisa dipesan via
http://mizan.com/buku_selfpub/mayasmara.html

atau sms 081914032201.


Mayasmara, membuktikan bahwa realita hari ini adalah realita media, dan itu jagat maya yang eksistensinya tanpa batas primodial serta menerabas dimensi ruang dan waktu. Batas menjadi nisbi, persepsi menjadi imaji-realiti. Sementara rasa akankah mendapat ruang eksistensinya juga? Padahal rasa itu selama ini telah mendapat posisi yang begitu nyaman dan berkembang sebagai esensi terdalam seseorang.

Adalah Mayana Astari, putri sulung dari tiga bersaudara yang perempuan semua, dari keluarga yang merasa posisi sosialnya sebagai keluarga terhormat. Mayana gadis penurut yang tumbuh dalam kepatuhan kultur Timur yang telah dididik dan bergaul dalam kancah global. Maka Timur dan Barat, Utara dan Selatan menjadi samar eksistensi dan perannya. Sebagai penerus keluarga, entah dia sadar atau tidak, telah menjadi begitu patuh pada hampir semua ketentuan keluarga, sebagai institusi yang agung dan luhur, maka inginnya dipuja-puja sepanjang masa oleh setiap generasinya. Ketetapan keluarga telah menjadi sabda yang tak boleh disanggah. Ketika menjadi dewasa, Mayana pun ditentukan jodohnya oleh keluarga. Tak ada energi berontak sedikitpun. Seolah semua memang begitu adanya. Pematakudaan seluruh pandangan dan aspirasinya, selama ini telah terjadi di keluarga itu berabad silam.
Demikian cerita para tetua keluarga, telah diinsulinkan ke dalam benak bawah sadar Mayana. Ketika menghitung hari menuju pernikahannya, Mayana tersangkut pada pergaulan media sosialita dunia maya, yang sekian bulan ini menjadi bagian kehidupan pribadi dan sosialnya. Subyek yang selama ini berkonektiifitas itu telah memercikan sesuatu yang membuatnya terperangah. Keterperangah itu telah menyengat seluruh eksistensi kemanusia, dan memberi wacana baru yang membuat dirinya gelojotan. Kekaguman? Bukan hnya itu, walau telah merebakan begitu banyak kebaruan yang semestinya sudah tak boleh dibatahkan. Kebaruan itu menjadi hidup dan menghidupkan sebuah daya, daya yang sungguh eksplosif, mungkin bagai keperkasaan Krakatau pada jaman purba dulu.
Terpana? Bukan juga, walau dalam dirinya begitu banyak energi yang bersinergi tentang pandangan masa depan peran-peran subyek dan sosial yang nyaris tanpa batas horizon. Mayana lemas, bukan lemah. Malah perkasa. Dalam keterperangahn itu pun, rasa dalam diri Mayana tiba-tiba membenih berkecambah. Setiap yang hidup adalah dihidupkan oleh yang Mahahidup. Apakah rasa itu juga? Mayana tak peduli, ini sikap yang mulai mewarnainya. Padahal sejak kecil dia diajarkan untuk selalu menghitamputihkannya, maka mengambil peduli adalah sikap yang membatukannya. Mayana telah melakukan pergeseran. Keyakinan pada eksistensi peran dirinya yang jauh lebih luas dari sekadar batas keluarga meleleh Mayana mendefinisikan kembali yang selama ini telah menjadi titah wasiat, Dilakukannya bukan untuk peruntuhan, tetapi dialektika reinterpretasi sebagai keagungan manusia yang dianugerahkan budi dan daya yang difasilitasi teknologi.
Pergeseran demi pergeseran merubah derajat persinggungan. Dan telah dianggap sebagai pemberontakan. Ketertekanan itu kita membakar energi terbarukan dalam diri Mayana. Dia meledak, tiga hari menjelang pernikahannya dia menyatakan batal. Mayana menyata, bukan melawan. Malah menawan.
Siapakah subyek yang berkonektifitas dengan Mayana, yang telah membuat dirinya bergeser dan terus bergeser? Mantra seperti apakah yang telah disampaikannya, sehingga rasa yang terdalam itu telah berhasil di keluarkan dan memberi kebaruan yang aktual dalam keberdayagunaan dengan daya elastisitas yang begitu melenting? Mayana begitu mencair, seperti air yang mengisi setiap pori dan lerung terdalam. Walau dia tetap punya permukaan yang akan selalu datar di segala media dan kondisi. Berhasilkah Mayana merealiasikan subyek dunia mayanya? Apakah realita maya juga adalah realita rasa di dalam diri seseorang? Atau realita maya memang dimensi sendiri yang bukan realita rasa?

Kiss Me While I Sleep

Ufhh...tarik nafas panjang, hembuskan.
Sudah lama tidak membaca novel yang ada adegan syur-nya, jadi agak megap-megap. *Halah. lebay :D
Tapi kan kita membaca bukan untuk itu. Inilah bedanya kalau remaja (belum matang, apalagi anak-anak) membaca dengan orang dewasa (yang stabil) membaca. Bedanya pembaca biasa dengan pembaca yang penulis, yang belajar dari bacaannya itu.

sudah cukup basa-basinya ya..hehe..

Novel Linda Howard kali ini bercerita tentang seorang agen CIA yang membunuh seorang bos mafia demi membalas dendam atas kematian dua sahabat dan anak angkatnya. Dari inciting incident inilah kemudian ceritanya mengalir.

Saat Lily-nama agen itu-pergi ke taman dekat lab perusahaan Nervi milik keluarga mafia itu, dia hampir ditembak orang-orang Nervi. Tetapi seorang pria-Swan-menyelamatkannya. Padahal Swan ini adalah agen CIA juga yang ditugaskan untuk menghabisi Lily karena dianggap melanggar aturan.

Nggak usah banyak-banyak ya spoilernya.... hehe.

Linda Howard piawai sekali dalam membangun karakternya, setting, narasi juga dialognya. Semua lubang-lubang plot yang mungkin ada sudah diantisipasinya. sehingga kita menemukan semua alasan untuk semua respon, tindakan, adegan dan reaksi.

Cuma ya..ada adegan itu tuh. Meski kalau adegan gituan adanya di novel luar sih, kita membacanya biasa-biasa saja. Tapi kalau yang begitu itu (hubungan tidak halal) adanya di novel Indonesia, aku seringnya ngamuk-ngamuk. Nggak penting, merusak generasi muda dan seterusnya. Hahaha....


Ada beberapa kejutan dan dua kali twist ending. Beberapa di antaranya bisa kita tebak di awal. Tetapi ada dua yang benar-benar tak terduga.

Apalagi ya? Rasanya jatuh cinta kalau membaca novel yang ada cinta-cintaan gitu ya. Hehe :D
Oh ya, apakah sudah ada versi filmnya? Novel ini juga filmis, seperti inilah memang jika kita ingin menulis novel yang bagus.


Alhamdulillah novel Sarvatraesa telah selesai cetak

Alhamdulillah novel Sarvatraesa telah selesai cetak. Sekarang posisi sedang ada di gudang penerbit.
Mudah-mudahan dalam jangka waktu dekat, novel yang merupakan seri dari Mayasmara ini bisa segera edar di toko-toko buku terdekat kamu.

Oh ya, buat yang mau dapat gratisannya, bisa ikut give awaynya di sini
https://www.goodreads.com/giveaway/show/72735

atau  di sini  http://diannafi.blogspot.com/2013/11/giveaway-novel-sarvatraesa.html

Insya Allah launching-nya akan diselenggarakan 2 Desember 2013 di Fakultas Dakwah IAIN Semarang.
Kebetulan ada undangan mengisi sharing kepenulisan di sana dengan tema Writing or Nothing. Plus untuk memacu gairah teman-teman, sekaligus diminta untuk launching buku terbaru.

Selamat membaca kisah Sarvatraesa :)


Bukti terbit

Alhamdulillah, bukti terbit buku storycake for your life keajaiban rejeki sudah datang.
Teman teman bisa dapatkan buku ini di toko buku Gramedia dll
Ada endorsment dari mas Ahmad Fuadi dan pak Didin Hafidhudin lho.
Semoga berkah manfaat ya bukunya.
Oh ya, sekarang sedang menunggu terbit buku ssrm, bukan akhir dunia, dan Insya Allah satu lagi novelku terbit di 2014.
Doakan semoga semua lancar prosesnya ya. Hatur nuhun

Ngemil jatisaba

Ramayda membuka novelnya dengan konflik.  Satu bab di depan ini ditulisnya lagi di bab 20. Bercerita tentang Mae,  mantan TKW yang hendak meraih kebebasannya dari menjadi monster pencari dere, babon alias penjualan manusia,  dengan mencari 15 korban terakhir.  Ke kampung halamannya dia pergi dan di sanalah cerita ini mengalir.

Berbalut konflik suasana pemilihan kepala desa dengan segala intriknya,  persinggungan Mae dengan Gao,  cinta pertamanya. Juga konflik batin Mae antara kenangan indahnya bersama saudara,  kerabat dan tetangganya dengan misinya yang hendak menjual mereka.

Dialog maupun narasinya bagus banget.  Very tight and bening.  Kita kadang merasa sebuah dialog yang nyastra tidak mungkin terjadi dalam kehidupan sesungguhnya, apalagi oleh orang orang desa macam Jatisaba ini.  Tapi di novel ini rasanya seperti layak saja,  tidak aneh, tidak canggung membacanya,  tapi juga indah.

Aku mencatat dan memperhatikan bagaimana dia meramu plotnya,  konfliknya,  twist nya,  metafornya,  juga diksi diksinya.  Juga penokohannya yang apik untuk setiap karakter yang terlibat.  Settingnya jelas detail dan hidup karena penulisnya menghabiskan waktu banyak untuk risetnya. 

Keren pokoknya,  padahal aku membacanya tidak urut dri awal,  tapi sekenanya tanganku membuka.  Loncat dari satu bab ke bab lain,  tanpa urut sama sekali.  Pantas jika jatisaba menjadi novel unggulan novel dkj 2010.

Fatihah Untuk Pahlawan, (mantan) Brondong dan KF


Walaupun biasanya aku juga melamun waktu berkendara, tapi nggak biasanya aku salah ambil jalur. Tapi ternyata Allah memang menginginkanku lewat Jl Pahlawan dan TMP sehingga walhasil mengirim fatihah untuk para pahlawan di hari pahlawan.  Meski tadinya aku mau lewat Jl. Dr cipto - Peterongan- Jl. Sriwijaya. 

Sampai di gedung wanita, aku masih sempat keliling dan belanja beberapa buku. Meski sudah mengira bakalan ketemu (mantan) brondongku (if you've read my short story : one week in May) karena memang dia orang yang ada di sekitar buku, tapi ternyata kita tetap sama-sama terpesona waktu bertemu lagi tanpa sengaja. (Udah deh, langsung jadi satu cerpen itu.... atau mungkin lanjutan novel 'dua empat' yang sudah kutulis tapi kurang panjang :D)

However, meski kita berusaha mengelak, melupakan, menindihnya dengan banyak hal/peristiwa/orang-orang lain, kita  masih bisa merasakannya  bahwa itu (mungkin) cinta. You can call this, love. Ketika siangnya aku meeting  dengan mahasiswa yang menemuiku untuk hadir sebagai pemateri di kampusnya 2 Desember ini, ke siapa es capuccino darinya itu kuberikan? Ketika aku dapat dus makan sebagai peserta KF, ke siapa dus makan itu kuberikan? You know who. You can call this, love. #eaaaaa *oke, aku gila :D


Mari kita tinggalkan kegilaan itu untuk jadi cerpen/novel saja ya. Aku bagikan sedikit oleh-oleh KF:
(sudah kubagikan juga di twitter-ku @ummihasfa ) dan sebagian dari teman yang juga hadir di sana.

untuk jadi penulis, lakukan menulis itu sendiri! perbanyak baca!
menulis - pengendapan karya - self editing - baru kirim! jgn jd DLers
sebuah karya harus punya pesan moral. sampaikan dg smooth, bkn vulgar.
penulis piawai pasti bisa menjungkirbalikkan kalimat SPOK
jika saya berusaha lebih, saya pasti mendapatkan lebih.
penulis harus selalu mengupgrade pengetahuannya.
3 poin+ penulis: 3. memiliki kemampuan mempengaruhi orang lain, baik positif/negatif
3 poin+ penulis: 2. memiliki kemampuan menginterpretasi/menafsirkan suatu objek
3 poin+ penulis: 1. tingkat pengetahuannya di atas rata-rata
jadi penulis itu akan membuat seseorang terancam keren. yakin aja!
pilihan jadi penulis adalah pilihan luar biasa.
orang yang banting tulang lebih pasti dapat yang lebih juga. itu keadilan Tuhan.
penulis idealis vs penulis berorientasi bisnis. pilih manaa?. orang yang terus bertahan pasti akan mendapatkan ruangnya sendiri.

kuatin segmennya, bagusin temanya,plus-in nilainya,unik-in judulnya,smooth-in pesannya,pas-in momennya,aktif-in 'spotlight'nya.

tawarkan sesuatu yg baru, yg (super) kreatif, yg jenius (genuine), yg beda seperti @benakribo atau manfaatkan momen.

kalau terus kreatif, gigih&beruntung, ntar selain jd penulis, bisa jd komisaris juga kyk @radityadika :)

tantangannya adl bgm spy teknik, cerita, konflik tetap terjaga. dan bgm spy ending tdk mudah ditebak.

nulis buku tuh mau diterbitin doang atau mau laku? mau laku aja atau mau laku banget? idealis tuh ntar kalau sdh py pasar/fans.
kalau perlu twitwar biar menarik perhatian follower&follower-nya follower atas topik/ide/dagangan kita. *hihi sesat tapi bener juga

buruan kerjain PR selagi msh panas mesinnya, klo kelamaan ntar keburu dingin, basi&luntur tuh ide2 juga semangatnya. *jleb ya

yg ajib dr majlis KF kmrn. 200 org dpt ilmu&mkn gratis. alfu mabruk.
spt menulis yg tdk bs diajarkan,tp bisanya ditumbuhkan,demikian juga kebaikan


Novel "Ayah, Lelaki Itu Mengkhianatiku" di stan DivaPress

Tips dari pak Sapardi Djoko Damono

Berikut beberapa tips dari pak Sapardi Djoko Damono :

Banyak orang yang akan mulai menulis tapi tidak jadi2. Menulis itu mengalir saja. Jangan pernah berpikir jadinya seperti apa.

Yg berkuasa adl tulisan. biarkan tulisan itu membawa ke mana saja. Tulisan akan berkembang dg sendirinya ktk proses menulis berjalan.

Banyak dari kita merasa takut&minder thd apa yg akan kita tulis. ketakutan itu tdk membawa kt ke mana2. Jadi tulis saja, jangan takut.

Kalo bosen dg tulisan itu,stop sj. Berhenti&beralih ke tulisan lain. Jika dapat mood bagus, bisa kembali ke tulisan yang belum selesai.

Tentang Sapardi Djoko Damono (sumber goodreads)
Masa mudanya dihabiskan di Surakarta. Pada masa ini ia sudah menulis sejumlah karya yang dikirimkan ke majalah-majalah. Kesukaannya menulis ini berkembang saat ia menempuh kuliah di bidang bahasa Inggris di Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. 

Sejak tahun 1974 ia mengajar di Fakultas Sastra (sekarang Fakultas Ilmu Budaya) Universitas Indonesia, namun kini telah pensiun. Ia pernah menjadi dekan di sana dan juga menjadi guru besar. Pada masa tersebut ia juga menjadi redaktur pada majalah "Horison", "Basis", dan "Kalam".

Sapardi Djoko Damono banyak menerima penghargaan. Pada tahun 1986 SDD mendapatkan anugerah SEA Write Award. Ia juga penerima penghargaan Achmad Bakrie pada tahun 2003. Ia adalah salah seorang pendiri Yayasan Lontar.

Karya-karya
Sajak-sajak SDD, begitu ia sering dijuluki, telah diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa. Sampai sekarang telah ada delapan kumpulan puisinya yang diterbitkan. Ia tidak saja menulis puisi, tetapi juga menerjemahkan berbagai karya asing, menulis esei, serta menulis sejumlah kolom/artikel di surat kabar, termasuk kolom sepak bola.

Beberapa puisinya sangat populer dan banyak orang yang mengenalinya, seperti Aku Ingin (sering kali dituliskan bait pertamanya pada undangan perkawinan), Hujan Bulan Juni, Pada Suatu Hari Nanti, Akulah si Telaga, dan Berjalan ke Barat di Waktu Pagi Hari. Kepopuleran puisi-puisi ini sebagian disebabkan musikalisasi terhadapnya. Yang terkenal terutama adalah oleh Reda Gaudiamo dan Tatyana (tergabung dalam duet "Dua Ibu"). Ananda Sukarlan pada tahun 2007 juga melakukan interpretasi atas beberapa karya SDD.

Berikut adalah karya-karya SDD (berupa kumpulan puisi), serta beberapa esei.

Kumpulan Puisi/Prosa

* "Duka-Mu Abadi", Bandung (1969)
* "Lelaki Tua dan Laut" (1973; terjemahan karya Ernest Hemingway)
* "Mata Pisau" (1974)
* "Sepilihan Sajak George Seferis" (1975; terjemahan karya George Seferis)
* "Puisi Klasik Cina" (1976; terjemahan)
* "Lirik Klasik Parsi" (1977; terjemahan)
* "Dongeng-dongeng Asia untuk Anak-anak" (1982, Pustaka Jaya)
* "Perahu Kertas" (1983)
* "Sihir Hujan" (1984; mendapat penghargaan Puisi Putera II di Malaysia)
* "Water Color Poems" (1986; translated by J.H. McGlynn)
* "Suddenly the night: the poetry of Sapardi Djoko Damono" (1988; translated by J.H. McGlynn)
* "Afrika yang Resah (1988; terjemahan)
* "Mendorong Jack Kuntikunti: Sepilihan Sajak dari Australia" (1991; antologi sajak Australia, dikerjakan bersama R:F: Brissenden dan David Broks)
* "Hujan Bulan Juni" (1994)
* "Black Magic Rain" (translated by Harry G Aveling)
* "Arloji" (1998)
* "Ayat-ayat Api" (2000)
* "Pengarang Telah Mati" (2001; kumpulan cerpen)
* "Mata Jendela" (2002)
* "Ada Berita Apa hari ini, Den Sastro?" (2002)
* "Membunuh Orang Gila" (2003; kumpulan cerpen)
* "Nona Koelit Koetjing :Antologi cerita pendek Indonesia periode awal (1870an - 1910an)" (2005; salah seorang penyusun)
* "Mantra Orang Jawa" (2005; puitisasi mantera tradisional Jawa dalam bahasa Indonesia)

Musikalisasi Puisi

Musikalisasi puisi karya SDD sebetulnya bukan karyanya sendiri, tetapi ia terlibat di dalamnya.

* Album "Hujan Bulan Juni" (1990) dari duet Reda dan Ari Malibu.
* Album "Hujan Dalam Komposisi" (1996) dari duet Reda dan Ari.
* Album "Gadis Kecil" dari duet Dua Ibu
* Album "Becoming Dew" (2007) dari duet Reda dan Ari Malibu
* satu lagu dari "Soundtrack Cinta dalam Sepotong Roti", berjudul Aku Ingin, diambil dari sajaknya dengan judul sama, digarap bersama Dwiki Dharmawan dan AGS Arya Dwipayana, dibawakan oleh Ratna Octaviani.

Ananda Sukarlan pada Tahun Baru 2008 juga mengadakan konser kantata "Ars Amatoria" yang berisi interpretasinya atas puisi-puisi SDD.

Buku

* "Sastra Lisan Indonesia" (1983), ditulis bersama Subagio Sastrowardoyo dan A. Kasim Achmad. Seri Bunga Rampai Sastra ASEAN.

Alhamdulillah Tsumma Alhamdulillah

Alhamdulillah, sembari menunggu terbitnya beberapa buku baru dan beredarnya mereka di toko buku, ada beberapa kabar baik yang datang beberapa hari ini.

Yang pertama: Salah satu naskah stock novelku berjodoh dengan penerbit.
Insya Allah jadual terbitnya 2014. Doakan ya semoga semua prosesnya lancar.
(Doakan juga semoga beberapa PR menulis lainnya lancar dan sukses. Aamiin)

Yang kedua : salah satu artikelku akan dimuat di sebuah tabloid di Semarang minggu depan.

Yang ketiga : mendapat kehormatan untuk mengisi sesi sharing kepenulisan di Kampus Fiksi Yogyakarta. insya Allah 24 November ini.

Yang keempat : mendapat kehormatan untuk menjadi juri lomba cerpen yang diselenggarakan oleh FIB Undip. Dan satunya lagi, lomba cerpen oleh SMPN 2.

Yang kelima : dapat tiga order naskah dari tiga penerbit yang berbeda. Mohon doanya ya, semoga hasil maksud, lancar, berkah dan manfaat. Aamiin.


Pengungkit

Terjadi lagi. Sama seperti bagaimana ceritanya kok padha akhirnya aku meneruskan membaca Ranah 3 Warna, kali ini aku menonton film juga karena ada pengungkitnya. Ada asbabunnuzul-nya sehingga memutuskan untuk nonton. Jadi ceritanya aku sudah dapat copy film Kahaani ini sejak beberapa bulan lalu dari iparku. Tapi tidak sempat nonton ataupun tergerak nonton.
Nah, kemarin ketika salah seorang editor penerbitan nge-twit tentang film ini, barulah aku krenteg untuk nonton. See? Ternyata barang yang sudah ada dan siap disantap, entah itu buku atau film atau apa saja, tidaklah cukup. Musti ada faktor pengungkitnya, yang membuatnya menjadi menggiurkan untuk dinikmati. Di sinilah pentingnya promo, dan tentu saja promo yang berhasil efektif adalah yang mengena.

By the way, film Kahaani ini keren banget. Plotnya antihero, jadi twist-nya sungguh-sungguh mencengangkan.  Segera cari dan tonton ya. Selamat terpukau :)

**
Kahaani, film bollywood satu ini memang berbeda dari kebanyakan koleganya yang lebih sering menghadirkan drama dan romansa.Kahaani yang berarti “Cerita” adalah thriller garapan Sujoy Ghosh yang mengisahkan perjuangan seorang istri, Vidya Venkatash-Bagchi (Vidya Balan) menyebrangi ribuan kilometer dari London untuk mencari suaminya yang hilang dalam perjalanan bisnis di Kolkata (dahulu Calcutta atau Kalkuta), India. Menariknya, karakter heroine kita bukan hanya sekedar seorang wanita, Vidya juga sedang hamil besar yang membuat gerak-geriknya terbatas sekaligus menjadi menjadi senjata ampuh untuk meraih simpati, seperti salah satunya adalah, Satyaki “Rana” Sinha, polisi muda yang kemudian membantu Vidya menemukan suaminya.
Memasang sosok perempuan yang tengah hamil tua sebagai karakter utama sebuah thriller itu harus diakui cerdas dan berani, belum pernah ada sebelumnya yang nekat melakukannya di genre ini, dan aktris cantik, Vidya Balan telah menunaikannya dengan sangat meyakinkan dalam usahanya memperkuat narasi Sujoy Ghosh tentang pencarian, terorisme dan konspirasi besar berbalut semangat feminisme kental dan elemen detektif yang seru, ya,  seperti menonton sedikit A Mighty Heart, sedikit Rendintion, sedikit Bourne series dan juga sedikit kejutan ala Usual Suspects dan Taking Lives, hanya saja Kahaani menjadi kasus istimewa karena ia merupakan produksi India yang notabene  jarang menampilkan tema dan di garap seserius ini.
Kahaani akan membawa penontonnya ke dalam dua jam lebih petualangan cepat menjelajahi sudut-sudut kumuh Kolkata, mencari jejak dan petunjuk-petunjuk yang berserakan sembari menghindari kejaran-kejaran pihak yang merasa terancam dengan kehadiran ibu muda itu. Meyenangkan ketika melihat Ghosh yang tidak hanya sukses menghadirkan gambar-gambar menarik Kolkata, melihat bagaimana kehidupan di salah satu kota terpadat di India itu namun juga unsur budaya yang kental seperti pengunaan dua nama buat satu orang atau festival Durga Puja dengan segala unsur religinya pada akhir film, jadi meskipun secara teknis ia terlhat seperti garapan film Hollywood, Ghosh tetap tidak melupakan akar budayanya sebagai sebuah film India. Dan bagi yang tidak meyukai adegan nyayian dan tarian, tenang saja, Kahaani tampaknya tidak punya waktu untuk menghadirkan kebiasaan itu, walaupun ada sedikit romansa di dalamnya, tapi ia juga tidak pernah berkembang menjadi kelewat dominan.
Naskahnya memang menarik dan nyaris rapi dengan segala detil-detilnya, tapi harus diakui ia masih memiliki beberapa plot hole terasa sedikit menganggu keasikannya. Untung saja Kahaani punya castyang bagus untuk menambal kekurangannya itu termasuk bagaimana kemudian Ghosh berhasil menutup kisahnya dengan twist ending cerdas, ending yang sangat berkaitan dengan pemilihan karakter wanitanya yang tidak biasa itu. Ya, jujur saja saya tertipu mentah-mentah, lucunya Ghosh sebenarnya sudah memberikan petunjuk tentang akhir film ini sejak awal-awal film, tapi, yah, begitulah, kita tidak pernah bisa menebak apa yang terjadi hingga akhir film nanti.