Catatan kecil dari perjalanan ke jogja

Sebenarnya kemarin itu begitu mendarat di giwangan, aku inginnya langsung memanfaatkan waktu untuk ke kantor dan ndalemnya yg punya gawe.  Hatapi mas acong membawaku langsung ke kampus fiksi.  Tadinya kubayangkan lokasi ketiganyaberdekatan, selisih beberapa gang atau gimana.  Tapi ternyata selisih 2km. Duh,  sudah terlambat untui balik kanan minta antar ke kantor dan ndalem dulu.  Nggak enak, kuatir merepotkan.

Btw, waktuku memang nggak bisa leluasa.  Daripada kemalaman banget sampai rumah,  aku memilih segera pamit begitu selesai sesi.  Dan alhamdulillah sampai rumah jam delapan  malam.

Yang seru,  ya ketemu alumni kampus fiksi yang sebelumnya sudah beberapa kali bersapa ria di timeline.  Reza, ternyata lebih keren aslinya daripada yg kubayangkan. Maksudku,  dia ternyata tinggi ramping dan face juga lagaknya tidak kekanakan seperti persepsiku selama ini.  Meski status di twitternya kadang sok tahu tentang politik lah,  kekacauan negeri,  perilaku busuk para pejabat,  kadang nyinyir dengan yang tidak sealiran,  tapi yang sesungguhnyawajahnya teduh dan bersahabat.  Sehingga kesan intoleran tak membekas di sana.
Adit, darinya aku tahu gambaran tentang akta yang diasuh sama mas Arif. Ketatnya, juga kekerasan hati mas arif akan keinginannya hanya membaca cerita bagus,  masih sama seperti dulu. Farah yang diantar ibunya, cemumut yg imut,  lia yang hangat,  mereka representasi dari keluarga kf yang akrab.
Gerombolan editor, mbak rina, ve, ayun, ita, dll langsung membuatku lebur.  Nggak ada jarak,  nggak ada yang disembunyikan. Yang ada cuma tulus dan cinta.

Dan yg plg menakjubkan adalah ibu ratu yang paling cantik di antara semuanya.  Padahal secara usia dan posisi,  beliaulah yang paling senior.
Aku meninggalkan kf dengan beberapa bekal penting dari sang empunya gawe. Yang penting jika ingin mengembangkan lagi institusi itu adl semangat dan kedekatan jiwa. Terima kasih untuk semua kebaikannya. Semoga berkah. Aamiin.



Di bis dalam perjalanan pulang,  aku ketemu santri yang menarik,  unik.  Membuatku ingat kembali pada apa yg sempat kubagikan di sesi kf 5. Peka, melatih kepekaan,  being journalist.  Jadilah aku mempraktekkannya kembali untuk peka konflik, dengan menanya nanyai santri yang bersamaku dalam perjalanan.  Selagi dia menjawab dan bercerita ttgnya, ttg keluarganya, pesantrennya, murid2nya, guru2nya, dan konflik2 sosial di sekitarnya,  dalam kepalaku terbersit kisah menarik yang bisa dituliskan.  Thanks for the story,  stranger :D

0 komentar:

Posting Komentar