Perkawinan Sebagai Kesadaran Menyatukan Cinta Kasih (Resensi Novel di Koran Jakarta 19 Juni 2013)



Perkawinan sebagai Kesadaran Menyatukan Cinta Kasih



Cinta adalah penyerahan diri sepenuhnya kepada orang yang dicintai dan membiarkan orang yang dicintai bertumbuh. Namun, orang sering salah mengerti bahwa ‘cinta’ adalah memiliki dan karena itu bukanlah ‘cinta’ melainkan sebuah belenggu


Perempuan diciptakan dari rusuk pria agar tidak menginjak dan tidak mengatasi, melainkan sejajar dan sederajat. Wanita tidak boleh manja. Dia juga harus kuat dan mampu mandiri. Novel ini bisa menjadi cermin terkait pemahaman itu. Diceritakan, Ratri yang telah menikah dan memiliki tiga anak harus menghadapi kenyataan pahit. Jiwanya tercabik-cabik. Suaminya menuangkan “air mendidih” di jiwanya dengan berselingkuh.




Hancur hati Ratri ketika seorang wanita mengaku hamil karena telah berhubungan terlalu jauh dengan suaminya, (hlm 54-58). Segala pengorbanan Ratri untuk keluarga seakan sia-sia. Namun, tidak ada yang peduli pada luka yang tergores di batinnya. Keluarga suaminya seolah hanya peduli atas status mereka sebagai keluarga terhormat di mata masyarakat.




Tentu saja, hati perempuan tidak bisa dimanipulasi. Perasaan Ratri tidak bisa berubah cepat. Atas nama keutuhan rumah tangga ataupun kehormatan keluarga, ada dimensidimensi perasaan perempuan yang sulit berubah, (hlm 99-107). Seorang perempuan tidak mudah bertransisi dari perasaan sedih ke bahagia dan sebaliknya. Sebagaimana umumnya perempuan, begitu pula yang dialami Ratri.




Dia yang kecewa dan sedih mengetahui ulah suaminya. Dia merasakan kehampaan dalam hubungan rumah tangga. Bagaimana mungkin bisa menata perasaan saat berdekatan bersama suami yang telah tega berkhianat dengan perempuan lain. Sepolos dan selugu apa pun perempuan seperti Ratri, tidak mungkin mudah melupakan.




Permintaan maaf suami juga tidak cukup. Beberapa pria biasanya memudahkan kelakuan buruknya terhadap istri dengan kata maaf. Wanita harus tegas sehingga kalau mengalami kasus seperti ini tidak cengeng, melainkan tatag. Dalam kaca mata psikologi, sesungguhnya perasaan tidak dapat disalahkan. Tidak ada yang salah dengan perasaan Ratri yang tak mudah menghilangkan kebencian terhadap suaminya.




Sangat manusiawi jika Ratri marah atau tidak sepakat, merasa tak nyaman, sakit hati, bahkan keberatan. Namun, wanita yang baik harus juga menjadi pemaaf, agar dapat melupakan masa kelam dan membangun dunia baru. Dari awal sampai akhir cerita, novel Ayah, Lelaki Itu Mengkhianatiku ini bisa dijadikan refl eksi rumah tangga sekaligus tamparan keras bagi suami dan istri.




Meskipun perempuan bisa saja tidak setia, tetapi fakta sosial kerap kali menempatkan laki-laki yang lebih sering tidak setia. Namun, di zaman sekarang banyak juga wanita yang berselingkuh, terutama di kota-kota besar. Jadi, dua-duanya berpotensi berselingkuh. Kini tinggal tanggung jawab moral masing-masing pribadi, tak lagi berdasarkan jenis kelamin. Pihak perempuan sering kali menjadi korban ulah suami yang mata keranjang. Namun, sebenarnya keputusan ada di pihak wanita, mengapa dia mau diajak berselingkuh.




Parahnya, demi alasan moral dan menjaga kehormatan keluarga, perempuan sering kali dipaksa diam. Lewat novel ini, suami dan istri diajak menyadari bahwa pernikahan harus dijaga setiap hari. Mereka berdua sudah berjanji sehidup semati sampai akhir zaman. Tak ada yang boleh memisahkan, kecuali kematian. Pernikahan tak sekadar menyatukan pria dan wanita, tapi lebih dari itu sebagai kesadaran saling mencintai. Cinta adalah penyerahan diri sepenuhnya kepada orang yang dicintai dan membiarkan orang yang dicintai bertumbuh.




Namun, orang sering salah mengerti bahwa ‘cinta’ adalah memiliki dan karena itu bukanlah ‘cinta’ melainkan sebuah belenggu. Pernikahan juga upaya membangun generasi mendatang yang lebih baik. Sebagai ikatan suci, suami dan istri terikat janji untuk mempertahankan biduk rumah tangga.




Banyak konfl ik rumah tangga yang salah satunya disebabkan oleh pengkhianatan salah satu pihak. Kisah dalam novel ini mengajarkan arti kesetiaan, pengorbanan, dan kesabaran dalam sebuah hubungan rumah tangga.







Diresensi Armawati,

alumna Universitas Tidar, Magelang.




Judul Buku : Ayah, Lelaki Itu Mengkhianatiku

Penulis : Dian Nafi

Penerbit : DIVA Press

Cetakan : I, Mei 2013

Tebal : 208 halaman

ISBN : 978-602-7933-92-7






sumber http://koran-jakarta.com/index.php/detail/view01/122066

0 komentar:

Posting Komentar