Tak Sekedar Novel

Judul : Ayah,Lelaki Itu Mengkhianatiku
Penulis : Dian Nafi
Tebal : 208 halaman 
Published : May 2013
Penerbit : Diva Press
ISBN : 139786027933927
Rate : 3/5

Sinopsis Buku :
Siapa yang bisa tenang dengan keadaan sepertiku? Susah payah merawat anak-anaknya, rumahnya, ayahnya, keluarga besarnya yang dari luar tampaknya terhormat tetapi sebenarnya kacau. Sedemikian besar pengorbananku, tapi inikah balasannya?
***
Ratri yang telah mengabdikan hidupnya untuk keluarga sang suami harus menerima kenyataan pahit ketika seorang wanita mengaku hamil karena telah berhubungan terlalu jauh dengan suaminya. Hancur hati Ratri mendengar itu. Segala pengorbanannya terasa sia-sia. 
Namun tak ada yang peduli pada luka yang tergores di hati Ratri. Keluarga besarnya seolah hanya peduli terhadap nama baiknya sebagai keluarga terhormat di masyarakat. 
Sebuah kisah yang mengajarkan arti kesetiaan, pengorbanan dan kesabaran dalam sebuah hubungan. Begitu menyentuh dan mengharukan.

Resensi Buku : 

Awalnya, pertama baca judulnya sudah tertebak apa yang bakal jadi inti masalah dalam novel ini. Ya, tentang perselingkuhan yang dilakukan oleh suami. Serupa artikel, novel dengan judul yang mudah memberikan clue masalah itu sebenarnya kurang saya sukai. Karena kerasa kurang greget aja pas bacanya. Tapi pendapat saya sedikit terpatahkan. Ada hal yang memang ingin disampaikan oleh penulisnya, tak sekadar sebuah novel yang membahas tema umum perselingkuhan, tapi lebih dari itu ada beberapa part yang saya suka.

Seperti ketika Maria diskusi dengan Ratri saat membahas tentang 5 fase dalam hubungan pernikahan. Apa saja fase-fase tersebut? Baca aja di buku ini. Ya, jika orang awam seperti saya, apalagi belum menikah, pembahasan diskusi antara Ratri dan Maria ini bisa memberi wacana apa yang sebenarnya terjadi dalam hubungan rumah tangga. Kok ya sampe bisa gitu seorang suami bisa menjauh dari istrinya hingga sampai lalai dan abai, membuat kemaksiatan seperti yang dilakukan oleh Mas Ir?.

One night stand bukan hal baru dalam masyarakat. Ya penulisnya memotret kisah ini berdasarkan sisi yang sering kita lihat dan dengar. Gonjang ganjing rumah tangga tak melulu karena sang istri kurang memberi perhatian. Bisa jadi karena memang sang lelaki begitu polos dan yah... atas dasar rasa kasihan pada gadis yang dia temui membuat ia melakukan kesalahan fatal dalam hidupnya, juga hidup keluarganya. Ada juga pembahasan tentang tanda-tanda penyakit kelamin yang dialami pelakunya. Ini memberi saya informasi tentang apa dampak yang timbul dari tindakan asusila itu.

Sosok Ratri yang saya lihat tak mampu membuat saya simpatik, mungkin buat saya karena merasa, harusnya sih perempuan lebih tegas. Atau mungkin karena Ratri hidup dalam keluarga jawa yang nrimoan, sehingga apapun prahara dalam rumah tangganya hanya perlu disikapi dengan sabar dan sabar.

Ir, sebagai tokoh antagonis membuat gambaran laki-laki di mata saya jadi bias. Ini beneran laki-laki yang katanya cinta istrinya? Atau memang cinta itu serupa cinta platonis, cinta fisik saja? Ir memang menikah dengan Ratri ketika gadis itu sudah berumur cukup untuk menikah. Menikahnya pun dengan sepupu. Serasa membaca kisah di zaman nenek kita dulu ya, yang dijodohkan nurut saja. Bisa jadi memang benar cinta itu belum sepenuhnya tumbuh. Nah itu yang seharusnya jadi PR bagi sang istri, meski dijodohkan seharusnya tetap menjaga dan menumbuhkan cinta itu.

Dari novel ini saya belajar banyak tentang pernikahan. Pernikahan memang bukan sebuah perjanjian dua orang saja, tapi melibatkan keluarga kedua pihak. Sebuah perjanjian pernikahan yang goyah akan tetap terpaksa diperjuangkan untuk tetap seperti semula karena itu yang dibutuhkan kedua keluarga, meski harus mengorbankan rasa. Ya, 3 bintang dari saya untuk novel domestic drama ini. ;)

peresensi : Ila Rizki


0 komentar:

Posting Komentar