Bertemu Para Guru [bagian 1]


2012. Pagi. Desember tepat satu hari sebelum tengahnya.
What do you smell in the rail station in the morning? Workers. What do you smell when you smell workers? Oh, Makkah and Madinah. At their terrace in the subuh, they’re sweeping the floor, cleaning the roads.
**
Persis setelah subuh aku sudah siap di teras rumah. Ibu barusan pulang dari jamaah sholat subuh di masjid Agung Demak. Siap melepaskan kepergianku ke Jakarta hari ini. Tetapi sepupuku yang berjanji mengantarku ke stasiun malah belum juga tampak sosoknya. Berkali – kali aku dan ibu mengawasi trotoar yang terbentang panjang dari depan rumah kami menuju pelataran masjid.
“Jam berapa keretamu?” 
“Lima tiga puluh, bu” 
Ibu mulai resah. Sama resahnya denganku. Kalau sampai aku datang terlambat ke stasiun, berarti tiket senilai tiga ratus ribu melayang dan tentu saja perjalananku ke Jakarta terancam batal. Untung ibu langsung punya inisiatif untuk memanggil tukang ojek yang subuh itu sudah standbye di depan taman parkir masjid Agung, sebelah rumah.
Segera aku mencium punggung ibu dan naik ke boncengan ojek. Kami melaju menembus udara subuh yang dingin namun menyegarkan. Dengan uang tiga puluh ribu, akhirnya aku sampai ke stasiun.
Dengan langkah tergesa aku berjalan melalui meja pemeriksaan tiket. Lalu melewati para pekerja kereta yang mengingatkan aku akan para pekerja di masjidil haram Mekkah dan masjid Nabawi Madinah. Visualku terus mencari gerbong kelima, setelah naik kereta bertajuk Argo Sindoro, mataku kembali menjelajah mencari tempat duduk nomer 11 A. Wah, senang sekali ketika aku mendapatkan posisi di sebelah jendela.
Baru beberapa menit aku menduduki kursi setelah merapikan bawaanku dengan menaruh ransel di bagasi yang terdapat dekat langit – langit kereta, peluit berbunyi. Keretapun bergerak perlahan sebelum kemudian berlari meninggalkan stasiun Tawang.
Enam jam perjalanan ini kumanfaatkan untuk membaca buku Perempuan Di Titik Nol-nya Nawal, menonton film “17 Again” yang diputar di kereta, tidur juga menikmati indah pemandangan. Yang paling menarik adalah pemandangan pantai yang terasa begitu dekat dengan rel yang kami lalui. Hati serasa ikut bergelombang saat menyaksikan ombak yang bergulung – gulung menghempas bebatuan dan pasir di tepi laut.
Fantastis. Sungguh menakjubkan dari tempat duduk di dalam kereta, kita bisa menikmati indahnya hamparan langit biru  yang luas bertemu di cakrawala dengan luasnya bentang laut. Perahu dan cadik – cadik yang berjajar di sepanjang tepi sungai yang menuju lautan juga pemandangan yang tak bisa kuabaikan, dia bicara tentang banyak hal.
Di stasiun Cirebon, serombongan perempuan memasuki gerbongku. Sepertinya hendak menghabiskan liburan bersama keluarga besar di Jakarta. Nenek mereka duduk di sebelahku, bangku 11B.  Di seberangnya, duduk sang ibu dan salah seorang anak perempuannya, kurasa. Dua anak perempuan lainnya dan seorang tantenya duduk di bangku depannya.  Aku tersenyum – senyum melihat kebersamaan dan obrolan seru mereka.
Jam setengah dua belas sebagaimana jadual yang direncanakan, kereta sampai di stasiun Gambir. Bersama rombongan perempuan itu dan juga para penumpang lain, aku turun dari kereta. Menuruni eskalator, menuju pintu  keluar stasiun dan mencium bau Jakarta yang baru akhir Juni 2012 ini kukunjungi. Waktu itu aku datang karena mendapat undangan dari Kompas sebagai salah satu penulis cerpen terpilih untuk workshop dan diskusi penulis sebagai rangkaian acara ulang tahun Kompas.
Dengan memanggul tas punggung dan menenteng tas laptop, aku berjalan kaki menuju masjid Istiqlal yang kubahnya sudah tampak dari stasiun Gambir. Kebetulan ini hari Jumat, jadi aku turut sholat berjamaah bersama para muslimah di lantai atas. Dari sini pemandangan interior atau ruang dalam masjid tampak jelas. Menakjubkan ya masjid terbesar di Asia Tenggara karya arsitek Frederich Silaban ini. Agung, menyejukkan.
Usai sholat Jumat, aku menyempatkan diri mengambil beberapa foto dari beberapa sudut masjid. Sejuknya siang itu membawa langkahku ringan keluar masjid. Menyusuri pelatarannya, menikmati pemandangan pasar tiban yang memanfaatkan trotoar dengan gelaran lesehan. Para penjual kopyah, tasbih, mushaf dan barang sejenis yang asyik tawar menawar dengan para pembeli. Seperti yang juga kita saksikan di pelataran masjid Nabawi ataupun masjidil haram seusai sholat jamaah. Dari sini, tugu Monas juga tampak jelas sekali. Menjulang indah, menjadi satu kesatuan landmark dengan  masjid Istiqlal.
Aku membeli sebungkus rujak buah untuk makan siangku kali ini, hanya lima ribu rupiah. Kubawa masuk ke dalam sebuah taksi yang kebetulan melintas dan berhenti untuk menaikkanku. Kunikmati makan siang sekaligus pelepas dahagaku di dalamnya. Taksi membawaku dari depan Baiturrahman ke jalan Cikini Raya nomer 73. Di sinilah lokasi Pusat Kesenian Jakarta, Taman Ismail Marzuki. Cukup sebelas ribu rupiah untuk tarif argonya, murah kan.
Ternyata Taman Ismail Marzuki atau yang dikenal sebagai TIM ini luas sekali. Ada beberapa gedung di sana. Planetarium di bagian depan sebelah kanan atau tenggara. Berhubungan langsung dengan Plaza TIM yang malam nanti jadi tempat  penyelenggaraan acara Kenduri Cinta.
Aku menikmati wangi sedap makanan yang terbaui dari arah sisi kiri kawasan TIM, di mana kafe – kafe dan tempat makan berjajar. Sembari menjepret ke sana kemari, aku terus melangkah ke dalam kawasan lebih jauh lagi. Melalui area terbuka di tengah kawasan yang diperuntukkan bagi parkir kendaraan dan taman – taman. Visualku menangkap sebuah plang yang sudah sering kulihat di layar fesbuk teman – teman penulis lain, Pusat Dokumentasi Sastra HB. Jassin. Rupanya di sinilah tempatnya para sastrawan, penulis, pemain teater dan seniman lainnya kerap mengadakan acara – acara pementasan. Yang liputannya seringkali menghiasi layar time line facebook ataupun twitter-ku.
Di belakang bangunan HB Jassin itu kulihat sebuah bangunan arsitektural yang sangat keren. Seperti perpaduan antara gaya Sidney Opera House dan rumah adat toraja. Warnanya yang hijau itu mungkin menyebabkan bangunan ini juga dikenal sebagai Green Theater. Namun yang sebenarnya kalau membaca undangan dari DKH yang dikirim ke alamatku di Demak beberapa waktu lalu, gedung ini terdiri atas beberapa bagian. Bagian sayapnya disebut sebagai Taman Teater Kecil.
Sedangkan bagian utamanya yang justru arah hadapnya ke bagian belakang kawasan disebut sebagai Taman Teater Besar atau Grand Theater. Aku bisa menyaksikan dengan penuh keindahannya saat aku kembali dari sholat Ashar di musholla yang terletak di pojok barat daya kawasan TIM.
Dengan adanya plaza terbuka plaza di depan Grand Theatre, aku jadi memiliki ruang yang cukup untuk  bisa menikmati keindahan bangunan yang tinggi ini. Senja yang indah dan mulai gerimis itu membuat fasade bangunan ini tampak semakin anggun, melenakan. Ketika kembali menikmatinya dari kejauhan saat pulang sholat maghrib, perpaduan antara gelap dan lampu – lampunya membuat bangunan tersebut semakin tampak menakjubkan. Ini baru namanya seni !

Sarang para seniman dan sastrawan ini semakin ramai dipenuhi pengunjung ketika senja turun. Padahal langit mulai menumpahkan tangisnya, dari semula gerimis sampai akhirnya menderas. Ada sekumpulan anak – anak usia sekolah dasar yang belajar menari di selasar depan Graha Bhakti Budaya. Berseragam kaos biru lengan pendek, bergerak rancak  mengikuti alunan musik dan gerakan sang guru yang berada di tengah lingkaran mereka.
Di bangunan paling pojok pada deretan setelah Graha Bhakti Budaya adalah XXI, tempat nonton film yang ternyata cukup digandrungi. Buktinya banyak sekali pengunjung yang mengantri hendak nonton film Habibi dan Ainun, Hobbit dan 5cm yang poster dan bannernya dipasang besar – besar di depan bangunan tersebut.
Aku menghabiskan Jumatku ini mengikuti diskusi para penulis di gedung Taman Teater Kecil dengan para nara sumber mas AS Laksana, mas Anton Kurnia dan mbak Abidah El Khaliqy. Di lobby bangunan dipajang pameran yang bercerita tentang penyelenggaraan sayembara novel DKJ dari tahun 1974 hingga 2010 lalu. Hmm.. tebak di mana aku berfoto? Hehe, di depan papan pameran yang bertuliskan 1976, sesuai tahun kelahiranku. Aduh,  ternyata aku sudah tua sekali ya. Tapi aku bersyukur karena meski terlambat, aku akhirnya bisa mengikuti passion atau panggilan jiwaku untuk menulis dan jalan – jalan. Di TIM ini pula aku akhirnya bertemu mbak Helvy Tiana Rosa, mas AS Laksana dan para pemenang sayembara novel DKJ, mas Chairil Gibran, mas Ahmadun, pak Manneke Budiman dan masih banyak lagi penulis senior lainnya. Sekarang – sekarang ini saja aku sudah mulai terbiasa bertemu para selebritas sastra ini. Dulu – dulu pas awal terjun ke dunia kepenulisan, rasanya girang sekali jika bertemu mereka ini, ada mas Yanusa Nugraha, Bli Putu Fajar Arcana,  mas Gol A Gong, kang Abiek dan lain – lainnya.
Bersama para penulis lainnya, aku menikmati hidangan yang disediakan oleh panitia. Meskipun aku tidak makan banyak karena sedang berdiet. Bersamaku duduk di meja bundar di sayap kiri adalah penulis yang juga pernah bertemu aku saat di Kompas Juni lalu dan tiga orang pemain teater yang antusias sekali bertanya – tanya tentang proses kreatif penulisan novel kami.

Dan yang paling seru adalah aku sekamar dengan mbak Abidah El Khaliqi, penulis Perempuan Berkalung Sorban di Hotel Gren Aulia. Letaknya di seberang jalan dari arah TIM, selisih dua bangunan ke arah timur. Seru sekali mengobrol dengan Mbak Abidah . Kami bahkan terus berbincang sampai dinihari, jam satu malam. Dengan posisi kami  berbaring di bed masing – masing, sampai mata terasa berat dan akhirnya bibir berhenti berkicau ketika mata akhirnya menutup, tertidur dibuai kelelahan.


0 komentar:

Posting Komentar