#ngemilbaca Fleur



Judul      : Fleur
Penulis   : Fenny Wong
Genre    :  Fantasy Romance
Penerbit : Diva Press
Hlm       : 322
Cetakan : II Agustus 2012
Peresensi : Dian Nafi
Dimuat di Tribun Jogja

Judul Fluer sangat menarik bukan. Semua orang pasti menengok dan bertanya – tanya apa arti kata ini. Dan selanjutnya membangkitkan rasa ingin tahunya, bercerita tentang apakah buku ini. Judul Fleur sendiri ternyata tidak sekali ini digunakan. Ada novel dengan judul yang sama, milik Rana Wijaya Soemadi, yang tentu saja ceritanya sangat lain dengan Fleur yang ini.
Penulis melukiskan setting – setting novel ini dengan hidup, baik dalam versi dongeng maupun kehidupan nyata berlatar Eropa. Cara Fenny Wong menggambarkan dengan detail bukit berbunga tempat tinggal Fermio dan Belidis sangat indah. Demikian juga setting Victoria-nya terasa hidup.
Nama karakter – karakternya juga khas. Kisah cinta Belidis dan Fermio di masa lalu seakan terlahir kembali ke dunia dengan pemeran baru bernama Florence dan George, yang tidak lain adalah adik-kakak. Sosok Helras – putra dewa matahari, terkuat dari yang terkuat - yang kejam juga terlahir kembali dalam sosok Alford Cormwell. Untaian takdir kehidupan Florence Ackerley, George (kakak angkatnya) dan Alford (tunangannya) ternyata   ditentukan kehidupannya di masa lalu. Keegoisan, cemburu, cinta terlarang dan saling silang kepentingan membuat kutukan saling berbenturan. Hingga tetap sama sampai kehidupan yang keberapapun. Alur yang berselang seling antara cerita dongeng dan kehidupan nyata-nya membuat novel ini berirama dan membuai pembacanya hingga halaman terakhir. 
Membincang novel ini, maka perlu disebut juga penerbitnya yaitu Diva Press. Salut kepada penerbit yang menerbitkan banyak sekali novel setiap bulannya. Dan rajin mengadakan pameran di mana – mana. Sehingga harga novel – novelnya menjadi sangat terjangkau. Contohnya novel Fleur setebal 322 halaman ini saya dapatkan dengan harga hanya dua puluh lima ribu rupiah. Worth it, kan?
Benar seperti yang penerbit DivaPress bilang dalam propagandanya mengenai novel ini. Fleur  memadukan latar Victorian dengan bumbu dongeng ala peri, menawarkan kecapan fantasi yang segar pada romansa penuh lika-liku.

Walau hingga kehidupan yang keberapapun kalian saling mencintai, hingga kehidupan yang keberapapun juga aku akan mengalahkanmu, merebutnya darimu! Hingga kehidupan yang keberapapun, kenyataan akan tetap sama, kau takkan pernah bisa bersatu dengan Belidis. Akulah yang akan berakhir mendapatkan dirinya.
Demikian  petikan novel yang ditulis di cover depannya yang manis. Bernuansa coklat tanah dengan gambar ranting kering di sudut atas kanannya (mengingatkanku akan angle favorit yang dosen tekpres-ku dulu ajarkan saat – saat kami hunting foto-foto) Dan sebuah buku kuno di tengah cover di bawah judul Fleur dengan tipografi yang pas banget kurasa. Buku inilah kunci novel ini, di mana tale (dongeng) dan life (cerita kehidupan) itu saling terkait, sebangun.

0 komentar:

Posting Komentar