#ngemilbaca Pengakuan Eks Parasit Lajang

Kalau saja kemarin petugas Gramedia tidak kelimpungan mencari buku Mesir Suatu Waktu yang entah ke mana nylempitnya (karena tertulis di katalog komputer masih ada 5eks, tapi fisiknya dicari nggak ketemu), tentu saya tak sempat membaca pengakuan eks parasit lajang ini. Haha...sembari nunggu mereka kelimpungan, saya santai duduk membaca. (Soalnya sebelumnya saya sudah ikutan mencari, tapi gak dapat juga)

saya punya koleksi lengkap tulisan Ayu Utami yang seri bilangan Fu. Dia salah satu penulis favorit saya, di samping Ahmad Tohari, Dewi Lestari, Pramoedya Ananta Tour, Laksmi Pamuntjak, Leila Chudori, Linda Christanty dll.
Tapi sudah cukup lama jarak saya membaca tulisan-tulisannya dengan hari ini. Jadi ketika saya membaca pengakuan ini saya tetiba sadar bahwa Ayu Utami ini memang istimewa. Tak heran dia jadi begitu spesial. Meski menjadi kontroversial karena kejujuran dan keberaniannya mengungkapkan itu berkaitan dengan seksualitas yang dianggap tabu dibicarakan di permukaan.

Yang sebenarnya memang buku-buku Ayu Utami itu berpotensi menyesatkan dan menggelincirkan, apabila dibaca tidak dengan pikiran bening dan pondasi iman yang kuat. Ayu seperti memberi dalih pembenaran atas tindakantindakan tidak benar yang diatas namakan kritisi dan pemberontakan atas patriarki dan lain-lainnya.

Berbeda dengan mbak Dewi Lestari yang samasama kritis dan tulisan tulisannya berbau pencarian dan spiritualitas, mbak Dee lebih jernih, lebih jujur, dalam arti saat mencari itu dia mengosongkan atau menge-nol-kan diri untuk diisi (kebenaran). Kalau Ayu Utami lebih seperti mencari pembenaran.

However, tulisan-tulisannya itu justru menyadarkan kita akan pentingnya pondasi yang kuat untuk anak-anak kita. Ya iman, ilmu, amal yang ikhlas, diri yang mukhlis, yang murni, asli, bukan topeng, bukan pencitraan, sehingga satu kata satu pikiran satu perbuatan.

Udah. gitu aja :D

0 komentar:

Posting Komentar