[review] My Name Is Red by Orhan Pamuk

[review] My Name Is Red by Orhan Pamuk

Alhamdulillah, akhirnya saya khatam baca 800-an halaman novel My Name IS Red. 
Ditulis oleh Orhan Pamuk, arsitek berkebangsaan Turki ini metaih Nobel Sastra Tahun 2006. 


Wow banget deh. Idenya, temanya, teknik dan cara berceritanya, penokohannya, settingnya, plotnya...semuanyaaaa...jempol banget :))

Kisah dimulai saat Hitam Effendi  kembali ke kampung halamannya setelah dua belas tahun  pergi. Karena terusir dari rumah pamannya, Enishte, karena menyampaikan cintanya pada sepupunya sendiri, Sekhure. 
Sekhure sendiri sudah pernah menikah dan punya dua anak laki-laki, Shevket dan Orhan. (see? Anak ini membuat novel biografi ibunya :D)

Hitam mendapat tugas dari enishte-nya untuk menulis cerita buat proyek buku enishte-nya bersama Sultan jaman dinasti Utsmaniyyah waktu itu. Sebuah proyek rahasia, karena menggunakan ilustrasi-ilustrasi yang dibuat miniaturist senior pilihan Enishte-nya. Mereka dijuluki Kupu-kupu, Bangau, Zaitun dan Elok.
Tapi Elok ini dibunuh oleh rekannya sendiri.
Dari sinilah ketegangan dimulai. Apalagi kemudian pembunuh itu juga membunuh Enishte-nya, di malam ketika Hitam ketemuan lagi dengan Shekure dengan sembunyi-sembunyi.
Aduuh…nangis batin pas Shekure dalam keadaan berduka karena pembunuhan ayahnya tapi harus tetap membuat situasi sedemikian biasa dan tidak terjadi apa-apa. Agar dia yang janda dan diincar adik iparnya ini bisa dapat menikah dengan Hitam. Sehingga Hitam bisa meneruskan pembuatan buku itu dan juga menemukan pembunuh Elok dan Enishte.

Woah.. cara bercerita Orhan dengan menggunakan POV untuk masing-masing karakter sungguh mengesankan. Jadi kita tahu pedalaman/nurani masing-masing tokoh itu.
Bahkan pembunuhnya juga bicara juga lho sebagai aku. Tapi tentu saja tanpa nama. Dan kita terus menerus diajak menduga-duga siapakah si aku pembunuh ini.

Membaca novel ini seperti kita melihat sebuah film. Dan yang membuatnya istimewa membaca MNIR berarti membukakan wawasan kita tentang sejarah Turki pada masa itu, pertentangan budayanya dengan Barat. Kemudian dunia melukis dan ilustrasi berikut filosofi-filosofi di dalamnya juga filosofi-filosofi kehidupan, menjadikan novel ini kaya.
Adegan satir dan tragisnya lagi-lagi muncul saat Hitam yang berada di ambang kematian dan kehidupan karena ditebas bahunya oleh sang pembunuh, akhirnya mendapatkan apa yang ditunggunya selama ini. Percintaan dengan Sekhure. Kalian harus baca sendiri novelnya :D

Duh, kapan ya bisa membuat novel seindah, setragis dan sefilosofis ini :D



0 komentar:

Posting Komentar