Tips Menulis Fiksi dari Adhitya Mulya



Buat yang kepengin jadi penulis, ini ada tips-tips menulis dari Mas Adhit. Silakan disimak, dan dipraktekkan. ^^



Ketika gue diminta untuk memberikan tips menulis, gue mikir, mungkin sebenarnya butuh seminar 4 hari. Karena memang proses menulis itu tidak semudah yang dibayangkan. Gue sudah 10 tahun menulis. Dalam perjalanannya gue sudah mengalami cukup banyak hal.

Menulis fiksi yang kemudian jadi best seller? Sudah.

Draft fiksi gue ditolak penerbit? Checked.

Menulis fiski sampai 200 halaman dan mandeg? Double checked.

Menulis fiksi yang kemudian tidak laku? Been there, done that.

Menulis fiksi dan kemudian difilmkan? Yep.

Mencoba bercerita sesuatu yang baru dan sukses? Done.

Mencoba bercerita sesuatu yang baru dan tidak diterima pembaca? Done.

Menulis untuk cerpen? Done

Menulis fiksi untuk format film? 2 kali

So you see, it’s not all glamoour and success, dan semua naik dan turun dalam proses menulis sebuah fiksi, sudah lumayan banyak gua alami. Jadi izinkan gue untuk berbagi beberapa tips penting dalam menulis fiksi ya.

Tips menulis fiksi umum:
Punya cerita

Gue menemukan bahwa gue pribadi dapat menulis hanya jika gue memiliki sesuatu yang ingin gue ceritakan. Jika gue tidak punya cerita, gue tidak dapat menulis. Ini artinya gue tidak dapat bercerita hanya demi bercerita. Jika dipaksakan, yang terjadi adalah gue hanya terdiam nganga depan laptop berjam-jam. Ini adalah approach yang beda dengan penulis non fiksi. Untuk penulisan non fiksi kita sebaiknya rajin mencicil 1 halaman 1 hari.


Memilih cerita

Ada banyak ukuran kesuksesan dalam bercerita fiksi. Gue bisa objektif di sini karena ada novel gue yang laris dan ada yang tidak. Ukuran paling mudah adalah, buku kita laris. Tapi kemudian coba gue tanya. Kalian ingat tidak, siapa penulis buku yang berhasil menjual buku paling banyak, 20 tahun yang lalu?

Nggak kan? Gue menemukan bahwa yang pembaca ingat bukanlah penulis mana yang bukunya menjadi best seller. Tapi penulis mana yang ceritanya melekat dan beresonansi dengan kita. Dan itulah kuncinya. Bahwa apa yang kita ceritakan, banyak orang bisa relate. Nah bagaimana caranya mencari cerita yang orang banyak dapat relate?

Gampang aja. Cerita yang banyak orang dapat relate adalah cerita yang berfokus pada fase yang pasti dijalani setiap orang. Contoh:

Jomblo. Semua orang pasti pernah jomblo. Ya kan? Sebelum kalian punya pacar, kalian pasti single dulu kan? Itu sebabnya novel jomblo laku.

Kesuburan. Semua pasangan yang menikah, di satu titik saat mereka belum hamil, pasti pernah gundah di dalam hati, apakah mereka mampu memiliki anak? Baik mereka yang kosong 3 tahun, atau pun 3 bulan. Semua pasangan pasti pernah merasa down ketika menemukan bahwa sang istri kembali datang bulan.

Mencari cinta. Setiap orang pasti mencari cinta.

Membina cinta. Setiap orang pasti membina cinta.

Lulus SD/SMP/SMA/Kuliah. Setiap orang pasti pernah mengalami fase ini.

Hubungan orang tua – anak. Setiap orang mungkin belum tentu menjadi orang tua, tapi setiap orang pasti pernah jadi anak. Ya kan? Well kecuali kalo yang baca posting ini, anak jin ya.

Putus cinta. Faktanya adalah, kemungkinan besar memiliki lebih banyak kisah kandas asmara ketimbang kisah asmara yang sukses. Si X pacaran 2 dengan A, kemudian B. Menikah dengan C. Di jalan hidup si X, dia telah mengalami 2 kisah tragis (dengan A dan B) dan hanya 1 kisah manis, dengan si C.

Dan masih banyak lagi. Intinya: carilah topik cerita yang semua orang pasti lalui.


Pastikan endingnya (atau setidaknya 70%) sebelum mulai menulis.

Ini penting untuk 2 hal. Pertama, memastikan kita tidak menulis terlalu divergen. Tapi konvergen. Kita menulisnya satu arah, yaitu arah ending tadi. Kedua, memastikan agar kita tidak stuck di tengah jalan. Jika kita tidak tahu endingnya, ketika kita stuck di tengah jalan, kita akan bingung mau nyambung ke mana karena ya, apa yang mau disambungin jika endingnya sendiri kita tidak tahu?


Judul, Premis dan Sinopsis

Pada saat ini, kita sudah punya ceritanya. Kita sudah pastikan endingnya juga. Langkah berikutnya adalah judul, premis dan sinopsis. Mungkin gue terdengar seperti guru bahasa Indonesia yang gak tau apa-apa tentang menulis. Tapi ini benar adanya. Judul adalah cerita kita dalam 1-2 kata. Premis adalah cerita kita dalam 1-2 kalimat. Sinopsis adalah cerita kita dalam 1-2 halaman A4. Memiliki ketiga hal ini akan membantu kita menulistanpa harus menulis ulang nantinya.


Karakter yang konsisten

Langkah berikutnya adalah membuat sebuah tabel sederhana akan bagaimana penampilan dan karakter dari tokoh-tokoh dalam novel kita. Tabel ini akan membantu kita mendeskripsikan tokoh yang konsisten. Jika tidak, yang terjadi adalah, kita gambarakan si A berambut cepak di bab 1 dann kita gambarkan dia berambut panjang di bab 11. Untuk tokoh pembantu, kita dapat membuat tabel ini sebagai tabel tumbuh karena siapa tahu cerita berkembang dan kita harus menambah tokoh. Tapi tokoh utama sebaiknya selalu sama.


Tokoh yang manusiawi

Penulis sering lupa bahwa pembaca adalah manusia. Dan yang namanya manusia, kita memiliki banyak kekurangan. Itu sebabnya, ppembaca akan merasa dekat dengan tokoh kita, jika tokoh tersebut juga memiliki kekurangan. Coba hindari membangun sebuah tokoh yang cakep, pintar, kaya, baik dan soleh. Kalo seseorang udah seperti ini, hidupnya jadi seperti tanpa konflik. Pembaca pun sulit untuk bilang “Gue banget.” Minimal harus ada 1 kekurangan yang tokoh kita miliki. Itu akan menjaga dia tetap membumi. Keempat karakter dalam novel Jomblo, semua memiliki kekurangan. Dan kekurangan-kekurangan mereka yang saya eksploitasi agar plot dalam novel ini bergulir. Kedua karakter dalam novel saya yang terbaru (rilis FEB 2014) adalah seperti ini:

Sang kakak: pintar, ganteng, badannya sebenarnya bagus tapi agak buncit. Well, dia suka membentak ketiga anaknya sampai mereka takut pada dia.

Sang adik: pintar, petinggi di sebuah bank. Terdengar sempurna? Well, dia tidak ganteng, dan tidak percaya diri jika berbicara pada wanita.

Kelemahan mereka membuat mereka menjadi manusia.


Dokumentasikan Anekdot

Ini khusus untuk penulisan fiksi komedi. Setiap kita menemukan kejadian yang lucu, coba langsung ditulis. Hari gini kan bisa pake notes di HP. Coba dokumentasikan dengan rajin karena akan berguna bagi kita sebagai stok anekdot pada saatnya kita menulis novel nanti. Jika kebetulan anekdotnya cocok dengan jalan cerita, kan lumayan menghemat waktu dan tenaga.





Segitu dulu aja dari saya. Ketujuh tips ini lumayan banyak dan lumayan konstruktif untuk membuat seseorang mampu bercerita fiksi dengan medium novel. Selamat mencoba!

0 komentar:

Posting Komentar