Ulasan Novel: “The Hobbit” Karya J.R.R. Tolkien

saya menambah lagi perbendaharaan novel untuk perpustakaan kecil saya di kos. Tidak tanggung-tanggung kali ini saya membeli satu set novel tetralogi karya J.R.R. Tolkien yaitu The HobbitThe Lord of the Rings 1, 2, dan 3. Novel ini bisa di dapat di toko buku Gramedia dengan harga Rp. 185.000,-/set. Bungkusnya dikemas ekslusif dengan cover baru yang lebih menarik dari cetakan sebelumnya.
Jujur latar belakang saya membeli novel tetralogi Tolkien ini awalnya untuk mengetahui seberapa hebatkah tulisan Tolkien sehingga mampu menyihir sang sutradara ternama, Peter Jackson, untuk menvisualisasikannya ke dalam bentuk film. Sebagaimana yang kita ketahui, film trilogi The Lord of the Rings telah menjadi karya fenomenal di abad ke-21. Lebih dari 270 penghargaan didapat yang tujuh belas di antaranya berasal dari ajang penghargaan film bergengsi dunia, Academy Award. Dan di akhir 2012 ini, The Hobbit─disutradarai orang sama, Peter Jackson─kembali mendapat pujian serupa, paling tidak, untuk sementara waktu bisa dilihat dari animo masyarakat yang menonton. Bayangkan baru dua pekan pemutarannya di berbagai bioskop Amerika sudah meraup keuntungan 179 juta USD. Suatu pencapaian fantastis untuk sebuah film fantasi.
Karena sampai hari ini, Jumat 28 Desember 2012, saya baru menyelesaikan satu buah novel pertamanya berjudul The Hobbit, otomatis ulasan kali ini hanya The Hobbitsaja. Trilogi The Lord of the Rings saya janjikan untuk mengulasnya tahun depan.
Baik, untuk mengulas The Hobbit, saya akan membaginya ke dalam dua bagian. Pertama, memahami struktur kebahasaan yang dipakai dalam penulisan novel. Kedua, ide cerita. Untuk bagian pertama, saya akui Tokien sangat pandai menggunakan bahasa syair pada novelnya. Ini terlihat dari cara penuturan yang mirip dengan kisah dongeng. Mungkin karena background Tolkien yang seorang sastrawan─juga professor dalam bahasa Inggris (Anglo-Saxon) di Universitas Oxford─membuat dia begitu menguasai syair-syair lama. Sebagaimana yang saya lihat dari biografi singkatnya, Tolkien menggemari literatur Anglo-Saxon, mitologi Jermanik, Nors (cerita rakyat Finlandia), Alkitab, dan mitologi Yunani. Dia sering mengutip sumber-sumber tersebut untuk dituangkan ke dalam cerita-ceritanya. Paling kental adalah sumber yang berisi mengenai myth (mitologi), sebagaimana tergambar dalam The Hobbit, terdapat karakter seperti Smaug (naga), peri, kurcaci, serta mahkluk mengerikan lainnya (Troll, Warg, dan Goblin). Satu hal yang membuat saya kagum, struktur bahasa Tolkien adalah struktur bahasa yang bisa dicerna anak-anak. Dia banyak menggunakan unsur SPOK dalam tulisannya─kebanyakan novel lain tidak─sehingga sedikit saja kalimat yang bersifat deskriptif, kita langsung bisa berfantasi dengan muda pada suatu tempat yang ia maksudkan. Saya pikir novel The Hobbit menjadi konsumsi anak-anak. Walaupun tidak dipungkiri, merupakan suplemen buat orang dewasa. Selain itu, jangan heran, pada novel The Hobbit akan banyak dijumpai fabel, watak manusia diperankan oleh sejumlah binatang. Mereka “dihidupkan” dan diberi ruang oleh Tolkien untuk berbicara, walau menggunakan bahasanya sendiri.
Dari sisi ide cerita, novel The Hobbit sungguh luar biasa, alurnya mengalir walau sesekali suka flashback ke masa lalu. Tapi keseluruhan mendapat dua acungan jempol. Tiap bab punya kekuatan cerita tersendiri. Sekali lagi bila Anda ingin mencari arti persahabatan dan petualangan yang sesungguhnya, novel ini patut dijadikan rujukan.
Kisah ini barawal dari Mr. Bilbo Baggins─seorang hobbit yang jarang berpergian, suka kenyamanan, berlama-lama di liangnya yang hangat dan penuh makanan bernama Bag-End─tiba-tiba dikunjungi oleh seorang penyihir tua Gandalf. Sang penyihir memang punya tempat tersendiri bagi keluarga Took, buyut hobbit yang terkemuka. Atas nama kedekatan tersebutlah Gandalf menawarkan (dengan sedikit memaksa) kepada Bilbo Baggins untuk ikut berpetualang mencari harta karun tiada tara jumlahnya di Gunung Sunyi, tempat naga raksasa Smaug bertahta. Tawaran gila ini awalnya ditolak Bilbo mentah-mentah, karena dia tahu, orang sepertinya tidak memiliki kemampuan apa-apa untuk menembus rute ke Gunung Sunyi yang terkenal mematikan. Tidak ada orang yang kembali dengan selamat setelah melalui rute itu. Tapi lama-kelamaan tawaran itu akhirnya diterima juga oleh Bilbo setelah berhasil diyakinkan 13 kurcaci yang sebenarnya ide ke Gunung Sunyi berasal dari mereka. Dan dimulailah petualangan yang sangat mengerikan itu. Berbagai makhluk mereka jumpai selama perjalanan mulai dari Troll, Goblin, Gollum, Warg, Rajawali, Beorn, sampai Peri dengan cerita yang selalu sambung-menyambung.
Bagi Anda yang pernah menonton film trilogi The Lord of the Rings, dalam novel ini akan dijelaskan bagaimana awal mula Bilbo Baggins menemukan cincin sakti yang sebelumnya selama 500 tahun dipegang oleh Gollum. Ternyata oh ternyata, Bilbo menemukannya tanpa disengaja alias secara kebetulan. Kekuatan sakti dari cincin itu pun diketahuinya juga secara kebetulan. Melalui cincin inilah kekuatan cerita dari novelThe Hobbit menjadi terus berlanjut sampai akhir babak.
Tapi Anda perlu tahu juga, bahwa novel The Hobbit adalah novel pertama yang dibuat Tolkien sebelum dilanjutkan pada trilogi The Lord of the Rings (berdasarkan wikipedia, The Hobbit dibuat tahun 1937 dan trilogi The Lord of the Rings dibuat tahun 1954-1955). Jadi seharusnya yang difilmkan terlebih dahulu adalah The Hobbit bukan trilogi The Lord of the Rings. Tapi Entahlah, mungkin Peter Jackson saat itu melihat bahwa dalam novel The Hobbit tidak ada kisah percintaan untuk membubuhi filmnya, sehingga dia memutuskan untuk memfilmkan terlebih dahulu trilogi The Lord of the Rings.
Akhirnya, satu kesimpulan buat novel The Hobbit, “Perjalanan jauh adalah salah satu mimpi terbesar manusia. Melepaskan diri dari kenyamanan hidup, menjelajahi dunia yang belum terpetakan, tanpa tujuan pasti dan jaminan kembali dengan selamat. Hal inilah yang mengundang mereka─Bilbo, Gandalf, dan 13 Kurcaci─untuk bertemu Smaug, naga raksasa penghuni Gunung Sunyi.
Salam hangat untuk pecinta novel J.R.R. Tolkien.

by Roby Anugerah
sumber : kompasiana

0 komentar:

Posting Komentar