Di balik penulisan novel Sarvatraesa

Saya kira saya hampir mati ketika dalam proses menuliskan novel ini. Gara-garanya saya mendapat pressure yang membuat kepala saya pening, hati deg-deg pyur. Dan....saya rasa saat itu saya sedang over dosis kopi. Dus, lengkap. Perpaduannya, dikejar deadline, dapat tekanan macam-macam dan kebanyakan kopi, membuat saya mengalami pening luar biasa. Kepala atau dunia di depan mata saya berasa berputar-putar tidak keruan. Saya sampai tersungkur menahan kesakitan yang luar biasa.

Saya sempat bertekad tidak akan melanjutkan novel ini. Sementara ibu saya yang ketakutan melihat saya yang sakitnya seperti ini, belum pernah terjadi sebelumnya, terus menyemangati saya. Katanya saya masih harus hidup demi anak-anak saya. Saat itu tak ada apapun  yang bisa terlintas dalam kepala saya, ya karena saya sedang dilanda pusing berputar-putar itu. Orang-orang menamakannya  vertigo.
(Setelah sehat kemudian saya baru tahu bahwa pusing saya itu tanda-tanda penyakit jantung ringan. Oh! Untung saja saya saat itu saya tidak tahu. Karena tentu akan beda kecemasan yang ditimbulkan. Mungkin akan lebih cemas dan memperparah sakitnya?)

Sepanjang saya sakit itu, dari habis maghrib sampai tiga hari berturut-turut, saya cuma bisa istighfar. Ya Allah panjangkan umur saya ya Allah. Lindungi saya ya Allah. Hawane koyok orang disantet gitu lhoh. Hii ngeri tho?

Alhamdulillah saya kemudian diberiNya kesehatan. dan setelah memulihkan diri beberapa hari, saya  melanjutkan menulis novel Sarvatraesa ini. Kemudian disetor ke penerbit sehingga kemudian sekarang hadir di toko-toko buku di Indonesia.

Selamat membaca ya. Ditunggu kritik saran dan komentarnya.
Oh ya, btw novel ini merupakan series dari novel debut saya, Mayasmara.

2 komentar:

  1. Sarvatraesa itu artinya apa dian? ... oh berarti ini lanjutan dari mayasmara?

    Syafakillah ya dian. Cepat sehat dan pulih kembali.

    BalasHapus
  2. Iya, mbak. Ini lanjutannya Mayasmara.
    in sanskrit Sarvatra means omnipresent, Esa means God. Jadi menemukan dan menghadirkan Tuhan, kira-kira begitu mbak Ade.
    Aamiin. makasih ya mbak :)

    BalasHapus