Selamat Ulang Tahun ke-40 Gramedia :)

Makna momen penting GPU bagi mereka dan dunia perbukuan Indonesia
GPU40
Penerbit Gramedia Pustaka Utama baru saja merayakan hari jadinya yang ke-40. Berikut ini geliat penerbit di bawah naungan Grup Kompas Gramedia ini dari 1974 hingga kini yang disebarkan oleh akun Twitter @Gramedia yang dinarasikan  ulang oleh bukunya.com:
1974
Gramedia Pustaka Utama berdiri dengan Badai Pasti Berlalu karya Marga T. jadi novel pertamanya.
1976
Kamus Inggris-Indonesia karya John M. Echols dan Hassan Shadily mengawali produksi kamus oleh GPU yang terbukti jadi buku laris andalan hingga kini.
1977
Novel pertama GPU, Badai Pasti Berlalu difilmkan dan melahirkan album soundtrack yang sama larisnya. Namun seiring lesunya perfilman Indonesia, GPU seolah kehilangan semangat buat melebarkan sayap ke produksi film. Butuh 40 tahun hingga akhirnya kembali mengulangi sukses yang sama.
1978
Novel serial Inggris mulai diterjemahkan oleh GPU antara lain seri Lima Sekawan Enyd Bliton dan cerita detektif Hercule Poirot karya Agatha Christie.
Memulai tren buku resep lewat Nyonya Rumah (Julie Sutarjana). Buku resep masakan seperti juga di negara lain memang tak ada matinya dan jadi bestseller sepanjang masa.
Novel perdana Mira W., Sepolos Cinta Dini, diterbitkan.
1979
GPU menerbitkan seri Imung karya Arswendo Atmowiloto.
1980
GPU mendapat hak terbit novel karya Sidney Sheldon. Hingga kini penjualannya menembus satu juta eksemplar.
1981
Seri Trio Detektif diterbitkan dan jadi buku laris era 1980-an.
1982
Menerbitkan seri Pustaka Cerita: Tini dengan judul pertama Robi dan Susi di Kebun Ajaib.
1985
Buku pertama Nh. Dini, Pada Sebuah Kapal. Diterbitkan pertama kali oleh GPU.
1986
Hilman Hariwijaya menerbitkan Tangkaplah Daku, Kau Kujitak. Wabah Lupus, tokoh utama novel ini, pun melanda tanah air.
1993
GPU menyabet lagi serial terjemahan laris. Kali ini John Grisham dengan novel The Firm.
1995
Terbit perdana Chicken Soup for the Soul karya Jack Canfield dan Mark Victor Hansen.
Bacaan remaja mulai dimeriahkan novel horor seri Goosebumps dan Fear Street karya R. L. Stine.
1997
Seri Harlequin mulai diterbitkan. Hingga kini lebih dari 1.000 judul telah diterbitkan dan melahirkan salah satu komunitas pembaca yang tertua, fanatik, dan paling setia.
2000
GPU meluncurkan situs resminya gramedia.com yang belakangan diubah jadi gramediapustakautama.com
Kekuatan buku resep yang dirintis Julie Sutarjana lewat Nyonya Rumah mencapai puncaknya ketika Sisca Soewitomo bergabung jadi penulis GPU. Konon Sisca termasuk peraih royalti tertinggi di GPU.
Kejelian GPU menyasar novel luar negeri terbukti dengan menerbitkan seri Harry Potter. Berkat sukses film Harry Potter, pundi-pundi GPU dibanjiri uang yang membuat penerbit ini berjaya dalam pertarungan di dunia penerbitan.
2003
GPU mulai melabeli terbitannya ketika meluncurkan novel TeenLit dan ChickLit di Indonesia.
2004
Membuat lini baru baru, novel MetroPop untuk pembaca dewasa muda. Berkah dari lini ini adalah mendapat novelis yang matang namun relatif muda yang kini jadi jangkar penulis GPU, baik fiksi maupun nonfiksi seperti Clara Ng , Alberthiene Endah, dan Ilana Tan.
2005
Menerbitkan Nayla, novel pertama Djenar Maesa Ayu yang memulai keriuhan novel soal perempuan. Penyukanya menganggap novel turunan Nayla sebagai penyuara kebebasan perempuan. Penentangnya seperti Taufik Ismail menjulukinya sastra selangkang dan aja juga yang mencibir sebagai sastra berlendir.
Lini Edutivity, buku aktivitas untuk anak dibuat oleh GPU. Lini yang terbukti sulit karena biaya produksi besar membuat harganya selangit.
2006
Menerbitkan Tesaurus Bahasa Indonesia karya Eko Endarmoko. GPU terbilang berani menerbitkan tesaurus pertama ini karena di luar kebiasaan, penulisnya bukanlah orang “pusat bahasa”. Belakangan ketika insitusi resmi bahasa menerbitkan tesaurusnya, mereka dikritik karena dinilai isinya menjiplak karya Eko yang menyusunnya sendirian.
2008
Serial Harry Potter mencapai buku pamungkas, sementara GPU belum juga menemukan buku yang setara. Namun tahun itu seorang editor menemukan buku vampir di toko buku Kinokuniya dan setelah bergerilya memamerkan temuannya, dibelilah seri Twilight karya Stephenie Meyer. Penjualannya memang tak melebihi Harry Potter namun pendapatannya cukup membuat GPU selamat melewati resesi ekonomi yang memukul penjualan buku pada 2009.
2009
Teka-teki “kemalasan” GPU dan penerbit grup Kompas Gramedia dalam pesta buku di Jakarta terjawab ketika mereka menjadi salah satu motor Kompas Gramedia Fair perdana. GPU pun lebih luwes menggelar acara di event sendiri.
GPU juga mulai bisa mengatasi ketertinggalan novel inspirasional, fenomena yang dipegang oleh Laskar Pelangi. Pada 2009 ini GPU menerbitkan Negeri 5 Menara karya A. Fuadi yang jadi megabestseller dengan penjualan melebihi 250 ribu eksemplar. Setelahnya muncul 9 Summers 10 Autumns karya Iwan Setyawan danMimpi Sejuta Dollar oleh Alberthiene Endah.
2010
GPU menerbitkan buku kisah perjalanan yang lebih tebal dari pesaingnya. Selimut Debu karya Agustinus Wibowo. Uniknya meski kisahnya nonfiksi, yang menggarap justru divisi fiksi GPU.
2011
Agustinus Wibowo pulang ke Indonesia, menemui sejumlah komunitas travel dan diwawancara banyak media. Ekspos yang besar itu bersamaan dengan terbitnya Garis Batas membuat buku karya Agustinus Wibowo jadi laris di toko buku.
2012
Lini Amore diluncurkan buat menampung novel-novel romantis.
2013
Novel 99 Cahaya di Langit Eropa terbitan GPU difilmkan dan menembus lebih dari satu juta penonton. Bisa jadi awal melebarnya sayap GPU ke produksi film, namun sejauh ini belum terdengar ada rencana ke sana.
GPU kembali mendapat novel JK Rowling, serial Cormoran Strike, The Cuckoo’s Calling, yang ditulis dengan nama pena

2014
Mengeluarkan lini Chrome alias Christian Romance demi merambah ceruk pasar yang masih tak bertuan.
GPU berintegrasi dgn Toko Buku Gramedia di bawah nama Kelompok Penerbitan & Ritel Kompas Gramedia. Langkah yang bakal membuat pesaing makin sakit kepala.
sumber : http://bukunya.com/mengupas-40-tahun-perjalanan-gramedia-pustaka-utam

0 komentar:

Posting Komentar