Stephen Chbosky: “Bangun. Duduk. Menulis Kalimat Pertama”

Stephen Chbosky, 44 tahun, menyentak publik pembaca Amerika dengan novel pertamanya, The Perks of Being a Wallflower. Novel ini terbit ketika ia berumur 29 tahun dan masuk ke dalam daftar best-seller New York Times. Tahun 2012, Mr. Mudd Productions, sebuah perusahaan film yang didirikan oleh John Malkovich dan kawan-kawan, mengeluarkan film adaptasi novel tersebut, judulnya sama. Chbosky sendiri yang menulis skenario dan menyutradarainya. Dalam sebuah wawancara via surel, ia menerangkan pikiran-pikirannya mengenai novelnya yang berkisah tentang pelajar SMA yang terasing dari lingkungan.
Tanya (T): Bagaimana cara anda mengembangkan Charlie—karakter utama dalam novel ini? Adakah hubungannya dengan pengalaman pribadi anda sewaktu remaja?
Jawab (J): Pada dasarnya saya menulis The Perks of Being Wallflower karena alasan-alasan yang bersifat sangat pribadi, dan saya senang sekali mengetahui ada banyak orang di luar sana yang memahaminya. Khususnya para pembaca di Amazon.com. Menjawab pertanyaan tadi, saya kira saya tidak terlalu banyak mengembangkan karakter Charlie. Ia sudah "berdaging” manakala datang kepada saya.
Kisah ini mengendap di pikiran saya selama lebih-kurang lima tahun sebagai gambar-gambar: seorang remaja yang berdiri di mobil ketika mobil itu melintasi terowongan, gadis yang ditaksir olehnya, pesta-pesta yang dikunjunginya.
Pada suatu Sabtu pagi—sebetulnya waktu itu saya sedang menghadapi banyak kesulitan—impresi-impresi itu seolah minta dituliskan begitu saja. Saya bangun. Duduk. Menulis kalimat pertama. Dan dalam sebulan, saya sudah menulis kira-kira setengah dari isi buku. Saya istirahat selama beberapa bulan sebelum menyelesaikan sisanya selama enam minggu.
Kisah ini, juga Charlie, tentu berhubungan dengan masa remaja saya, namun tidak berarti ia otobiografis. Dalam banyak hal ia berlainan dengan kehidupan SMA saya.
T    : Dari manakah mula-mula anda mendapat ide cerita tersebut? Apakah ada kesamaan antara cara anda dan Charlie dalam memandang dunia?
J    : Memang ada kesamaan dalam cara kami memandang hidup. Dan sebenarnya justru penulisanThe Perks of Being a Wallflower-lah yang membuat saya menyadari pikiran-pikiran serta perasaan saya pribadi tentang manusia dan dunia.
Ide cerita muncul semasa saya sekolah. Tetapi bentuknya masih berbeda samasekali. Dalam versi awal itu ada narasi seperti ini, "I guess that's just one of the perks of being a wallflower." Setelah menulis kalimat itulah saya menyadari bahwa karakter yang saya cari ada di dalamnya. Dan lima tahun kemudian saya menulis novel ini.
T    : Tema-tema yang saya temukan dalam bacaan laki-laki umumnya hanya perang dan kekerasan. Novel anda menceritakan seorang anak laki-laki dan apa-apa yang ia rasakan ketika beranjak dewasa. Menurut anda, mengapa fiksi remaja utamanya ditujukan kepada anak perempuan? Mengapa tidak banyak buku untuk anak laki-laki yang menggarap tema selain perang dan kekerasan? Buku apa yang anda senangi semasa remaja? Dan bacaan apa yang anda senangi saat ini?
J    : Saya pernah menanyakan hal serupa kepada pihak penerbit. Jawabnya: fiksi remaja utamanya ditujukan kepada gadis-gadis karena merekalah pembeli terbanyak. Sesederhana itu. Bukan berarti remaja laki-laki tidak mau beli buku. Hanya saja sebagian besar memang lebih menyukai genre fantasi, horor, atau cerita-cerita perang. Begitulah.
Sewaktu remaja, bacaan saya merupakan perpaduan antara karya-karya klasik, horor, dan fantasi. Kegemaran saya antara lain The Great Gatsby (Scott Fitzgerald--red), To Kill a Mockingbird (Harper Lee), Death of a Salesman (Arthur Miller), The Shining (Stephen King), The Hobbit (J.R.R Tolkien), dan Hamlet (Shakespeare).
Kini saya masih suka novel-novel klasik semacam The Sun Also Rises (Hemingway), Crime and Punishment (Dostoevsky), 1984 (George Orwell), Portnoy's Complaint (Phillip Roth). Tapi saya juga menyenangi "page-turners", khususnya karya-karya Stephen King. The Stand sampai sekarang masih jadi salah satu kesukaan saya. Dan kedudukan Boy Wonder karya James Robert Baker sebagai buku paling lucu yang pernah saya baca belum tergeser.
T    : Charlie membaca The Catcher in the Rye berulangkali. Dan orang-orang bilang gaya menulis anda menyerupai J.D. Salinger. Apakah penggambaran yang anda lakukan atas kegiatan membaca Charlie itu punya maksud tertentu?
J    : Sulit untuk tidak bicara tentang The Catcher in the Rye karena ia betul-betul karya klasik Amerika. Saya mencintai buku tersebut. Ia merupakan salah satu yang paling saya senangi semasa remaja. Tapi saya tidak membacanya sepanjang menulis The Perks of Being a Wallflower. Selain Salinger, ada sejumlah pengarang lain yang juga memengaruhi saya dengan sama besarnya. Antara lain: Scott Fitzgerald, Tennessee Williams, penulis skenario Stewart Stern, serta nama-nama lain yang tidak terhitung banyaknya. Dan saya tidak pernah bermaksud meniru-niru gaya Salinger.
Dalam beberapa bagian saya memang mengacu kepada The Catcher in the Rye sebagai semacam tribut. Tapi porsinya tak lebih besar daripada yang saya berikan kepada This Side of Paradise(Fitzgerald), On the Road (Jack Kerouac), serta buku-buku lain yang mendampingi saya tatkala beranjak dewasa. Saya bisa memaklumi pembandingan yang orang-orang lakukan atas Charlie dan Holden Caulfield. Namun pada saat bersamaan, saya pikir keduanya memiliki persoalan-persoalan serta cara pandang masing-masing yang unik. []
*Wawancara dilakukan oleh Ann Beisch dan dipublikasikan di situs L.A.youth (http://www.layouth.com/interview-with-stephen-chbosky-author-of-the-perks-of-being-a-wallflower/)
Diterjemahkan oleh Dea Anugrah. Foto diambil dari Wikipedia. sumber web moka

0 komentar:

Posting Komentar