Tips Menulis Ahmad Fuadi

Berikut tips yang telah kami sarikan;
Kenapa Kita Harus Menulis ?
Mantan santri Gontor ini ingat pesan kyai, orang yang baik adalah orang yang berguna bagi orang lain. “Saya ingin berguna bagi orang lain tapi saya bisanya cuma menulis,” kata mantan wartawan Tempo ini. Maka dia ingin membagi pengalaman yang menurutnya berharga.

Lalu apa yang ditulis?
Ahmad terkesan dengan pengalamannya saat nyantri di Gontor. Pilihannya nyantri itu karena dorongan dari ibunya. Dorongan ibunya ini paling dekat di hatinya. Beruntung, saat di perantauan dia selalu menulis surat buat ibunya di Maninjau, Sumatera Barat. “Hingga puluhan  tahun, ibunya masih menyimpan surat surat itu,” kata dia. Untungnya Ahmad juga masih menyimpan buku hariannya di masanya nyantri.  Surat surat dan buku harian inilah yang menjadi bahan utama novelnya.

Bagaimana caranya?
Pahamilah apa yang akan anda tulis. Tulislah apa yang anda sukai. Menulis bisa dicicil, sedikit demi sedikit dari hal hal sederhana.”Sehari sehalaman,” ujarnya. Dia berpesan, anak muda sekarang sudah biasa menulis. Baik melalui pesan pendek, email, status di media sosial, atau tulisan di media lainnya.  Baca buku rujukan, kamus dan tesaurus untuk memperkaya kosa kata.

Kapan Mulai Menulis ?
Tulislah dari sekarang. Jika sehari anda menulis satu lembar, maka hari ini di tahun depan, anda sudah punya tulisan (novel) sepanjang 365 halaman.
**
Menurut Ahmad Fuadi, kunci sukses seorang penulis antara lain banyak membaca, bergaul dengan kamus (baca kamus), dan rajin membaca thesaurus (kamus sinonim). Kenapa kita harus membaca thesaurus? Gunanya agar kita bisa mencari padanan kata yang sama sehingga tak selalu berulang dalam tulisan.
Kapan waktu yang baik untuk menulis? Menurut Ahmad Fuadi, waktu yang baik untuk menulis adalah waktu subuh. Dia selalu menulis di waktu Subuh, sekitar setengah jam. Rata-rata Ahmad Fuadi menulis sekitar sejam dalam sehari. Dalam 1½ tahun, Ahmad Fuadi sukses menghasilkan satu buah buku. Menurutnya, sedikit-sedikit lama-lama menjadi bukit. Yang penting rencanakanlah mulai dari sekarang kalau ingin menghasilkan sebuah buku.
Ahmad Fuadi juga menuturkan alur kerjanya dalam proses menulis. Pertama, membuat mind mapping (menjaring ide), kedua: membuat kerangka awal (calon daftar isi), dan ketiga: membuatpointer untuk memecah ide. Pointer ini dicicil menjadi paragraf, bab, hingga buku.
Di akhir pembicaraannya, Ahmad Fuadi memberi kesimpulan. Katanya, mulailah dengan pertanyaan yang besar, kenapa? Kemudian temukan worldnya, lakukan riset, tetaplah konsisten, luruskan niat, kembangkan subjek yang familiar, dan terakhir carilah referensi, baik dalam wujud tulisan maupun visual.
Ahmad Fuadi berpesan, “Siapa yang bersungguh-sungguh dialah yg berhasil, man jadda wajada”
**
saya dan mas Ahmad Fuadi di Ubud :)

0 komentar:

Posting Komentar