Tips Menulis Dari Dewi Lestari

Tips Menulis Dari Dewi Lestari

Cara menulis dimulai dari pengalaman sendiri atau pengalaman orang lain yang diwawancara, dilakukan riset pustaka, riset internet, dan sebagainya. "Saya merasa harus mengenal dengan baik apa yang saya tulis, karakter yang saya ciptakan, dan lingkungan mereka. Dengan demikian, barulah pembaca pun bisa teryakinkan. Jadi, unsur believability juga penting," kata Dewi Lestari. 

Yang terpenting adalah membuat tulisan yang mampu menstimulasi diri sendiri. "Prinsip saya sederhana, yakni menulis buku yang ingin saya baca. Jika ternyata banyak orang lain yang baca, barangkali mereka punya kesamaan minat dengan saya, hingga akhirnya mereka bisa relate dengan karya saya, yang artinya mereka tertarik pada substansinya," jelas Dee - panggilan akrab Dewi Lestari

"Diksi dan kemampuan mengolah bahasa juga menjadi hal penting. Ide besar dan cemerlang, tetapi ketika dibungkus dengan bahasa yang tumpul atau berantakan, tentu tidak jadi menarik lagi. Jadi, kedua hal itu sama pentingnya," papar Dee.
- See more at: http://www.kilasinfo.com/2012/09/cara-menulis-menurut-dewi-lestari.html#sthash.6ISIGdpK.dpuf

Dari sebuah novel Supernova Series, nama Sang Dewi terus membumbung tinggi. Bahkan, karya novelnya sudah bisa bersaing dengan penulis-penulis besar Indonesia seperti Goenawan Muhammad, Danarto lewat karya ‘Setangkai Melati di Sayap Jibril’, Dorothea Rosa Herliany karya Kill The Radio, Sutardji Calzoum Bachri karya ‘Hujan Menulis Ayam’ dan Hamsad Rangkuti karya S’ampah Bulan Desember’, dalam ajang Katulistiwa Literary Award (KLA) yang digelar QB World Books.

Tidak ada yang menyangka, mojang Bandung ini menyimpan potensi dan jiwa sebagai seorang penulis. Potensi sebagai penulis sudah terasah tajam ketika masih duduk di bangku SMA. Di sekolahnya, SMA 2 Bandung, Dee pernah menulis 15 karangan untuk buletin sekolah. Kemahiran Dee menulis terus mengalami metamorposis. “Sikat Gigi”,itulah nama cerpen yang melebarnya karyanya dimuat Jendela Newsletter, sebuah media independen berbasis budaya dan hanya untuk kalangan sendiri.
Tahun 1993, ia pernah menjadi juara pertama lomba menulis yang diadakan oleh Majalah Gadis berjudul “Ekspresi”. Tak puas dengan apa yang diraihnya, tiga tahun kemudian Dee menulis cerita bersambung (cerbung) berjudul “Rico the Coro” dimuat di Majalah Mode.
Tepat pada 16 Februari 2001, novel pertamanya diterbitkan. Sambutan masyarakat luar biasa. Bahkan, Novel bertajuk Supernova Satu : Ksatria, Puteri dan Bintang Jatuh, laku keras terjual sampai 75.000 eksemplar dalam tempo 35 hari dari 12.000 yang dicetak. Novel ini banyak menggunakan istilah sains dan cerita cinta.
Tak ingin novelnya hanya sebagai bacaan warga Indonesia, tiga belas bulan kemudian, tepatnya Maret 2002, Supernova Satu dirilis dalam bahasa Inggris. Untuk karya yang diharapkan bisa menembus pasar internasional ini, Dee menggaet Harry Aveling (60), seorang ahli dalam menerjemahkan karya sastra Indonesia ke bahasa Inggris.
Tujuh bulan kemudian, 16 Oktober 2002, Sang Dewi meluncurkan novel Supernova kedua bertajuk “Akar”. Jeda waktu untuk bisa menerbitkan Supernova ketiga, Sang Dewi membutuhkan waktu sangat lama, hampir tiga tahun. Pada Januari 2005, akhirnya novel Supernova terbit bertajuk “Petir”. Dalam novel ini, ia menambahkan empat tokoh baru, salah satunya Elektra.
Pada Agustus 2008, Dee merilis novel yang bukan serial dari Supernova yaitu,“Rectoverso”; sebuah novel yang ‘mengawinkan’ paduan fiksi dan musik. Rectoverso, pengistilahan dua citra yang seolah terpisah tapi sesungguhnya satu kesatuan dan saling melengkapi. Buku ini terdiri dari 11 fiksi dan 11 lagu. Pada Agustus 2009, Dee menerbitkan novel “Perahu Kertas” dan sudah dicetak ulang sebanyak 12 kali sampai tahun ini.
Ada Apa Dibalik Film Perahu Kertas?
Dalam wawancara dengan Rollingstone Indonesia, 4 September 2012, Dee menceritakan bagaimana proses Novel “Perahu Kertas” bisa menjadi sebuah film. Sang Dewi membutuhkan waktu sekitar 60 hari untuk membuat novel tersebut menjadi sebuah film dengan sutradara Hanung Bramantyo.
Ketika membuat skenario, Sang Dewi tidak menargetkan waktu seperti halnya ketika menulis novel. Ia bahkan sampai butuh waktu sekitar dua belas bulan untuk mengerjakan skenario film tersebut. Lamanya membuat skenario film, karena tantangan skenario Perahu Kertas harus memuat cerita yang begitu besar dalam skenario 100 halaman tanpa merusak grafiknya. Belum lagi, penulisan skenario harus mengakomodasi keinginan tiga produser.
Tidaklah mudah baginya, untuk mengubah karakter sebuah novel menjadi sebuah film. Sebab, jika karakter-karakter di novel sudah kuat, maka untuk di film cerita dan karakternya harus lebih dipertegas lagi. Untuk itu, demi mendapatkan hasil yang baik, ia pun memunculkan tokoh “baru” yang sudah ada di novel tapi dikembangkan. Seperti tokoh Siska (partner kerja Remigius) dan Banyu (pemahat di Ubud).
Dee pun menyadari, membuat film tidak bisa leluasa seperti menulis novel. Makanya, ia dari awal kerjasama membuat film, sudah mengajukan diri sebagai penulis skenario. Sebab, ia lebih paham dengan ceritanya. Kalaupun terpaksa harus ‘memutilasi’ cerita tidak akan sampai membunuh spirit ceritanya.
Pada saat akan membuat film, ia, Chand Parwez dan Pak Putut sempat mencalonkan empat sutradara. Akhirnya, pilihan jatuh kepada Hanung Bramantyo. Meskipun harus mengalamireschedule karena jadwal yang padat, akhirnya Hanung bersedia menyutradarai film tersebut. Sang Dewi mengaku, awalnya ragu dengan Hanung. Namun, setelah mengenal lebih dekat, akhirnya ia merasa yakin kalau Hanung adalah orang yang tepat menyutradari film Perahu Kertas. Apalagi, Hanung bukan hanya sebagai sutradara, melainkan ikut terlibat sebagai produser dengan perusahaannya, Dapur Film.
Film tersebut juga menuai berkah karena mempertemukan Dee dengan dua teman lamanya, Rida dan Sita; dua personil RSD. Ide melibatkan RSD sebenarnya sudah cukup lama. Namun, Dee baru mengontak Rida dan Sita menjelang rekaman. Begitu rekaman ternyata tidak ada yang berubah, termasuk kelakuan dua temannya itu.
Selain sebagai penulis skenario, Dee juga dari awal sudah tahu akan melibatkan diri dalamsoundtrack. Makanya, ketika skenario selesai, ia langsung membuat lagu “Perahu Kertas”. Saat itu, ia menciptakan lima lagu, empat lagu baru yang dua diantaranya ditulis hanya dalam tempo satu minggu, karena slot film baru diketahui ketika pertama kali menontonpreview. Kelima lagu tersebut adalah, satu lagu yang sudah pernah ditulis lama tapi belum pernah dirilis yaitu “Langit Amat Indah” (RSD). Sisanya adalah “Tahu Diri” oleh Maudy Ayunda, “Dua Manusia” oleh Dendy Mikes, “A New World” oleh Nadya Fathira. Diluar lagu itu, ada Triangle Band (“How Could You”) dan Adrian Martadinata (“Behind The Star”).

**
Saat menulis, Dee pun pernah mengalami 'mentok' mendapatkan inspirasi serta 'mood' suasana untuk melanjutkan tulisannya. Menurutnya, ada dua jenis yang bisa menghambat ide tulisannya dan Dee memiliki cara sendiri.

"Mentok pernah juga, tapi bagi saya mentok itu ada dua, yakni temporer dan yang panjang. Biasanya kalau temporer sih berhenti sebentar lalu melanjutkan lagi. Tapi kalau yang panjang mentoknya, saya lebih banyak membaca agar mendapatkan ide-ide baru," pungkasnya.


Sumber Berita: www.indonesiarayanews.com


**

Penulis sukses seperti Dewi Lestari memberikan tips menulis novel atau tahapan dalam menemukan ide untuk menuangkan ketulisan. Dee membagi 2 stage, yaitu:

1. Menulis dari yang disukai

Memang suatu kerja yang dilakukan dengan kesukaan akan memberikan hasil yang beda. stage 1 ini dikatakan Dee adalah sebagai sikapnya yang "egois".

Orang yang menulis karena suka/ hobi akan beda efeknya dibanding dengan penulis yang karena terpaksa dalam menulis. Pernyataan sama juga disampaikan oleh Kang Abik yang mengatakan Menulis dari yang diketahui. Apa beda cara menulis dari yang disuka dengan cara menulis dari yang diketahui? Saya tidak mau mencari perbedaannya, yang penting keduanya sama - sama penting nilainya bagi penulis novel pemula untuk memulai menulis novel.

Mungkin saja, Dee menyukai novel, maka ditulislah novel. Nah, bagi anda yang tidak suka dengan novel, maka bisa menulis yang lain. Tidak ada paksaan dalam menulis, keputusan anda mau menulis apa itu terserah pada anda, hanya saja ingat tips Dee, yakni menulislah dari yang disukai.

2. Memasukkan Pembaca Ideal (audiens)

Jadi harus ada target pembaca dari tulisan kita, tapi dalam hal ini ada karakteristik tertentu pembaca buku. Desi Anwar adalah salah satu target audiens pembaca buku yang akan ditulis oleh Dee.

**
ungkap Dee, seorang penulis memang benar-benar harus serius dan total saat menulis sebuah karya, sehingga akan menghasilkan karya yang bagus. Sehingga, tak heran jika dalam penulisan setiap bukunya, Dee melakukan riset terlebih dahulu, baik riset pustaka, riset internet, dan riset lainnya. Jika itu terkait pengalaman orang lain, maka ia akan mewawancarai yang bersangkutan terlebih dulu. "Saya merasa harus mengenal dengan baik apa yang saya tulis, karakter yang saya ciptakan, dan lingkungan mereka. Dengan demikian, barulah pembaca pun bisa teryakinkan. Jadi, unsur believability juga penting,"ungkapnya. 

Menurut Dee, ia tak percaya bahwa ada formula khusus yang bisa membuat sebuah buku menjadi best seller. Kalau ada formulanya, menurutnya, hal itu tentu telah dipraktekkan oleh semua penerbit yang tentunya ingin buku-buku terbitan meerka laris di pasaran. Buktinya, kata Dee, banyak buku yang dipromosikan dengan gencar, tetapi sambutannya biasa-biasa saja. Sebaliknya, banyak juga buku yang tahu-tahu mencuat, padahal ditulis oleh penulis baru dan tidak menggunakan biaya promosi yang besar.
Karenanya, kata Dee seperti dikutip Kompas.com, "Itu adalah gabungan kompleks antara timing, tema, pemasaran, selera masyarakat, dan masih banyak lagi faktor lain, yang jika dirangkum dengan satu kata mungkin menjadi: keberuntungan."

Saya tidak tahu persis apa yang membuat buku saya best-seller. Walaupun pada titik ini, di mana saya telah berkiprah menulis sejak 11 tahun sejak 2001, otomatis ada faktor loyalitas pembaca dengan buku saya," jelasnya

Dua jam sehari
Dalam dunia tulis menulis, biasanya seorang penulis kerap menggunakan waktu malam hari sampai dinihari untuk menggoreskan penanya. Maklum, suasana malam yang tenang dan nyaman memudahkan penulis berkonsentrasi menuangkan ide-ide kreatifnya.  Begitupula dengan Dee. Namun itu dulu, ketika Dee masih belum memiliki anak. Kini, Dee lebih memilih menulis kapan saja, baik pagi, siang maupun sore hari. Sementara malam hari, dia jarang melakukan aktivitas menulis. “Malam hari saya lebih banyak menemani anak. Sekarang tidak realistis lagi menulis di jam seperti itu. Jadi, sekarang saya menulis sesempatnya. Kadang pagi, siang dan sore hari. Durasi waktunya saya upayakan minimal dua jam per hari,” imbuh Dee.
Dee pun tak terlalu ngoyo untuk menerbitkan buku setahun sekali. Selama ini, rata-rata dirinya menerbitkan buku selama satu setengah tahun sekali. Memang, lanjut Dee, idealnya penulis bisa menargetkan satu tahun sekali menerbitkan buku. 

Harapan Dee? 
Saya hanya berharap bangsa ini bisa semakin open-minded, semakin cerdas, dan semakin bijaksana, terutama masalah lingkungan. Moga-moga karya-karya saya bisa menyumbang sedikit kontribusi, karena prinsip saya dalam menulis adalah tulisan saya harus bisa mencerdaskan dan mengusik keingintahuan orang untuk belajar lebih banyak lagi.

Dee mengatakan kalau karir seorang penulis adalah sebuah karir yang panjang. Dee banyak menulis cerita yang tak selesai, cerpen yang terlalu panjang hingga tak bisa dikirim ke majalah, novel terlalu pendek hingga tak bisa diikutkan dalam lomba, puisi setengah prosa atau prosa kepuisi-puisian, dan aneka bentuk lain yang sulit diberi nama hingga akhirnya didiamkan. Dan setelah melewati semua proses itu, Dee akhirnya bisa membuat sebuah buku.







"Learn to differentiate between text/twit messaging and book writing. Dump the SMS lingo and use real language."

Kira-kira artinya begini : 'Belajarlah perbedaan antara bahasa pesan singkat dan bahasa menulis sebuah buku. Buang bahasa sms dan gunain tuh bahasa yang sebenernya.'



"Write the story. JUST write. Stop giving written tiny comments on your own stuff, e.g. (oops!), *halah*, etc."

Kira-kira artinya begini : 'Tulis sebuah cerita. Tulis aja. Berhenti menulis komentar-komentar kecil di situ, kaya (oops!), *halah*, dll.'



"Easy on the 'tanda baca' (!!! or ??!!!). No, you're not making it more expressive. You're making it more neurotic."

Kira-kira artinya begini : 'Jangan kebanyakan tanda baca (!!! atau ??!!!). Lo gag membuat itu lebih ekspresif. Lo cuma membuat itu lebih 'mengganggu'.'



"Describe. Don't shove readers with sound effects. If someone screams, try to describe, don't give em "Aaaaaaaargggggh..."."

Kira-kira artinya begini : 'Deskripsikanlah. Jangan mengganggu pembaca dengan efek-efek suara. Kalo seseorang berteriak, coba untuk menggambarkannya, jangan nulis "Aaaaaaaargggggh...".'



"N if u really, REALLY, have to scream it out, three letters are ENOUGH (aaa, ooo, etc). We get it already!"

Kira-kira artinya begini : 'Dan kalo lo bener-bener harus 'meneriakan' itu, tiga huruf CUKUP (aaa, ooo, dll). Pembaca sudah mengerti.'




"Save "KRIIIING!"and "tok-tok-tok" and "sret-sret-sret" for toddler’s book."

Kira-kira artinya begini : 'Simpan "KRIIIING!", "tok-tok-tok" dan "sret-sret-sret" untuk buku anak balita.'




"And never, EVER, write: "DUG!" or "deg-deg" to describe heartbeat. It's harassing your readers' intellect."

Kira-kira artinya begini : 'Jangan pernah sekali-kali menulis : "DUG" atau "deg-deg" untuk menggambarkan detak jantung. Itu mengganggu daya pikir pembacamu.'




"When in doubt, open up Kamus Besar Bhs Ind or Tesaurus Bhs Ind. Don't trust the text fr media or commercials."

Kira-kira artinya begini : ' Ketika lo ragu, buka aja Kamus Besar Bahasa Indonesia atau Tesaurus Bahasa Indonesia. Jangan percaya teks-teks dari media atau iklan.




"Limit snacking while writing. It takes away your attention and you might have grease on your keyboard."

Kira-kira artinya begini : 'Batasi mengemil saat menulis. Itu bakalan membuang perhatian lo dan lo mungkin bakalan mengotori keyboard lo.'



"Real data are good, but too much of 'em will eat up your story. So know when to stop."

Kira-kira artinya begini : 'Data yang asli emang bagus, tapi kalo kebanyakan bakalan ngerusak cerita lo sendiri. So, ketahuilah saat untuk berhenti.'



"All writers have dealt with rejected n unfinished manuscripts. So don’t let one failing manuscript stop you."

Kira-kira artinya begini : 'Semua penulis pasti punya manuskrip-manuskip yang gag selesai. So, jangan bikin satu manuskrip gagal menghentikan lo buat nulis.



"Writer’s block? Well, sometimes universe DOES need to stop you ☺"

Kira-kira artinya begini : 'Kebuntuan dalam menulis? Well, terkadang alam memang harus menghentikanmu ☺'



"Occasionally have a small break to move your body a bit. Flowing chi results in flowing idea."

Kira-kira artinya begini : 'Kadang-kadang istirahatlah sebentar buat badan lo bergerak. Energi yang mengalir menghasilkan ide yang mengalir juga.'




"My personal writer’s block antidote: take a shower. Dunno why, but it works for me :)"

Kira-kira artinya begini : 'Penawar kebuntuanku : mandi. Gag tau kenapa tapi itu berhasil. :)'



"Writing target: hourly based (eg. 4 hrs/day) OR page based (eg. 2 pgs/day). Using both altogether can be too stressful."

Kira-kira artinya begini : 'Target menulis : berdasarkan waktu (misalnya 4 jam/hari) ATAU berdasarkan halaman (misal, 2 halaman/hari). Kalo dua-duanya biasanya bisa bikin stress sendiri.




"It’s good not to be too ambitious about your daily writing target. Set up a realistic goal. And relax about it."

Kira-kira artinya begini : 'Gag baik terlalu ambisius sama target menulis lo sehari-hari. Bikin tujuan yang realistis. Santai aja.'



"Always try to have a deadline, even though it’s imaginary. It prevents you from spending years on one short story."

Kira-kira artinya begini : 'Selalu coba bikin deadline sendiri, walaupun itu cuma khayalan lo aja. Itu menghindari lo menghabiskan waktu bertahun-tahun buat satu cerita pendek.'



"Don’t throw away small notes, broken ideas, unfinished stories. W/ a fresh perspective, u can gain sumthing fr 'em later"

Kira-kira artinya begini : Jangan buang catatan-catatan kecil, ide-ide yang salah, dan cerita-cerita yang gag selesai. Dengan sudut pandang baru, mungkin lo bisa membuat sesuatu dari mereka nantinya.'




"Always create a story from what moves you the most, something that keeps you awake at night. Don’t compromise for less."

Kira-kira artinya begini : 'Selalu membuat cerita dari apa yang membuat lo bergerak, sesuatu yang membuat lo tetap terjaga di malam hari. Yang lain abaikan saja.'



"I believe in Darwin when it comes to ideas. Only the fittest will survive, the weak ones will drop by themselves."

Kira-kira artinya begini : 'Aku percaya pada Darwin soal ide. Hanya yang paling kuat yang bertahan, yang lemah akan menghancurkan diri mereka sendiri.'



"Do not look for inspiration. Inspiration will find you. All you need to do is observe and listen."

Kira-kira artinya begini : ' Jangan mencari inspirasi. Inspirasi yang akan menemukanmu. Yang lo harus lakuin adalah lihat dan dengar.'



"Have your manuscript printed when you want to do editing. Don’t do it on your computer screen. It feels very different."

Kira-kira artinya begini : 'Cetak dulu manuskrip lo sebelum diedit. Jangan melakukannya di layar komputer. Akan terasa sangat-sangat berbeda.'



"Final reading from a printed text puts you in the reader’s seat. Helps you to get more clarity and objectivity."

Kira-kira artinya begini : 'Membaca lagi teks itu membuat lo menjadi pembacanya. Itu bakalan membuat lo lebih jelas dan lebih objektif sama karya lo.

saya dan mbak Dee di UWRF :)

10 komentar:

  1. Balasan
    1. terima kasih kembali. semoga bermanfaat :)

      Hapus
  2. Great!sangat membantu buat lebih baik lagi dalam menulis. Salam kenal kak :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. thanks ya. salam kenal kembali :)

      Hapus
  3. Membantu sekali kak, dan tiba" saya jadi ngefans banget sama kak dee lestari :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya, she's deserved for that. thanks ya:)

      Hapus