Tips Menulis Leila S Chudori

saya dan mbak Leila S Chudori di UWRF
Tips Menulis Leila S Chudori

Nampaknya menulis memang merupakan cinta pertama dan utama bagi Leila S. Chudori, sedangkan penghargaan yang diberikan oleh pihak lain (baik itu dari penikmat karya tulisnya maupun dari berbagai institusi) merupakan semacam "icing of the cake" baginya.

Selain menulis cerpen, Leila juga sering menulis resensi di majalah Tempo. Tidak hanya itu, ia juga menulis skenario Dunia Tanpa Koma yang dibintangi oleh Dian Sastrowardoyo. Dari berbagai resensi yang dihasilkannya, jelas terlihat kecintaan Leila pada budaya pop.

Bagiaman Leila S. Chudori menciptakan mood untuk menulis, apakah ia memerlukan musik, duduk di tengah-tengah keramaian sebuah cafe, misalnya? Ternyata, ia terkadang membutuhkan sunyi dan keterpencilan untuk menulis, namun ada saat di mana ia membutuhkan bunyi, dan musik jenis apapun yang mengena di hatinya dapat menjadi temannya dalam menulis.

Ingi tahu perjalanan Leila S. Chudori dalam bentara kepenulisan tanah air? Yuk simak wawancara melalui eMail antara Leila S, Chudori dan Kampung Fiksi.

Sejak usia berapa mulai menulis dan mengapa mencintai pekerjaan ini?

Cerpen pertama saya dimuat di majalah anak-anak si Kuncung ketika saya berusia 11 tahun, kelas V SD berjudul Pesan Sebatang Pohon Pisang.

Selanjutnya saya kemudian menulis cerita pendek dan cerita bersambung di Kawanku, Hai (ketika formatnya masih sebagai majalah remaja yang berisi cerita pendek dan komik), Gadis. Setelah saya kuliah, saya mulai menulis cerita pendek di majalah sastra Horison, harian Kompas Minggu, Sinar Harapan, majalah Zaman.

Mana yang lebih disukai, menulis fiksi, resensi, skenario atau sebagai jurnalis?

Menulis resensi dan berita adalah bagian dari tugas saya sebagai wartawan. Sedangkan menulis fiksi dan skenario adalah bagian dari keinginan. Kedua-duanya memiliki kegairahan dan kenikmatannya.

Mengapa tertarik menulis skenario? Apakah ada bedanya dengan menulis novel atau cerpen? Lebih menantang yang mana?

Setiap proses menulis tentu memiliki tantangannya. Menurut saya, baik cerita pendek, novel maupun skenario mengandung tingkat kesulitan yang berbeda. Saya pernah mengatakan, tantangan cerita pendek adalah, dalam ruangan yang sempit kita harus menyiapkan ledakan yang dahsyat. Sedangkan novel dan skenario tantangannya adalah kita harus memiliki nafas yang panjang untuk membangun sebuah dunia; untuk mampu menarik pembaca nyempung masuk ke dalamnya dan seolah menjadi bagian dari dunia rekaan itu. Untuk novel dan juga film dibutukan riset yang serius dan mendalam, membentuk bangunan plot yang rapid an teliti dan harus ada temukan kata,ekspresi dan bahasa yang baru (jika mungkin).

Apakah pengalaman-pengalaman pribadi atau pengalaman pribadi dari orang-orang dekat mempengaruhi kisah-kisah yang ditulis? Kalau iya, berapa persen realitanya dan berapa persen kira-kira fiksinya?

Semua penulis, secara langsung atau tak langsung pasti menulis sebagian kecil pengalaman pribadi atau orang lain yang kemudian dikawinkan dengan rekaan dan plot fiktif. Jika tidak, namanya bukan fiksi, tetapi memoir.

Saya rasa, tak mungkin kita menghitung prosentasi realita dan fiksi dalam sebuah bangunan fiksi yang sudah tercipta.

Tentang penggunaan metafora dalam fiksi, adakah kiat-kiat tertentu agar tetap indah tetapi mampu dimengerti pembaca?

Salah satu hal yang penting dalam menulis fiksi (cerpen, novel dan tentu saja puisi) adalah kemampuan penulis menaklukkan bahasa. Metafora hanyalah salah satu cara. Ada banyak majas yang kita kenal.

Kemampuan menaklukkan bahasa ini tak berarti harus berpretensi untuk berpuisi atau selalu menghubungkan suasana dengan alam. Banyak sekali cara berekspresi dengan menggunakan metafora yang jitu; yang bisa mewakili karakter tokoh sekaligus mewakili (melibatkan) pembaca.
Bahasa adalah salah satu alat yang mengantar pembaca memasuki dunia alternatif yang kita ciptakan. Karena itu, ide sedahsyat apapun, jika disampaikan dengan buruk atau dengan datar, niscaya karya itu tak akan bercahaya. Sebaliknya sebuah ide yang sederhana akan meledak jika disampaikan dengan tepat, baik dan cerdas.

Saya tak bisa menyajikan kiat yang tepat, karena saya yakin setiap penulis memiliki kebiasaannya masing-masing. Yang jelas, semua penulis yang baik akan menyarankan bahwa Anda harus jujur pada saat menulis. Pada saat anda tak jujur, maka karya Anda akan terasa pretensius. Itu akan terlihat dari bahasa dan penyajian.

Apakah melakukan riset dalam menulis fiksi itu penting? Hal-hal apa yang perlu dicatat dan yang tidak boleh diabaikan? (@gibic, Ginanjar Seladipura)

Riset sangat penting untuk pembangunan karakter dan setting, terutama jika anda menulis cerita (cerpen/novel/skenario) realis, anda akan dituntut untuk mendekati realita. Sebuah cerita realis menuntut believeability; apakah seluruh bangunan cerita beserta suasana/karakter yang anda bangun itu meyakinkan pembaca.

Seberapa pentingkah musik dalam proses menulis Anda? Pernahkah menulis sesuatu karena terinspirasi oleh musik atau lirik lagu?

Kadang-kadang saya membutuhkan sunyi (hingga harus menulis di tempat yang agak terpencil), tapi sering juga saya membutuhkan musik dan bunyi.

Apa kekuatan lagu Thom Yorke dan Everybody Loves Irene sehingga berhasil menggerakkan Anda dalam menulis?

Bukan hanya Thom Yorke dan ERI, tetapi musik yang berhasil menggerakkan hati dan pikiran saya pasti saya gunakan untuk teman saya menulis. Dari yang klasik (betul-betul klasik seperti Ravel dan Bartok), yang klasik modern seperti Erik Satie hingga musik di jaman yang lebih baru sepertiThe Beatles di masa awal mereka. Hal-hal yang lazim dimiliki angkatan saya, Genesis, Queen, U2, hingga semua kaset pop dan rock Indonesia di tahun 1970-an dan 1980-an dulu juga saya dengarkan. Jaman sekarang, saya memilih secara serabutan (mungkin orang menyebutnya indie-music, saya tak terlalu peduli dengan genre-nya; apa yang mengena di hati, saya ambil).

Dari buku yang telah diterbitkan, mana yang paling memuaskan dan yang tidak memuaskan. Dan mengapa?

Kalau saya sudah puas, saya pasti akan berhenti menulis.

Bisa ceritakan proses kreatif di “Malam terakhir” dan “9 dari Nadira”?

“Malam Terakhir” –adalah karya yang terbit tahun 1989 diterbitkan pertamakali oleh Penerbit Pustaka Grafiti. Itu adalah cerpen-cerpen lepas yang ditulis dari tahun 1986 hingga 1989 (di masa saya kuliah hingga sebelum saya masuk Tempo. Saya bergabung dengan Tempo Juni 1989). Pemuatan variatif di harian Kompas Minggu, majalah sastra Horison , majalah Matra, Horison, Suara Pembaruan Minggu, Amanah (sebuah majalah yang dulu dipimpin sastrawan Ahmad Tohari).
Saya rasa itu adalah sebuah periode saat saya masih sangat muda dan masih berbuih-buih oleh protes atas konvensi masyarakat (Indonesia) yang sangat mendikte kehidupan pribadi. Negara dan masyarakat sehari-hari sangat mengatur hidup pribadi kita hingga saya merasa masih sangat gamang ketika pulang ke Jakarta seusai enam tahun menempuh pendidikan di Kanada.
Sedangkan 9 dari Nadira, prosesnya bisa dibaca di Kata Pengantar buku tersebut (cetakan kedua). Dua cerpen Nadira sebelumnya sudah dimuat di majalah matra yaitu “Melukis Langit” dan “Nina dan Nadira”.

Setelah itu, saya bekerja di Tempo dan berkeluarga, saya tak menulis selama 20 tahun. Adalah anak saya dan juga beberapa rekan saya yang mendorong saya menulis lagi (seperti yang tercantum dalam kata pengantar dan ucapan terimakasih pada buku “9 dari Nadira”).

Mana yang lebih disukai “Malam Terakhir atau “9 dari Nadira”-(@qibic- Ginanjar Seladipura)

Keduanya anak saya.

Siapakah penulis favorit Mbak Leila di Indonesia, khususnya perempuan, dan mengapa? Adakah catatan penting dalam penulisannya yang perlu kita ketahui?

N.H Dini

Jujur, orisinil dan dia menulis sendiri tanpa dibantu siapapun. Dia mandiri dalam membangun karyanya tanpa harus disertai sebuah entourage. Dahsyat.

Untuk penulis perempuan asing: banyak sekali.
Saya menyukai karya Virginia Woolf, Susan Sontag, Sylvia Plath, Anne Sexton, Simone de Beauvoir. Yang lebih kontemporer saya menyukai Zadie Smith

Apakah pernah terbesit di benak, tulisan ini akan laku keras?

Tidak.
Jika kita mulai memikirkan efek, kita mulai tidak jujur
.
Apa arti sebuah penghargaan sastra seperti yang diberikan Badan Bahasa tahun ini?

Merasa dihargai dan berterimakasih. Tetapi penghargaan apapun dari berbagai institusi, seperti juga resensi maupun kritik, adalah efek terhadap sebuah buku yang sudah selesai dan sudah diterbitkan. Proses yang asyik sebetulnya adalah saat menulis.

**

“Bakat menulis merupakan hal penting, tapi bukan yang terpenting. Bakat adalah pemberian alam dan bakal sia-sia jika tidak diasah terus-menerus.” Leila S. Chudori

Leila meyakini, penulis yang gigih dan bekerja keras, insya Allah akan menghasilkan karya yang luar biasa. Ayo, berlatih membentuk kalimat menarik, membuat kejutan plot, dan lain-lain. Paling tidak, ‘paksakan diri’ setiap hari menulis di blog selama sejam atau dua jam. Tulis cerita sehari-hari, perjalanan, resensi buku, resensi film, apa saja. Rajinlah mengobservasi dan mengamati. Peka. Lihat sekitar. Observasi sangat berguna saat kita membentuk karakter tokoh.
           Penulis yang baik adalah pembaca yang baik. Penulis akan membutuhkan buku seperti layaknya orang butuh makan dan minum. Jatahkan minimal membaca satu buku dalam dua minggu. Ikuti diskusi komunitas buku. Dengarkan berbagai ulasan dan tanggapan dari orang lain. Sadari bahwa pemikiran dalam hidup ini tidak tunggal.

“Meski nanti kita sudah menjadi penulis besar, kita tetap harus rendah hati. Ingat, meski kita berhasil, kita baru ‘menorehkan’ satu titik di dunia ini. It’s almost nothing. Sikap rendah hati akan membuat kita ingin terus belajar. “ – Leila S. Chudori

            Leila juga memaparkan tip dan teknik menulis.
Ide
            Segalanya berawal dari ide. Ide didapat dari rumah, saat jalan-jalan ke sekolah, kampus, dan lain-lain. Ide tidak harus megah atau ‘heboh’. Boleh saja, sih, kita membuat cerita dengan ide berlatar belakang sejarah, misalnya. Tapi, konsekuensinya juga besar. Butuh riset panjang dan mendalam. Tanya kepada diri sendiri, sanggupkah? Kalau sanggup, hayuk! Tapi, kalau belum, mending pakai ide yang sederhana saja dulu. Catat ide yang datang. Satu cerita bisa terdiri dari beberapa ide.

Tema
             Tema sebetulnya hanya akan membantu kita untuk fokus. Jika kita ingin menulis kisah cinta dengan latar belakang zaman kemerdekaan, janganlah latar belakang itu sekadar tempelan. Niscaya karya kita menjadi karya gagal.

Plot
            Sejak awal, seorang penulis harus menyiapkan kerangka plot. Yang paling umum adalah plot 3 babak:
Babak 1: perkenalan karakter dan problem
Babak 2: puncak problem dan klimaks
Babak 3: penyelesaian
            Tidak setiap karya harus mengikuti konsep plot seperti ini, sih. Contohnya, novel-novel Virgina Woolf dan James Joyce. Plot konsep 3 babak lazim digunakan oleh novel-novel Inggris dan Prancis abad ke-19, antara lain Oliver (Charles Dickens), Les Miserables (Victor Hugo), danPride and Prejudice (Jane Austen).

Karakter
            Jika kita ingin menciptakan karakter anak guru yang lahir di sebuah desa di Jawa Tengah, maka tingkah laku, bahasa lisan, bahasa tubuh harus sesuai dengan yang kita sudah rentangkan sejak mula. Kita bisa membuat perkembangan kepribadian tokoh melalui proses. Jangan menciptakan karakter ‘palsu’. Mungkinkah anak guru yang tinggal di desa jago berbahasa asing? Mungkinkah pakaiannya modern? Kecuali, ada alasan-alasan tertentu. Jangan ‘mengkhianati’ tokoh ciptaan kita sendiri.

Akhir cerita
            Ini merupakan hal pelik. Pembaca Indonesia umumnya menyukai akhir cerita yang bahagia. Mereka sering kecewa jika sebuah fiksi diakhiri dengan perpisahan, kematian, atau kekalahan. Namun, kita harus jujur kepada diri sendiri. Apakah cerita karya kita lebih baik diakhiri dengan kebahagiaan atau kepedihan? Jangan memaksakan diri. Kalaupun kita sudah merencanakan akan mengakhiri cerita dengan kepedihan, jangan mendadak saja membuat akhir cerita yang sedih. Sisipkan ‘tanda-tanda’ di babak-babak awal, tanpa menghilangkan daya kejut.

Menulis Intro
            Kesan pertama begitu menggoda .... Mungkin hampir semua pernah mendengar jargon iklan ini, ya? Kesan pertama memang penting! Ringkus perhatian pembaca pada alinea pertama cerita. Jika aline pertama datar dan membosankan, itu berbahaya. Berikut contoh alinea yang menarik.

            “ORANG MEMANGGIL AKU: MINGKE. Namaku sendiri. Sementara ini, tak perlu benar tampilkan diri di hadapan mata orang lain.
            Pada mulanya, catatan pendek ini aku tulis dalam masa berkabung. Dia telah tinggalkan aku, entah untuk sementara, entah tidak.” – (Pramoedya Ananta Toer, Bumi Manusia)
      Analisis: Elemen misteri sudah terbangun. Kenapa kalimat pertama harus ditulis dengan huruf kapital? Kenapa nama seorang pribumi ini tidak lazim, yakni Mingke? Siapa yang meninggalkan dia sehingga dia berkabung? Ini menyedot rasa penasaran pembaca untuk lanjut ke halaman berikutnya.

(dari berbagai sumber)

2 komentar: